Nina membetulkan tali sepatunya yang tidak lepas dengan gugup, sambil membungkuk dia menoleh ke belakang, grab yang tadi barusan mengantarnya telah hilang dari pandangan, berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya.
Hari ini adalah hari pertama Nina pindah sekolah, tentu saja dia gugup bukan main.
Nina pindahan dari desa, karena mengikuti paman dan bibinya yang berada di kota akhirnya dia di bawa beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya, Nina adalah anak yang mandiri, dia terbiasa mengurus dirinya sendiri, tetapi tetap saja untuk pertama kali berada di lingkungan baru, Nina merasa gentar, apalagi dia tidak kenal siapapun di sini.
Andai ayahnya masih hidup, dia akan memilih tetap tinggal di desa saja bersama emak dan dua orang adiknya yang masih SD.
Tapi pamannya adik dari ayahnya, bersikeras ingin menyekolahkannya di kota, karena telah berjanji saat ayahnya sakit-sakitan akan mengurus dirinya dan adik-adiknya dengan baik.
"Selamat pagi, Neng?" Bapak yang sedari tadi berdiri di pintu gerbang menyapanya, dia tersenyum ramah pada semua anak-anak berseragam yang masuk lewat gerbang.
Melihat Nina tampak ragu, dia akhirnya menegur gadis itu.
"Selamat pagi, pak." Sahut Nina, dia membungkuk pada laki-laki paruh baya dengan seragam abu-abu tua bertuliskan "Aminudin" di atas saku dadanya.
"Neng murid baru, ya?" Tanyanya.
"Iya, Pak. Saya pindahan, baru hari ini masuk sekolah di sini."
"Kelas berapa?"
"Sebelas."
"Oh, kelas sebelas di lantai dua, neng"
"Pak, ruang kepala sekolah di mana? kemarin bibi saya yang mengurus administrasi kepindahan jadi hari ini saya di suruh turun langsung menemui kepala sekolahnya."
"Ruang kepsek di lantai bawah, Lurus saja neng lewat lapangan ini, nanti ada di ruangan pertama setelah aula ini" Pak Aminudin menunjuk ke arah bangunan besar paling kiri.
"Terimakasih, pak " Nina membungkuk lagi dengan hormat pada penjaga gerbang sekolah berwajah ramah itu.
"Sama-sama, neng."
Nina menarik tali ransel tasnya, melewati pak Aminudin, beberapa orang siswi berseragam sama dengannya berjalan cuek mendahuluinya.
"Oh, Tuhan...bagaimana ini?" Nina menggigit bibirnya, dia gugup sendiri apalagi ketika ada beberapa anak laki-laki melirik padanya.
Penampilan Nina biasa saja, rambutnya yang panjang sepinggang itu di kepang rapi. Alisnya yang hitam legam mengintip di balik poninya yang tak kalah hitamnya. Wajahnya oval manis, tanpa bedak tanpa lipstik atau lipbalm seperti halnya anak-anak perempuan lain. Kulitnya yang putih bersih itu bersinar alami, itulah yang membuatnya berbeda di antara siswi yang berpapasan dengannya.
"BRUK!!!" Tiba-tiba tubuhnya di tubruk dari belakang hingga jatuh.
Nina terpekik kecil karena terkejut, ketika dia mendonggak, seorang gadis cantik dengan bulu mata panjang dan rambut yang ikal sepunggung melotot padanya dengan mimik kesal sambil mungut handphonenya yang sepertinya jatuh dari tangannya ketika menabrak Nina.
"Hey, kalau jalan jangan kayak siput! Menghalangi jalan orang saja. Tuh, liat, kalau HPku rusak kamu tanggungjawab nggak?!" Bentaknya dengan pias murka.
Nina segera berdiri, dia bingung sendiri, gadis ini yang menabraknya tapi malah dia yang marah-marah padanya.
"Iya, Lex...si lelet ini malah plangak plongok aja." Temannya yang berambut di set pendek itu melipat tangan di depan dada tak kalah masam wajahnya.
"Ayo, minta maaf sama Lexi! Jangan melongo aja! Kamu anak baru, ya?" Temannya yang di sebelah kanannya maju melotot tak kalah besarnya pada Nina.
"Kenapa aku yang minta maaf? aku salahnya apa? Yang nabrak kan dia?" Tanya Nina dengan polos. sambil menunjuk pada gadis ala model yang di panggil Lexi itu.
"Heeey...jangan kurang ajar! Tunjuk-tunjuk orang, jarimu mau kupatahin apa? kamu gak tau Lexi, ya? Dia cewek terpopuler di sekolah sini, daddynya donator utama sekolah ini!" Si rambut model Yuni Shara itu berteriak, mengundang perhatian beberapa siswa siswi yang berlalu lalang di situ.
Mata Lexi membeliak, terlihat semakin kesal pada Nina, tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Nina yang polos berusaha mencerna apa yang di katakan padanya, di desanya tidak ada istilah populer dan donator. Sekolah di desanya hanya SMA satu atap dengan sebuah SMP, siswanya kurang dari seratus dan berstatus negeri. Tidak ada yang jadi donator seperti halnya sekolah swasta, sekolah Negeri gratis dan di biayai pemerintah.
"Tapi, aku kan tidak salah apa-apa. Yang harusnya minta maaf kan yang nabrak?" Nina menunjuk lututnya yang tergores terkena batu.
"Astagaaaah, anak ini memang kurang ajar!" Tiba-tiba Lexi mengangkat tangannya, dan..
"PLAK!" pipi Nina menjadi sasaran tamparanya.
Nina terpekik tanpa sempat menghindar, saat Lexi hendak memukulnya lagi Nina mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh.
Lexi berteriak meradang, kedua temannya tak kalah terkejutnya dengan keberanian Nina.Tidak oernah ada orang yang berani berbuat demikian pada Lexi. Mereka membantu Lexi berdiri dan bersiap mengeroyok Nina.
"Dasar cewek sun..."
"Hentikan!" Tiba-tiba tubuh jangkung dengan pakaian seragam yang sama berdiri tepat di depan Nina, bahkan Nina tak bisa melihat wajahnya, hanya suaranya yang bariton itu terdengar macho dan berat.
Lexi dan kedua temannya mendadak seperti patung di depannya.
"Don?" wajah Lexi berubah dari marah menjadi memelas, dia seperti seorang aktris korea yang sedang memerankan tokoh dalam drama, begitu cepat berganti pias saat melihat laki-laki bernama Don ini.
"Dia mendorongku, anak baru ini mendorongku." Rengeknya.
"Sudahlah, Lexi jangan kebanyakan drama, aku tahu benar yang terjadi. Aku melihat bagaimana kamu menamparnya." Don berucap dingin.
"Don, itu gak seperti yang kamu liat, dia yang duluan! tanya Iin sama Sasa. Dia yang..."
"Lexi, aku hanya perlu melihat gak perlu penjelasan."
Don berbalik dan menatap lamgsung pada mata Nina.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Nina terpesona pada seorang laki-laki. Don, benar-benar tampan meski rambutnya sedikit tak rapi, bajunya juga tidak di masukkan dengan benar, tetapi dengan wajah dingin tanpa senyum itu, dia terlihat tampan.
"Kamu gak apa-apa, Nina?"
Nina terperanjat, dia merasa baru pertama kali bertemu dengan laki-laki bernama Don ini, tetapi dia sudah tahu namanya tanpa perlu dia memperkenalkan diri.
"Aku tak apa-apa." Nina menggeleng-geleng kepalanya, hampir tanpa sadar.
"Kamu mengenalnya?" Lexi tak kalah terkejutnya.
"Dia pacarku." Don mencengkeram kedua lengan Nina, matanya tak menunjukkan reaksi apa-apa saatengucapkan kalimat pendek yang hampir membuat jantung Nina berhenti itu.
"Haaaah...." Tiga orang gadis itu berteriak terkejut, dengan beberapa siswa lain yang kebetulan berada di sekitar mereka, kepo dengan keributan yang terjadi barusan.
"Kamu jangan bercanda, Don!" Lexi terlihat paling shock.
"Nina, ayo ikut aku...aku akan mengantarmu kepada Bu Indah." Nada suara Don menurun.
Tanpa sempat menolak, tangannya sudah di gandeng Don.
"Oh, ya Lex, please jangan ganggu Nina, dia pacarku sekarang. Kalau kamu masih cari gara-gara, kamu tahu sendiri kan, aku akan mengusirmu dan mamamu dari rumahku." Ucapan itu terdengar dingin, Lexi hanya melongo mendengarnya.
Nina melepaskan tangannya dari genggaman Don ketika mereka sampai di lorong arah ruangan kantor.
"Dari...dari mana kamu kenal namaku?" tanya Nina.
"Aku bertemu Bu Indah, dia bilang ada siswa baru di kelasku bernama Nina, kebetulan aku adalah ketua kelasmu nanti." Jawab Don dengan wajah tanpa dosa.
"Kenapa...kenapa kamu bilang aku...aku pacarmu?" Tanya Nina dengan gemetaran.
"Aku menyukaimu dari pertama aku melihatmu." Jawab Don acuh tak acuh.
"Tapi..."
Don membungkuk, wajahnya mendekat.
"Jadilah pacarku." Suaranya setengah membisik tetapi tegas.
Nina benar-benar tak menyangka, di hari pertama dia masuk sekolah langsung di tembak oleh Don yang ternyata cowok terpopuler, primadona di sekolahnya itu. Dan rahasia selanjutnya yang tak kalah mengejutkan, Don ternyata saudara tiri Lexi.
Papa Don menikah dengan mama Lexi yang adalah selingkuhan Papa Don. Mama Don meninggal karena sakit hati atas perselingkuhan papanya dengan janda beranak satu itu. Dan anehnya, Lexi malah tergila-gila pada Don, saudara tirinya yang tampan itu.
Nina, menjadi kekasih sang primadona sekaligus sebagai penolong bagi cowok sakit hati itu untuk menyembuhkan lukanya sekaligus membalas dendam Don pada Lexi.
Tamat.
(Kira2 kalau jadi novel, ada gak yang baca ya 😅)