"Mas Ale" aku melihatnya jalan keluar dari lift khusus itu. Ku dekati Mas Ale, menyamakan langkah kami. Duh emak gini saja sudah buat lemah.
"Mas... Mas..." Mas Ale hanya bergumam, Biasa.
"Mas kemaren Limah beli soto belum dimakan eh tumpah Mas, Sayang banget kan?" Aku mendekat dan menarik lengan kemejannya. Aku mulai berani menyentuhnya.
"Sayang kan?" Aku mengangguk-angguk pelan dekat dengannya. Juga merengutkan bibir.
Mas Ale melirik, ia tahu aku tak akan menyerah dengan mudah bila ia tak menjawabnya dengan kata. Bukan gumanan.
"Iya" singkat, padat dan jelas. Jangan panggil aku Halimah kalau begini saja akan menyerah.
"Iya apa?" Aku menaik-naikkan alisku. Menggodannya.
"Hmmm hmmm hmmm" aku mendesaknya lagi. Mas Ale mendesah lelah. Aku menaikkan bibirku. Pasti sebentar lagi---
"Sayang"
"Iyaaa sayaaaang, udah sayang nih ceritanya?" Genitku yang mulai mendekat padannya. Kami berada di lobby perusahaan, banyak mencibirku, banyak juga yang mendukung.
"Ck!" Ia berdecak keras, saat sadar masuk dalam jebakan batmanku. Aku terpingkal, memegangi perutku yang geli melihat wajah kesalnnya.
Ia berjalan cepat. Meninggalkan aku dibelakang, aku menyusulnya.
"Aw... aah..." aku menunduk. Berjongkok.
"Ssshhhh..." rintihku, perih.
"Makanya dibilangin jangan bandel" Tangan besarnya mengelus kepalaku. Aku berdiri dengan menopang pada Mas Ale, Kalian mau tahu aku sudah selangkah lebih maju... uhuuuyy..
"Suka pedes, Mas" Mas Ale mendudukanku di mobilnya. "Kita kerumah sakit" keringat sebesar jagung, aku hanya menggeleng aku tahu jadwalnnya kesayanganku ini.
Dia ada meeting penting setelah makan siang. "Aku di drop aja Mas" kataku.
Aku menatapnya, meraih lengannya. "Mas..." Ia tak mengindahkanku.
Sampai di rumah sakit. Aku melihatnya terburu sampai di samping mobil dan membukanya.
Memapahku lagi. "Kursi... ro..da" perutku melilit rasanya tak bisa lagi aku berdiri. Kakiku layaknya jelly.
Tubuhku merosot, lalu seperti melayang hangat juga wangi yang kusuka.
*****
Ruangan putih. Kududukan tubuhku. "Kamu bangun" Sapaan itu membuat senyumku mengembang.
"Jodohkuu" Pekikku keras.
"Ini ganti sana" Mas Ale memberikan aku kantong kresek putih.
Aku buka dan menyipitkan mata, curigation padanya.
"Udah sama" Aku berdiri dengan mata masih menyipit, melihatnya tidak percaya.
Mas Ale berdecak "Ck!" Lalu mendorongku kekamar mandi. Aku suka menjahilinya seperti ini. Wajahnya yang kesal karena ulahku sangat lucu.
Aku keluar kamar mandi. Kudekatinya. "Mas Ale... Mas Ale..." Dia memutar bola matanya jengah.
"Mas kakinya sakit?" Kataku melihat kearah kakinya dengan wajah kuatir.
"Enggak" Jawabnya bingung. Dahinya mengkerut, astagah lucunya lakik sapa sih ini!!!
"Jalan bisa dong?" Aku menaik-naikkan alisku.
"Bis--- Nggak bisa, sibuk" mataku melebar. Tak menyangka gombalanku gagal. Aneh!
Kutangkup wajah Mas Ale. "Kok bisa!" Seruan kencangku membuatnya memejamkan mata.
"Ehm"
Dungusan tawanya, Ya lord, tak kuasa kudekatkan wajahku kukecup bibirnya.
Dengan sendirinya mataku terpejam merasakan hangat dan kenyal benda yang akan menjadi kesukaanku.
Lama, mataku terbuka, tersadar dan terkejut. Refleks kulepaskan tanganku dari wajahnya. Linglung. Jantungku berlari kencang.
Uluran tangan Mas Ale, ke arah tengkukku, dan aku bisa merasai benda hangat itu lagi, Mas Ale merasai bibirku, Udara disekitarku seakan menipis.
BRAK!
"Halimeh" Mas Ale menjauh, wajahnya memerah. Hingga kupingnya. Aaaaa Nyak! Manisnya mantumu itu.
"Saya keluar dulu" Kabur bisanya, memang.
Juki mendekatiku dan melihat Mas Ale heran. "Sapa tuh, Meh? Bos lu?" Juki masih melihat ke arah tempat menghilangnya Mas Ale.
"Ngapa lu dimari?" Tanyaku sewot. Juki menggagalkanku mendapat jatah ke dua. Kesal!
"Dih ini anak demit! Kagak ada terima kasihnye sama gue lu" Juki mendudukkan dirinya di kurasi dekat brangkarku.
"Udeh gue gak ngapa ngapa, cuma biasalah" Juki meraih kantong kresek yang berisi pembalut.
"Lu tuh bikin Babeh jantungan! Yaudeh, gue pamit deh! Ntu bos lu nunggu di luar"
"Yaudah sono!" Aku usir Juki. Aku melihatnya berjalan dan menyapa Mas Ale dengan menganggukkan kepala.
Aku hanya menyengir, salah tingkah dan menuju gila. "Udah bisa pulangkan Mas Alenya akuuuu"
Dia menagapku datar. "Ish padahal sudah silahturahmi bibir ju..." tangannya menangkup bibirku.
"Udah istirahat dulu, nanti saya balik, saya antar kamu pulang" senyumanku mengembang.
*****
"Pagiiiiiii Onya syantik" Sapaku, 3 hari aku mendapat cuti. Dan tak melihat Mas Aleku. Makannya aku sangat bersemangat hari ini.
"Apaan dah. Eh lu udah denger? Mas Ale lu mau tunangan?" Soraya masih sibuk dengan komputernya.
"Lu becandanya kelewatan gak tau gue baru pemulihan"
"Serah lu kalo gak percaya" Masih mengerjakan tumpukan tugasnya.
"Onyaaaa bener? Kata sapa lo?" Aku menguncang bahunnya.
"Ish apaan dah gua mau kerja. Kemaren pas lu pingsan, Pak Ale harusnyabada meeting, nah itu pertemuan yang buat rugi besar perusahaan, soalnya Pak Ale cancel pertemuannya. Gak tahu alasannya gue"
"Ya begitu yang Toni ceritain ke anak-anak."
Aku meremas rok sepanku. Jadi aku yang penyebab perusahaan rugi.
Terus apa hubungannya dengan pertunangan. "Nya apa hubungannya sama tunangan Pak Ale?"
"Ah iya kata Toni, Perusahaan tunangan Pak Ale itu yang meetingnya dicancel"
"Ya lu tahulah pernikahan bianis, udahlah cungpret kayak kita ini jangan berharap tinggi, mereka dari kecil udah di jodoh-jodohin sama yang selevel sama mereka" Soraya kembali menekuni tumpukan kertas yang tak ada habisnya itu.
"Heh Halimah, dari pada lu bengong mending bantuin gue sini bestie entar gue traktir lontong bude sepuas lo buat nyembuhin sakit hati lu juga"
Aku merengut "Males!" Seruku.
Aku bimbang, hari ini aku belum menggombali Mas Ale sama sekali. Kemarin saja aku getol mengiriminya chat gombalan.
"Hhhhhhhh" aku mengela nafasku kasar.
"Kenapa kau masih sakit?" Aku mendongak cepat. Senyumku mengembang dibibir.
"Jandro" Senyumku hilang, tangan ramping itu menempel pada bahu Mas Aleku. Aku tak suka.
"Manddy" Ck! Kenapa namanya juga lucu,
Kesal, tapi sainganku begini. Ya pasti langsung K.O.
"Permisi Pak Ale" pergi dari sini lebih baik, rasanya moodku sekarang terjun bebas. Aku berjalan gontai.
1 minggu aku melihat Mas Aleku sibuk, rasanya hatiku berbunyi krek krek krek setiap aku mendengar rumornya semakin santer. Hatiku untung bukan buatan Cina.
Walau retakan halusnya makin banyak. Aku juga menghidari pertemuan. Untung aku tak akan secara sengaja bertemu. Karena selama ini aku yang selalu menemuinya.
"Halimah, kasih ini ke Bu Reni" Pak Wardi, atasan divisi ku. Aku mengangguk.
"Siap pak" aku membawa tumpukan berkas. "Mah ntar jangan lupa giliran lu, jangan kabur lu" Onya melotot padaku, aku kemarim mendapat arisan.
Aku terkekeh sambil mengangguk, menunggu lift, menyender moodboosterku tak ada lagi.
Ting
Masuk dalam kotak besi itu, pintu tebuka lagi di lantai berikutnya, beberapa orang mundur, akupun ikut mundur. Ambil dipojokan menyandarkan kepala pada dinding besi. Dengan mataku yang terpejam.
Suasana sunyi, aku mencium wangi yang aku sukai, kangen, sebucin ini ternyata aku. "Kamu sakit lagi" mataku langsung terbuka.
Belum lagi sentuhan tangan hangatnya didahiku. Mataku bersimborok dengan matanya, bola mata yang hitam itu menatapku lembut? Aku mengerjap, apa iya?
Ting!
"Pak ini lantai bapak?" Aku menelan ludahku susah payah, Pak Ale bermain dengan anak rambutku dekat telinga.
"Hmm..." ia hanya bergumam sebagai jawaban. Aku mengintip beberapa orang tak berani masuk. Kembali, pintu lift itu tertutup. Sejak kapan lift hanya ada aku dan Pak Ale.
"Ponsel kamu rusak?" Aku menggeleng,
"Apa ponsel saya yang rusak? Kamu gak ngechat saya seminggu ini?" Wajah Pak Ale mendekatiku, duh jantung kenapa kau sprint ditempat gini harusnya kau tenang.
Wajahnya berada di dekat telinga dan aku merasa ada yang menempel tadi hanya sesaat, jantung ku rasanya mau ambyar, jika saja Mas Ale tak segera manjauh.
"Istirahat dulu Pak gombalnya, capek" kataku gugup.
Ting! Lift terbuka.
"Pantes, kamu abis lari lari di kepala saya" Mas Ale berlalu meninggalkan pertanyaan besar dikepalaku yang tak seberapa peka untuk menangkap kode ini.
Aku terbengong, kemudian mengejarnya, aku mengikuti Mas Aleku.
"Mas Ale... Tunggu aku padamuuu" pekikku, Mas Aleku berhenti, ia mengulurkan tangannya padaku,
"Cepet sini!" Senyumku mengembang sampai telinga
Aaaaaaaaa Nyaaaakkk ini anakmu bawa mantu....