Namaku Deana, aku adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Aku juga orang yang cukup di hormati di perusahaan tempatku bekerja.
Winni adalah sahabat baikku, dia bahkan lebih muda empat tahun dariku. Teman yang menyenangkan hanya saja aku dan dia mempunyai sifat yang saling bertolak belakang.
Dan pertemanan kami bukan hanya setahun dua tetapi telah berjalan lima tahun.
"Suamiku itu terlalu banyak menuntut..." Hari itu Winni menangis di depanku, tepat di sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji bertemu.
"Menuntut apa lagi? Bukankah kamu telah merawat anakmu dengan benar, kamu merawat mertuamu dengan baik?" Tanyaku.
"Kamu tahu sendirikan, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan tak ada waktu untukku."
"Tapi kamu juga kadang terlalu keras ku rasa, Win..."
"Bagaimana aku tidak keras, saat aku lelah mengurus ibunya yang sakit-sakitan dan selalu mencari keributan denganku, dia tak pernah sekalipun mengerti aku juga capek, sepulang kerja mengurus anak-anaknya dan juga ibunya. Dia selalu mengatakan sabar...sabar...! Sabar itu ada batasnya!!"
"Apakah kamu telah melayani suamimu dengan benar?" Tanyaku dengan sok. Aku tahu selalu saja akhir-akhirnya Winni menceritakan bagaimana agresifnya suaminya saat di ranjang sementara dia tak berselera meladeninya karena kecapekan.
"Aku tidak mau merendahkan diriku dengan bersikap agresif!" Tolak Winni, dia bukan istri yang totalitas pada suami karena baginya tabu untuk membuka baju lebih dulu meski itu untuk suaminya.
Aku adalah pendengar yang setia, bak sampah untuk masalah rumah tangga temanku itu.
Aku kenal dengan Han, suami Winni, meski tak kenal dekat. Tetapi cukuplah saling kenal begitu saja, saling menyapa saat bertemu dan berbasa-basi saja. Han juga lebih muda tiga tahun dariku.
Aku sendiri telah menikah dan mempunyai dua anak, rumah tanggaku baik-baik saja, Ed suamiku adalah suami yang baik, kalem dan nyaris tak begitu perduli dengan orang lain. Sebagai ayah dia bertanggungjawab terhadap kedua anakku dan diriku meskipun sesungguhnya penghasilanku lebih besar darinya. Tapi itu tak masalah bagiku, aku tetap berusaha menghormatinya sebagai kepala rumah tangga meski kadang kala ibu mertuaku akan menjadi penyulut perselisihan antara kami. Tapi apapun itu, aku akan selalu mengalah pada akhirnya. Tak ada masalah yang cukup berarti bagiku.
Lima tahun berteman Winni, kerap kali aku mendengar keluhannya tentang rumah tangganya yang kadang cek cok tetapi aku selalu memberi dukungan padanya, mencarikan solusi supaya hal itu tak berlarut-larut. Winni pada dasarnya adalah perempuan yang keras hati dan keras kepala, tapi it's okay, sebagai perempuan kadang kita perlu menunjukkan diri kita dengan keras di depan suami.
***
Malam ini, aku duduk di sebuah cafe sebuah hotel di mana aku sedang dinas luar kota bersama bos bidangku. Kegiatan kami telah berakhir, bosku sudah lebih dulu pulang sementara aku berancana menambah satu malam karena memyempatkan diri shopping tadi siang. Tadi pagi saat sedang breakfast aku tak sengaja bertemu Han, di resto hotel.
"Deana..." Han muncul, seperti janjinya, aku sebenarnya tak nyaman di awalnya dengan pertemuan itu tetapi ketika ku kabari Winni, dia malah memaksaku untuk berbicara dengan suaminya itu, dia menyuruhku untuk menemui Han yang juga sedang ada tugas dari kantornya itu.
Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan Han, tanpa ada Winni.
"Aku sudah memesan minuman untukmu." Ucapku, entah mengapa aku merasa gugup saat bertemu begini dengan Han.
"Terimakasih." Senyum Han begitu lebar, sungguh berbeda dengan yang di ceritakan Winni.
Kemudian kami berdua terlibat obrolan santai, ternyata kami berdua sangat nyambung ketika berbicara, pengalaman baru bagiku ketika bisa berbicara dengan laki-laki lain dengan begitu santai dan lepas, berbeda dengan ketika berbicara dengan suamiku yang bahkan saat aku menyelesaikan dua lembar buku kata-kata, dia hanya menyahut dengan satu kata. " Oh, begitu?"
Dari apa yang bisa ku tangkap, Winni memang terlalu keras dan egois terhadap suaminya, bahkan kadang Han harus tidur di luar kamar jika Winni tak ingin Han berada di dekatnya.
Han terus terang dia menyukai sikap agresif, tetapi tidak yang mendominasi berlebihan, ku akui Winni kadang kekanakan jika sedang marah.
Malam semakin larut, dan kami menemukan banyak hal yang sama dari kami, bahkan aku melupakan jika sebenarnya aku di minta Winni untuk memberi pembenaran untuk sikapnya.
Dan...
Malam itu, aku merasa seperti sedang jatuh cinta pada laki-laki yang seharusnya ku anggap adik itu. Aku menatap matanya tak lepas, bibirnya yang berbicara itu bahkan tak kulewatkan dengan kedipan mata.
Tepat jam 11 malam, aku pamit untuk kembali ke kamarku, meski entah mengapa aku tak ingin semuanya cepat berlalu.
"Apa yang terjadi padaku?" Aku memegang dadaku yang bergemuruh, berjalan dengan cepat berharap aku bisa tidur setelah ini.
"Kita berada di lantai yang sama ternyata." Suara Han memecah sunyi, aku terkejut saat dia berada di belakang ketika aku bersiap membuka pintu kamar.
Aku, terpana pada tatapan Han, tak pernah aku segemetar ini. Kepalaku kosong dalam kesadaran yang aneh. Tatapan Han yang sendi dan dalam, aku hampir tak bisa bernafas.
Aku lupa siapa aku, aku lupa harga diriku, ketika bau parfum Han yang begitu dekat itu menggoda syaraf-syarafku.
Dan entah setan apa yang merasuki, atau aku yang memang telah menjelma menjadi setan, aku mendorong tubuhku ke dalam kamar dan membiarkan Han berjalan mengikutiku.
"Apakah aku boleh masuk sebentar?" Tanyanya. Tanpa perlu anggukan, aku membiarkannya masuk dan dalam beberapa saat kemudian tanganku telah melingkar di leher Han, ketika tubuhku di dorongnya ke dinding.
Han begitu romantis, sangat romantis, dalam semua sentuhannya yang memabukkan.
"Aku selalu bermimpi untuk bercinta denganmu Deana, perempuan dewasa yang mengerti segala hal..." Bisik Han, terengah-engah saat bibir kami menyatu dengan kuat.
Dan cinta terlarang itu terjadi, tanpa paksaan bahkan dalam kesadaran, aku menjadi mentor bagi seseorang yang terlihat begitu haus dan mengagumiku.
"Deanaaaa...." Pekik yang tak pernah ku dengar dari bibir suamiku itu seolah masuk ke syaraf-syaraf dan tulangku.
Semuanya terjadi begitu saja, dan saat aku terbangun pahinya dalam pelukan suami sahabatku, aku segera sadar kami berdua terjebak dalam hubungan yang tak normal.
"Kita harus mengakhirinya, ini adalah kesalahan yang indah, tapi mari kita lupakan. Kembali lah pada kehidupan kita."
"Aku sangat ingin Winni sepertimu."
"Tak ada yang bisa seperti orang lain." Ucapku menggigit bibir.
"Ketika kita pulang ke kota kita hari ini, tak ada yang harus kita kenang. Aku tahu aku telah jatuh cinta pada laki-laki untuk kedua kalinya tetapi ini tidak benar."
"Aku juga jatuh cinta padamu, Deana..."
Hari itu, adalah hari terakhir aku berani menatap wajah Han. Kami ternyata telah jatuh cinta diam-diam, tetapi ini benar-benar salah! sangat salah.
Di pesawat aku menangis, saat menyadari, sebagai teman aku pengkhianat, sebagai istri aku penjahat! Aku mencintai suami temanku sendiri.