"Aku cinta kamu!" Aku terdiam. Suara itu. Morgan. Aku berdiri dibalik lemari pajangan. Mengintip sedikit. Tangannya mengenggam tangan Lea.
"Maaf" Lea menarik tangannya. Kikuk.
Aku memutuskan berjalan pergi. Menjauh. Aku memilih ketaman belakang rumah orang tua Morgan, Suamiku.
Bodohnnya aku tak tahu selama ini....
Menyibukkan diri bermain kejar kejaran dengan para krucil keponakanku.
"Siniiik siapa mau onti makaaaannn hgrrrrnnn???" Gatra, Aku mengejar krucil gendut itu, anak Lea dan Gio. Ya Lea, istri Gio, kakak Morgan.
Ya Rumit. Dan aku akan membuatnya makin rumit.
Ya aku berakting seperti biasa. Tak ada yang terjadi. Tak ada yang aku lihat. Dan aku secentil seperti biasa. Menggoda Morgan yang dingin seperti kulkas.
Suatu hari Gio, kakak Morgan, menegurku saat melamun. "Mereka memang seakrab itu." Aku tetap melihat kearaban itu. Tak biasa.
"Iya seperti kekasih" jawabku. Yang menyayat.
"Iya memang mantan" aku menengok cepat. Gio terkekeh. Melihatku, yang sangat mudah ditebak. Cemburu.
"Benar?" Gio sekilas menatapku. Lalu menganggukkan kepala.
Gio menepuk pelan kepalaku. Tepukan seorang kakak.
"Kakak nggak cemburu?"
"Jelas cemburu tapi aku tak bisa egois. Mereka hanya mantan---"
"Siapa tahu?" Aku memotong perkataannya.
Kak Gio terkekeh geli kembali menepuk kepalaku.
"Kau sangat lucu adik kecil"
aku bedecak. "Ck! Jangan memanggilku begitu" sebalku
"Jangan memegang istri orang!" Entah sejak kapan Morgan sudah di belakangku. Menahan tangan Gio yang ingin menepuk kepalaku.
"Ingat istri! Nanti ditinggal, masih banyak yang mau" Morgan lagi. Ah tadinya aku kira ia akan cemburu ternyata bukan untuk aku.
"Perkataan itu harusnya untuk kamu mas bro" Kak Gio menepuk bahu Morgan yang menaikan alisnya.
Aku melipir biarkan saja, aku tak ingin berdekatan dengannya sebentar.
Sebentar itu sepanjang malam itu juga seminggu kedepannya. Aku mendiamkan Morgan. Walau masih aku mengurus keperluannya. Tapi tidak lagi aku merengek ataupun merajuk.
Minggu pagi aku ada janji dengan Inne, mengikuti workshop berkebun. Ya aku suka berkebun sejak pandemi aku menyibukkan diri berkutat dengan kebun kecilku. aku bersiap diri.
"Mau kemana?" Tanya Morgan datar. "Ketemu Inne" Jawabku seadannya dengan merapikan blushku.
"Pulang jam berapa?" Aku meliriknya lama.
"Sore mungkin" jawabku singkat.
"Okey aku juga mau ketemu Gatra, sakalian belanja. Mau nitip apa kamu?" Aku menggeleng. Mungkin kalau sebelum aku mendengar peryataan cintannya aku akan dengan senyum mengiyakan. Kalau sekarang. Aku bergumam. Sebagai jawabnnya.
Kak Gio juga tak ada, aku dengar ia keluar kota. Aku menghela nafas lelah. Sampai kapan aku bisa bertahan? Entah.
Aku berangkat menemui Inne. Aku harus ada kegiatan supaya tak mengingat kepedihanku.
Sangat menyenangkan seharusnya. Tapi mau semenyenagkan apapun itu. Yetap saja pikiranku ditarik pada suamiku sekarang.
"Hei anterin ke ikea ya, disana ada alat kebun mau aku beli" aku mengangguk. Lagian Inne sendiri yang menyetir itupun satu arah dengan jalan kami pulang.
"Eh Ray itu bukan--- MORGAN!" Inne memanggil suamiku. Aku menengok, Inne menyeretku kearah suami juga iparku. Sepertinya suamiku itu tak mendengar panggilan Inne.
"Ini cocok untuk couple muda seperti mbak sama masnya, duh adek lucu" sang karyawan menawarkan.
"Jangan ini Le aku takut, ujungnya terlalu runcing. Takutnya Gatra luka" Morgan mengendong Gatra. Ya mereka seperti keluarga bahagia.
"Tapi ini lucu Gan! Yah sayang banget"
"Ya kalau kamu mau kan ada itu, yang tadi, letakkan di kamarmu" aku melihat itu, pandangan sayang yang tak pernah ia beri padaku.
"Ray?" Aku menengok ke arah Inne. Gak mungkin ia tak peka.
"Hei Morgan lho... ada Lea?" Inne menepuk bahu Morgan.
Aku berada dibelakang Inne. "Lucu ya kalian, harusnya elo nemenin istri lo ini, Gan ikut workshop, eh malah menemin kakak ipar lo" Aku diam saja. Emang aku ingin mempermalukan mereka. Rasa sakit ini. Aku bukan orang baik. Sakit hati aku ingin balas. Iya pasti.
"Ya ampun ini siapa?" Tanya Inne heboh.
"Anak gue" Jawab Lea pelan.
"Lo pengen banget punya anak Gan? Mintalah sama Rayu! Jangan bilang lo masih gak mau punya anak? Ray? Terus cerai janda rasa perawan kayak--- Aw!"
"To much information!" Desisku galak pada Inne.
Aku melihat kernyita tak suka pada wajah Morgan. "Aku duluan ya, mau beli alat kebun, ayok Ne!"
"Bentar! Aku mau tahu nanti dirumah, maksud temanmu itu." Morgan menarik lenganku. Inne hanya menyengir dan kabur.
Aku menyentak lenganku keras hingga tak sengaja memukul Lea.
"Aw" pekikan Lea.
"Le kamu nggak papa?" Kuatir Morgan.
"Kamu---" aku meninggalkan mereka. Tapi aku berbalik. Tak ingin sedih sendiri. Cukup!
"Suamiku kalo selingkuh jangan ngajak anak tak berdosa dong, yang dosa itu kalian kasian dia" aku mengelus kepala Gatra yang tertidur di bahu Morgan.
"Apa maksudmu?" Wajah Morgan mengeras. "Tolonglah cari tempat sepi wahai Suami pembinorku, heh Le kamu nggak kasian anakmu dicap anak pelakor?"
"RAYU!" Bentak Morgan.
"Kenapa? Udahlah. Ambil dia Le... kalian cocok, oh iya mungkin kamu perlu tahu mungkin Kak Gio mulai lelah denganmu, Wanita sepertimu harusnya kembali kelumpur!"
"RAYU JAGA OMONGANMU!"
Aku menarik ujung kerah suamiku ini, lalu melu matnya di tempat umum ini.
"Ya Morgan aku pela curmukan!" Dengan cepat aku kearah Lea.
"Rasanya aku ingin menyiksamu, tapi ini sebagai hadiah penyiksaan, Kau pasti kenal mbak Lana kan Lea, Dia kembali bukan di Jakarta melainkan Surabaya, Ngomong- ngomong Kak Gio dinas di Surabaya??" Wajah Lea memucat.
"Huaaaaaaaa" Tangis Gatra. Lea menarik Gatra ke pelukannya. Ia menjauh. "Ini mama sayang,"
"Iya mama pelakor" cibir netizen
"Sayang banget dek, ganteng kamu mamamu gak bener" cibir netizen
"Cukup Rayu, aku tak menyangka beristrikan wanita seperti ini"
"Seperti bagaimana suamiku? Sepertimu? Yang diam diam ingin MEREBUT ISTRI KAKAKMU?"
"YA! RAY aku memang ingin bersama Lea. Puas kamu!" Morgan meninggalkannya.
"LE"
"Leaa" Masih kudengar teriakkannya.
Aku melihat punggung itu menjauh. Aku mengelus perutku. "Ada Bunda sayang, kita bisa berdua"
Aku meninggalkan semuanya. Selepas itu. Aku meutup semua akses. Tak membawa apapun kecuali ijasah juga. Menjauh dari kota ini.
*
*
*
Singapura, 4 tahun kemudian.
"Buuunn ih mas Luk ganggu Tarla" rengek putri kecilku yang diganggu oleh kakaknya yanh jahil.
"Luk don't like that honey your sister ndak suka"
"Kenapa ndak suka, Luk cuma mau main sana Tarla tapi dia sibuk dengan teddy, tak mau main dengan Luk" cemberut bocah kecilku itu.
"Sekarang Bunda mau nanya sama Tarla, kenapa Tarla ndak mau main sama Luk?"
Aku memandang dua krucilku bergantian.
"Abis Luk mainnya suka bahaya bun, sakit Tarla ndak mau ikutan" Ya krucilku ini sangat Aktif sangat. Luki star dan Lucky starla. Balita kembarku.
"Hei heiiii mommy datang,"
"Cena jugaaaaa dataang" Mbak Lana, datang dengan balita yang sama seumuran dengan Luk juga Tarla. Bernama Seina.
"Kak Gio mana Mbak? Kok sendirian?"
Ku hampiri mbak Lana. Ya Gio dan Lea bercerai. Gio menikah dengan Mbak Lana. Lalu Lea dan Morgan? Ntah aku tak tahu. Atau tepatnya tak mau tahu.
Aku sudah menyerahkan surat ceraiku tanpa pengacara. Aku yakin sekarang dia dan Lea sudah bahagia. Jadi kenapa aku harus risau.
"Dia dibawah. Aku nitip cena ya" Mbak Lana mengedip jenaka. Untung aku memilikinya. Setelah kepergianku ke bulan keempat. Aku pingsan. Mbak Lana menolongku.
Aku sudah kenal dengannya. Kalau Lea tak mengaku hamil anak Gio mungkin mereka telah memiliki banyak anak sekarang. Hubungan mereka cukup pelik. Tapi sudahlah aku cukup dengan hidupku sekarang tak mau ada beban pikiran.
Prok Prok Prok
"Ayoooo anak-anak bundaaa... siaaapp cusss" aku sudah mengisi meja makan, sejam setelah Mbak Lana dan Kak Gio pacaran. Mereka selalu pamer pada janda sepertiku ini.
"Ongkel Mogaaann Cena angen"
"Hai Princess"
Deg!
Susah payah kutelan ludahku, kurasa tarikan pada baju bawahku. "Bunda itu Ayahkan?" Bisik kecil kembarku, entah perasaan bersalah ini menyeruak.
Aku menceritakan semua tentang bapaknya pada anak kembarku. Tapi tak sekalipun aku mempertemukan mereka berdua.
"Ray"
Rasanya dinding kuat yang aku bangun 4 tahun runtuh seketika.
Aku membalik badanku, tak bisa tersenyum.
"Apa kabar?" Tanyannya. Morgan.
"Bun" aku merasa tarikan lagi. Aku menggeleng kepalaku.
"Ayo siap memberi groolaurus makan?" Kembali pada aba-abaku.
"Siaaapp" hanya Cena, menjawab dengan antusias. Kedua kembarku, masih bingung, walau juga menjawab kencang. Sesekali mereka melirik kearah Morgan entah bagaimana raut wajahnya sekarang.
"Ayo posisinya---"
"Onkel tuyun Cena mo tuyun" Cena meronta pada Morgan.
Morgan mendekat kemeja makan mendudukan Cena, sebelah Cena ada aku, aku mengambil kursi ditengah kembarku.
"Ayo Kak Luk baca doa---"
"Bun Cena Bun"
"Oh aduh Mr. Dum Dum ada di sekitar kepala Bunda ini" Aku mencoba berakting, seperti biasa, sekilas kulihat Morgan tersenyum.
"Aaaakk.... tolong Bunda anak-anak" aku sudah tergeletak di bawah meja makan.
"Bundaa...." teriakkan tiga bocil itu nyaring.
"Pergi kau Mistrer Dum dum"
"Go away Misel Dum dum from my Bunda" Cena agak cadelnya.
"Kamu ayahku"
Deg!
Kudongakkan kepalaku menatap kearah Tarla yang berdiri menatap Morgan di kursinya.
"Bukan Talla ini my ongkel. Ongkel Morgan"
Aku berusaha bangun. Mendengar percakapan itu. Aku takut kembarku ditolaknya.
"Iya aku ayahmu" Suara berat itu. Membuat gerakanku untuk melindungi Luk dan Tarla berhenti.
"Noo you my ongkel Molgan" pekik Cena
"Ayah kenapa gak pulang? Tarla kangen" Morgan memeluk putriku itu. Rasa haruku melibasku.
"Luk juga mau ayah" tangan kecil Luc menarik kemeja. Morgan yang beruraian air mata. Ia mengecupi kepala si kembar.
Cena ada digendonganku ikut bingung.
"Ayah sangat kangen kalian" Tatapan mata kami bertemu. Tak kulihat kemaraham disana. Hanya rindu juga sesuatu entah apa? Cinta? Ah tak mungkin. Dia telah bersama Lea. Aku memutus tatapanku.
*
*
*
"Rayu" aku keluar kamar setelah menidurkan tiga krucilku. Morgan ternyata masih duduk di sofa apartemenku.
"Ada apa?" Suara ku datar.
"Kangen kamu" bisiknya, kulirik ia. Tatapan kami bertemu. Aku berdiri mematung. Morgan berdiri dan mendekat padaku. Ia memelukku.
Susah payah kutelan ludahku, rasanya seperti ada batu ditenggorokanku.
"Maaf"
"Maaf"
"Maafkan aku" Tubuhnya bergetar. Kudengar isakan tangisnya.
Kurasakan bahuku yang basah oleh air matannya. Ia menangis dalam diamnya.
Pelukannya pun mengerat.
Tak kuasa. Tanganku pun sedikit demi sedikit meraih punggungnya.
"Aku tak ada saat mereka bertumbuh" serak suarannya.
"Tolong beri aku kesempatan lagi,"
"Boleh kita ulang kembali,"
"Semuannya" Morgan masih berbisik dibahuku.
Runtuh. Cinta yang aku kira hilang kini berontak keluar. Ah....aku menarik nafasku kasar.
Apa ini, jawaban atas rasa penyesalanku? Apa aku harus memberinya kesempatan kedua?
"Bagaimana dengan Lea?" Aku menjauhkan wajahnya dari bahuku, kutatap mata berair itu, Morgan menggeleng.
"Aku tak tahu, aku tak pernah lagi berhubungan dengannya, 4 tahun ini" menyipitkan mata mencari kebenaran didalamnya.
Morgan membelai pipiku, jarinya mengelusku hangat menjalar. Matanya menatapku, entah siapa yang memulai Morgan mengecupku pelan, manis. Ia menjauhkan wajahnya, kemudian menyentuhkan dahinya pada dahiku.
"Maaf, aku cinta kamu Rayu" linangan air matannya.
"Jangan pergi"
"Jangan menjauh"
"Kalian segalanya buat ku"
Aku menangkup wajahnya dan mengusap air matanya.
"Oke, jangan buat aku kecewa lagi, itu syaratku"