Namaku Dara, usiaku 28 tahun, dan aku punya kekasih bernama Danu, dia berusia 20 tahun. Jarak usia yang jauh. Awal kisah kita dimulai dari perjumpaan tak terduga di sebuah halte saat hujan deras turun.
Saat itu aku pulang kerja dan tiba tiba turun hujan, aku tak membawa payung, akhirnya aku berlari menuju halte terdekat tuk berteduh sekaligus menanti datangnya bus.
Saat sedang berteduh dan merapikan bajuku, tiba tiba datang seorang laki laki berusia muda. Dia berteduh denganku juga, badannya basah kuyup.
Tiba tiba dia datang dan menyapaku
"Hai kak, kehujanan ya? sama nih saya juga kehujanan hehe."
Dalam hati aku kesal, udah tau kehujanan malah tanya. Tapi dengan wajah tetap tersenyum aku pun menjawab nya
"Iya nih, pulang kerja kehujanan". jawabku cuek.
Dia terus menerus mengajakku ngobrol, canggung itu yang aku rasa.
" Kak, boleh aku tau namamu?" ucapnya tiba-tiba "Kalau boleh sih hehe."
Cuma kasih tau nama gak papa lah ya toh ke depannya gak ketemu lagi, ucapku dalam hati.
"Dara, kalau kamu?"
"Aku Danu kak." Jawabnya.
Dan kami pun terus mengobrol hingga hujan berhenti. Tak lama kemudian bus pun datang, aku langsung naik karena ingin cepat pulang. Tak ku sangka Danu pun ikut naik, dan dia duduk di sebelahku karena bus sudah penuh.
"Loh kamu kok di sini?" tanyaku heran.
"Ini bus tujuan ke daerah ku kak, aku tinggal di daerah A."
"Hah kok bisa sama? aku juga pulang ke daerah A,"
"Wah jangan jangan kita tetangga kak, apa kita ini jodoh ya?"
"Mungkin, tapi kalau jodoh gak tau ya." Jawabku seadanya, dan Danu pun meresponnya dengan tertawa.
Tak berapa lama bus pun sampai, segera aku turun dan kemudian diikuti Danu. Kami berdua pun berjalan bersama hingga sampai ke rumah masing masing.
Hari dan bulan pun berlalu, aku dan Danu semakin dekat. Banyak kecocokan diantara kita berdua, dan akhirnya kita pun memutuskan tuk menjalin hubungan.
Awal awal berhubungan terasa menyenangkan, aku yang lebih dewasa punya pacar yang masih tergolong sangat muda. Hari hari pun kita lalui dengan senang, dia ternyata laki laki yang penuh perhatian dan juga penyayang.
Hingga suatu hari kedua orang tuaku tiba tiba mengungkit masalah perjodohan, karena usiaku yang sudah matang dan belum menikah, ditambah lagi aku ini anak satu satunya. Mereka memilihkan jodoh seorang laki-laki dewasa dengan jarak usia 3 tahun. Dia adalah anak dari sahabat ayah. Wajahnya cukup tampan menurut ku, tapi aku sudah punya Danu. Aku jelaskan itu kepada kedua orang tua ku, mereka tak terima, mereka bilang Danu itu anak kemarin sore, mana bisa dia jadi imam dan pasangan yang baik untukku. Mendengar perkataan itu aku pun keluar sambil menangis, kisah cinta yang ku jalani ditentang oleh kedua orang tuaku.
Berlari dan terus berlari akhirnya aku sampai di sebuah Danau, dari kejauhan aku melihat bayangan Danu, badan bagian belakang terasa familiar. Aku pun mendekatinya, dan iya memang itu Danu, dia bersama teman-teman nya sedang asik mengobrol. Karena penasaran aku pun mendekat tuk mendengar nya.
"Dan, lu yakin mau sama si Dara itu? dia kan udah tua, gak pantes juga buat lu, lu masih muda, masa mau ama perawan tua kek dia hahaha," celetuk salah satu temannya.
Dalam hatiku merasa sakit, dan penasaran jawaban apa yang akan diberikan Danu.
"Gila kali kalo gue mau ama dia, gue kan udah ada gandengan baru, tinggal tunggu waktu buat putusin dia." jawab Danu.
Mendengar jawaban Danu hatiku berkecamuk, sakit ternyata selama ini aku cuma bahan pelarian nya saja. Aku berlari pulang tak mau lagi mendengar ucapan mereka.
Sampai rumah aku langsung masuk kamar dan menangis, kedua orang tua ku yang melihat itu pun bingung, ibu tiba tiba mengetuk pintu kamarku
"Nak, bolehkah ibu masuk?"
Tanpa pikir panjang aku langsung membukakan pintu untuk ibu, langsung ku peluk tubuh ibuku erat erat, dan menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu.
Setelah itu pun ibu perlahan bertanya , hal apa yang membuat anak kesayangannya menangis. Kemudian aku pun menjelaskan semuanya kepada ibu, ibu menenangkan ku
"Nak, janganlah bersedih, kalau begitu dia berarti bukan jodohmu, ikhlaskan saja nak, nanti pasti ada gantinya yang lebih baik lagi."
Aku hanya mengangguk, dan kemudian mengangkat wajahku menghadap ibu.
"Iya bu, aku akan putus dengannya, dan mendengarkan nasihat ibu dan ayah."
--
Setelah kejadian itu pun aku dan Danu jarang bertemu, perasaan ku padanya pun perlahan menghilang. Tiba-tiba dia mengirimkan ku pesan
[ Dara, nanti sore ketemu di cafe dekat rumah ]
Aku tak membalasnya. Sekitar pukul 4 sore aku pergi ke cafe tersebut, di sana terlihat Danu sedang menikmati minumannya.
"Sorry aku telat," ucapku membuka pembicaraan.
"Gak papa, aku ke sini cuma mau bilang kalau kita harus putus."
Aku tak kaget sedikitpun, sudah ku duga pasti ini yang akan dia ucapkan.
"Kok kamu diam aja gak terkejut?" tanya Danu.
"Apa yang harus aku heran kan, aku sudah tau hal apa yang mau kamu ucapkan, lebih baik memang kita sampai di sini saja, kamu sama pacar barumu saja, biar aku sendiri."
Danu terkejut, darimana aku tau hal itu. Aku pun langsung menjelaskan padanya. Akhirnya kita berdua resmi putus. Kisah yang sudah berjalan sekitar satu tahun akhirnya kandas, karena dia berselingkuh dan perbedaan usia yang dibilang jauh. Dia masih mau mencari kebebasan, sedangkan aku sudah waktunya tuk menikah. Dengan besar hati aku harus mengikhlaskan nya, dia bukan jodohku dan tak bisa bersanding denganku, walau dipaksa dengan cara apapun jika bukan jodohnya pun takkan bersatu. Biarlah aku sendiri melupakan kisah ini, walau sebenarnya masih panjang tapi kita memutuskan tuk sampai di sini saja. Semoga akhirnya nanti aku dan dia menemukan kebahagiaan masing masing tanpa harus saling mengusik.
~end