Aku memandang pak Seno yang bingung. Kini aku juga bingung. Kalau memang pak Seno semalam gak ke sekolah, lha yang ngobrol denganku siapa?
Aku langsung menuju ke kelas meninggalkan pak Seno yang memang masih bingung. Saat dalam perjalanan kulihat seorang perempuan yang juga berseragam melihatku dengan tatapan gak suka.
Aku memang gak begitu kenal dengan semua siswa di sekolah ini. Tapi jujur sepertinya aku baru melihat perempuan itu di sekolah ini. Siswa baru kah?
"Baru datang Lin?" tanya Mala dan Lana.
"Iya..Sudah sembuh La? kok sudah masuk sekolah?" tanyaku saat melihat Mala sudah duduk dalam keadaan sehat walafiat.
"Sebenarnya masih harus banyak istirahat. Tapi bosen di rumah." jawab Mala.
"Oh ya..apa di sekolah ini ada murid baru?" tanyaku kemudian.
"Sepertinya gak ada!" jawab Lana langsung, karena dia memang up to date dengan berita di sekolah.
Akupun langsung mengabaikannya, dan kemudian menceritakan kejadian semalam pada Mala dan Lana. Dan tentu saja mereka terkejut.
"Trus apa yang terjadi pada pak Seno?" tanya Lana.
"Ya gitu deh! Masih bingung di pos depan." jawabku enteng.
Tak berapa lama aku dipanggil untuk menghadap Bu Salsa di kantor sekolah.
"Saya Bu.."ucapku.
"Lani kemarin kan ibu sudah pesan ke kemu untuk mempersiapkan peralatan tari dan akan dibawa pak Samsul pagi ini. Barusan pak Samsul bilang belum menerima barangnya?" tanya Bu Salsa.
"Kemarin sudah saya titipkan pak Seno Bu di pos. Tapi tadi pak Seno bilang saya tidak titip apa apa. Padahal tadi barangnya ada." jawabku menghindar. Jangan sampai Bu Salsa tau kalau aku baru mengambil peralatannya semalam.
"Oh..mungkin pak Seno lupa!" jawab Bu Salsa.
Akupun diminta kembali ke kelas. Untung saja Bu Salsa tidak terlalu mendetail tanya.
Sejak saat itu aku jadi penasaran dengan kejadian semalam. Tentang pak Seno dan juga perempuan berseragam yang memandangku aneh tadi.
"Kamu kenapa Lin? jangan melamun!" Mala menepuk pundak ku membuatku terkejut.
"Aku penasaran dengan kejadian semalam!" jawabku masih kepikiran memang.
"Memangnya benar ada orang di gudang?" Lana pun ikut penasaran.
"Yang jadi pertanyaan adalah kuncinya aku yang pegang. Tapi mereka jelas ngobrol di dalam gudang." Akupun menjelaskan.
"Bagaimana kalau nanti malam kita periksa. Kuncinya masih kamu bawa kan Lin?" usul Lana.
"Oh iya aku lupa, belum aku kembalikan ke Bu Salsa" jawabku merogoh saku. Ternyata malah ketinggalan di rumah.
"Ya sudah..nanti malam kita cek ke gudang!" Lana malah penasaran. Aku dan Mala jadi ikutan.
Akhirnya malam ini kami bertiga ke sekolah bersama, guna memastikan kejadian hari sebelumnya. Di jam yang sama kami pun ke sekolah.
Sekolah tampak sepi, tak terlihat pak Seno ataupun pak Rustam yang berjaga. Kami pun langsung masuk dan menuju gudang.
Sebelum membuka pintu gudang, kami sudah memastikan jika tidak ada orang di sana.
Dengan perlahan kami membuka pintu gudang tersebut dan masuk. Setelah pintu terbuka, saat itulah kami bisa mendengarkan percakapan dua insan yang sedang kasmaran.
Aku jadi merinding, Mala hanya memandangku dengan keringat dingin. Sementara Lana dengan berani ingin mencari sumber suara. Aku dan Mala mencegahnya, tapi Lana tetap bersikeras.
Lana mulai masuk agak ke dalam. Gak ada penerangan, tapi sinar rembulan masuk melalui jendela yang tidak dipasang gorden.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Lana.
Aku dan Mala hanya melihat dari samping pintu karena kami berdua tidak ikut ke dalam, tapi masih bisa terlihat oleh kami keberadaan Lana.
Lana langsung membisu, dan tanpa aba-aba langsung berlari ke arah kami.
"Hantu..." teriak Lana. Tentu saja aku dan Mala jadi terkejut.
Tiba tiba dua orang keluar dari dalam. Bukan orang tepatnya hanya wajahnya yang mirip orang tapi agak rusak.
Seorang lelaki yang wajahnya mirip pak Seno dan satu lagi perempuan mirip siswa berseragam yang kulihat tadi pagi.
"Akkhhh...."
Aku dan Mala ikut lari. Kami pun langsung menuju gerbang sekolah.
"Kalian kenapa?" tanya pak Seno.
Kami tidak bisa lagi berpikir dan langsung kabur pulang. Itu pak Seno beneran atau makhluk di gudang tadi, kami tidak bisa menyimpulkan.
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Sampai di pos satpam, pak Seno menyapaku.
"Semalam ada apa mbak, kok lari jerit jerit?" tanya pak Seno.Berarti semalam memang pak Seno yang menyapa kami.
"Kami melihat hantu di gudang pak. Wajahnya mirip bapak, dan yang satu lagi mirip..." seketika pandanganku gelap setelah melihat perempuan berseragam itu di belakang pos sambil tersenyum ke arahku.
"Mbak..mbak Lina" itu kata kata terakhir yang kudengar dari pak Seno.
Hingga aku sadar sudah di rumah sakit ditemani ibuku.
"Apa yang terjadi? kamu sudah tiga hari gak sadarkan diri! kata ibu.
"Apa?" aku mencoba berpikir tentang kejadian sebelumnya.
"Lana kerasukan sejak tiga hari lalu. Sudah dipanggilkan kyai dan orang pinter, tapi gak mempan." kata ibu. Aku hanya diam mendengarkan. Otakku sudah gak bisa berpikir lagi.
"Mala juga katanya suka mengigau. Saat ditanya malah ketakutan gak jawab. Ada apa sebenarnya?" lanjut ibu.
Berarti hanya aku yang masih sadar. Tanpa pikir panjang, akupun menceritakan kejadian sebenarnya pada ibu. Ibu pun terkejut dan langsung menelpon Bu Salsa. Kata ibu kalau ada apa-apa denganku harus langsung menelpon beliau.
"Jadi seperti itu kejadian nya?" jawab Bu Salsa enteng.
Usut punya usut, ternyata di gudang sekolah memang angker sejak ada kejadian orang bunuh diri disana beberapa tahun lalu. Mungkin waktu itu aku masih SD.
Ceritanya ada cinta terlarang antara guru dan murid. Karena tak ada restu orang tua dan si perempuan sampai hamil, akhirnya mereka mengakhiri hidupnya di sana. Tak ada yang tau kejadian awalnya, hingga mayatnya sampai membusuk baru diketemukan.
Mereka sering muncul dan berubah wajah sesuai pikiran orang yang melihatnya. Mungkin waktu itu yang ada dipikiranku adalah pak Seno karena selain tiap hari ketemu, waktu itu aku juga takut ketahuan.
Wawlahualam....
Setelah pulang dari rumah sakit aku mengunjungi Lana dan Mala. Mala hanya ketakutan tapi Lana masih kerasukan. Mungkin karena pikiran, kan saat itu Lana yang melihat dari dekat. Buktinya aku baik baik saja. Kalau Mala memang anaknya penakut.
Semoga setelah ini semua baik baik saja.