Sunyi senyap serta hembusan angin malam yang menembus tulang tak membuat getar rasa semangat seorang wanita paruh baya untuk menempuh perjalanan bebatuan tanpa satupun
penerangan yang menemaninya. Hal ini ia lakukan untuk memberi sesuap nasi kepada anak semata wayangnya. Semenjak menjadi seorang janda beranak satu, untuk memenuhi kebutuhan
keluarga kecilnya ia harus menjadi buruh tani di salah satu lahan sawit milik orang tersohor di daerahnya. Upah harian yang diterima pun tak seberapa, tetapi setidaknya dapat menjanggalkan
perut yang keroncongan. Prinsipnya hanya satu yaitu mensyukuri pemberian sang Pencipta. Ia tak pernah mengeluh apapun ujian yang diterimanya selama ini. Bahkan pada saat ditinggalkan
oleh lelaki yang sangat dicintai untuk selamanya, ia masih mampu melengkungkan bibirnya ke atas walaupun berat rasanya ditinggalkan oleh pasangan sehidup sematinya.
Dari kejauhan, nampaklah sebuah gubuk reyot dengan penerangan remang-remang di atas bukit. Sedikit lagi akan sampai, batinnya. Ia pun memperlebar langkahnya agar segera tiba di rumahnya. Setibanya, ia mengetuk pintu tiga kali tetapi dari arah dalam rumah tidak ada suara apapun yang menyahutinya. Ia ketuk kembali pintu didepannya sedikit lebih keras dari
sebelumnya. Kembali, tidak ada yang menyahuti hanyalah suara jangkrik yang terdengar di sekitar halaman rumahnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengintip keadaan di dalam melalui
celah dinding rumahnya yang sedikit terbuka. Lalu, ia mengernyitkan dahi keriputnya. Kosong ?, pikirnya. Tidak seperti biasa, anaknya itu meninggalkan rumah setelah matahari tenggelam di
ufuk barat. Tiba-tiba ia memikir sesuatu, apakah mungkin ia pergi ke tempat itu lagi ?, pikirnya. Setelah memikirkan hal yang mengusik hatinya, entah kenapa badannya mulai menegang, pikirannya kacau dan badannya mengeluarkan keringat dingin. Kemudian, ia menaruh barang bawaannya dengan sembarang dan segera mencari keberadaan anaknya. Selama perjalanan mencari anaknya, ia berusaha untuk berpikir jernih dan menuju tempat bermain Lutfi, anaknya. Tempat pertama yang menjadi tujuannya yaitu tanah lapang di pinggir
desa. Disana, ia menghembus napas lega karena dapat melihat anaknya sedang duduk dengan kawan-kawan sepermainan.
"Lutfi...!" Teriaknya memanggil sang anak.
Tergesa-gesa ia menghampiri kerumunan para remaja di tengah tanah lapang tersebut. Lalu ia segera menepuk bahu seorang anak laki-laki yang diyakini bahwa anak tersebut adalah Lutfi. Lalu, karena merasa ada yang menepuk bahunya, anak laki-laki dengan baju putih itupun menoleh kebelakang.
"Iya bu, ada sesuatu yang dapat saya bantu bu ?" tanya anak tersebut.
"Maaf nak, saya pikir Lutfi anak saya" jawab wanita paruh baya tersebut terlihat kecewa dengan perkiraannya tadi.
"Tadi Lutfi sudah pulang bu dan katanya ingin masuk ke hutan" sahut salah satu anak perempuan.
"Tidak mungkin dia kesana" Ia berusaha membantah, jika anaknya tidak berjalan ke tempat yang disampaikan tadi.
"Benar bu, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Katanya ia ingin mencari sesuatu" ucap anak laki-laki meyakinkan kepada wanita paruh baya.
Seketika wanita paruh baya tersebut mematung, setelah mendengar penuturan dari anak laki-laki di depannya. Anakku tidak mungkin kesana, pikirnya. Tiba-tiba tanpa mampu
membendung lagi perasaannya yang kacau dan letih, Ia bersimpuh dan berteriak histeris diantara kerumunan para remaja tersebut. Tentunya, mereka yang melihat kecemasan yang nampak jelas diraut wajah yang telah termakan usia akan merasakan iba sekaligus empati. Tanpa ada kata pamit, ia bangkit dan berlari ke arah pos penjaga desa, dengan tergopoh-gopoh ia berlari dan tak perduli dengan sakit kakinya yang ditusuk duri rumput-rumput liar karena ia tak sempat beralas kaki. Segera ia pukul kentongan, sebanyak lima kali pertanda bahwa ada sesuatu hal sangat
genting. Tak berselang lama warga berbondong-bondong menghampiri sumber suara yang diciptakan oleh wanita paruh baya.
"Kenapa wanita itu memukul kentongan sebanyak lima kali?" bisik salah satu ibu-ibu yang yang ikut berkumpul di pos penjaga. Ibu-ibu lainnya hanya mengangkat bahu acuh.
"Ada sesuatu hal yang terjadi ibu, mungkin kami bisa bantu ?" tanya seorang laki-laki paruh baya terhadap wanita paruh baya.
"Anak saya Lutfi pak, pergi ke hutan seorang diri dan belum pulang ke rumah hingga petang tiba" jawab wanita paruh baya dengan isak tangis yang masih mendominasi dirinya.
"Baik, sekarang ibu tenang dulu. Warga akan membantu ibu mencari nak Lutfi, dikhususkan untuk bapak-bapak dan untuk ibu-ibu tolong jaga ibu ini" ucap pemuka agama di desa tersebut.
Bapak-bapak warga setempat segera mempersiapkan keperluan mereka seperti obor sebagai penerangan serta parang untuk berjaga-jaga di dalam hutan, sedangkan ibu-ibu berusaha
menenangkan wanita paruh baya yang masih menangis sesegukan memikirkan anaknya.
"Bapak-bapak, alangkah baiknya kita melakukan pencarian secara terpisah agar nak Lutfi segera ketemu" ucap petuah agama mengatur warga yang akan melakukan pencarian.
"Saya minta tolong, untuk mencari anak saya, karena Lutfi satu-satunya keluarga yang- -" belum sempat menyelesaikan perkataannya, wanita paruh baya tenggelam pada kegelapan mungkin
karena rasa khawatir dan lapar yang menyelimuti dirinya. Warga yang melihat wanita paruh tergeletak tak berdaya di atas tanah, langsung saja membopong badan ringan tersebut ke rumah warga yang terdekat dan melakukan pengecekan kondisi badannya oleh mantri yang bertugas di desa. Bulan telah memancarkan cahaya terang benderang, sehingga warga pun memutuskan untuk langsung melakukan pencarian secara
terpisah sesuai pembagian tugas oleh petuah agama. Tak berselang lama, warga telah kembali dari tempat pencariannya bersamaan dengan wanita paruh baya yang sadar dari alam bawah sadarnya.
"Bagaimana dengan pencarian kalian ?" tanya pemuka agama kepada bapak-bapak yang ikut mencari ke dalam hutan.
"Maaf, kami tidak menemukan apapun di dalam hutan" sahut salah satu warga
"Mungkin Lutfi telah meninggal dimakan oleh hewan buas di dalam hutan sperti bapaknya dulu" sahut salah satu warga desa dengan nada sinis.
"Tidak!. Lutfi masih hidup!, anak saya masih hidup!" bantah wanita paruh baya, yang secara kebetulan mendengar percakapan warga. Kemudian, ia langsung menyambar obor dan parang
dan berlalu meninggalkan gerombolan warga.
"Ibu ingin kemana ?. Kondisi ibu belum stabil" tanya istri dari petuah agama dengan lembut.
"Saya akan mencari Lutfi, saya yakin anak saya belum meninggal. Tolong jangan halangi saya" ucapnya dengan nada serius.
"Kau sudah gila, ingin berjalan sendiri di dalam hutan. Itu terlalu bahaya" sahut salah seorang wanita tua dengan berkacak pinggang. Ia tetap dengan pendiriannya, ingin mencari anaknya,
satu-satunya keluarga yang dimiliki saat ini. Tanpa menghiraukan sahutan warga, ia berjalan ke dalam hutan dengan sesekali mengusap kasar airmata yang berjatuhan dengan sendirinya. Ia sangat yakin bahwa anaknya pergi ke tempat sang suami ditemukan telah terbujur kaku waktu itu, dengan sigap ia menerobos semak belukar yang menghalangi jalannya. Sungguh, ia tak perduli dengan goresan-goresan
pada tubuhnya yang renta akibat ranting-ranting pepohonan. Dipikiran dan perasaannya hanyalah keadaan anaknya sekarang. Ia tak mau hidup sebatang kara, cukup sang suaminya saja yang
meninggalkannya di hidup ini. Tiba-tiba dari kejauahan terdengar suara rintihan seseorang dari arah dalam hutan, terdengar sangat lirih seperti bisikan. Entah kekuatan apa yang ia alami,
sehingga dapat mendengarkannya. Apakah itu suara Lutfi ?, pikirnya. Segera ia menghampiri arah suara tersebut, tapi tunggu ! Kenapa ada suara yang aneh dari arah rintihan tersebut ?, pikirnya. Aku harus segera ke sumber suara itu. putusnya.
Ketika ia melihat pemandangan di depannya, bibirnya terkatup rapat, badannya tak mampu bergerak, keringatnya bercucuran sangat deras. Ia melihat anaknya terbujur kaku, dengan
badan yang bersimpah darah. Tak lupa pula, di depannya terdapat hewan nampak seperti kucing tetapi badannya lebih besar. Entahlah wanita paruh baya tersebut tidak mengetahui nama hewan
tersebut karena ia tak mengemban pendidikan karena biaya yang minim, hanya yang ia ketahui bahwa hewan tersebut pemakan daging termasuk memakan sebagian tubuh suaminya.
Kemudian, dengan sekuat tenaga, ia melempari batu yang disekitarnya tepat pada kepala hewan tersebut. Hewan tersebut mengaung, mungkin pertanda kesakitan yang dirasakannya. Hingga
pada akhirnya hewan yang dikenal buas tersebut memilih untuk meninggalkan calon mangsanya, siapa lagi kalau bukan Lutfi."Tolong,,," rintihan seseorang yang terbaring lemah tersebut. Wanita paruh baya segera membalikkan badannya melihat keadaan anaknya, yang dapat
dikatakan mengenaskan. Ia pun mencari tumbuhan herbal dan menggunakan daunnya, yang mana berfungsi sebagai memperlambat pendarahan.
Setelah itu, ia menumbukkan beberapa lembar daun dan segera diberikan pada luka yang terdapat pada bagian perut anaknnya. Melihat anaknya yang merintih kesakitan, ia menahan isakan tangisnya secara mati-matian. Setelah itu, Ia berusaha memapah badan Lutfi yang sedikit lebih tinggi dari badannya dan segera berjalan keluar dari dalam hutan.
"Tunggu nak, sebentar lagi kita akan sampai" ucapnya.
"Lutfi su-sudah tidak ta-tahan bu" ucap Lutfi dengan sedikit terbata-bata. Mendadak, anak wanita paruh baya tersebut terkulai lemas diatas tanah. Oleh karena, wanita paruh baya tersebut
merangkul tangan anaknya pada badannya, makai ia juga ikut terjerambab di atas tanah.
Namun, ia segera bangkit dan menggendong anaknya seperti karung beras. Kemudian dengan sekuat
tenaga, ia berteriak minta tolong kepada warga desa yang belum bubar di depan rumah petuah agama.
"Siapapun, tolong anak saya" teriaknya.
Warga yang melihatnya pun segera membantu Ibu dan anaknya agar mendapat pertolongan medis terutama pada Lutfi. Untunglah, petuah agama tadi meminta tolong kepada mantri agar
tidak pulang terlalu cepat, karena firasatnya mengatakan bahwa wanita paruh baya akan menemukan Lutfi, anaknya. Mantri pun dengan sigap memberikan penanganan yang sangat
intensif dengan peralatan seadanya.
Guna mengistirahtakan badan rentanya setelah menempuh perjalanan dari dalam hutan wanita paruh baya pun duduk termenung untuk menunggu hasil pemeriksaan anaknya. Istri petuah agama yang melihat, segera menghampirinya untuk memberikan sedikit ketenangan dan semangat.
"Saya takut bu, takut kehilangan lagi" dengan isak tangis ia menyampaikan perasaan yang ia simpan daritadi.
"Lutfi akan baik-baik saja" ucap istri petuah agama mendekap badan renta itu. Wanita paruh baya hanya mengaminkan dalam hati dan terisak dalam dekapan hangat tersebut. Tak berselang
lama, mantri yang bertugas dalam mengobati Lutfi telah keluar dari dalam rumah, pertanda bahwa tugasnya telah usai. Semua bangkit dari tempat dari duduknya agar dapat mengetahui
keadaan Lutfi tak terkecuali wanita paruh baya yang langsung menghampiri mantri.
"Bagaimana kondisi anak saya pak mantri?" tanya wanita paruh baya kepada mantri.
"Untung kondisi fisik Lutfi kuat dan ibu juga tadi memberikan pertolongan pertama. sehingga darah yang keluar tidak terlalu banyak" ucap mantri.
"Alhamdulillah" ucap serempak dari warga desa. Kemudian, mantri pun mempersilahkan kepada wanita paruh baya tersebut untuk menjenguk anaknya. Tak lupa pula, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada mantri. Ia sekarang mampu menghembus napasnya lega karena dapat melihat anaknya yang telah bersamanya. Ia berjanji akan merawat anaknya sekuat tenaga sebagaimana amanat almarhum sang suami dulu.
Hai,,, ini cerpen aku yang ke-3, jangan lupa vote hehe
Karya :
1. Serpihan Impianku
2. Museum Cermin
3. Saya Tak Ingin Kehilangan Lagi