Sejak semalam, Rena masih saja berkutat di meja kerjanya demi mengejar dead line yang sudah disepakatinya dengan sebuah aplikasi komik. Tangan kanannya yang menggenggam stylus pen sibuk menggores-gores drawing pad di depannya sesekali mengalihkan pandangan pada layar komputer untuk memastikan hasil gambarnya tetap halus tanpa cela.
Beberapa gelas yang sudah kosong terlihat berserakan di sampingnya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, waktu dimana biasanya dirinya sudah tertidur nyenyak di kasur single miliknya. Namun hari ini sungguh berbeda, tak ada kenyamanan itu. Sekarang dirinya berkejaran dengan waktu. Pukul sembilan nanti, Rena sudah harus upload komiknya yang part terbaru tapi ada saja gangguan.
Suara berisik dari unit sebelah sungguh memecah fokus Rena, tampaknya unit yang sudah lama kosong itu akan dihuni oleh pemiliknya lagi. Padahal, selama ini, Rena memilih menyewa unit yng ditempatinya saat ini dengan alasan tidak ada tetangga dan itu berefek baik baginya karena tak akan ada yang mengganggu fokus Rena di malam hari bahkan pagi harinya.
“Ya ampun,” gerutu Rena menarik-narik rambutnya kesal.
Gadis berkaos oversize itu memilih menyandarkan diri sejenak di kursinya, lalu menyamankan kembali jari-jari dan lehernya dari rasa lelah. Tanpa sadar fokusnya beralih pada gambar cetakannya yang tak jauh dari kasurnya, gambar itu terbingkai rapi di sebuah figura dan berdiri tegak di atas nakasnya.
Rena pun menghela napas panjang kemudian senyumnya berubah mereka, ia pun teringat dengan kejadian dua tahunan lalu, disaat ia bingung harus melakukan apa sehabis wisuda. Saat itu pikirannya sedang mumet atas tuntutan kedua orang tuanya agar dirinya mau melanjutkan usaha milik keluarga. Rena pun memilih menyendiri sejenak ke cafe yang baru saja di buka. Seramai apapun di sana, ia masih merasa sendiri karena gadis itu cuek dan tak peduli dengan kehadiran orang lain. Rena menikmati kesendiriannya itu dengan menggambar di sketchbook miliknya hingga sadang seseorang lelaki berpakaian hitam khas pakaian kerja di cafe itu.
“Ini, Kak, pesanannya,” ujar lelaki tinggi itu dengan senyum manisnya hingga memunculkan berlesung pipinya yang tersembunyi.
Sontak Rena terpana, sangat jarang gadis itu bisa terkagum pada seseorang dengan sekali interaksi. “Ah, iya. Terima kasih,” balas Rena gugup.
Setelah meletakkan minuman pesanan Rena di atas meja, lelaki itu tak kunjung pergi. Rena pun sempat bingung, dari pada penasaran gadis itu langsung bertanya. “Kenapa, ya, Kak?” tanyanya dengan kening berkerut. Rena memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’ karena menurunya lelaki itu lebih tua darinya.
“Eh, enggak,” serunya tersenyum canggung saat dirinya ketahuan memandangi apa yang tengah dilakukan oleh Rena. “Ehm, kamu pelukis?” tanya lelaki itu hati-hati. Rena dengan tanggap langsung menggeleng. “Eh, kok?”
Tampang bingung lelaki itu terlihat sangat lcu bagi Rena hingga dirinya tersenyum tipis. “Saya bukan pelukis, Kak. Ini hanya sebatas hobi untuk menyelingi kemumetan saya dalam mencari pekerjaan,” jelas Rena.
“Sayang loh, lukisan atau hasil gambar kamu bagus banget. Itu bisa jadi peluang.”
Mendengar ucapan itu sejenak pikiran Rena bekerja. Peluang bagaimana? Jelas-jelas menjadi pelukis ternama itu sangat susah sedangkan dirinya harus segera memiliki pekerjaan agar keluarganya tak lagi menuntutnya untuk bekerja bersama mereka.
“Sekarang lagi marak loh aplikasi baca digital, mau novel ataupun komik. Kamu bisa tuh coba terjun ke dunia komikus. Siapa tahu rejeki kamu ada di sana.”
Belum sempat berpikir dengan keras untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang bersiliweran di pikirannya, pertanyaan Rena itu sudah langsung terjawabkan. Kejadian itulah yang menjadikan awal bagi Rena untuk menjadi komikus, setelah kontrak judul pertamanya berhasil, Rena pun kembali lagi ke cafe itu tapi dirinya tak pernah bertemu dengan lelaki yang sudah menjadi pembuka pintu rejekinya itu.
Hingga Rena pun menggambar wajah lelaki itu sesuai ciri-ciri yang masih tertinggal di kepalanya dan gambar itu terpajang di nakasnya saat ini. Rena sering menjadikannya sebagai penyemangat ketika mumet dalam menyelesaikan gambarnya. Apalagi saat Rena mengetahui siapa lelaki itu ketika dirinya tanpa sengaja membaca majalah bisnis milih ayahnya. Lelaki itu tampak semakin tampan dan berwibawa, memiliki berbagai jenis bisnis salah satunya cafe tempat mereka bertemu pertama kalinya. Lelaki itu bernama lengkap, Raka Putra Dhananjaya.
Setelah mengetahui itu, entah kenapa harapan Rena untuk bertemu lelaki itu serasa mustahil. Dimana pastinya akan sangat sulit sekali untuk bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti Raka, bahkan untuk terserempak. Apalagi niatnya hanya sebatas untuk mengucapkan terima kasih.
Sekarang, Rena kembali lagi ke dunianya, gadis itu melanjutkan kegiatannya disela-sela suara yang begitu berisik dari unit sebelah. Mau marah pun dirinya tak akan bisa karena takut menimbulkan prahara antar tetangga di apartemen itu.
Selesai dengan kegiatannya dan tak lupa untuk upload ke aplikasi, Rena langsung berjalan menuju kasurnya, saat ini dirinya sangat membutuhkan istirahat tanpa menyadari bahwa ia sudha melewatkan jam sarapan pagi. Memang biasanya Rena tidak sarapan pagi, itu terjadi karena pagi adalah jadwal tidurnya, tapi kali ini beda karena semalaman suntuk gadis itu terjaga dan tidak makan lagi setelah makan malam. Jadi tentu saja tubuhnya juga memerlukan asupan makanan selain asupan istirahat.
Baru saja Rena menyeberangi antar dua dunia tapi ia sudah dikejutkan lagi dan kali ini bukan dari unit sebelah alias tetangganya tapi dari bunyi bel unit miliknya. Dengan langkah gontai dan mata yang setengah memejam, Rena berjalan menuju pintu kemudian membukanya sedikit dan hanya menyembulkan kepalanya saja.
“Iya, ada apa? Saya tidak menerima tamu atau memesan sesuatu,” seru Rena malas-malasan.
“Maaf mengganggu waktunya, saya datang untuk sekedar menyapa. Saya tetangga baru yang menempati unit sebelah. Maaf jika suara-suara dari unit saya mengganggu waktu anda.”
Suara penuh penyesalan terdengar sangat jelas oleh Rena, gadis itu hanya menyahuti dengan berdeham. Pikiran Rena tidak bekerja dengan baik saat ini, hingga ia terlihat seperti tetangga yang jutek dan menyebalkan. Hal itu sering terjadi ketika Rena tengah menahan kantuk, siapapun yang berbicara dengannya sama saja berbicara dengan patung. Tanpa memberikan respon lagi, Rena memilih menutup pintu unitnya kembali tapi pintunya malah ditahan.
“Maaf sekali lagi, saya ingin berbagi ini dengan tetangga baru saya,” ujarnya dengan tangan memberikan sebuah paper bag.
Bau makanan tercium sangat jelas di hidung Rena, gadis itu pun memaksakan matanya terbuka dengan sempurna agar memudahkannya saat mengambil paper bag itu. Rena tak ingin di cap kurang sopan oleh orang lain.
“Oh iya, terim-,” Ucapan Rena menggantung saat dirinya menatap sosok yang tengah berdiri di depannya saat ini. “Raka Putra Dhananjaya?” gumamnya pelan.
“Iya, saya.”
Mata Rena semakin membola saat gumamannya direspon oleh lelaki itu, ia pikir gumamannya itu sudah sangat-sangat pelan dan tidak akan terdengar. Tapi dirinya salah, ia tak menyangka lelaki itu mendengar gumamannya dan Rena lebih tak menyangka lagi ketika Tuhan mentakdirkan mereka untuk bertemu kembali.
“Ini makanan buat kamu, kayaknya jadi komikus berat juga ya?”
Ekspresi wajah Rena kali ini sangatlah cengo. Apa lelaki ini tahu bahwa dirinya sudah menjadi komikus? Itu artinya lelaki ini mengingatnya? Apalagi ini? Kenapa jadi seperti ini? Dirinya hanya berharap untuk bertemu tanpa sengaja agar bisa mengucapkan terima kasih, bukan malah seperti ini!