#Maaf kalau cerita rada², soalnya baru belajar buat cerpen 🙈.
#Terima kasih buat yang mau membaca🙏
#Semoga bisa menghibur dan menemani waktu luang.
#Komen dan saran dipersilakan!.
Aku adalah anak yang dilahirkan dengan sendok emas di mulutku, kesedihan tak pernah kurasakan, bahkan air mata pun tak pernah menetes dari kedua pipiku ini. Kukira semua kebahagian itu akan terus bertahan selamanya, dengan keluarga kecil yang terus mencurahkan kasih sayang hanya padaku, anak semata wayang mereka.
Sayangnya, tepat saat aku berulang tahun yang ke empat belas, aku akhirnya merasa duniaku yang indah selama ini hancur berkeping-keping layaknya istana kaca. Kebahagian yang kurasakan selama empat belas tahun seketika berganti dengan duka seumur hidupku. Orang tuaku yang paling mengasihiku meninggal dalam kecelakaan, ah~, tepatnya ayahku yang meninggal dalam kecelakaan, ibuku yang mendengar kabar tersebut akhirnya menyusul karena terlalu kaget dengan fakta yang dialaminya.
Semua bermula ketika beberapa hari yang lalu, ayahku, orang yang terbilang sangat berada menanyaiku hadiah apa yang kuinginkan. "Tuan putriku yang tercinta, hadiah apa kali ini yang engkau inginkan untuk ulang tahunmu?"
Aku berpikir sejenak saat itu. "Apa pun, apa saja yang papa berikan akan menjadi hadiah terbaik bagiku?!" kataku tanpa menunjukkan apa yang aku inginkan, sebenarnya aku juga tak memakai semua hadiah yang telah diberikan, terlalu banyak yang diberikan sehingga semua kadang hanya terpajang atau tersimpan tanpa pernah digunakan.
"Papa berjanji, papa akan mencarikan sesuatu yang paling spesial untuk ulang tahun gadis kecil papa ini?!" dan, di sinilah awal semua kesedihan yang harus kujalani. Andai saja aku tahu, aku pasti akan mengatakan kalau aku menginginkan boneka yang dijual di toko di depan jalan. Sayangnya, semua telah terjadi tanpa bisa kucegah.
Satu hari sebelum hari ulang tahunku, kabar duka melanda rumah ini. Ayahku dinyatakan kecelakaan dan mayatnya pun hancur akibat ledakan kendaraan yang mereka gunakan. Ibuku histeris mendengarnya, kemudian beliau pingsan detik itu juga. Aku masih mengira kalau itu hanya rekayasa yang dibuat ayahku untuk mengejutkanku besok, setidaknya itu yang kuharapkan agar aku tak jatuh dalam keputusan.
Nyatanya, semua adalah nyata, ibuku yang tak kuat akhirnya meregang nyawa tepat saat aku berumur empat belas. Aku, anak yang selalu tertawa bahagia, tak mengenal kata sedih, kini berkubang dalam jurang kesedihan yang tak berdasar.
"Amelia, apa kakakku tak memberikan apa pun padamu?" salah satu kerabat ayah mendatangiku, aku hanya terdiam di depan dua peti mati milik orang tuaku. Yang satunya merupakan peti kosong, hanya berisi baju kesayangan ayahku saja.
"Amelia, jawab paman! Jangan hanya diam membisu?!" tubuh kecilku diguncang, aku menatap kosong mata pamanku yang melihatku dengan penuh ambisi.
"Saya tak tahu apa pun, paman!" ucapku pelan penuh kejujuran, memang ayahku tak mengatakan apa-apa.
"Bohong! Tak mungkin kakakku tak meninggalkan apa pun, dia memiliki status yang tinggi, rumah yayasan tersebar di mana-mana, bahkan sekolah untuk rakyat jelata dia bangun seenaknya. Masa kakakku tak meninggalkan apa pun untuk kamu? Untuk aku, adiknya?!" pamanku meninggikan suaranya.
"Saya sungguh tak tahu, saya tak tahu, saya tak tahu apa-apa, paman!" balasku ikut berteriak, meluapkan semua emosi dan kesedihan yang kurasakan.
Pamanku mengangkat tangannya. "Dasar kurang aj–," ucapan pamanku terpotong. Seseorang menahan pergelangan tangan pamanku yang akan melayangkan tamparan ke arahku.
"Sebaiknya anda menghindari kekerasan, tuan, atau anda ingin saya laporkan?" suara dingin disertai tatapan mata yang tajam menghakimi pamanku.
"Siapa kamu? Ini urusan keluarga kami?!" hardik pamanku berusaha membebaskan tangannya, sayangnya beliau tak berhasil.
Pria tadi menghempas tangan pamanku, dia tersenyum begitu melihat diriku. "Perkenalkan, nama saya Ricard, saya asisten dari Tuan Benjamin, ayah anda, nona!" katanya membungkuk hormat padaku.
"Amelia," balasku pelan.
"Saya di sini untuk membacakan surat wasiat yang ditinggalkan tuan!" pria bernama Richard tadi membacakan surat wasiat ayahku, di sana dinyatakan kalau semua kekayaan dan aset berharga dilimpahkan pada dirinya. Untuk aku, anak satu-satunya, ayahku hanya menyuruh Richard untuk memberi tunjangan sesuai dengan kebutuhan dan menurut keputusan Richard saja, artinya tunjangan untuk diriku akan diberikan sesuai standar pria itu. Dalam satu hari, semua milikku menjadi milik orang asing, aku malah hidup bergantung pemberian orang tersebut.
"Jadi, nona, apa anda ingin tinggal bersama dengan saya? Saya bisa membelikan anda rumah dan membiarkan beberapa pelayan menemani anda di rumah tersebut!" tawar Richard setelah dia selesai membaca surat wasiat ayahku, itu tawaran yang cukup bagiku yang tiba-tiba menjadi yatim-piatu. Ironis sekali, ayahku biasanya menghidupi anak yatim yang tak memiliki tempat tinggal, memberi mereka pendidikan agar kehidupan mereka ke depannya lebih mudah. Siapa yang mengira anaknya juga akan menjadi yatim-piatu hanya dalam satu waktu seperti sekarang.
"Omong kosong, kamu penipu! Kamu pasti memalsukan wasiat kakakku?! Tak mungkin kakak tak memberikan apa-apa pada anaknya dan padaku, adiknya!" teriak pamanku murka. "Jangan dengarkan dia Amelia, dia pencuri. Kalau kamu mengikuti apa yang dia katakan, kamu akan mati tanpa ada seorangpun yang tahu!" kalimat yang seperti kutukan terdengar jelas merambat masuk ke telingaku, gadis kecil yang baru saja dilanda musibah, kini malah disumpahi.
"Amelia akan tinggal bersama denganku, pamannya! Dia membutuhkan wali hingga dia dewasa dan bisa mandiri?!" lantang si paman menatap tajam Richard, seolah berkata kalau semua rencana pria itu tak akan berjalan dengan mudah. Siapa yang tahu kalau Richard malah mengangguk setuju. "Kalau begitu, kita bicarakan soal uang tunjangan pada pertemuan berikutnya!"
ೋ❀❀ೋ ═══ೋ❀❀ೋ ═══ೋ❀❀ೋ
Setelah hari itu, hari yang kujalani selama empat tahun ini bagai neraka. Pamanku sama sekali tak memperhatikan diriku, sepupu perempuan yang kumiliki malah mengambil semua hadiah ulang tahun yang kudapat dari asisten ayahku setiap tahunnya. Sepupu laki-lakiku malah menunjukkan ketertarikan yang menjijikkan, dia selalu menatapku dengan wajah bersemu, belum lagi daya khayalnya yang terlalu memuakkan. Ingin rasanya aku muntah begitu dia membuka mulut dan menyombongkan diri.
"Sebulan, hanya tinggal beberapa hari lagi dan aku akan terbebas dari belenggu yang menyiksa ini?!" ucapku sambil mengelus tanganku yang memar, beginilah yang terjadi kalau aku meminta sesuatu, padahal itu tak terlalu berharga kalau dipikir-pikir.
"Aku hanya perlu bersabar, tiga minggu kemudian aku akan mengatakan pada paman kalau aku ingin mandiri!" ucapku membulatkan tekad.
(Ntar dilanjut lagi, kalau inget tapi)🤣🤣🤣