"Sisi, kamu harusnya bersyukur bersuamikan Erwin. Dia adalah putera bungsu keluarga Bimasena." Itu yang di katakan bibiku ketika menikahkanku dengan laki-laki berparas babyface itu.
Aku anak yatim piatu, orangtuaku telah meninggal saat aku masih kanak-kanakku..Aku di aduh oleh bibiku, adik ibuku.
Kami dari keluarga tak mampu, jadi ketika tamat SMA ada orang yang mempersuntingku tentu saja itu meringankan beban bibiku yang juga hanya janda itu. Suaminya telah pergi bersama perempuan lain tepat setelah dia melahirkan seorang anak perempuan cacat yang tak diinginkan suaminya.
Bibi membesarkanku dengan baik, tak ada keluhanku tentang caranya merawatku. Jika karena aku kadang kurang makan dulu dan menyandang gelar stunting di masa kanak-kanak, bukan karena bibiku jahat tetapi memang kami bukan orang yang mampu. Bibiku hanyalah seorang buruh cuci. Untuk makan saja kami bersyukur jika bisa ada lauk selain sayur kangkung yang di petik dari belakang rumah kontrakan. Ikanpun kadang hanya ikan kering, dan menu telur adalah hal yang mewah.
Aku telah melewatinya, sehingga tak ada yang aneh bagiku tentang kesusahan dan kemiskinan.
Aku tumbuh menjadi gadis remaja yang keras dan kadang serampangan, lingkungan tempatku tinggal mendidikku menjadi demikian. Jika tidak maka aku akan tertindas dan di lecehkan.
Sebenarnya aku tak perduli menikah dengan siapa, aku tak pernah tahu rasanya jatuh cinta.
"Hidupmu akan terjamin setidaknya kamu bisa seperti oranglain dalam kecukupan jika menikahi Erwin."
Ya, Erwin dari keluarga kaya, bibiku menjadi pembantu freelance di sana. Aku sering menjemput bibiku saat jam pulang sore, dan pak Bimasena itu sering melihatku.
Sesungguhnya aku tak mengenal Erwin, dia sangat introvert jika ku dengar. Erwin putra bungsu pak Bimasena dari istri gelapnya yang kemudian di nikahinya setelah sang istri sah meninggal.
4 puteranya yang lain, hidup normal. Hanya dia yang kutahu di kurung di dalam rumah mereka sendiri bahkan sekolah pun dia homescholling, memanggilkan guru secara khusus ke rumah.
***
Pernikahanku di buat sangat sederhana, dan sekali lagi aku tak perduli meski hanya tujuh orang yang menghadirinya. Di fikiranku jika aku menjadi nyonya rumah di sini, aku tak perlu memikirkan mencari kerja sambil menjajakan ijazah SMAku.
Laki-laki itu menerima berkat dari pendeta bersamaku, dan di kukuhkan dalam petnikahan yang sangat privat, hanya bibiku, kerabatku yang menghantarku menjadi nyonya dalam rumah besar ini.
Pertama kali aku melihat suamiku itu, aku jatuh cinta sedalam-dalamnya padanya.
Dia tampan dengan wajah babiface tanpa dosa, senyumnya manis, dia ramah dan baik.
Aku bahkan meragukan, apakah ini nyata atau mimpi. Dia sangat baik memperlakukan aku, penuh hormat dan kasih sayang di depan semua orang. Tak ada yang percaya jika aku dan Erwin baru mengenal dalam sehari. Kami terlihat serasi. Orang tua Erwin pun kurasa puas saat melihat kami berdua.
Dalam hatinaku mempertanyakan, kenapa orang setampan Erwin harus menikahiku? apakah orangtuanya tak waras?
***
Malam pengantin
Aku duduk di atas tempat tidur dengan sedikit tegang, berusaha menguatkan hatiku. Malam ini akan segera berlalu, aku harus melewati malam ini untuk menjadi nyonya di rumah besar ini. Setelah ritual ini aku akan mengucapkan selamat tinggal pada kemiskinan dan gubugku dengan bibi di perkampungan kumuh pinggir kota itu.
Erwin masuk, sambil melepaskan bajunya, tampak wajahnya memerah dan tak sabar.
Aku membeku, mataku tak berkedip memandangnya.
"Ini adalah pernikahanku yang kelima, Sisi..." Ucapnya parau. Wajah babyfacenya itu berubah menjadi aneh. Terlihat keruh dan kejam.
Sejenak aku tertegun, tetapi aku tak bicara, meski aku terkejut tapi aku tak punya kata, aku sudah terperangkap di dalam kamar ini sebagai perempuan yang mungkin telah di nikahinya keenam kalinya.
Aku tak sempat bertanya kemanakah isterinya sebelum aku, karena dia telah menggerayangiku.
Dan saat aku telah di lucutinya, aku terkejut luar biasa saat Erwin mengeluarkan sebuah tali. Dan dengan bisikan rayu serta ciuman yang tak henti di sekujur tubuhku, Erwin mengikatku pada kepala tempat tidur.
Aku menangis dengan gemetaran, pertama kalinya aku ketakutan sepanjang hidupku.
"Apa yang kamu lakukan?" aku tergagap, ketika dia mulai memukulku dengan sebuah pecut kecil.
Kulitku terasa pedih, saat aku memekik dan kesakitan ku lihat dia begitu menikmatinya. Hanya saja, aku tak mengerti dia menyakitiku tapi dia sendiri tampak menangis seolah ada dua orang yang kini merasukinya..
Dan tak lama, Erwin melepas tali yang mengikatku, memelukku dengan erat penuh penyesalan.
"Maafkan aku...maafkan aku..." ucapnya.
Aku terdiam, meringis kesakitan bekas tali membuatku memar, kulitku sedikit berdarah terjena pecutnya. Tapi kemudian dia mencumbuku dengan lembut, menyesap setiap bekas lukaku denfan tubuh gemetar dan bergairah. Aku yang ketakutan sejurus kemudian menikmatinya. Aku menikmati menatap airmatanya yang bercucuran, tangisan sesalnya seolah mengobati setiap perih yang ku rasakan.
Ini pertama kali aku bercinta dan aku tak tahu, meski sakit aku begitu menyukainya.
Malam pertamaku, ku habiskan dalam cumbuan laki-laki yang menyiksaku. Suamiku itu ternyata menderita kelainan "masokis" yang harus melihat penderitaanku baru bisa mencumbuku.
"Aku mencintaimu, Sisi...tapi aku menyakitimu."
"Tidak apa-apa." Entah kenapa aku mengucapkannya dengan tulus, rasa kasihan terbit saat menatapnya tersungkur memeluk kakiku.
"Mereka meninggalkanku, aku takut kamu juga akan meninggalkanku."
"Aku tak akan meninggalkanmu suamiku. Mulai sekarang aku adalah milikmu."
"Aku mencintaimu..."
Dan aku tahu suamiku ini entah sakit jiwa atau bahaimana tetapi aku menerimanya, aku siap menerima pecutannya jika itu membuatku mendengarnya mengatakan cinta padaku berkali-kali.
Aku dan dia mungkin sama-sama sakit jiwa, tapi aku jatuh cinta dari saat dia mengikat tali pada tubuhku malam ini.