Ku buka mata ku yang masih terasa bengkak dengan hiasan jejak air mata, ku tarik selimut ungu di ujung kasur untuk menutupi tubuh ku yang hanya terbalut dalaman.
Seperti nya persiapan pernikahan mama sudah di mulai sepagi ini, jam baru menunjukkan pukul 04: 45 tapi semuanya sudah terdengar sibuk di luar. ku benamkan kepala di dalam selimut menyembunyikan wajah ku.
tok tok tok...
"Lia... ayo bangun bantu mama dandan"
"eeuummmhhhhh iya ma" berusaha terdengar seperti orang yang benar-benar baru bangun tidur.
Ku dudukan tubuh ku di pinggir kasur yang langsung menghadap ke cermin meja rias, ku pandangi pantulan siluet tubuh di cermin itu, terlihat kurus, mungkin bagi sebagian wanita ini adalah body impian mereka, tapi tidak dengan ku.
Ku bersihkan tubuh di kamar mandi, perih, saat beberapa produk dan penggosok itu terkena di bagian spesial di tubuh ku, terlihat bekas bekas getah yang sudah mengering terlepas disapu air, tapi tak bertahan lama langsung tergantikan getah cair yang masih hangat.
Sedikit aneh, tapi aku menyukai sensasi seperti itu, saat perih dan sakit menyerang, disana lah aku bisa melupakan semua yang mengganggu pikiran ku.
~><~
"Li, kamu sudah coba kebaya nya?"
"sudah ma, pas kok, warna nya juga cantik"
"wah bagus dong kalo kamu suka, itu papa kamu yg beliin"
Aku terdiam, aku tidak masalah mama menikah lagi bahkan untuk kali ini adalah kali ke 3 mama menikah. Tapi, untuk kata 'papa' atau hal sejenis nya, aku tidak suka.
Ku balas penjelasan mama dengan anggukan, tangan ku masih sibuk mengoleskan kosmetik di wajah wanita hebat dalam hidup ku ini. jika kau memandang wajah mama ku, maka kau akan melihat sejuta luka yang bernanah di sana.
setelah selesai dengan make up, ku lanjutkan dengan sanggul sederhana yang ku bisa, sebenarnya aku sudah menyuruh mama menggunakan jasa MUA tapi nampak nya mama tidak mau, malah sebalik nya aku yang disuruh mendandani nya.
"Ma udah, tinggal pake rok kebaya nya aja"
"iya, makasih sayang" kecupan hangat mendarat di kening ku, ini untuk yang pertama kali aku merasakan kecupan hangat yang penuh cinta.
~><~
Aku berdiri di depan cermin, terlihat pantulan wanita cantik disana, ku pandangi pantulan wanita cantik itu yang menggunakan kebaya berwarna tosca, yang terlihat sangat pas membentuk siluet tubuh nya. Jangan pernah mau menjadi aku apapun alasan nya, karena aku sendiri pun sebenarnya ingin meninggalkan tubuh dan semua kisah nya.
[ nampak seorang laki laki dewasa mendekati gadis kecil yang sudah dalam kondisi tidak berbusana di sudut Wc terbengkalai, anak perempuan itu tampak seperti orang bodoh, dia hanya diam tidak melakukan perlawanan karena tadi ia diberitahu bahwa itu adalah bagian dari permainan petak umpat.
"udah gpp, ini enak"
"apa nya yang enak om?" ditatap nya laki-laki itu tanpa tahu apa yang akan terjadi pada diri nya.
"sssssttttttt buka kaki nya" laki-laki itu semakin mendekat dan menindih tubuh gadis kecil itu, yang dengan polos nya membuka kaki nya.
senyum kemenangan terpampang diwajah manusia bejad itu melihat kepolosan gadis kecil itu
"AAAA AAAAA!! AAAAA! AA SAKIT! GA MAUUUU AAAAAA! LIA SAKIT AAAAA!!!"]
hhhuuufffhhhhhh.....
Tubuh ku gemetar, tangan ku dingin, air mata tanpa permisi mengalir, aku jatuh tersungkur, entah kenapa mimpi buruk itu menghantui pikiran nya, bagai video lama yang terputar, sangat jelas.
Aku benci tubuh ku, aku benci masa kecil ku, aku benci mereka.
Bahkan ketika aku melihat diri ku sendiri aku merasa jijik.
Ku raih alat make up dan beberapa bedak untuk memperbaiki make up ku yang luntur terkena air mata, Ku perbaiki juga riasan mata agar tidak terlihat jejak air mata barusan. Tangisan tadi di luar rencana, sungguh.
~><~
[ "ma, Lia mau ngomong"
"Iya ngomong apa sayang?"
"Umhh, Lia di perkosa bapak"
Mama kaget, mata nya memerah membendung air mata yang enggan untuk dia jatuh kan
"Bapak gimanain kamu h-hah?"
"Dia, pegang pegang bawah nya Lia maaaa" Air mata ku mengalir bersama dengan beban yang ku ceritakan, meskipun singkat namun dapat mengurangi ketegangan di pundak ku.
Mama tertunduk diam, dipeluk nya tubuh mungil ku yang mulai bergetar karena menangis.
"Lia, jangan kasih tau siapa siapa ya? Kasian bapak mu" Mama berbicara seakan takut suami nya mempunyai penilaian buruk dari keluarga, lalu aku bagaimana?]
"Lia! Kamu ngapain?! Itu banyak cucian piring malah males malesan" Bude, kakak dari mama, tempramen nya memang seperti itu.
"Iya bude ini Lia keluar"
"Smile..... " Perintah ku kepada bayangan di cermin itu.
~><~
"Eh Lia, paman kira kamu ga bakal datang ke nikahan mama" Sosok laki-laki dengan tato mawar merah di lengan kanan nya menyapa ku, dia adalah adik dari ibu ku.
"Iya man, kemarin aku di jemput hehe"
Setelah mengantarkan piring kotor, bukan nya pergi, orang tua ini malah mendekat kan tubuh nya ke tubuh ku, aku terdiam, tubuh ku bagai membeku, tak bisa bergerak.
"Body kamu bagus, semok"
Tidak cukup sampai di situ, tangan nya di lingkar kan ke pinggang ku, bodoh nya aku, tidak bisa ku lawan, hanya genangan air mata dan tatapan tajam yang ku layangkan, tangan ku gemetar sampai sampai gelas yang ku genggam jatuh.
Gelas yang jatuh membuat dia melepaskan diri ku, dengan tanpa dosa dan berlagak bagai malaikat.
PRAAANNKKK
"LIA KENAPA?! "
" Gpp bude, gelas nya licin"
~><~
Setelah usai sudah runtutan kegiatan, aku kembali ke tempat ternyaman dan teraman ku, yaitu kamar, ku kunci pintu nya lalu menuju kamar mandi.
shower mengalirkan air hangat yang menghujani tubuh ku, ku ambil sikat kasar yang seharusnya untuk menyikat lantai, ku gosok bagian bagian tubuh ku yang di sentuh nya, dapat ku rasakan sikat itu mengikis sedikit kulit ku, perih karena bercampur sabun.
Ku pandang semua bekas karya ku, yang terkadang mengeluarkan getah nya. Sampai kapan aku bakal terus begini? Aku Boleh bahagia ga sih?
~><~
[ "pa? Papa ngapain? " Tidur ku terganggu karena merasakan sesuatu berada di atas ku
"Udahh sssstttt, jangan bilang mana ya" Pria paruh baya itu tetap terus melanjutkan aktifitas nya
Aku bingung, aku lagi di apain, rasa nya perih, sakit, mama Lia takut.
"Gimana enak kan? " Laki-laki itu bertanya dengan tatapan yang mengerikan dan gemuruh nafas tak beraturan
Aku takut, dan hanya ku balas dengan anggukan
Menangis pun aku takut, aku sudah sering di pukuli dan aku takut di pukul lagi]
Aku masih setia bersandar di pintu kamar, mencegah takut ada yang masuk, pikiran ku entah kemana ngelantur nya, tidak bisa ku ceritakan menggunakan kata kata, hanya bisa dengan helaan nafas dan air mata.
[ " Lia, ayo emut ini" Laki laki itu kembali mengeluarkan alat kelamin nya
Aku mundur, aku takut, aku jijik
"AYO SINI AH SUSAH BENER DI SURUH! " tangan ku di tarik paksa dan harus melayani dia.
Ma......, Lia takut]
Aku bertanya-tanya, kenapa semua kenangan menjijikan itu kembali terputar di pikiran ku, sangat jelas, bahkan seakan baru terjadi, mata ku enggan ku tutup, setiap mencoba tidur suara manusia manusia bejad itu terus menghantui.
Mau lapor mama, tapi takut.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 04: 00 dini hari, ternyata aku belum tidur malam ini. Di laci meja ada sebotol obat tidur, dan rasa nya aku butuh itu sekarang, ku raih botol itu, ku kunyah sebanyak yang bisa ku kunyah.
Penglihatan ku kabur, tubuh terasa ringan, sangat ringan, rasa nya hampir terbang. Apakah obat nya bekerja? Seperti nya obat kali ini sangat ampuh.
~><~
"Maafin mama ya sayang" Hanya kalimat singkat itu saja yang bisa terucap dari bibir pucat wanita paruh baya itu, dia tidak menyangka anak nya pergi begitu cepat, dia bahkan tidak tau penyebab nya.
Di pandang nya kuburan baru yang tertulis nama Grazillia, anak nya, gadis baik nan ceria, yang mengakhiri hidup nya dengan tragis.
Siapa yang harus dia salah kan? Diri nya? Tuhan? Keluarga?
Hidup nya benar-benar hancur, dia menyesal, tapi apalah daya sebuah penyesalan, Lia sudah menyelesaikan kisah nya, dia memilih menamatkan lebih cepat.
Lia, dia tidak kalah
Hanya saja dunia tidak bersahabat dengan nya.
Tidak ada yang bisa di salahkan kecuali pelaku.
~><~
Pelecehan, pembully an dalam bentuk apapun adalah pembunuhan jiwa.
Dan pelakunya adalah pembunuhan.
~e