Kalau aku menyebutkan kata 'Kakek', apa yang langsung muncul di benak kalian? Pria tua yang dipenuhi kerutan sana sini, bertubuh ringkih dengan gigi yang banyak tanggal serta pemikiran yang kolot? Jika iya, aku tidak akan menyalahkan. Kakek-kakek kan memang seperti itu—seharusnya.
Tapi yang satu ini pengecualian. Dia jelas berbeda. Kakek ini, tidak seperti kakek-kakek pada umumnya. Aku bahkan ragu dengan pengakuannya yang bilang bahwa umurnya sudah ratusan tahun. Well, jika seperti itu, seharusnya dia ini dikubur di dalam tanah atau abunya dibuang ke laut. Benar kan?
Lagipula siapa yang akan percaya jika pria sepertinya berkata begitu tapi penampilannya terlihat layaknya pria umur 25 tahun yang dewasa dan menggoda?
Baik, akan aku deskripsikan. Tingginya sekitar 168cm. Matanya bulat dengan alis yang rapi. Kulitnya mulus dengan pipi yang sedikit berisi dan hidung yang mancung. Rambutnya seakan basah nampak berkilau. Dadanya bidang dengan badan yang nampak kokoh. Dan bibir tipisnya terlihat selalu lembab. Manis dan …
Shit, dasar otak kotor! Salahkan kakakku yang suka meletakkan novel dewasa di sembarang tempat. Salahkan juga dia ini, seenaknya membuat pikiranku kemana-mana.
Baiklah, kembali ke pembahasan awal. Dari apa yang aku jelaskan, bukankah dia lebih mirip pria berumur 25 tahun ketimbang seorang kakek?
Dan yang lebih aneh lagi, aku menyukainya. Damn, ini serius. Aku menyukai kakek-kakek yang juga berbeda jenis denganku. Aku manusia biasa dan dia—
Entahlah.
Kalian tahu flosnum? Aku jamin tidak karena aku sendiri pun baru mengetahuinya semenjak kepindahanku ke Bloem City. Dia bilang, flosnum akan terus hidup jika tidak ada yang menghancurkan bagian vital di tubuhnya, yaitu sign miliknya. Jadi jika seandainya ada yang memenggal kepalanya namun sign-nya masih bagus, maka dia tidak akan mati. Kepalanya bisa saja tumbuh seperti sedia kala meski membutuhkan waktu cukup lama. Tapi hei, bukankah itu terdengar menjijikkan? Kepala tumbuh? Yang benar saja.
Dia bilang kaumnya tak ada di dalam buku mitologi mana pun yang ditulis oleh manusia. Well, sejujurnya aku pun tidak tahu tentang seluk beluk mitologi. Aku tidak memiliki ketertarikan ke arah itu. Pada dasarnya aku tidak suka membaca buku, kecuali novel. Mungkin karena itu jualah membuatku berbeda dengan kakakku. Kakakku pintar dan aku…
Bodoh? Hahaha, miris memang. Tapi aku tidak menyesalinya. Kakakku kan pintar. Kalau mau tahu sesuatu, tinggal tanya saja padanya kan?
Oke, kembali ke kakek yang berdiri di depan jendelaku ini. Jangan heran jika dia ada disini setiap malam. Dia akan selalu dan selalu saja datang tanpa pernah absen. Anehnya, kali ini dia benar-benar tidak bicara sepatah katapun padaku. Seakan sengaja mendiamkanku dengan alasan buku The Little Prince karya Antoine De Saint - Exupery yang ada di tangannya
.
Tidak bisa seperti ini.
“Jung.”
“Hm?”
Ah, menyebalkan. Bagaimana bisa dia tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku itu?
“Cepat duduk di sampingku.”
Pandangannya naik sebentar sebelum kembali tertuju pada buku yang ada ditangannya. “Kenapa harus?”
“Bukankah aku akan lebih aman kalau kau tepat berada di sampingku?”
Pernah satu waktu dia bilang bahwa di luar sana, ada sekelompok flosnum yang menginginkanku—entah dalam artian apa. Itu pula yang menjadi alasannya dan beberapa temannya datang dan berjaga setiap malam, bahkan kadangkala dia membersamaiku saat siang.
Aku tentu bertanya apa alasan kelompok itu sehingga segitu menginginkanku. Dan kenapa juga Jung dan teman-temannya segitu repotnya menjagaku? Tapi dia bilang, aku ini berbeda. Ada sesuatu dalam diriku yang harus mereka lindungi.
Ya, dia tidak pernah mengatakannya dengan gamblang. Tapi aku juga tidak mau memaksanya memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin dia punya pertimbangan sendiri.
Pria itu kini berjalan menuju ke arahku, mengambil posisi duduk di sampingku dengan punggung yang bersandar ke dinding. Salah satu kakinya ia tekuk. Aneh, tidak biasanya dia langsung menurut seperti ini. Dia menatapku dalam jarak yang paling dekat dari sepanjang dia pernah bersamaku.
“Apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu?”
Kedua alisku otomatis terangkat. Tunggu, aku tidak salah dengar kan?
“Kau mau memberikan sesuatu untukku?”
Dia mengangguk. Aku mulai menatapnya dengan antusias.
“Seberapa banyak yang boleh kuminta?”
Dia menggumam sejenak sebelum menjawab, “Memang sebanyak apa yang kau mau?”
Aku mengedikkan bahu. “Kalau bisa, aku akan minta semuanya.”
“Minta saja.”
Mataku membulat seketika. “Sungguh? Boleh minta semuanya?”
Dia kembali mengangguk.
Apa? Ini sungguhan kan? Astaga, Lana. Ayo! cepat pikirkan apa saja yang kau inginkan.
Ting!
Sebuah lampu seakan muncul di atas kepalaku, saat hal yang sangat aku inginkan selama ini mendadak menyeruak memenuhi otakku, membuat senyumku mengembang seketika.
Aku berdehem sambil melirik ke arahnya. “Aku menginginkanmu.”
Kulihat keningnya berkerut tanda tak mengerti. “Maksudmu?”
“Ya… menginginkanmu.” jawabku dengan nada yang lebih dipertegas, mengisyaratkan sesuatu. Tapi sepertinya Jung sudah benar-benar tertular oleh kebodohanku. Maka untuk membuatnya paham, ku lirik gundukan yang ada di celananya, membuat matanya terbelalak seketika. “Tidak!”
Aku terkikik. Tuh kan, dia kakek kolot.
“Kenapa tidak? Bukannya aku boleh minta SE-MU-A-NYA?” ucapku dengan penuh penekanan.
Dia menggeleng. “Tidak untuk yang satu itu.”
“Kalau begitu—“
“TIDAK!”
Hei, apa-apaan itu? Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku.
“Kalau minta itu yang wajar-wajar saja. Manusia lain setahuku cuma minta dibelikan barang atau dibuatkan kue ulang tahun. Kenapa kau minta yang aneh seperti itu?”
“Yak. Aku belum menyelesaikan kalimatku. Aku cuma minta dipeluk kok, tidak wajar bagaimana? Lagipula seperti apa sih tipemu? Aku cantik begini kenapa terus ditolak? Kau homo ya?”
Mataku otomatis terpejam saat kulihat tangannya hendak menjentik dahiku. “Jangan asal bicara.”
Saat aku mengangkat kepalaku, kulihat dia menatapku malas.
“Kau tidak seksi.” Dia menunjuk dadaku dengan matanya. “Lihat itu, dadamu saja rata begitu. Sama sekali bukan tipeku. Lagipula kau itu masih terhitung sebagai anak-anak. Umurmu baru 17 tahun. Bau kencur.”
Seketika aku menunduk, melihat dadaku sendiri. Memang tidak besar sih, tapi tidak bisa dibilang rata juga. Dan juga, bukankah yang tadi itu bisa dibilang body shamming?
“Lusa sudah 18 kok. Yang jelas aku masih muda. Kau tidak pernah dengar ya kalau yang muda itu lebih baik? Buktinya, banyak bapak-bapak yang selingkuhannya jauh lebih muda. Kau tahu, yang muda itu lebih ranum dan lebih memuaskan.”
“Kau tidak pernah dengar ya kalau yang tua itu lebih banyak pengalamannya?”
Kalau saja bisa, mungkin rahangku akan jatuh saat ini juga saking terkejutnya. Astaga, tidak hanya terkontaminasi kebodohanku. Ternyata dia kepolosannya sudah terkontaminasi.
“Yak. Kau ini sudah tidak perjaka ya? Katanya mau melakukannya setelah menikah. Lalu bagaimana bisa tahu itu semua? Kau sering main dengan yang tua?”
“Kau sendiri, bukannya kau yang lebih banyak tahu ketimbang aku? Ku tebak, kau pasti bisa menyebutkan semua gaya dalam buku Kamasutra, benar kan?”
Aku memutar bola mataku, terperangah dengan apa yang dia ucapkan. Wah, benar-benar tidak bisa dipercaya.
“Jung! Kau...“
Wajahnya yang sialnya tampan itu seakan mengolokku, membuatku benar-benar muak.
“DASAR KAKEK PENUNGGU KERAK BUMI MENYEBALKAN!”
Ku hempaskan tubuhku jauh darinya. Tanganku kulipat di atas perut sambil memejamkan mata. Menyebalkan! Aku benar-benar menyesal memintanya duduk di atas ranjangku. Sial, bisa naik darah aku kalau seperti ini terus.
“Lihat kan? Kau ini memang masih bau kencur. Kenapa jadi marah-marah seperti itu? Hei, kau merajuk?”
Aku tak bergeming meski sekarang ia menoel-noel lenganku dengan salah satu jarinya.
“Jadi kau marah?”
Dia ini tidak bisa lihat ya? Tidak paham situasi? Tidak peka seperti kebanyakan pria? Bagaimana bisa aku senang disaat seperti ini? Aneh.
Aku beralih memunggunginya. “Pergi sana.”
Dia mendecih, "Dasar bayi.”
Bisa kurasakan ranjang yang bergerak di belakangku. Dia beranjak dari sana, membuat aku semakin kesal.
Biar kuberitahu pada kalian semua. Makhluk apapun itu, kalau jenis kelaminnya laki-laki, selalu saja tidak peka. Ya inilah salah satu contohnya. Menyebalkan!
Dengan perasaan kesal, aku mengubah posisiku menjadi duduk. Kulemparkan bantal sekuat tenaga ke arahnya.
Dan seperti biasa, dia bisa menangkapnya dengan mudah. Aku akan menjerit jika saja tidak melihat raut wajahnya yang berubah serius saat menatap ke luar jendela. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa, Jung?”
Aku hendak beranjak untuk melihat apa yang ia lihat. Tapi ia segera memperingatiku untuk tetap di tempat. Maka akupun menurut.
Dia masih disana, masih memperhatikan dengan seksama. Membuatku tegang sendiri. Bisa kulihat sign-nya mulai berpendar di sekitar kerah kemeja hitamnya.
Bahaya, sepengetahuanku, sign-nya akan keluar hanya saat keadaan darurat. Apa diluar sana terjadi sesuatu yang mengerikan?
Namun aku bisa sedikit bernapas lega saat sign miliknya mulai meredup. Dia kembali menatapku dengan tatapan yang sayu.
“Apa itu tadi?” tanyaku khawatir. Jujur saja, aku takut salah satu temannya yang diluar sana terluka selama melindungiku.
“Bukan apa-apa. Jadi, apa permintaanmu?”
“Bukan apa-apa?” tanyaku membeo. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela. “Apa maksudmu bukan apa-apa? Sign-mu saja sampai keluar. Apa temanmu terluka? Dimana mereka? Apa—“
“Lana…” Dia meremas bahuku. Seketika aku terdiam dan balas menatapnya.
“Jangan khawatir, mereka baik-baik saja.”
Bahuku yang sedari tadi tegang mulai melemas. Ku pungut bantal yang kulempar padanya, berjalan gontai ke atas ranjang.
“Jadi apa permintaanmu?”
Aku merapikan selimut di atas tubuhku, bersiap untuk tidur. “Tidak tahu. Jangan bahas itu. Tolong matikan lampu kamar untukku.”
Meski hanya diterangi cahaya bulan dari luar jendela, bisa kulihat dengan jelas tatapan anehnya padaku, seperti malam yang sudah-sudah. Dan setiap kali aku melihatnya, darahku selalu saja berdesir.
“Jangan memandangiku seperti itu, Jung.”
“Kau terlalu percaya diri. Aku—“
“Menatap semua orang dengan tatapan seperti ini. Kau sudah sering mengatakannya. Tapi tetap saja, aku tidak terima. Aku tidak suka.”
Raut wajahnya meredup. “Kenapa?”
Kenapa?
“Entahlah, jantungku tidak baik-baik saja saat kau melakukannya. Dia bekerja terlalu cepat di dalam sini,” ujarku sembari menepuk-nepuk dadaku sendiri.
“Memang apa artinya?”
“Apa artinya?” Aku membeo. Dia ini bodoh atau hanya mengujiku. “Itu artinya aku jatuh cinta padamu. Kau tidak pernah merasakannya ya?”
Ia terdiam, tak terlihat hendak menjawab, maka aku segera menutupi seluruh tubuhku dengan selimut dan berbalik memunggunginya.
“Tidak usah dijawab. Selamat malam.”
“Akhir-akhir ini, aku sering merasakannya.”
Apa?
END
Lana : Jadi kau sering merasakannya ya? *wajah antusias
Jung : *angguk-angguk
Lana : Benarkah? Kapan? *mata berbinar
Jung : Saat yang mengincarmu datang dan menyerang teman-temanku.
Lana : -_-
Jung : Berarti aku juga jatuh cinta pada mereka semua ya, Lan? Lan?
Lana : *left
🌹
Halo 😊
Maaf banget ya buang-buang waktu kalian dengan membaca cerita aneh dariku hihihi. Jujur, aku pengen tahu pendapat kalian tentang cerita ini—apakah menurut kalian aneh seaneh Jungkook yang tahu tentang Kamasutra tapi tidak tahu tentang yang namanya jatuh cinta *ups 🤭. Jadi kalau bisa, tinggalkan pesan di kolom komentar ya.
Terima kasih sudah mampir 💜 Luv luve