Disebuah rumah sederhana, terdapat 8 orang pemuda. Mereka bukan hanya pemuda biasa. Mereka adalah pemuda dengan keistimewaan mereka masing-masing. Akan ku perkenalkan mereka semua. Pertama, yang paling tua diantara mereka, Bimasakti Anggara Aditama. Sosok Kakak yang selalu melindungi Adik-Adiknya. Ia rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan Adik-Adiknya. Sesulit apapun itu, ia mampu, demi Adik-Adiknya. Sosok Kakak idaman. Sosok tampan yang pekerja keras. Tak kenal lelah asal ia mendapat balasan yang setimpal—senyum Adik-Adiknya.
"Menyusahkan! Musnah saja, kau!"
"Tidak berguna! Untuk apa kau hidup? Hanya untuk menyusahkanku saja?! Lebih baik kau pergi bertemu dengan Tuhan!"
Kala itu, benda tajam yang dapat menyakiti berada ditangannya. Tanpa ragu sedikitpun, ia mengarahkan benda tajam itu ke pergelangan tangannya. Goresan-goresan kecil yang kian memanjang memenuhi pergelangan tangannya. Sensasi baru yang ia rasakan. Meski sakit, namun tak sesakit apa yang ia rasakan. Ia tersesat, tak tahu arah jalan untuk kembali pulang. Dunianya gelap, tanpa harapan, tanpa tujuan.
Ke-dua, yang tertua setelah Bimasakti, Mahesa Ananda Putra. Sama seperti Bimasakti, ia akan melakukan apa saja demi Adik-Adiknya, juga Kakaknya. Sosok tampan yang tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Yang selalu bisa diandalkan dalam hal memasak, juga belanja bulanan. Ia sudah bekerja, sama seperti Bimasakti. Adik-Adik dan Kak Bima adalah prioritas. Selalu menjadi penengah bagi mereka. Jika Bimasakti adalah sosok Kakak pekerja keras, lain dengan Mahesa. Mahesa adalah sosok yang santai. Panggil saja ia dengan Esa.
Ruangan itu remang. Suasana kala itu kebetulan sedang malam hari. Meringkuk sendirian dipojok ruangan. Dengan kedua lutut yang menutupi wajahnya. Menahan tangisnya kesakitan. Lalu, terdengar suara tawa nyaring. Namun, isak tangis kembali terdengar. Hanya sendirian, tanpa ada satu tangan pun yang sudi terulur untuknya. Disertai pikiran yang bercabang. Kosong, hampa.
"Aku harus selalu tersenyum. Tidak ada orang yang peduli dengan semua rasa sakitku. Tidak ada gunanya menangis. Ahaha."
"Jangan mengharapkan belas kasih orang lain, bodoh! Mereka hanya ingin tahu, bukan peduli dengan apa yang kau rasa!"
Yang ke-tiga, Cakra Aji Dhananjaya. Sama dengan Bimasakti dan Mahesa, Cakra sudah bekerja. Wajahnya tampan, namun terlihat menyeramkan. Dingin dengan sekitar, namun ia akan berubah menjadi Hello Kitty bila bersama Adik-Adik, juga dua Kakaknya. Ia mampu. Orang ketiga yang punya tanggungjawab besar di rumah itu setelah Bimasakti dan Mahesa. Gelak tawa Adik-Adik dan dua Kakaknya adalah amunisi untuk semangatnya. Hati-hati dengan Cakra.
"Kalian memuakkan! Aku benci kalian!"
Tidak ada yang dapat mengerti. Mereka hanya tahu luarnya saja, tanpa mau tahu dan simpati dengan dalamnya. Mereka hanya tahu kebahagiaan, tanpa tahu kesedihan. Semua sama menurutnya. Tidak ada yang berbeda. Ia lelah, ia membutuhkan sebuah pundak. Adakah seseorang yang sudi meminjamkan bahunya? Tolong katakan sekarang. Amarah, kecewa, sedih, air mata, semua bercampur menjadi satu. Dunia nampak abu-abu baginya. Tidak percaya lagi keajaiban, juga mukjizat Tuhan.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja."
Yang ke-empat, Haris Angkasa Mahendra. Si Tampan idaman yang selalu mendapatkan perhatian. Masih duduk dibangku sekolah menengah. Seragamnya yang tidak rapih, celana abu-abu yang terkadang berdebu, juga rambut yang berantakan, itu ciri khas Haris di sekolah. Namun, berbeda dengan di rumah. Ia akan menjadi sosok penurut untuk Adik-Adik dan Kakak-Kakak kesayangannya. Pemberontak tampan diantara mereka. Paling manja diantara semua. Ia tidak mandiri, tapi berusaha mandiri untuk Adik-Adik kesayangannya.
Rumah megah yang menjadi naungan. Pakaian mewah yang selalu melekat. Seluruh kenikmatan dunia ia rasakan. Bak Pangeran di dunia dongeng, ia menikmatinya. Dimanja, apapun yang ia inginkan selalu tersedia. Namun suatu ketika, itu semua lenyap dalam sekejap. Hancur? Sudah pasti. Rasanya seperti mimpi. Ia tidak pernah membayangkan itu semua. Kasus fatal yang orangtuanya lakukan berdampak besar. Ia menjadi pemberontak kecil.
"Dasar anak tidak berguna! Pergi kau dari sini!"
"Perlukah aku bercerita tentang alasan mengapa aku seperti ini?
"
Yang ke-lima, Jaya Refaldi Adiatma. Pemuda tupai yang selalu ceria. Tidak pernah mendengarkan apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Meski begitu, terkadang ia masih memikirkan beberapa kata-kata dari orang-orang yang memandangnya sebelah mata. Sama seperti Haris, ia masih duduk dibangku sekolah menengah. Teman, sahabat, Adik terbaik bagi Haris. Amat menyayangi Adik-Adik dan Kakak-Kakaknya. Termasuk siswa pintar di sekolahnya. Memiliki suara yang merdu.
"Maaf, apa aku bisa mendapatkan bantuan?"
"Sudikah kau menerima aku yang penuh kekurangan ini?"
Jalanan kala itu mulai lengang. Kendaraan yang berlalu-lalang hanya beberapa. Dingin angin malam menyeruak. Tanpa sehelai kain yang mampu menutup tubuhnya yang hanya berbalut kain tipis. Giginya sedikit bergemeletuk. Tubuh ringkihnya terpaksa ia bawa untuk terus berjalan. Mencari tempat untuk kembali pulang. Tanpa arah, tanpa tahu ia hendak kemana. Terus berjalan adalah pilihan yang tepat menurutnya. Jika ia hanya terus menunggu dan menunggu, ia rasa itu tidak ada gunanya.
Yang ke-enam, Fajar Raja Abinayya. Pura-pura tegar adalah kebiasannya. Yang paling semangat, juga yang paling sering tersenyum. Ramah dengan siapapun. Hatinya lembut. Pemuda tampan yang selalu menebar energi positif. Yang memandang dunia dengan pandangan yang berbeda dari orang lain. Yang selalu berpikir positif tentang banyak hal. Adik yang selalu menerima kasih sayang lebih dari Kakak-Kakaknya. Juga, Kakak yang selalu menerima kasih sayang lebih dari Adik-Adiknya. Ia memang manja, tapi ia adalah pemuda yang paling kuat. Apapun itu rintangan, tidak bisa menghalanginya. Yang selalu percaya akan harapan dan keajaiban. Aku yakin, Tuhan pasti mengabulkan salah satu harapanku. Entah kapan, hanya Tuhan yang tahu waktu baiknya.
Kala itu, tanpa bantuan siapapun. Ia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sederhana saja, ia hanya ingin segelas air putih. Namun, perjuangannya besar akan hal itu. Harapannya adalah ia bisa meminum air walau hanya seteguk. Tapi naasnya, gelas itu terjatuh. Pecah berkeping-keping. Airnya tumpah membasahi lantai. Tapi ia terus bersabar. Walaupun harapannya telah dihancurkan, ia tidak menyerah.
"Jika kau punya kaki, pakai kakimu untuk berjalan! Menyusahkan!
"Percayalah, Tuhan tidak pernah tidur."
Yang ke-tujuh, Semesta Satya Abimana. Duduk dibangku sekolah menengah yang sama dengan Haris dan Jaya. Tampan adalah julukan yang pas untuknya, walaupun hanya Kakak-Kakak dan Adiknya saja yang sudi mengucapkan kata itu. Yang paling rajin dalam belajar diantara mereka. Buku berjalan untuk Kakak-Kakak serta Adiknya. Ponsel selalu digenggaman. Tampang datar adalah yang selalu ia tampilkan. Apakah ia memiliki sebuah harapan?
"Jika ingin, katakan. Jangan diam saja. Kau itu punya mulut, digunakan, jangan hanya kau jadikan pajangan saja."
Ia bingung, juga sedih. Mengapa orang-orang berkata seperti itu? Apa ia melakukan kesalahan? Apa yang ia perbuat sehingga orang-orang mulai membencinya? Tidak ada satupun yang mencintainya. Hidupnya seakan di penjara. Yang penuh dengan tatapan benci, juga makian sarkas. Sungguh, ia ingin menjadi seperti orang lain. Di dunia kejam ini, ia selalu berada dititik terendah.
"Kamu mau ikut denganku?
Yang terakhir, Iqbal Maulana Firmansyah. Anak manis yang masih duduk dibangku sekolah menengah, pula. Jangan tertipu dengan wajah manisnya. Ia anak yang kuat. Meski badai menerjang. Tampan, namun sepertinya semua orang buta akan hal itu. Kecuali Kakak-Kakaknya. Adik yang mampu melindungi Kakak-Kakaknya. Yang paling bisa diandalkan, setelah Mahesa. Meski yang paling muda, tubuhnya lebih tinggi daripada Kakak-Kakaknya. Meski, masih lebih tinggi Haris. Adik idaman. Pernah patah, namun bangkit setelah bertemu Fajar.
"Mulai sekarang, kamu pakai ini."
Kejadian itu merenggut segalanya. Yang awalnya baik-baik saja, mengapa kini berubah? Semudah itu semua berubah. Semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus mampu mengikhlaskan. Dipaksa oleh keadaan. Darah yang mengalir deras, keputusan yang menghancurkan hati. Putus asa. Semua seperti sedang bekerjasama. Yang palsu menjadi pengganti, kini. Mau tak mau, ia harus menerima. Lebih baik seperti itu, daripada menyusahkan, bukan?
"Ku kira semua akan baik-baik saja. Ternyata, semua menjadi lebih buruk bagiku."
***
Dipagi hari yang cerah ini, Mahesa sedang asyik berkutat dengan alat masak di dapur. Waktu masih menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Adik-Adiknya belum terbangun dari mimpi manis mereka. Sedangkan sang Kakak—Bimasakti—ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Suara gesekan antara spatula dan penggorengan terdengar. Tercium wangi semerbak dari arah dapur. Dengan senandung kecil, Mahesa menyelesaikan acara masak-memasaknya. Siap menghidangkan masakannya. Nasi goreng dan omelette untuk sarapan pagi ini. Makanan favorit mereka semua, terutama Haris, Jaya, Fajar, dan Iqbal.
Setelah semua selesai, Mahesa siap membangunkan Adik-Adiknya. Soal Bimasakti, ia bisa memanggilnya setelah membangunkan enam Pangeran yang tengah tertidur lelap. Entah, apa mereka sudah siap di dalam kamar atau belum, Mahesa juga tidak tahu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Cakra! Jaya! Ayo bangun, kita sarapan. Kamu jangan sampai terlambat ke tempat kerja, Cakra. Jaya juga, jangan sampai ia terlambat ke sekolah." Mahesa mulai membangunkan Adik pertama dan ke-tiganya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Iya, Kak! Aku baru selesai mandi." Terdengar balasan Cakra dari dalam kamarnya.
"Jangan lupa bangunkan Jaya juga, jika ia belum bangun." Lalu Mahesa lekas pergi tanpa menunggu jawaban Cakra.
Tok.
Tok.
Tok.
"Haris! Fajar! Ayo bangun, sudah pagi. Mari kita sarapan. Kamu jangan sampai terlambat ke sekolah, Haris." Kamar ke-tiga, kamar Haris dan Fajar.
"Iya, Kak. Aku sedang membantu Fajar. Sebentar lagi kami akan ke meja makan." Mahesa tersenyum, lantas pergi ke kamar terakhir;kamar Semesta dan Iqbal.
“Satya! Iqbal! Ayo bangun kalian, sudah pagi. Mari sarapan! Jangan lama-lama, jangan sampai makanannya dingin lalu kalian terlambat ke sekolah."
"Kami segera kesana, Kak." Suara Iqbal terdengar. Lalu Mahesa pergi ke kamarnya sendiri, hendak memanggil Bimasakti.
Ceklek.
"Kak Bima?" Panggil Mahesa kala ia telah masuk ke dalam kamarnya bersama Bimasakti.
Terlihat, Bimasakti yang tengah berkutat dengan setumpuk kertas dimejanya. Gurat wajahnya mengeras, tanda ia sedang amat serius. Tangannya sibuk mencorat-coret di atas kertas. Matanya terlampau fokus. Tidak henti bibirnya berkomat-kamit pelan. Ia tidak sadar dengan kehadiran Mahesa. Mahesa berjalan mendekat ke arah Bimasakti. Mengamati apa yang Kakaknya itu tulis. Lirik lagu.
"Kak Bima? Ayo sarapan dulu, keburu dingin nanti nasi gorengnya." Akhirnya, Bimasakti menatap Mahesa.
"Esa? Sejak kapan kamu di sini?" Tanyanya.
"Sedari tadi, Kak. Kakak terlalu fokus, maka dari itu Kakak tidak tahu aku ada di sini." Mahesa tersenyum.
"Maaf, Kakak sibuk akhir-akhir ini. Kalau begitu, ayo kita ke meja makan. Jangan membuat yang lain menunggu."
***
Ketika mereka berdua sampai, meja makan terlihat sudah penuh. Delapan kursi itu hampir terisi penuh. Hanya menunggu Bimasakti dan Mahesa. Juga, terlihat Haris yang tengah membantu Fajar duduk dikursinya. Bimasakti dan Mahesa berjalan mendekat. Memandang Adik-Adik mereka satu-persatu. Menghitung, takut ada yang kurang. Lalu mereka tersenyum, merasa semua sudah hadir. Haris juga sudah duduk disebelah Fajar.
"Selamat pagi, semua!" Sapaan hangat dari Bimasakti dan Mahesa.
"Selamat pagi, Kak!" Balas mereka serempak.
"Bagaimana tidur kalian? Apa nyenyak?" Basa-basi pagi Bimasakti. Itu sudah menjadi kebiasaan.
"Ku rasa begitu." Jawab Cakra.
"Yang lain?"
"Kami merasa tidur kami nyenyak, Kak." Jawab Fajar sebagai perwakilan mereka.
"Jika begitu, Esa, mari hidangkan nasi gorengnya." Mahesa menurut. Ia menuangkan nasi goreng di setiap piring Adik-Adik dan Kakaknya. Tidak lupa ia meletakkan masing-masing satu omelette di atas piring mereka.
"Habiskan makanan kalian. Jika sudah, lekas berangkat." Petuah Mahesa yang selalu mereka dengar setelah makanan selesai dihidangkan. Mereka mengangguk patuh.
Suasana dimeja makan pagi itu tenang. Hanya ada suara sendok yang bergesekan dengan piring. Tidak ada yang bersuara. Sibuk dengan makanan, juga pikiran masing-masing. Jaya yang pertama kali menghabiskan makanannya. Ia menatap sekeliling. Ada Iqbal yang menyusulnya. Disusul Semesta, juga Haris.
"Kami sudah selesai, Kak. Kami akan berangkat." Jaya memecah keheningan. Mahesa mendongak, menatap Jaya.
"Hati-hati di jalan. Ini, uang saku kalian dari Kakak." Mahesa merogoh saku celananya. Kemudian menyerahkan selembar uang berwarna hijau kepada Haris, Jaya, Semesta, juga Iqbal.
"Terimakasih, Kak." Ucap mereka serempak. Mahesa tersenyum. "Sama-sama." Mereka berempat berpamitan. Mencium tangan Kakak-Kakak mereka, lalu pergi setelah mengucapkan salam.
Setelah mereka pergi, Cakra dan Fajar selesai dengan acara makan mereka. Juga, Bimasakti dan Mahesa. Namun, aura dimeja makan itu agak sedikit mencekam. Salah satu diantara mereka berwajah masam, seperti hendak marah. Cakra, sosok itu adalah Cakra. Wajahnya masam, jarinya terkepal kuat. Fajar yang memang duduk di depan Cakra, menyadari hal itu. Fajar menatap Cakra dalam, dibalas tatapan tajam oleh Cakra. Bimasakti dan Mahesa belum menyadari hal itu, sedangkan Fajar memilih diam. Sampai,
Prang!
Cakra mengamuk. Piring yang ia gunakan tadi, ia banting ke lantai. Bimasakti dan Mahesa yang tidak menyadari, terkejut akibat suara bantingan yang keras itu. Sedangkan Fajar, ia sedang menahan sesuatu. Untung saja, pecahan kaca tidak ada yang melukai mereka. Bimasakti berdiri, mencoba menjauhkan Fajar dari Cakra. Sedangkan Mahesa, ia mencoba menenangkan Cakra. Hal ini sudah biasa terjadi. Mereka tidak heran akan hal itu.
"Fajar tidak apa, kok, Kak. Kak Cakra sepertinya sedang ada masalah. Maka dari itu, alternya lha yang mengambil alih Kak Cakra." Fajar berucap, kala Bimasakti sedang menggendongnya, memindahkan Fajar, dari kursi makan menuju kursi rodanya.
"Tapi, kamu harus dijauhkan darinya jika bukan ia yang memegang kendali penuh atas dirinya." Bimasakti berucap demikian.
"Cakra, tenangkan dirimu. Jangan sampai amarah mengambil alih dirimu." Mahesa berujar, berusaha menenangkan. Itu bukan hal sulit untuk Mahesa. Sebab Cakra mampu menguasai dirinya, kini.
Tidak lama dari itu, Cakra kembali. Mahesa menghembuskan napas lega. Secepat itu memang. Karena itu hanya emosi sesaat yang mengganggu Cakra. Cakra terdiam sejenak. Mencoba menenangkan dirinya sejenak. Sebelum ia kembali menatap Mahesa yang ada di depannya. Fajar sudah dibawa ke ruang keluarga oleh Bimasakti. Ia tidak ingin Fajar mengalami hal yang buruk saat Cakra sedang tidak menguasai dirinya.
"Maaf, Kak." Ucap Cakra, lirih.
"Bukan salah kamu. Kakak tidak masalah, kok. Untung saja kami berdua masih ada di rumah." Mahesa tersenyum.
"Alter ini menyusahkanku. Meski aku mampu menguasai diriku, tetap saja itu terasa berat." Cakra menunduk.
"Semangat! Yang terpenting, harapan kecilmu itu sudah terwujud. Meski kamu harus melewati badai."
***
Mereka sudah sampai di sekolah. Ya, mereka berempat sekolah disatu sekolah yang sama. Mereka juga satu kelas, kecuali Iqbal. Haris, Jaya, dan Semesta adalah siswa kelas 12, tingkat akhir dalam sekolah menengah atas. Sedangkan Iqbal, ia siswa kelas 11. Iqbal dibawah mereka bertiga, hanya berjarak satu tahun. Sedangkan mereka bertiga—Haris, Jaya, dan Semesta—mereka lahir ditahun yang sama.
Jangan terkejut. Mereka memang bukan Kakak-beradik dari satu rahim yang sama, mereka tidak sedarah. Mereka hanya delapan anak yang memiliki keistimewaan, yang dipertemukan oleh takdir untuk saling membantu, menyemangati, melindungi, sebagai Kakak-beradik. Mereka, delapan pemuda tampan yang saling melengkapi. Dengan kisah mereka sendiri, yang mungkin saja tidak ada orang yang sanggup menjadi mereka.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju kelas. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Jenis tatapan mata mereka berbeda-beda. Ada tatapan memuja, serta tatapan membenci. Mungkin, tatapan memuja itu dilayangkan untuk Haris. Sedangkan tatapan membenci, itu untuk Jaya, Semesta, juga Iqbal. Namun, mereka mengabaikan itu semua. Haris sendiri bukan tipe lelaki yang gila pujian. Ia sebenarnya tidak nyaman dengan itu semua. Apalagi, saat ia tahu bahwa yang dipuja hanya dirinya. Sedangkan Adik-Adiknya malah mendapat kebencian.
"Shtt... Lihat, Pangeran kita berjalan dengan rakyat jelata. Sangat tidak pantas sekali." Bisik-bisik seorang siswi kepada temannya.
"Benar! Mengapa Haris mau berjalan dengan tiga rakyat jelata yang penuh dengan kekurangan itu? Sungguh, lebih baik ia berjalan bersamaku saja." Temannya menimpali.
"Haris! I love you!"
"Haris! Jangan mau berjalan dengan rakyat jelata! Derajatmu lebih tinggi dibanding Si Buta, Si Bisu, dan Si Kaki Palsu!"
Haris sedikit menggeram. Namun ia menahan amarahnya.
"Orang cacat seperti kalian, tidak pantas hidup. Kalian hanya dapat menyusahkan!"
Brak!
Sebuah kaleng bekas minuman mendarat mulus dikepala siswa yang mencemooh Jaya, Semesta, dan Iqbal. Haris pelakunya, ia sengaja mengambil sebuah kaleng bekas minuman dari tempat sampah yang sempat ia lewati. Semua terdiam, terkejut melihat perlakuan Pangeran Sekolah. Siswa yang tadi sibuk mencemooh, kini membeku. Sedikit takut melihat raut wajah Haris yang tidak bersahabat.
"Berhenti mencemooh Adik-Adikku!" Geram Haris. Urat-uratnya terlihat menonjol. Ia marah besar.
Cukup sudah, jangan lagi. Ia selalu berusaha bersabar ketika Adik-Adiknya mendapatkan cemooh dari seluruh siswa-siswi sekolah mereka. Tapi, sekarang tidak lagi. Tidak boleh ada yang mencemooh keistimewaan Adik-Adiknya. Sudah cukup beberapa tahun ke belakang. Haris harap, tidak lagi setelah ia berani melawan.
Bugh!
Tiba-tiba saja, seseorang datang meninju Iqbal. Iqbal terjatuh begitu saja. Ia tidak meringis, hanya saja, kaki kanannya terlepas. Kaki palsunya terlepas. Jaya yang melihat itu, terkejut. Segera saja ia berjongkok, hendak membantu Iqbal. Semesta ikut membantu, ia mengambil kaki palsu milik Iqbal, sebelum anak-anak nakal menjahili mereka. Haris yang melihat itu bertambah marah.
"Haris, kita sudahi saja. Jangan membuat masalah. Mereka tidak akan mengerti apa yang kita alami." Semesta menunjukkan ponselnya kepada Haris.
"Ayo kita ke UKS. Percuma saja kita meminta bantuan. Mereka tidak akan sudi membantu kalian yang memiliki keistimewaan." Haris membantu Jaya membawa Iqbal ke UKS yang untungnya jaraknya tidak terlalu jauh.
Selama perjalanan, siswa-siswi yang sedang berada di lorong hanya terdiam. Tak lagi ada tatapan membenci dan memuja, tak lagi ada kata-kata mencemooh. Selama perjalanan, Iqbal hanya terdiam. Ia mencerna bulat-bulat apa yang ia dengar tadi. Wajahnya sendu. Semesta yang melihat itu tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak seperti manusia normal lainnya. Ia hanya pemuda bisu yang hanya bisa mengandalkan pulpen dan buku, serta note dari ponselnya.
"Aku hanya menyusahkan kalian." Iqbal berucap lirih.
"Jangan katakan hal itu, Iqbal! Kamu tidak menyusahkan siapapun!" Haris masih setia menahan amarahnya.
"Itu kenyataannya! Lihat, kalian harus bersusah-payah demi diriku."
"Itu bukan salahmu, jangan dengarkan omongan tadi, Iqbal. Kita semua tidak ada yang merasa sulit dengan adanya dirimu. Justru, dengan adanya dirimu itu membuatku menjadi lebih semangat. Lupakan omongan mereka, kami menyayangimu apa adanya." Jaya berujar panjang.
"Kita sudah sampai. Sebaiknya kita cepat, sebelum bel masuk berbunyi."
***
Suasana di rumah pagi itu sepi. Hanya ada Fajar di rumah. Kakak-Kakaknya telah pergi setelah insiden tadi. Fajar menghela napasnya. Ia sedikit merasa bosan dengan suasana yang lagi-lagi sepi bila pagi hari tiba. Ia mendorong kursi rodanya menuju taman belakang. Mungkin, melihat kebun bunga miliknya bisa membuat rasa bosannya hilang. Meski itu tidak sama dengan melihat kebun bunga bersama yang lain. Menjadi pemuda dengan kedua kaki yang lumpuh total bukanlah hal yang mudah untuk Fajar. Itu sebabnya hanya ia yang tidak bersekolah. Meski begitu, ia sama rajinnya dengan Semesta. Meminjam buku Haris, Jaya, atau Semesta untuk ia pelajari. Terkadang, Jaya dan Semesta ikut membantu Fajar belajar.
Hamparan bunga Primrose terlihat indah. Fajar telah sampai di kebun bunga kecil miliknya. Ia menanam bunga-bunga indah dibantu oleh Kakak-Kakak dan Adik-Adiknya. Favoritnya adalah bunga Primrose. Fajar mendorong kursi rodanya mendekat ke arah sebuah selang. Lalu, ia berusaha menghidupkan keran air yang tidak jauh dari selangnya berada. Dengan susah payah ia mencoba menyirami bunga-bunga indah itu. Biasanya, akan ada Bimasakti atau Mahesa yang membantunya menyiram bunga. Tapi, untuk saat ini ia ingin berusaha sendiri.
Bunga-bunga indah itu terlihat basah setelah Fajar menyiramnya dengan air. Fajar tersenyum senang. Ia berhasil menyiram bunga-bunga kesayangannya. Tanpa bantuan siapapun. Catat, tanpa bantuan siapapun. Ia terus menyirami bunga-bunga itu hingga semua bunga sudah basah semua. Setelah itu, ia menyimpan kembali selang yang ia gunakan. Kini, Fajar hanya memandang bunga-bunga kesayangannya. Hanyut dalam pikirannya sendiri. Entah, apa yang ia pikirkan. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang teramat diperutnya.
Perutnya amat sakit kala itu. Ia masih berada di taman kecilnya. Teramat sakit sehingga bernapas pun seakan sulit baginya. Rasa mual menyusul setelahnya. Fajar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Obatnya ada di dalam kamar. Namun, jarak taman belakang menuju kamar lumayan untuk dirinya yang menggunakan kursi roda. Fajar pasrah. Ia tidak bisa melakukan apapun saat ini.
Dalam hati, ia berteriak. "Tuhan, jangan sekarang. Jangan sampai yang lain tahu. Aku mohon."
Tapi terlambat. Di sana, Cakra sedang berdiri mematung melihat kondisi Fajar. Ia terkejut, sekaligus bingung. Namun, setelah lima menit hanyut dalam kebingungannya, ia merogoh saku celananya dan segera menelpon Bimasakti. Tidak ada jawaban dari Bimasakti, ia segera menelpon Mahesa. Hanya Kakak-Kakaknya yang dapat diandalkan. Ia tidak mungkin menelpon Adik-Adiknya, lalu mengganggu Adik-Adiknya yang sedang belajar.
Berhasil!
"Halo, Kak?" Suara Cakra bergetar.
“Iya, Cakra, Ada apa?” Suara Mahesa terdengar.
"K-kak... Ayo pulang, Fajar harus dibawa ke rumah sakit." Suaranya bergetar.
Hening.
"Kak?"
“Kakak akan pulang sebentar lagi. Bawa Fajar ke rumah sakit segera. Kirimkan Kakak alamat rumah sakitnya.” Suara Mahesa terdengar sedang terburu-buru.
"Baik, Kak."
Pip!
Sambungan terputus. Dengan cepat, Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia berlari pontang-panting ke arah Fajar. Terlihat, kondisi Fajar yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Bulir air mata tiba-tiba jatuh dari pelupuk mata Cakra. Ia takut, sungguh. Ini pemandangan yang teramat menyakitkan bagi Cakra. Betapa terkejutnya ia kala melihat darah mengotori celana Fajar. Fajar memuntahkan darah. Lagi, celana panjang itu semakin kotor akan darah. Cakra menangis. Ia mengusap darah yang mengotori sekitar bibir Fajar. Tanpa pikir panjang, ia menggendong Fajar ala pengantin. Ringan, tubuh Fajar terasa sangat ringan. Fajar pasti kehilangan banyak berat badannya. Tidak seperti terakhir kali, kala ia membantu Fajar menuju kamarnya
"K-kak... Sakit..." Fajar berkata lirih. Kesadarannya semakin menipis.
"Tunggu sebentar, Kakak bakal bawa kamu ke rumah sakit." Cakra menggigit bibirnya kuat. Mencoba menahan isak tangisnya kala mendengar lirihan Fajar.
Ia berlari menuju mobilnya. Merebahkan Fajar dikursi belakang. Lalu, ia segera duduk dikursi kemudi. Menancapkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin semua terlambat. Panik, takut, kalut, semua bercampur menjadi satu. Ia tidak memerdulikan teriakan orang kala ia hampir menabrak. Fajar nomor satu untuknya. Lima belas menit kemudian, setelah perjalanan yang panjang menurut Cakra, mereka akhirnya sampai
Dengan terburu-buru, kembali, ia menggendong tubuh ringkih itu. Beberapa perawat datang membawa sebuah ranjang pesakitan. Menitah Cakra untuk merebahkan Fajar di sana. Cakra merebahkan Fajar dirancang pesakitan tersebut. Namun, tautan tangan mereka tidak pernah terlepas. Mereka terburu-buru mendorong ranjang menuju ruang Unit Gawat Darurat.
"Kamu harus kuat. Jangan tinggalkan Kakak dan yang lain."
Hancur sudah. Cakra tak kuasa menahan air matanya di depan sang Adik. Ia menangis tersedu. Tangannya menggenggam kuat tangan Fajar. Sekedar memberi kekuatan, juga harapan. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Adiknya. Ini pertama kalinya ia melihat Fajar terlampau sakit. Diantara mereka, Fajar lha yang paling kuat. Ia tidak pernah menunjukkan bahwa ia merasa sakit. Dan sekarang, ia menunjukannya.
Mereka sampai di depan ruang Unit Gawat Darurat. Tautan terlepas begitu saja. Cakra dilarang ikut masuk ke dalam. Pintu tertutup, bersamaan dengan air mata yang terus meluruh. Cakra jatuh terduduk. Ia akui, rasanya lebih menyakitkan daripada keluarganya yang selalu menuntut ia menjadi sosok sempurna. Ini adalah hal yang paling menyakitkan dari apapun.
***
Mahesa datang setelahnya. Bersama Bimasakti, juga Adik-Adiknya yang lain. Mereka lengkap sekarang. Sedang menunggu kepastian di depan ruang Unit Gawat Darurat. Dari mereka, Haris yang menangis paling histeris. Si manja yang selalu lengket dengan Fajar. Teman satu kamar Fajar, yang selalu membantu Fajar. Ia dan yang lain tidak menyangka kala ia tahu Adiknya itu mengidap kanker hati stadium akhir. Selama ini, Fajar tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengidap kanker hati. Fajar selalu ceria, memberi mereka semangat kala mereka sedang terpuruk. Bahkan, Fajar lha orang yang pertama kali merangkul mereka semua, menjadi keluarga untuk mengisi kekosongan. Yang membuat mereka percaya akan adanya harapan dan keajaiban.
Pernyataan dokter kala pemeriksaan sudah selesai tadi bagai tombak tajam yang sedang menghujam mereka. Mereka harus kembali dijatuhkan oleh kenyataan. Mereka, yang mencoba pulih dari luka masa lalu, dan mencoba percaya akan harapan, harus jatuh, kembali. Matahari mereka, Cahaya mereka, kini sedang terbaring lemah. Entah akan bangun kembali, atau memilih menyerah dengan keadaan.
"Aku mau masuk." Haris buka suara. Sedari tadi, tidak ada yang memutuskan siapa yang akan masuk. Mereka takut.
"Ada lagi yang mau masuk?" Tanya yang Bimasakti lontarkan bagai angin lalu. Mereka semua terdiam.
"Baik, kamu masuk sendiri saja, Haris. Kami semua menyusul, nanti." Haris mengangguk, lalu ia masuk ke dalam ruang Unit Gawat Darurat.
Langkahnya amat berat. Dadanya berdegup kencang. Ia sedang memantapkan hatinya agar ia tidak menangis nanti. Pakaian khusus itu ia kenakan. Kepalanya tertutup oleh penutup kepala khusus. Setelah itu, ia berjalan menuju ranjang Fajar. Mendekat, menatap sosok itu nanar. Hatinya berdenyut sakit kala melihat wajah tampan itu pucat pasi, kini. Ia duduk di samping ranjang Fajar. Tangannya terulur, menggenggam jemari Fajar. Matanya terpejam, meyakinkan hatinya.
"Hai, Fajar." Bibirnya bergetar.
"Ini... Sangat mengejutkan. Kamu tidak pernah memberitahuku bila kamu merasa sakit." Haris menarik napasnya panjang.
"Kamu tidak percaya padaku, ya? Maka dari itu kamu menyembunyikannya." Tidak ada jawaban dari Fajar.
"Jika kamu seperti ini, maka harapanku tidak akan pernah terwujud."
"Kamu pernah bertanya bukan? Apa yang aku harapkan? Saat itu, aku mengatakan bahwa aku tidak punya harapan apapun. Tapi sekarang, aku berharap dirimu akan selalu di sampingku, di samping kita semua. Aku berharap aku dapat membahagiakan dirimu. Juga, aku berharap aku bisa terlepas dari syndrome yang membelenggu diriku.
"Kamu pernah bilang, kalau harapan dan keajaiban itu ada. Tapi, dengan adanya kamu yang seperti ini, ku rasa harapanku akan sia-sia, bukan?" Bulir air mata memenuhi pelupuk mata ber-mole milik Haris. Namun, ia masih sanggup menahan air matanya.
"Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan kami." Ia tidak tahan, pertahanannya hancur. Air matanya meluruh dengan derasnya, membasahi pipi.
Mereka tidak akan pernah bisa membayangkan apa jadinya mereka tanpa sosok Matahari.
***
Tiga hari berlalu, kondisi Fajar semakin memrihatinkan. Ia memang sudah siuman, namun kondisi tubuhnya memburuk. Itu dikarenakan kanker yang menggerogoti hatinya sudah mencapai stadium akhir. Meski begitu, Fajar tetaplah sosok yang ceria dan penuh semangat. Ia percaya bahwa ia akan kembali sembuh. Dan Kakak-Kakak serta Adik-Adiknya selalu setia menemaninya. Seperti sekarang, Iqbal tengah menyuapi Kakaknya.
"Kak, ayo makan dulu. Kakak baru makan satu suap, lho." Pujuk rayu Iqbal lontarkan.
"Kakak sudah kenyang. Lihat, nanti perut Kakak membesar." Fajar menunjukkan perutnya bahwa ia sudah kenyang.
"Sudah kenyang dari mana? Lihat, perutmu kecil seperti itu dibilang kenyang." Sahut Jaya dari sofa seberang ranjang.
"Kamu jangan ikut-ikutan, deh." Rajuk Fajar.
"Kamu ini yakin sudah remaja? Tingkahmu lebih parah dari Haris, tahu." Bimasakti yang memang sengaja meluangkan waktunya untuk Fajar, ikut bicara.
"Kakak juga, jangan ikut-ikutan, deh."
"Haris datang~" suara Haris terdengar, pintu ruang rawat Fajar terbuka. Tampak Haris yang membawa dua kantung plastik ditangannya.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Bimasakti.
"Dari menemani Kak Esa. Tadi kita habis belanja bulanan. Kak Esa sedang memarkirkan mobil." Jawab Haris, jelas
"Lalu, kamu bawa apa?" Jaya ikut bertanya.
"Ini?" Haris mengangkat dua kantung plastik yang ia bawa.
"Oh, ini makanan, untuk kita makan siang. Kalian pasti belum makan, bukan?" Haris meletakan dua kantung plastik itu dimeja samping ranjang Fajar. Lalu, ia mendekat ke arah Iqbal.
"Bal, biar aku saja yang menyuapi Fajar. Kamu bisa makan terlebih dahulu." Haris menawarkan diri. Iqbal memberi mangkuk bubur itu tanpa penolakan. Lalu, ia beranjak untuk membuka satu kantung plastik yang dekat dengan jangkauannya.
"Terimakasih." Dibalas senyuman oleh Haris.
"Nah, sekarang kamu harus makan. Sekitar dua sampai empat suap lagi." Setelah mendudukan bokongnya, ia mengarahkan sesendok bubur itu ke depan bibir Fajar.
"Aku kenyang, Haris." Tolak Fajar.
"Jadi begitu? Kamu tidak mau menuruti permintaanku?" Mata Haris berkaca-kaca.
"Bukan seperti itu. Hanya saja, aku sudah kenyang." Fajar menunduk.
"Setidaknya satu suap lagi. Mau, ya?" Fajar mengangguk. Lalu, ia membuka mulutnya agar Haris dapat menyuapinya. Haris tersenyum, untung saja rencananya berhasil.
"Seperti itu lebih baik." Bimasakti berkomentar.
"Kami pulang." Pintu terbuka,tampaklah Mahesa, Cakra, dan Semesta yang hendak masuk.
"Kak Esa!" Seru Fajar, riang.
"Ada apa ini?" Tanya Mahesa.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin Kak Fajar senang ada Kakak di sini." Jawab Iqbal.
"Ehehe, aku hanya ingin berbincang dengan kalian. Sudah lama kita tidak berbincang bersama, bukan? Delapan orang, lengkap." Ucap Fajar.
"Tumben sekali." Bimasakti mendekat ke arah Fajar.
"Apa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh!" Dengan riang, Haris menjawab. Lalu, ia melayangkan tatapan tajam ke arah Bimasakti.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Cakra yang kini sudah berdiri tegap di sisi kiri ranjang Fajar.
"Aku mau tahu, apa harapan kalian?" Semua yang mendengar, terdiam.
"Harapan? Bukankah kamu sudah pernah menanyakan ini sebelumnya?" Tanya Bimasakti, bingung. Yang lain, pun, begitu.
"Iya, memang. Tapi, aku ingin bertanya sekali lagi. Untuk memastikan, apa harapan kalian sudah terwujud, atau belum." Fajar tersenyum. Senyum yang belum pernah ia tunjukkan.
"Baiklah, dimulai dari aku. Harapanku adalah aku berharap aku bisa menjadi orang yang berguna. Untuk kalian, untuk siapapun itu, dan membuktikan bahwa aku tidak seburuk yang mereka katakan. Berharap aku bisa membahagiakan kalian. Dan yang terakhir, aku ingin menjadi seorang komposer terkenal, seperti yang kalian tahu." Bimasakti memulai. Tatapannya sendu. Ia menatap Fajar dalam.
"Harapan Kakak terwujud. Kakak adalah orang yang berguna. Kakak berhasil membahagiakan kita. Dan Kakak akan menjadi komposer terkenal nanti. Yang karya-karyanya akan dikenang, dipuja." Bimasakti hanya mampu memandang Fajar.
"Kak Esa?" Fajar beralih memandang Mahesa saat ia merasa Bimasakti tidak akan membalas ucapannya.
"Harapanku? Harapanku adalah aku berharap ada seseorang yang sudi mengulurkan tangannya untukku, untuk sekedar merangkulku disaat aku terpuruk. Dan juga, aku ingin menjadi dancer terkenal yang mempunyai gedung agensi tari sendiri." Mahesa menarik napasnya panjang.
"Aku tahu, setengah dari harapanku terwujud. Aku memiliki dirimu, memilki kalian yang menjadi tempat aku berkeluh-kesah. Dan, aku dapat terbebas dari belenggu Bipolar yang selalu menggangguku.
"Tapi, aku khawatir apabila suatu saat Tuhan akan membuat diriku terpuruk seperti dahulu kala." Mahesa menunduk, menahan tangisnya. Tiba-tiba saja, Fajar merengkuh tubuh tegap Mahesa. Hancur sudah pertahanan Mahesa. "Jangan ditahan, Kak. Menangis, lha."
Mereka semua terdiam. Mahesa sibuk terisak. Sedangkan Fajar, ia sibuk mengusap-usap punggung tengap milik Mahesa. Mencoba menenangkan Kakak keduanya itu. Tidak ada yang sanggup membuka kata. Ini terlalu menyakitkan. Mereka semua kalut, tidak tahu harus bagaimana. Semua nampak abu-abu, kembali. "Kak, Kakak jangan khawatir. Aku akan selalu ada di samping Kakak. Menjadi penyemangat Kakak, menjadi seseorang yang mampu menampung segala keluh-kesah Kakak. Aku berjanji."
"Bisa kita ke harapan selanjutnya?" Fajar selesai merengkuh Mahesa.
"Aku hanya berharap aku memiliki keluarga sederhana tanpa ada kekangan atau tuntutan, keluarga yang bahagia dengan segala yang dimiliki, bahagia meski hidup sederhana. Keluarga yang mengerti satu sama lain. Dan, aku berharap ada seseorang yang sudi memberi bahunya untukku bersandar kala aku terpuruk." Cakra yang mendapat giliran untuk menjawab, angkat suara.
"Apa semua harapan Kakak sudah terwujud? Sepertinya sudah."
"Memang, memang semua sudah terwujud. Dan itu semua berkat dirimu." Cakra tersenyum.
"Baiklah. Selanjutnya, Haris. Apakah jawabanmu masih sama?"
"Aku? Jawabanku berbeda kali ini. Untuk kali ini, aku memiliki harapan. Harapanku adalah aku berharap aku bisa terlepas dari belenggu Peter Pan Syndrome yang sangat menyiksa ini. Aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang mandiri, yang berguna bagi siapapun. Berharap bisa membahagiakan kalian semua. Tapi, sepertinya itu akan sulit." Haris terdiam.
"Kamu berhasil. Sekarang, sifat pemberontakmu mulai memudar, meski manjanya masih ada. Kamu juga sudah bisa lebih mandiri. Buktinya, kamu ingin membahagiakan kami. Mereka yang menderita Peter Pan Syndrome tidak akan mau melakukan hal seperti itu." Fajar terkekeh. Haris tersenyum.
"Bagaimana dengan Jaya, Setya, juga Iqbal? Kalian masih memiliki harapan, bukan?" Fajar menatap ketiganya.
"Harapan kami bertiga sangat sederhana. Dimulai dari harapanku. Harapanku adalah aku berharap aku mampu menutup mulut orang-orang yang memandangku sebelah mata, sebab mata kiriku yang buta." Jaya menjawab.
"Aku berharap aku mampu membuktikan bahwa bisu bukan penghalang. Orang bisu juga mampu sukses" Semesta menyodorkan ponselnya. Fajar membacanya seksama.
"Sedangkan aku, aku berharap aku mampu membuktikan jika memakai kaki palsu tidak seburuk itu." Iqbal mengakhiri sesi tanya-jawab itu.
"Usahaku tidak sia-sia selama ini. Aku bisa tenang sekarang." Ucap Fajar misterius.
"Maksudmu, kak?" Tanya Iqbal.
"Iya, aku bisa tenang karena kalian sudah memiliki harapan dan tujuan hidup sekarang. Tidak seperti dahulu yang seperti ingin menyerah dengan keadaan." Fajar terkekeh.
"Seperti kebetulan bukan? Kita yang memiliki keistimewaan berbeda-beda dengan cerita hidup yang berbeda-beda, dipertemukan oleh takdir. Disatukan dalam satu rumah sederhana, menjadi keluarga yang saling mengerti. Bahkan, aku tidak pernah membayangkan bahwa ke depannya, hidupku menjadi lebih baik seperti sekarang.
"Ku kira, tidak memiliki orangtua dan juga lumpuh akan membuatku menyerah akan hidup. Tapi kemudian, aku bertemu anak manja yang dahulu adalah seorang Pangeran. Kami berdua hidup bersama. Mencari makan, bahkan tempat tinggal.
"Lalu, kami bertemu dengan seseorang yang hampir mati kala itu, hendak bunuh diri. Ia terlihat amat putus asa. Lengannya penuh dengan luka sayat. Tidak ada tujuan dan harapan hidup dalam wajahnya. Tidak ada binar dimatanya. Nampak abu-abu. Namun, ia dengan pesat berubah setelah bertemu kami.
"Sosok itu membawa kami ke rumahnya. Rumah petak yang sebenarnya tak layak huni. Kita hidup bertiga, layaknya Kakak beradik. Aku, seorang anak umur 10 tahun yang tidak pernah menginjakkan kaki dibangku sekolah. Bersama Haris, anak manja berumur 10 tahun yang selalu bersamaku, yang kini putus sekolah. Hidup bersama Kak Bima, remaja umur 13 tahun yang harus putus sekolah, juga.
"Satu tahun setelahnya, kami bertiga bertemu dengan seseorang yang sengaja melarikan diri dari rumahnya. Sosok yang ternyata memiliki Kepribadian Ganda. Sosok itu adalah Kak Cakra. Sosok yang membuat hidup kami sedikit lebih baik. Akhirnya kami semua sekolah, berkat Kak Cakra. Meski baru menginjak usia 12 tahun, ia mampu membiayai hidup kami, membeli sebuah rumah yang sampai saat ini kita tempati. Sejak saat itu, Kak Bima dan Kak Cakra mulai bekerja. Aku dan Haris ikut ujian kesetaraan agar dapat melanjutkan kelas. Kami hidup cukup bahagia kala itu.
"Tidak lama setelah bertemu Kak Cakra, kami bertemu seseorang yang bernasib sama denganku, yatim piatu. Ia tidak bisa menggunakan salah satu indera penglihatannya. Mirisnya, ia sedang berjalan sendirian dengan pakaian yang kumal dan tipis. Ia sama sepertiku, tidak pernah menginjakkan kaki dibangku sekolah. Sama seperti kejadian sebelumnya, kami menerima sosok itu di rumah kami. Ia menjadi bagian dari keluarga kami. Ia akhirnya bisa merasakan duduk dibangku sekolah. Sosok itu adalah Jaya.
"Beberapa bulan setelah bertemu Jaya, kami bertemu dengan sosok yang sedang tertawa sendiri dipinggir jalan. Pakaiannya lusuh, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja kala itu. Terkadang ia tertawa layaknya seseorang yang amat bahagia. Terkadang pula, ia menangis tersedu seperti seseorang yang sedang kehilangan. Tidak ada harapan yang terlihat dimatanya. Hanya ada rasa sakit yang amat jelas terlihat.
"Sosok itu mungkin berusia sekitar dibawah Kak Bima, namun diatas kami semua. Kami menerima dengan senang hati sosok itu. Binar matanya sedikit demi sedikit kembali setelah kami menerimanya. Ia, yang membutuhkan uluran tangan, kini menjadi yang paling diandalkan. Sosok itu adalah Kak Esa.
"Yang terakhir, tak lama setelah bertemu Kak Esa. Kami bertemu dua sosok yang sedang meminta-minta dipinggir jalan. Yang satu memakai kaki palsu, dan yang satu lagi tidak tampak ia berbicara. Tidak ada satupun orang yang sudi memberi mereka sepeserpun uang. Mereka kelaparan.
"Aku tidak tega melihat mereka. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi bagian dari keluarga kita. Mereka berdua adalah Satya dan Iqbal. Kita semua hidup sederhana, bahagia, dengan delapan orang. Tidak ada yang tidak sekolah. Kala itu, saat aku bertemu kalian semua. Aku berpikir, ternyata tidak hanya aku yang memiliki masa lalu yang kelam. Kalian semua, pun, memiliki masa lalu yang lebih kelam dari diriku.
"Dan, aku merasa bersyukur karena aku ditakdirkan untuk bertemu kalian. Kalian, yang dapat melengkapi kekosongan yang aku punya sedari aku kecil. Yang sudi menjadi Ayah, Ibu, Kakak, sekaligus teman untukku yang selalu dianggap pembawa sial, juga menyusahkan banyak orang. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku apabila aku tidak bertemu dengan kalian. Mungkin, aku tidak akan sanggup bertahan sampai detik ini.
"Terimakasih, kalian. Karena kalian, aku dapat merasakan arti dari keluarga. Karena kalian, aku mengerti bagaimana menyayangi, merasakan apa itu disayangi. Aku amat berterimakasih atas hal itu. Kini, aku bisa tenang. Kalian bukan sosok kumuh, lusuh, yang pernah aku temui dahulu, lagi. Kalian sudah menjadi lebih baik sekarang. Aku amat senang akan hal itu.
"Ingatlah, aku akan selalu ada untuk kalian. Di mana pun kalian berada." Fajar mengakhirinya dengan sebuah senyuman tulus.
Suasana menjadi hening kala Fajar telah mengakhiri kalimatnya. Entah apa yang mereka pikirkan. Mata mereka berkaca-kaca, mungkin menahan tangis. Jika diingat, masa-masa kelam itu telah sirna. Usia mereka jauh dari kata dewasa untuk menghadapi ujian seberat itu. Namun, mereka berhasil.
"Mengapa kamu mengatakan hal itu? Kamu akan selalu bersama kami, selamanya." Bimasakti memecah keheningan.
"Aku hanya ingin kalian tidak melupakan itu. Aku takut, kalian akan lupa suatu saat nanti." Fajar menatap Bimasakti.
"Kami juga amat berterimakasih kepadamu. Tanpa dirimu, mungkin kami tidak akan bisa bertahan." Mahesa tersenyum.
"Kak, aku punya satu permintaan. Tolong kabulkan permintaanku ini,ya." Fajar menatap Jaya.
"Jika suatu saat aku pergi, tolong berikan mataku untuk Jaya." Mereka semua diam.
"Sudah cukup sesi bincang-bincangnya. Sekarang, waktunya dirimu istirahat. Sudah berapa jam yang kita habiskan untuk bincang-bincang penuh hal sensitif ini? Kamu butuh banyak istirahat." Mahesa membenarkan letak selimut Fajar.
"Aku akan kembali ke rumah. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Bersama Esa dan Cakra. Kalian, jaga Fajar dengan baik. Biarkan ia istirahat dengan tenang. Kami pergi dulu." Setelah berucap, Bimasakti, Mahesa, dan Cakra pergi dari ruangan Fajar. Meninggalkan Fajar yang sedang beristirahat dengan Adik-Adiknya yang lain.
***
Suasana tengah malam itu amat mencekam. Rasa sesak menyelimuti ruangan. Kalut, khawatir, semua menjadi satu. Rasanya seperti mimpi kala mendapat kabar bahwa seseorang yang kau sayangi sedang berada diambang kematian. Sedang berjuang antara hidup dan mati. Kala kalian merasa yakin bahwa ia akan sembuh, namun dipatahkan akan fakta bahwa ia tengah berjuang. Ini yang mereka takutkan.
Doa tak lepas mereka panjatkan. Terduduk lesu di depan sebuah ruangan. Menunggu kabar, ntah kabar baik atau buruk. Berharap hal buruk yang bersarang tidak akan pernah terjadi. Air mata meluruh sedari tadi. Isak tangis terdengar pilu. Mencoba saling menguatkan. Sedari tadi, Haris tak henti-hentinya menangis. Air matanya meluruh begitu saja kala dokter menyatakan bahwa kondisi Fajar memburuk. Ia jatuh terduduk, mengharuskan ia dipapah oleh Bimasakti dan Mahesa.
Pukul satu malam, Fajar dinyatakan kritis. Kondisinya semakin memburuk setelah sesi bincang-bincang tadi. Napasnya putus-putus, terdengar. Dokter menyatakan bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk Fajar. Hanya doa, takdir, dan keinginan Fajar saja.
Saat ini, Haris tengah duduk di samping ranjang Fajar. Dengan pakaian khusus dan penutup kepala. Ia menahan tangis. Dengan salah satu tangan yang memegang tangan dingin Fajar. Tangan satunya lagi ia pakai untuk membelai pipi tirus Fajar. Matanya tak henti memandang wajah Fajar yang memucat. Rasanya sakit sekali. Melihat seseorang yang selalu bersama dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang selalu ada satu sama lain. Dan kini, Haris harus merasakan rasa sakit itu.
"Fajar... Pasti sakit menahan penyakit keras itu dari kami selama ini. Mengapa kamu tidak pernah mau menceritakannya kepada kami?" Menarik napasnya panjang.
"Kami merasa bersalah jika seperti ini. Kami merasa gagal." Haris memaksakan sebuah senyum.
"Tapi, aku akan ikhlas membiarkan kamu pergi. Kami ikhlas, asal itu tidak akan membuat kamu sakit, kembali. Asal itu membuat kamu bahagia. Sakit memang, tapi kamu selalu bilang kalau kamu akan selalu ada di samping kami.
"Terimakasih untuk semuanya." Alat pendeteksi jantung itu terdengar nyaring setelah Haris menyelesaikan kalimatnya. Haris panik. Segera saja ia memanggil dokter.
Pukul tiga pagi, Fajar dinyatakan telah tiada. Ia telah pergi meninggalkan mereka semua selama-lamanya. Tidak akan ada lagi Matahari yang menghangatkan. Tiada lagi cahaya yang menerangi. Selamat jalan.
***
Sudah empat tahun setelah kepergian Fajar. Mungkin, jasatnya sudah menyatu dengan tanah. Namun, kenangannya akan selalu teringat. Fajar masih ada bersama mereka, dihati mereka. Dan, dimata kiri Jaya. Setelah kepergian Fajar, sebelum Fajar dimakamkan, mereka memutuskan mengabulkan permintaan terakhir Fajar. Fajar mendonorkan mata kirinya untuk Jaya.
Saat ini, semua sedang sibuk. Bimasakti yang sibuk dengan lirik lagunya. Mahesa yang sibuk dengan murid-muridnya. Cakra yang sibuk dengan perusahaannya. Dan, Haris, Jaya, dan Iqbal yang sibuk dengan kuliah mereka. Mereka berhasil mewujudkan harapan mereka. Kini, Bimasakti berhasil menjadi seorang komposer, Mahesa yang berhasil menjadi dancer terkenal seperti harapannya, bahkan ia memiliki murid-murid yang ia latih sendiri. Cakra, saat ini ia menjadi CEO muda diperusahaan yang ia rintis sendiri. Bimasakti, Mahesa, dan Haris berhasil sembuh. Bahkan, Haris berhasil mandiri, ia sedang berusaha menyelesaikan tugasnya agar cepat mendapat gelar sarjananya. Ia akan ikut bergabung dengan Cakra. Cakra berhasil mengendalikan para alternya. Jaya yang mampu melihat dunia dengan kedua matanya. Dan, Semesta seta Iqbal yang mampu membuktikan bahwa mereka mampu.
“Sudah siap?” Bimasakti bertanya.
“Jangan membuat ia menunggu lama.” Jaya menimpali.
Mereka semua keluar dari mobil Mahesa. Berjalan bersama menuju sebuah gundukan tanah yang terlihat rapi, terawat. Rumput-rumput mempercantik gundukan tanah itu. Tertulis, nama yang menjadi alasan mereka tetap bertahan. Mereka membawa sebuket bunga dan botol kaca yang berisi sebuah gulungan kertas.
“Kami datang, Sunshine.” Haris tersenyum.
Pada dasarnya, tidak semua harapan akan terkabul. Tidak semua impian akan tercapai. Tidak semua mimpi akan tergapai. Semua adalah garis takdir yang sudah Tuhan tentukan. Dibalik itu semua, ada hikmah tersendiri yang akan kita ketahui setelahnya. Bersyukur dan ikhlas selalu adalah kunci. Juga, tidak semua cerita akan berakhir bahagia.
Untukmu, Mentari yang bersinar. Sebagaimana kami yang berpijar. Apa kabar di sana? Kami baik apa adanya.
Untukmu, yang berharga. Sebagaimana kami yang bahagia. Terimakasih atas harapan.
Kami merindukanmu seperti biasanya.
Berbahagialah di sana. Cahaya yang kami sayang. Akan selamanya terkenang.
Fajar Raja Abinayya, Kakak/Adik yang kami cintai. Tidurlah dengan tenang.
Dari kami, yang selalu mengingatmu.
END