"Rini", temanku Lia memanggil.
"ya ada apa?", aku menghentikan langkahku.
"Kudengar kau akan meneruskan sekolahmu di Bandung?", tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Wah, semuanya pada pergi, aku berencana meneruskan sekolah di Yogya", Lia mengikuti langkahku.
"Sejujurnya sih, aku lebih nyaman bersekolah disini, tapi kata Om ku yang ada di Bandung, sebaiknya mencoba bersekolah di kota, untuk memperluas wawasan, begitulah, aku juga tidak begitu mengerti apa maksudnya", jawabku.
Saat ini aku bersekolah di sebuah kota kecil di Sumatra, aku masih duduk di kelas 8. Disini sekolah yang ada hanya sampai kelas 12. Universitas terletak di kota besar. Oleh karena itu aku dan adik perempuan ku yang bernama Risa terpaksa meneruskan pendidikan di kota besar.
Singkat cerita setelah kenaikan kelas kami berdua langsung pergi ke Bandung. Di Bandung kami tinggal di rumah yang baru saja dibeli oleh kedua orang tua kami. Lumayanlah kesan pertama kali kami melihat rumah itu. Karena baru pindah perabotan yang kami miliki tidaklah lengkap, hanya ada meja makan yang terdapat di ruang tengah, tempat tidur, dan juga peralatan masak.
Beberapa hari kemudian hujan deras mengguyur kota Bandung, sedikit air hujan mengalir masuk kedalam rumah itu dari pintu saming, mau tidak mau, aku dan adikku mengepel lantai rumah , saat itu hari sudah menjelang.
Di atas meja makan terdapat tutup gelas. Ketika kami sedang mengelap lantai, terdengar tutup gelas jatuh.
"Cha, tutup gelasnya jatuh, taruh lagi di atas", kataku kepada Icha(panggilan untuk adikku yang bernama Risa adalah Icha, dia kelas 7.
Icha lalu mengambil tutup gelas dan meletakkannya di atas meja. Tak lama kemudian tutup gelas itu pun kembali jatuh.
"Icha, meletakkannya jangan terlalu pinggir dong", kataku lagi.
"Apaan sih Ni, sudah diletakkan ditengah meja kok", Icha kemudian mengambil kembali tutup gelas itu dan meletakkannya di atas meja kembali.
Lampu yang terletak di meja makan itu adalah lampu gantung, tanpa kami sadari lampu itu secara perlahan berayun ke kiri dan ke kanan. Kami yang masih mengepel terdiam sejenak,"Ni,merasa pusing ga", tanyanya.
"Iya, kenapa ya", jawabku, kami berdua lalu melihat keatas, kami baru menyadari kalau lampu itu bergoyang. Kami saling bertatapan. Secara perlahan kami meletakkan lap pel kedalam ember dan meletakkannya dipinggir, kami lalu tanpa berkata apa-apa langsung memasuki kamar kami dan menutup pintu. Baik wajahku maupun wajah Icha memucat, kami berdua terdiam di kamar. Sampai malam tiba, kami tidak ada yang berani keluar kamar.
Mama, Papa dan Nenek terheran-heran melihat tingkah kami, menjelang tengah malam tiba-tiba saja pintu kamar kami diketuk, setelah dibuka ternyata Mama yang berdiri didepan pintu kamar kami.
"Pintu kamarnya jangan ditutup ya, Mama dan Papa khawatir, jadi biar kalian kelihatan dari pintu kamar Mama dan Papa", kata Mama, pintu kamar kami memang bersebrangan dengan pintu kamar Mama dan Papa. Aku mengikuti saran Mama dan Papa.
Tepat jam 2.00 malam aku terbangun, entah mengapa perasaanku tidak enak, sementara itu diluar sedang hujan deras. Mataku tanpa aku sadari tertuju dengan sesosok wajah anak perempuan yang memandangku dari atas pintu kamar. Dia menunjuk ke arah pintu belakang, kakiku serasa bergerak sendiri ke arah pintu belakang, begitu aku buka terlihat seekor kucing betina mengeong sambil menatap wajahku, aku lalu membiarkan kucing yang berwarna hitam itu masuk, mengelap tubuhnya yang basah, aku melihat perutnya yang besar, ternyata kucing itu sedang hamil. Secara perlahan aku menggendongnya dan meletakkannya didalam kardus kosong yang sudah aku alasi dengan kain.
Keesokan paginya, aku melihat tiga ekor anak kucing telah lahir, aku dan Icha bahagia sekali. Aku tertarik dengan salah satu anak kucing itu, dia aku beri nama poedel.
Kemudian, hal aneh pun mulai sering terjadi di rumah, sering sekali ada barang yang selalu bergerak dari tempatnya tanpa ada yang memindahkannya, dan kejadian itu terjadi setelah sore hari. Oleh karena itu aku dan adikku tidak melakukan aktifitas apapun pada waktu-waktu itu. Kami sering menghabiskan waktu dikamar.
Pada suatu hari ketika kami akan tidur malam, aku melihat sosok seorang cowok sedang berdiri di jendela kamar kami, kami berlari ke kamar Mama dan Papa, dengan cepat menggelar tikar dengan maksud kami akan tidur dikamar itu. Mama dan Papa tanpa berkata sepatah katapun menutup pintu kamar.
Setelah sarapan pagi, Nenek bercerita bahwa semalam ia tidak bisa tidur dikarenakan ada langkah kaki yang mondar mandir di depan kamarnya. Tepat pada siang hari pemilik rumah yang menjual rumahnya datang, hari itu ia akan mengambil barangnya yang masih tertinggal di gudang.
Pada kesempatan itulah Mama menanyakan alasannya mengapa Ibu itu harus menjual rumahnya, dengan harga murah lagi.
Dengan wajah berlinang air mata ia pun bercerita. Asal mulanya ia menjual rumah itu adalah ia tidak ingin mengingat kejadian sedih yang telah menimpa keluarganya. Ibu itu mempunyai empat orang anak Anak pertama seorang laki-laki, anak kedua perempuan, ketiga laki-laki lagi dan yang terakhir adalah anak perempuan.
Pada suatu hari, suaminya yang bekerja di Jakarta tidak mengirimkan uang kebutuhan sehari-hari dan juga kebutuhan buat sekolah. Anak pertamanya dan juga si bungsu berinisiatif menemui Ayahnya yang ada di Jakarta, karena Ayah mereka tidak pernah mengangkat telpon ketika dihubungi.
Mereka pergi menaiki sepeda motor. Malang tidak dapat ditolak, dijalan mereka ditabrak pengemudi truk yang sedang mengantuk. kepala kedua anak itu pecah. ibu itu tidak dapat lagi menahan air matanya ia pun menangis tersedu-sedu. Ia bercerita ternyata suaminya sudah menikah lagi. Dan demi kelangsungan hidup dirinya dan kedua anaknya yang lain ia terpaksa menjual rumah itu, ia dan anak-anaknya tinggal di rumah Ibunya yang sudah tua di desa. Hasil penjualan rumah dipakai untuk modal usaha dan sisanya ditabung untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Habis mengambil barang dan menceritakan semua apa sebabnya ia menjual rumah, Ibu itu pamit. Dari Ibu itu kami diberitahu bahwa kuburan kedua anaknya terletak di pemakaman yang diperuntukkan bagi para penghuni perumahan itu.
Kami lalu pergi ke kuburan, sambil membawa bunga dan juga air. Kami membacakan doa untuk kedua anak Ibu itu. Sejak hari itu tidak ada lagi barang yang tiba-tiba berpindah tempat. Suara langkah kaki pun sudah tidak pernah terdengar.
Hanya saja pada hari-hari tertentu aku masih melihat sesosok laki-laki berdiri di jendela kamarku dan juga di ruang tamu, duduk dan tersenyum menatapku.
TAMAT