Dunia itu seperti daun kelor yang sempit, kamanapun aku pergi, dia selalu membuntutiku. Entah ini karma atau kutukan yang jelas bayanganya jelas bagiku.
Tapi gengsi yang terlalu tinggi membuat mataku tertutup untuk melihat ketulusan cintaku padanya. Kekayaan yang selalu aku banggakan ternyata hanya tipuan mata bagiku.
Ketika aku tersadar dari semua itu, waktu sudah meninggalkanku, meski aku memintanya kembali. Mereka seolah tidak menghiraukan aku lagi.
Salyndri, satu satunya harapan hidupku. Gadis itu menyemangati sisa hidupku ini meski sekarang aku sudah tidak memiliki apapun lagi.
Pagi itu, aku masih menyimpan semua kenangan keluargaku.
" Jef, nanti pulang kampus jam berapa, temeni ibumu kondangan ya, bapak ada meeting nih", sambil mengutak utak laptop di atas meja makan setelah sarapan pagi ini.
" Jam 1,pi emang mau jam berapa kondanganya ibu? Tapi nanti biasanya lama deh sama ibu kalau udah ketemu teman temannya ", gerutuku sambil mengemasi tas dan semua perlengkapan kuliahku.
" Ya nanti diwanti wanti aja ya ibumu biar gag lama ngobrolnya sama ibu ibu yang lain, " masih sama papi sambil berbicara juga sembari mengetik. Entahlah begitulah kehidupan kami selama ini, papi dengan yang katanya sibuk urusan kerjaan, dan ibu yang selalu repot dengan urusan geng sosialitanya. Dan aku? Satu satunya anak mereka yang bahkan mereka lupakan, ahhh untung aku ini sudah besar jadi bisa mencari kesibukan sendiri entah di kampus atau di tempat nongkrongku selama ini.
" Iya Jef, nanti jangan sampai lupa ya, ibu tunggu lhooooooo", teriak ibu dari dapur dengan suaranya yang melengking menembus gendang telingaku.
" ok,,, assalamualaikum aku berangkat dulu,", sambil mencomot sandwich buatan ibu rempongku berjalan menuju teriosku.
...............
Baru sekitar 10 menit aku mengendarai mobil, ketika di lampu merah, tepat di sebelahku, berhenti sebuah motor yang aku begitu mengenalinya
"Salyndri, "sapaku
" hay Jefry,, " jawabnya sambil membuka kaca penutup helm bogonya.
" sendiri aja kamu?, "tanyaku basa basi untuk memecahkan suasana.
"iya setiap hari juga begitu kok", sambungnya sedikit ketus.
Dia memang seperti itu, tidak seperti kebanyakan gadis lainya yang selalu menempel padaku, karena ketampanan dan ketajiranku, tapi dia berbeda, sebenarnya dari tingkat kecantikan dia biasa saja, tapi kesederhaan dan kesolehanya itu yang terus membuatku penasaran untuk terus mendekatinya.
"tettt.... Teett, tin tin...... Ayo woyyy sudah hijau, "karena melamun aku jadi tidak tahu kalau lampu sudah berubah hijau teriakan mobil di belakangku terus menggema hingga aku sadar jika Salyndri sudah tidak ada disebelahku. Gadis itu begitu memikat, jilbab pnjangnya yang berkibar kibar terkena angin seoalah mengisyaratkan betapa alam pun begitu menyayanginya. Kecerdasan otaknya pun tak perlu diragukan, di kampus, dialah satu satunya wanita cerdas yang begitu rendah hati, hanya saja dia selalu ketus dengan lawan jenisnya, maklum dia selalu menjaga jarak dengan laki laki yang bukan muhrimnya. Sungguh susah sekali untuk mendapatkanya, aduhhh apalagi berharap menjadi belahan hatinya, butuh ritual khusus kayaknya hahhaha.
.......
Waktu pun cepat bergulir, jam 1 pun sudah berlalu dari awal tadi aku mengantar ibu di gedung Ahmad Yani ini, dan sekarang sudah pukul 15.00 ibuku pun belum juga nampak di parkiran mobil, padahal aku sudah berada disini 45 menit, masih ingat tadi.
"Udah yo bu pulang", rengekku seperti anak bayi minta dot.
"iya bentar, sana kamu nunggu di mobil aja habis ini ibu nyusul beneran, sana", pintanya dengan serius.
Tanpa menjawab kulangkahkan kakiku yang sudah lemas ini ke parkiran mobil.
Pukul 15.15 belum juga datang. Aku keluar mobil untuk mencari udara segar, tiba tiba ada ibu ibu setengah baya menabrakku dan membuat air mineral yang tengah aku bawa tumpah dan membasahi kemeja batikku
" Eh maaf dek, saya nggak sengaja maaf ya", katanya dengan penuh penyesalan.
" makanya kalau jalan liat liat bu, nihh baju saya jadi basah kan? ", jawabku sambil emosi.
" iya saya nggak sengaja maaf, saya nggak melihat kalau ada adek, saya terburu buru mau mengambil itu", katanya sembari mengacungkan jarinya ke arah tempat sampah.
Aku baru paham, ibu ibu itu seorang pemulung, mau mengorek orek sampah disamping tempat parkir ini.
"iya,, "kalimat terakhirku padanya sambil masuk mobil, karenasudah terlihat ibu keluar dari gedung dan mengangguk padaku pertanda sudah selesai acara hari ini.
Pemulung itu sudah tak kuhiraukan lagi, lagipula dia sudah tidak terlihat disekitar sini.
........
Makin hari rasa kagumku pada Salyndri bertambah besar, aku takut semua ini awal dari rasa cinta yang sebelumnya aku tidak mempercayai yang namanya cinta, memang aku gonta ganti pacar sering juga dicap sebagai playboy tapi aku hanya main main menjalaninya, namun tidak untuk perasaanku pada Salyndri.
Melalui teman dekatnya, aku bisa mendapatkan alamat rumah dan nomor Hp Salyndri. Sore itu aku tak bermaksud menghubunginya, tapi langsung menemuinya. Setelah agak berputar putar mencari alamat rumahnya, akhirnya sampai juga di rumah yang kata warga sekitar adalah rumah Salyndri dan ibunya. Aku agak heran, ini tidak pantas disebut rumah, bukan tembok yang menjadi dindingnya, tapi plastik dan kardus yang ditembel sana sani karena bolong bolong. Tak pernah terpikir olehku kalau selama ini gadis itu tinggal di hunian macam kandang sapi seperti ini. Tak lama dari berdiri, akhirnya ada seseorang yang menegurku dari arah dalam rumah. Spontan aku kaget bukan main, ada ibu ibu pemulung yang aku temui tadi sewaktu nganter ibu kondangan.
" Siapa ya mas? ", tanyanya dengan kebingungan.
" ehmmm ehmmm, ini apa benar rumah Salyndri bu?, "jawabku to the point aja.
" iya benar, temannya anak saya anda?, "sembari mempersilahkanku masuk ke rumahnya.
Ibu? Berarti ini ibu Salyndri? Syokk bercampur tak percaya tapi semua sudah didepan mataku sendiri.
Gadis itu begitu banyak menyimpan misteri sekali. Akupun masuk ke rumah itu, meski tak layak huni, tapi rumah ini begitu bersih dalamnya, lantai tanahnya pun terkesan selalu disapu, atapnya dari terpal warna biru, tinggi rumah ini sekitar mungkin 2meteran,separo temboknya batako, dan separo yang diatasnya campuran ada kardus dan plastik yang lumayan tebal, diruangan yang disebut ruang tamu ini, tidak nampak kursi satupun, hanya gelaran tikar kumal yang sudah tak beraturan ujung ujungnya. Di dinding nampak ada foto yang juga sudah keliahatan kusam, gambarnya sudah tidak jelas karena rusak namun terbingkai rapi, setidaknya ada 3 buah foto di dinding ini, satu fto pernikahan, satu foto seorang bayi yang tengah tengkurap, dan satu lagi seperti foto keluarga, bapak ibu dan anak balitanya. Yang masih nampak jelas hanya foto bayi tengkurap itu, yang lain sudah kabur. Aku berdiri untuk mengamati foto foto itu dari dekat. Kuamati satu persatu foto itu, tunggu dulu, seakan aku kenal laki laki yang memangku bayi itu, bukankah ini papi? Mana mungkin, mungkin itu hanya orang yang kebetulan mirip dengan papi saja.
" oh itu, foto saya, salyndri dan ayahnya, tapi minggat dia ". Ibu salyndri mengawali pembicaraan kami sambil membawa baki berisi secangkir teh dan sepiring puli goreng.
" ohh, sabar bu, "jawabku singkat, antara tidak mau ikut campur privacy orang lain dan ada rasa deg deg an tentang siapa bapak Salyndri yang sudah minggat itu.
" Bu, saya minta maaf ya soal kejadian kemarin itu di gedung Ahmad Yani, "kataku lagi dengan penuh penyesalan.
" Yang apa ya kok saya lupa".
Aduh betapa malunya aku, " itu bu, waktu kita tabrakan di parkiran".
" owalah, sudah gak papa, lagian juga sudah lupa kalau bukan mase yang ingetin saya, eh iya jadi kelupaan lagi, Salyndri lagi nyortir barang di belakang rumah, nanti kasana aja saya anter".
"kalau sibuk ya besok saja bu saya kesini lagi, wong cuma mau main kok".
" ya begini ini mas keadaanya Salyndri, tapi dia ank pinter gag pernah ngeluh, habis kuliah juga tidak pernah diem dirumah, mulai dari ngajar les di rumah muridnya, nemenin saya mulung, juga kayak sekarang ini lagi nyortir barang pulungan tadi, dipisah pisah biar ga kecampur, ikut banting tulang buat ngidupin saya yang sudah sakit sakitan gini, malangnya kami, dan terutama anak itu, dari lahir tidak tau siapa bapaknya, bapaknya orang kaya orang pinter tapi minggat, dia nipu saya, disaat dia nikahin saya ternyata jugamenikah dengan orang lain tapi saya tidak tahu, mungkin saya ini hanya batu loncatan saja untuk menyalurkan nafsunya. Orang tua bapaknya Salyndri tidak setuju kalau anaknya nikah dengan anak yatim piatu dari panti asuhan seperti saya, makanya setelah 25 hari menikah, dia langsung pergi tanpa pamit tapi saya paham dia patuh pada orang tuanya, dulu saya ikut dia di kosan sewaktu dia kkn, tpi karena dia sudah pergi, akhirnya sya juga tidak mampu membayar uang bulananya saja yang waktu itu saya hanya buruh cuci gosok, bapaknya namanya Suharso, "cerita ibu Salyndri tanpa aku memintanya.
Suharso? Kenapa nama itu juga mirip dengan nama papi, kenapa semuanya serba kebetulan atau jangan jangan?
" ehh maaf ya malah jadi curhat",.
"iya bu gak papa, kalau begitu saya pamit pulang dulu, sampaikan salam saya pada Salyndri saja, assalamualaikum,", aku bergegas menuju mobil dan pulang dengan berbagai pertanyaan di otak ku, apakah semua itu hanya kebetulan? Aku harus mencari tahu segalanya.
..................
" Bu, papi sudah pulang belum? ", tanyaku ke ibu yang sedang memotongi daun daun tanaman hiasnya yang mulai mengering, ya akhir akhir ini, ibu ikut trend yang sedang gencar gencarnya menanam janda bolong itu.
" udah di dalam tu, "
Belum juga kakiku melangkah masuk rumsh, papi sudah berjalan keluar rumah sambil bawa burung kenari di sangkar kesayanganya itu.
" pi, ngopi keluar yuk, boring ni", ajaku
"ok, kamu yang traktir ya,,, "
" sip".
Kami berdua pergi naik motor menuju tempat ngopi dekat rumah langganan kami, walaupun hanya sebuah angkringan tapi jangan keliru, kopi racikan mang dadang ini topcer rasanya, tempat boleh kaki lima tapi rasa sungguh bintang lima.
Kami lesehan sambil menikmati seduhan kopi kental ini, kata papi ini ginastel, legi panas kentel kalau orang jawa bilang.
"pi, boleh aku tanya sesuatu? ", dengan penuh keseriusanku.
" boleh apa? ",
" apa papi pernah menikah sebelum sama ibu? "
Papi hanya diam namun matanya mengisyaratkan sesuatu yang berat dan kelam di masa lalu, mata itu terlihat tajam tapi berkaca kaca," iya, ini papi ceritakan padamu sajq, ibumu tidak tau,, papi dulu mencintai orang yang begitu tulus dan sederhana, dia cantik menurut papi, tapi dia tidak disukai nenekmu karena dia hanya orang miskin yang yatim piatu pula, papi berat meninggalkanya saat itu, tapi karena dulu nenekmu mengidap penyakit jantung maka papi tidak ingin membuat nenekmu drop, maka papi harus memilih antara cinta dan mama papi", papi mulai serius dan menghela napas sebentar sebentar pertanda kejadian begitu mentakitkan hatinya.
"papi dijodohkan dengan ibu, awalnya papi tidak menyukai ibumu, tapi lama lama papi pun mencintai ibumu, karena sosoj Ratih pun juga berada di dalam ibumu, yang lemah lembut, yang sederhana, yang pekerja keras, hanya yang membedakan, bahwa ibumu adalah dari keluarga terpandang dan berpindidikan. Lama lama aku mulai melupakan Ratih, kenapa tiba tiba kamu menanyakan ini?, "tanya papi
Dan sekarang aku tahu, kalau pemikiranku selama ini benar, papi adalah bapak Salyndri, gadis yang aku sukai, tapi aku harus bagaiman, aku dan dia berbapak yang sama yaitu papi.
Yang kubisa saat ini hanya diam seribu bahasa.