Minggu pagi yang sangat cerah Dewa berada di Museum Cermin. Ia adalah
siswa pilihan dari SMA Handayani dalam melakukan tugas pengamatan untuk suatu lomba karya ilmiah sains antar sekolah. Di tengah hiruk pikuk keramaian pengunjung Museum, ia tetap berusaha untuk fokus mencatat hal penting yang akan dijadikan bahan laporan nanti. Hal ini dilakukan agar ia tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan oleh sekolahnya. Museum ini memiliki bangunan yang sangat besar,
sehingga ia menjadi kebingungan hal pertama apa yang ingin diketahui ataupun dicatat. Oleh karena itu, ia melihat kembali peta Museum yang diberikan oleh petugas saat membeli tiket tadi. Setelah mencermati tata letak wilayah Museum tersebut, ia memutuskan untuk mengetahui sejarah terbentuknya cermin di Dunia
terlebih dahulu yang terletak di bagian selatan.
Sesampainya disana, ia melihat figura-figura ilmuwan dunia yang berhasil menemukan cermin baik itu Ilmuwan Barat ataupun Muslim. Salah satu Ilmuwan terkenal tersebut yang ia catat sebagai bahan laporannya bernama Jabir Ibnu Hayyan atau dikenal dengan Ibnu Geber (712 – 815 H). Setelah puas mencatat, akhirnya ia beranjak untuk mencari informasi lagi. Pandangannya jatuh pada ruangan kecil nan sepi yang berada tetap di seberang ruangan figura. Entah kenapa langkahnya sangat ringan untuk membawanya ke ruangan tersebut. Ternyata ruangan kecil itu dipenuhi oleh cermin antik yang di tata sangat rapi dari ukuran kecil hingga terbesar. Ia pun memutari ruangan tersebut untuk memperhatikan satu-satu detail pahatan yang terbentuk pada bingkai setiap cermin. Kemudian, ia memberhentikan langkahnya karena terkesima terhadap cermin di hadapannya. Hal ini diakibatkan ciri-ciri yang dimiliki cermin sangat unik yaitu berukuran sedang dan terdapat ukiran tradisional dan dipelitur sedemikian rupa sehingga menambah kesan keantikannya dan jika dinominalkan harganya pun dipastikan akan fantastis. Namun, ada sesuatu yang menjanggal dengan cermin di depannya ini. Belum sempat ia menyelesaikan pemikirannya, cermin yang menyita perhatiannya tersebut memunculkan suatu bundaran hitam atau biasa disebut sebuah portal. Penasaran menyeruak dalam diri Dewa, lalu dengan keberaniannya ia mengulurkan salah satu tangannya secara perlahan. Akan tetapi, hal tak terduga ia tertarik ke dalam yang diduga portal tersebut.
“Tolooong” Ia berteriak sekencang mungkin agar seseorang di luar sana dapat menolongnya. Akan tetapi, satu hal yang ia tidak ketahui sebelumnya bahwa setiap ruangan di dalam Museum didesain dengan kedap suara, sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat mendengar teriakannya.
“Dimana aku sekarang ?” tanya Dewa pada diri sendiri sambil menatap tembok berkilau seperti emas yang mengelilinginya saat ini. Tiba-tiba dari kejauhan ia dihampiri oleh seorang laki-laki berperawakan tinggi dan kekar, sontak ia memundurkan badannya secara perlahan.
“Wahai pemuda, kemarilah akan ku bawa engkau kepada Tuanku!” ucap laki-laki,
dengan ragu Dewa memilih untuk diam dan tetap mengikuti langkah laki-laki
tersebut.
Secara tiba-tiba laki-laki di depannya menghentikan langkahnya dan
mempersilahkan dirinya memasuki ruangan yang memiliki pintu menjulang tinggi dan bercat keemasan. Tangannya bergetar memegang gagang pintu ruangan tersebut dan meneguk ludahnya berulang kali untuk menetralisir loncatan-loncatan indah jantungnya. Ia memasuki ruangan besar nan elegan berwarna coklat muda dan setiap pojok ruangan terdapat meja besar yang dipenuhi dengan peralatan laboratorium serta di dinding ruangan terdapat deretan kertas membentuk rancangan suatu benda. Dewa yang memiliki sifat keingintahuan yang sangat tinggi
mendekatinya barang-barang tersebut satu-satu dan menatap kagum. Tanpa ia
sadari, ada seorang laki-laki yang menatap punggung dengan senyum maklum atas kelancangan yang diperbuatnya.
“Ternyata kau telah datang anak muda” tiba-tiba terdengar seorang laki-laki paruh baya di belakangnya. Ia pun membalikkan badan tegapnya ke sumber suara dan membulatkan mata sipitnya, jangan lupakan juga jika jantungnya saat ini akan lepas dari tubuhnya ketika melihat seseorang yang menyambutinya, apakah ini cuma mimpi ?, batinnya. Laki-laki paruh baya tersebut hanya tersenyum simpul melihat
kebingungan yang sangat terlihat jelas di raut wajah Dewa.
“Bukannya anda adalah Jabir Ibnu Hayyan itu ?. Kemudian kenapa aku berada disini ?” suara Dewa tercekat tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Ya benar, Aku memanggilmu karena ingin menyampaikan sesuatu hal penting kepadamu anak muda. Akan tetapi, sebelum itu apa yang engkau ketahui tentang cermin ?” mata lelaki itu menatap lekat Dewa.
“Cermin adalah benda dengan permukaan yang dapat digunakan untuk memantulkan bayangan benda” ucapnya secara terbata-bata.
“Belum benar, jawabanmu kurang sempurna untuk membawamu ke tempat semula anak muda. Jika jawabanmu salah, maka engkau akan tetap berdiam diri disini untuk menemaniku sebagai asisten pribadi” ucap lelaki tersebut dengan seringaiannya. Tentu, Dewa tidak ingin terperangkap di tempat asing ini sehingga ia harus berpikir secara keras jawaban yang sempurna bahkan ia berusaha membuka ingatannya mengenai materi ditarangkan oleh guru saat di Sekolah. Dua jam lamanya berfikir akhirnya ia membulatkan tekad untuk mengungkapkan isi pikirannya dan menerima resiko yang akan didapatkan kalaupun jawabannya salah. Ia menghembus napasnya kasar terlebih dahulu dan memulai menjawab.
“Cermin dibuat dengan pesan moral tertentu, yaitu mengajarkan kita untuk
melakukan intropeksi diri atas semua tindakan yang telah diperbuat selama di Dunia” ucap Dewa dengan mantap sambil menatap mata seorang laki-laki
dihadapannya. Lelaki tersebut tersenyum puas dengan jawaban Dewa.
“Engkau benar sekali anak muda. Pada zaman modern seperti ini, manusia akan lupa melakukan intropeksi diri masing-masing karena sibuk mengejar dunia yang tidak diimbangi dengan perbuatan akhiratnya. Pesanku padamu, tolong ingatkan rekan-rekanmu akan hal itu.” Tanpa menunggu jawaban Dewa laki-laki tersebut berbalik dan pergi entah kemana.
“Hei tunggu, bagaimana denganku ?” tanya Dewa kebingungan. Laki-laki itu hanya melambaikan tangan kepada Dewa pertanda salam perpisahannya. Dewa yang melihatnya pun hanya mampu mendengus kesal.
Setelah kepergian laki-laki itu, tiba-tiba terdengar suara sangat bising yang
mampu memekak gendang telinga. Dewa yang mendengar pun menutup telinganya sangat rapat, kemudian tanpa diduga dari arah belakangnya terdengar suara
ledakan. Buumm…!!!, lalu ia merasakan badannya terserap oleh sesuatu dari arah atas kepalanya. Awalnya Dewa berusaha melawan serapan tersebut tetapi ia tidak memiliki kekuatan yang cukup. Akhirnya, ia hanya pasrah dan berdoa agar dapat
kembali ke tempat semula. Tak lama kemudian, Dhuukk…!!!. Mendadak, badannya bersimpuh membelakangi cermin misterius tadi.
Dewa berusaha bangun, dengan kondisi kedua lutut yang sangat sakit. Lalu,
terhuyung-huyung saat berjalan dan belum menyadari bahwa dirinya telah kembali di Museum karena rasa nyeri pada kepalanya akibat perjalanan pada dimensi waktu. Ia pun mendaratkan bokongnya pada bangku panjang yang disediakan untuk pengunjung Museum untuk menetralisirkan rasa nyeri dan ngilu pada badannya. Lalu, ia mengedarkan pandangannya yang tampak tak asing lagi. Sontak ia
membulatkan matanya, sadar bahwa ia telah kembali. Entah apa yang dialaminya tadi, ia juga tidak dapat mendeskripsikan karena tidak terdapat bukti yang nyata.
Jika Ia menceritakan hal ini kepada ibunya yang selalu mempercayainya pun pasti akan tertawa terpingkal-pingkal atau mungkin akan langsung mendaftarkannya ke Rumah Sakit jiwa. Ia putuskan untuk tidak menceritakan kepada siapapun, biarlah ini
menjadi rahasianya. Kemudian, ia teringat amanat yang disampaikan oleh laki-laki yang menemuinya tadi. Dewa berjanji akan menyampaikan kepada orang yang disekitarnya, baik itu secara lisan maupun secara tulisan yaitu melalui blog pribadinya. Sungguh, pengalaman yang tidak terduga yang dialami Dewa hari ini.