Wilna mendudukkan bokongnya pada kursi panjang di sebuah taman. Berkali kali ia kerjabkan matanya untuk memastikan. Jika yang tengah asyik bercengrama dengan seorang wanita berparas cantik, walau terlihat cendrung agak tua dari usianya, pria itu adalah Dimas Anggara.
Dimas Anggara lelaki yang telah berhasil mengecup bibirnya untuk yang pertama kali di usianya yang ke tujuh belas tahun. Lelaki yang mengaku telah jatuh hati padanya bahkan sejak ia mengenakan rok biru.
Kesungguhan cinta Dimas tak tertandingi saat jarak memisahkan mereka antar pulau. Saat Wilna masih berseragam putih abu dan Dimas telah menjadi mahasiswa.
Dimas memiliki rupa yang tampan, babyface, juga berkulit putih. Sebelas dua belas dengan rupa Nicolas Saputra.
Awalnya Wilna tak mengerti artinya cinta. Bahkan saat menerima Dimas menjadi kekasihnya pun, ia belum mengerti apa itu cinta.
Yang Wilna tau, Dimas selalu berprilaku baik dan manis padanya. Maka, apa alasannya untuk tidak membalas segala kasih yang Dimas berikan padanya.
Waktu juga perhatian Dimas mampu memasung hati seorang Wilna, terikat secara sendirinya, tanpa paksaan bahkan tanpa syarat. Hingga kini Wilna lah yang hampir sekarat, tak bisa lepas dari jerat pesona seorang Dimas Anggara.
Usia kebersamaan mereka bahkan lebih dari 3 tahun. Dari Wilna duduk di kelas XI pada Sekolah Menengah Atas hingga saat itu, Wilna telah menjadi mahasiswi semester 5.
Hubungan mereka memang manis, hampir tak ada pertikaian dan cekcok. Dimas agak kekanankan walau lebih tua setahun dari Wilna. Tapi Wilna cendrung dewasa, mungkin karena Wilna anak sulunh, sehingga terbiasa mengalah denhan adik adiknya.
Dimas tipe pencemburu dan posesif. Gerak langkah Wilna selalu ia pantau walau salinh berjauhan. Kadang Wilna risih, tapi ia cinta. Maka, mengalah dan berprilaku sesuai kehendak dan pengaturan Dimas adalah hal terbenar menurutnya. Memilih percaya dengan yang lelaki itu sampaikan adalah hal yang dengan ikhlas yang ia lakukan.
Hingga saat libur semester, ia sangat merasa rindu pada Dimas. Dan memutuskan untuk datang ke kota kelahiran Dimas, yang juga kota tempat neneknya berada. Sehingga Wilna punya alasan untuk datang ke sana. Berdalih rindu pada sang nenek.
Wilna kali ini ingin memberi kejutan pada Dimas. Mungkin mengirimkan foto bersama ibunda Dimas yang sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri adalah hal yang manis dan akan menghibur Dimas, yang mengaku tidak pulang saat libur kuliah di semester ini.
Bukan Wilna yang memberi kejutan, tetapi justru Dimas yang sukses memberi kejutan pada Wilna. Dimas pulang untuk libur. Bahkan mengajak teman wanitanya pulang serta ke rumah ibundanya.
"Mbak Wil, sudah putus ya sama mas Dimas tetangga sebelah?" tanya bi Mirah pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah nenek Wilna yang memang hanya berjarak lima rumah dengan kediaman Kertajasa, ayah Dimas Anggara.
"Hah..." Wilna tidak tau harus menjawab apa.
"Ah... Kok bibi tanya gitu ya? Ya iyalah sudah putus ya mbak. Kan mbaknya pacaran hanya saat masih seragam abu abu. Masih cinta monyet ya non." Jawab bibi dengan pemikirannya sendiri.
Wilna tak tau maksud bi Mirah bicara tadi. Dan memutuskan untuk melepas penat dan bingungnya dengan berjalan ke taman.
Dan taraaa...
Ia sungguh melihat hal yang tak perlu ia lihat. Tak pantas ia saksikan. Hanya menoreh luka pada hati yang telah sepenuhnya percaya pada kekasih jiwanya itu.
Apa benar Dimas hanya menganggapnya sebagai cinta monyet? Apa kelebihan teman wanitanya itu,. Sehingga waktu 3 tahun yang mereka renda bersama seolah bagai bayangan semu semata. Wilna tak habis pikir, dimana letak salahnya. Sisi mana yang membuat Dimas berpaling darinya. Kemana janji yang selama ini ia agungkan?
Wilna tak sempat bertemu Dimas secara langsung waktu itu. Memilih kembali ke kota ia berkuliah. Berusaha tak pernah tau, jika Dimas telah bermain hati.
Wilna terlalu pengecut menghadapi kenyataan, jika Dimas telah membagi cinta. Hatinya memar, separuh jiwanya pergi, rasa itu telah hambar, atas pengkhiantan tanpa penjelasan dan alasan itu.
***
Wilna sudah dengan seragam khas abdi negara. Takdir mengantarnya menjadi salah satu pelamar yang beruntung lulus seleksi menjadi ASN di kota kelahiran Dimas. Batu, Malang.
Pertemuan kembali dengan Dimas tentu tak terhindar lagi. Sebab ia pun telah bekerja di sebuah Bank swasta di kotanya. Sejak peristiwa yang Wilna lihat di taman kurang lebih 4 tahun lalu. Wilna sendiri yang tidak memberi kesempatan untuk Dimas mengkonfirmasi apapun tentang hubungannya dengan wanita yang kabarnya sempat menjadi tunangannya itu.
"Apa kabar Wil...?" seru suara agak serak tertangkap runggu Wilna dari arah belakang. Saat ia mengantri minuman di sebuah kedai kopi. Sontak Wilna berbalik tau, pemilik suara itu adalah Dimas Anggara.
"Ha... Haai Dim. Kabarku baik." Jawab Wilna tergugu.
"Bisa ngobrol sebentar?" tanyanya bagai orang asing. Kemanakah kemesraan yang menyala dalam kurun waktu 3 tahun bersama itu. Meluap bahkan lenyap tak bersisa. Yang tertinggal hanyalah bekas luka tertutup namun kadang masih terasa perih.
Dimas tak menunggu jawaban. Saat cangkir kopi sudah di tangan Wilna, Dimas menariknya lalu membawanya ke pojok untuk duduk bersama.
"Aku tak ingin membahas masa lalu kita. Apapun aku di hatimu dulu dan sekarang. Bagiku kamu tetap milikku, dan hanya akan boleh jadi milikku." Posesif Dimas keluar.
Dan celakanya... Wilna bagai terhipnotis olehnya.
Luka hatinya tak benar mengakibatkan kebencian. Cintanya masih mampu menyelimuti hati rapuhnya. Wilna masih saja memilih untuk percaya pada Dimas. Bahkan tak perduli dan tak ingin mempermasalahkan Kiki Amalia.
Kakak tingkat Dimas yang memang sempat memaksa untuk menikah dengan Dimas, bahkan pernah mengancam akan bunuh diri jika Dimas menolaknya. Maka waktu itu, bertunangan adalah salah satu cara Dimas meyakinkan Kiki, bahwa Dimas tidak menolaknya.
Namun Kiki rontok dengan sendirinya, menyadari hanya memiliki raga Dimas. Tapi tidak dengan jiwanya.
Dalam hati Dimas, sungguh hanya ada Wilna seorang. Dan tak pernah ada cinta yang lain. Bahkan Dimas pun masih terlalu yakin, jika hingga kini hati Wilna pun telah terpatri hanya untuknya.
TAMAT