Aku jatuh cinta pada seseorang yang cuma bisa kulihat tapi tak bisa ku ajak bersama. Aku jatuh cinta pada seseorang yang cuma bisa ku buatkan cerita tapi tak bisa ku ajak membuat cerita bersama. Aku jatuh cinta pada seseorang yang cuma bisa ku dengar suara tawanya. Tapi tidak bisa menjadi alasannya tertawa aku jatuh cinta pada seseorang yang cuma bisa ku simpan namanya. Tapi tak bisa ku ajak pulang sama sama. Karna arah kiblat yang menentukan arahku pulang, sedangkan salib yang selalu membuatmu tenang. Seburuk apapun aku takkan ku rebut kamu dari Tuhanmu.
🗝
Aku masih dengan kisah lama ku terjebak dalam dua arah yang berbeda. Berusaha mengesampingkan rasa sakit yang ada tapi nyatanya belum bisa. Sebelumya kalian bisa memanggilku Aran. Sebuah nama yang memiliki arti percaya diri. Tapi bagiku nama itu tidak sesuai dengan diriku. Aku yang cenderung lebih suka memendam dari pada mengungkapkan, aku yang lebih suka berpikir dari pada membicarakan.
Penilaian seseorang sudah banyak masuk ketelingaku. Beberapa orang mengenal aku sebagai sosok yang pendiam, untuk beberapa orang lain aku dikenal cerewet, untuk sebagian orang aku dikenal keras kepala, sebagian orang melabeli diriku sebagai si lembut, beberapa orang menilaiku sombong, sementara beberapa orang lainnya nyaman bercerita seraya menyandarkan kepala mereka dipundak ku, pada beberapa orang aku dikenal cuek, tapi beberapa orang senang kalo aku perhatikan bahkan sampai hal kecil sekalipun.
Tiga tahun yang lalu aku memiliki tetangga baru. Rumahnya tepat di seberang jalan rumahku. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, aku selalu bersembunyi dibalik pintu gerbang terlebih dahulu, memperhatikan seseorang yang sedang duduk di halte dekat rumah.
Dia cantik, manis, anggun, dan juga memiliki senyum manis yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Gaya berpakaiannya yang sederhana tapi berkesan luar biasa. Hingga suatu hari aku baru menyadari bahwa kita berada dalam satu kampus dan fakultas yang sama tetapi dikelas yang berbeda.
Sore itu, aku membantu seorang ibu yang kedua tangannya penuh dengan belanjaan. Aku berinisiatif membantunya, walau awalnya menolak tapi akhirnya ibu itu menerima tawaran ku untuk membantu membawakan belanjaannya. Namanya ibu Aya.
Awal melihat ibu aya, wajahnya begitu familiar di indra penglihatanku, aku seperti pernah melihatnya dalam wajah orang lain. Tapi aku tidak ingat siapa orang itu. Di sepanjang perjalanan kita bercerita tentang banyak hal, aku yang menceritakan tentang dunia perkuliahan ku, dan ibu aya bercerita tentang kehidupan barunya di kota Jakarta ini.
Hingga langkah kami berhenti di sebuah rumah yang tentu saja tidak asing bagiku. Karna apabila aku melihat ke sebrang jalan raya disanalah rumah ku. Hingga detik itu aku menyadari bahwa wajah yang begitu familiar di indra penglihatanku adalah wajah gadis yang sering aku perhatikan setiap pagi.
Aku diajak masuk dan disuguhkan dengan secangkir teh yang sangat harum. Setelah ribuan pertanyaan yang ada dipikiranku beradu. Akhirnya aku menemukan jawaban bahwa ibu aya adalah ibu dari gadis itu. Tapi kenapa aku tidak tahu bahwa ibu aya tetangga baruku? Tentu saja karna aku yang jarang sekali keluar rumah.
Setelah hampir 30 menit berkunjung kerumah bu aya, aku memutuskan untuk pulang. Tapi sampai detik aku pulang pun aku masih tidak bertemu gadis itu dan bodohnya lagi aku bahkan tidak mengetahui nama gadis itu.
Besok paginya, gadis itu sudah duduk di halte dengan memainkan handphone nya. Setelah berpikir ribuan kali aku memutuskan untuk melangkah menuju halte dan duduk disampingnya. Jangan tanyakan gimana keadaan jantungku. Untuk ukuran orang yang tidak mudah bergaul tentu ini sangat menegangkan.
"Hai" Sapa gadis itu. Bodohnya aku yang tidak berani menyapanya terlebih dahulu. Dasar pengecut
"Kamu tetangga rumah depan aku kan? " Lanjutnya, dengan bodohnya aku hanya mengangguk. Melihat respon ku dia tertawa menampilkan deretan gigi rapihnya. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, batinku.
"Kamu lucu kalo lagi gugup" Ucapnya yang berhasil menarik atensi ku untuk menatap kedua bola matanya.
Lihatlah matanya bahkan begitu indah. Berwarna coklat, memang Tuhan begitu sempurna menyiptakan gadis ini. Mata kita masih terkunci, sampai akhirnya dia memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
"Hai, aku Yessica Tamara. Kamu boleh panggil aku ica atau chika"
"A.. Aran" Jawabku gugup seraya menerima jabatan tangannya. Apa yang aku rasakan ketika menjabat tangannya? Tentu saja kelembutan tangannya.
Ketika sampai kampus semua pandangan tertuju pada kita. Bagaimana tidak, aku berjalan dengan seorang gadis yang akhir-akhir ini dibicarakan karena kecantikkan nya yang sekarang sedang berjalan bersama serbuk debu kampus.
"Nanti kita balik bareng ya" Ajaknya sebelum masuk kedalam kelas
🗝
Waktu demi waktu berlalu. Kedekatan ku dengan dirinya makin hari makin terlihat. Tak sedikit orang mengira bahwa kita berpacaran. Cabang itu begitu terasa saat aku mengetahui bahwa aku dan dirinya berbeda keyakinan. Dengan bodohnya rasa ini datang bertambah besar disaat ada dinding tinggi yang menghalangi.
Sampai detik ini aku masih belum punya nyali untuk menyatakan perasaanku padanya. Terlalu ciut mengatakan bahwa aku memiliki perasaan berbeda dari sebuah pertemanan. Perasaan cinta, sayang, dan rasa ingin memiliki. Ketidakyakinanku adalah keluargaku begitu kental dengan islami, bagaimana aku bisa merebut umat dari Tuhan lain.
Yessica Tamara, gadis cantik yang sekarang begitu mengenali diriku. Yang mengerti semua kekuranganku, memiliki selera humor yang sama denganku, selalu membantuku, tapi dia tidak mengerti perasaanku.
Chika begitu manis saat tersenyum. Selalu punya cara tersendiri saat menenangkanku. Chika selalu memelukku saat aku berada di titik bimbang dan ketakutan. Pelukannya yang hangat dan usapan lembut di punggungku selalu berhasil membuat diri ini tenang. Sedangkan chika cukup dengan memejamkan matanya, lalu tangan kanannya mengusap salib yang bergelantung cantik di leher jenjangnya.
Setiap malam aku selalu berdoa seraya menyebut namanya. Terlalu konyol dan memaksa jika dia harus menjadi jodohku.
🗝
Waktu itu, pertama kalinya aku menjalani ibadah puasa bersamanya. Meski dia tidak memiliki kewajiban untuk berpuasa. Tapi dia selalu menemani sahurku melalui panggilan vidio. Kedua orang tua ku tau bahwa aku tertarik padanya, sering kali abi ku mengingatkanku bahwa kita berbeda.
Bukan bermaksud menutup telinga dengan apa yang abi bilang. Hanya saja mencoba membatasi rasa sakit yang entah kapan akan hilang.
Ddrrttttt....
Chika is calling
"Malam aran, selamat sahur"
"Ini udah pagi chika" Jawabku seraya tersenyum. Entahlah gadis itu kadang terlihat sangat konyol
"Iya deh. Mmm, sahur pake apa ran? "
"Umi masak ayam goreng sambel ijo"
Mendengar ayam goreng sambel ijo aku melihat matanya berbinar "iya nanti aku bilang umi biar nanti buka bikin lagi" Lanjut ku
"Ahhhhh aran baik banget, makasih aran hehe"
"Nanti pagi sibuk ngga? Joging yuk? " Ajakku padanya. Biasanya aku joging bersama abi umi, tapi mereka ada kerjaan diluar
"Yah Aran. Aku nanti gereja ran. Habis balik gereja gimana? "
"Mau berantem dimana chik? Kamu pulang gereja siang ya kali siang siang lari, bisa batal puasaku karna haus"
"Heheh" Chika hanya menanggapinya dengan candaan
Itulah chika gadis yang mampu mencairkan suasana walaupun kadang membuat emosi, tapi itu menggemaskan bagiku. Entahlah bagiku semua hal yang dilakukannya terlihat begitu menggemaskan. Sambungan vidio itu berakhir saat adzan subuh sudah berkumandang.
Di beberapa kesempatan aku menemaninya gereja, walaupun aku hanya duduk di deretan kursi paling belakang. Sesekali aku memperhatikan ruangan gereja ini, melihat chika yang begitu khusyu berdoa sejenak aku berpikir bisakah aku menyebrang untuk menjemputnya, atau aku hanya bisa melihatnya dari jauh saja.
Jika sedang diperjalanan chika juga sering menemani ku solat jumat. Aku masuk ke masjid, sedangkan chika menunggu ku didalam mobil. Tidak ada sekalipun keluh kesah yang dia keluhkan saat menungguku, aku tau pasti menunggu didalam mobil akan sangat membosankan dan panas. Tapi lagi lagi dia hanya tersenyum.
Hari sudah sore, seperti janjiku tadi pagi pada chika aku membawakan bekal ayam goreng sambel ijo buatan umi. Chika menemani ku buka puasa tapi bukan dirumahku atau di rumahnya, tapi di sebuah danau. Karna setiap bulan puasa akan ada event dilapangan dekat danau.
Setiap hari seperti itu, chika menemaniku sahur dan berbuka puasa. Kecuali chika ada acara, biasanya aku buka puasa bersama abi umi, atau teman kampusku.
Hingga suatu hari, chika bercerita tentang seorang pria yang disukainya. Melihat dirinya bercerita seraya memancarkan aura kebahagiaan. Aku hanya bisa pasrah dan menjadi pendengar yang baik. Jangan tanyakan rasa sakitnya. Tentu itu sangat menyakitkan dimana seorang gadis yang sangat amat disukainya menceritakan sosok indah yang berhasil singgah di hatinya.
Sejak kejadian itu, chika mulai lost contact. Susah untuk diajak keluar bersama atau hanya sekedar jajan diangkringan. Sering aku berkunjung kerumahnya tapi ibu aya selalu bilang chika sedang keluar dengan pacarnya. Kita jadi asing sejak acara ulang tahun chika.
Ya sebulan yang lalu mereka jadian. Apakah aku terlalu egois untuk memintanya selalu bersamaku,selalu ada dalam jangkauan mataku sedangkan dia sedang menjaga hatinya untuk seseorang.
Hal itu tentu sedikit berdampak pada hariku. Aku jadi semakin pendiam. Sering kali abi dan umi menyemangati ku.
"Manusia itu harus lebih cerdas dalam menghadapi masalah, iringi dengan kesabaran hati, dan selalu libatkan Allah dalam segala hal. Itulah jalan keluar yang terbaik untuk menghadapi masalah. Kadang Allah menguji hamba Nya dengan menghadirkan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah umat Nya lebih mencintai pencita Nya atau ciptaan Nya" Itulah kata-kata abi yang selalu terngiang dipikiranku
Aku juga menceritakan masalahku pada sahabat terbaik ku Mirza. Aku paham sebenarnya obat sakit hati adalah hati yang baru. Tapi aku belum bisa, terlalu berat untuk di lepas walau belum pernah tergenggam.
"Bro, melepaskan orang yang dicintai memang menyakitkan dan mungkin ngga semua yang dicintai harus dimiliki. Sering kali cinta itu ngga harus menyatu tapi terkadang cinta itu terpisah" Ujar Mirza berusaha membantu ku untuk move on
Oh, iya aku sudah sempat menyatakan cintaku pada chika saat dirinya ulang tahun 2 minggu yang lalu. Tapi karna aku begitu pengecut, aku hanya berani menyatakannya lewat chat. Dan balasan yang aku dapat hanya dua centang biru. Yap benar dia tidak merespon atau mungkin dia lupa merespon.
Sampai detik ini aku terlalu takut untuk mengetahui kabarnya. Ya, sudah 3 tahun aku pindah ke Bandung setelah aku lulus kuliah. Aku tidak mungkin berpamitan dengan chika karna itu akan membuatku gagal move on.
Walaupun sudah 3 tahun, nyatanya aku masih belum bisa melupakannya. Aku masih berdiri di persimpangan untuk memilih jalan, atau berbalik arah kembali ke masa lalu. Karna aku tau, kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan. Dan pada akhirnya, aku Arandy Khaulah gagal move on dengan semua kenangan indah yang masih terukir jelas dalam ingatanku 3 tahun lalu.
Chika, aku masih Aran yang dulu dengan kisah cinta lamaku~
End~