Namaku Gian, bukan raksasa atau tokoh di animasi Doraemon, badankupun tidak begitu besar seperti raksasa. Aku duduk di kelas 2 SMA dan sering langganan masuk ruang BK ( Bimbingan Konseling ) karena sering terlambat dan bolos pelajaran. Bisa dibilang aku adalah anak malas untuk sekolah dan tak memahami semua mata pelajaran.
Panggilanku adalah si pembuat masalah, karena aku terkenal setiap ada masalah disitu aku berada, hingga para guru sampai hafal namaku dan ibuku yang selalu dapat panggilan untuk kesekolah karena berbagai masalah yang ku buat. Begitulah kisahku yang sering mendapat masalah dan juga sedikit membosankan, namun semua hal itu berubah ketika aku bertemu seseorang yang kelak akan merubah hidupku.
Dia adalah syifa, siswi kelas satu yang terlihat periang dan juga polos. Pertama kali bertemu dengannya adalah saat kami terlambat masuk ke sekolah, kulihat dia yang sama-sama mendapat hukuman berlari memutari lapangan. Dia yang terlihat cantik dengan rambutnya yang dikuncir menggunakan pita merah dan malah semakin menawan dengan keringat yang membasahi merah pipinya.
Tak kusangka hanya dengan melihatnya aku merasa bahagia, inginku mengenalnya namun terasa malu karena tampilanku yang lusuh. Ku beranikan diri menyapanya sambil berlari mengelilingi lapangan.
" Capek juga ya kita dihukum 10 putaran ? " Sapaku kepadanya.
Dan diapun membalasku dengan senyuman karena masih terengah-engah berlari.
" iya kak ? " sahutnya setelah senyum. Dari situlah awal pertemuan dan kisahku dimulai.
Saat itu adalah bulan November, seperti biasa hujan pun turun. Kami tak sengaja bertemu kembali untuk yang kedua kalinya dibawah atap halte untuk menunggu bus.
" Hai, mbak yang tadi pagi dihukum kan ?" kusapa dengan senyuman.
" iya kak, ! " sahutnya.
" Oiya, mbak ada di kelas berapa ya ?. " Tanyaku padanya.
" Aku kelas Satu kak, kakak kelas dua kan yang kelasnya ada di atas ? "
Kita saling bertanya, namun kita belum tahu nama masing-masing. Hingga tak terasa hujan telah berhenti, tiba-tiba dia berdiri dan menguncir rambutnya dengan pita merah yang pertama kali kulihat.
" Mengapa kamu menguncir rambutmu ? " tanyaku.
" Aku suka sekali dengan pita ini, karena ini hladalah pemberian alnarhumah ibuku. Aku kangen ibuku, karena dialah yang selalu menguncir rambutku ketika aku masih kecil. " Jawab Syifa dengan lembut.
Sebuah pertanyaan yang membuat raut wajahnya berubah seketika dan suasanapun menjadi hening, diapun menitikan air mata karena kerinduan sosok ibunya.
" Kenapa kamu menangis ?. Maaf, telah mengingatkanmu pada ibumu. "
" Tidak, aku memang mudah menangis ketika mengingat ibuku ! " sahutnya. Tanpa pikir panjang, kumelepas dasi yang melilit leherku, dan ku seka air matanya yang berlinang. Diapun berhenti menangis, lalu menatapku dengan muka memerah.
" Terima kasih kak ! " katanya sambil terisak-isak.
Dan kuhanya menganggukan kepalaku,
" I.. i.iiya " kataku sambil malu-malu.
Aku hanya bisa menghiburnya dengan hal sederhana, dan juga tak tau kenapa jantungku tiba-tiba berdenyut kencang.
" Maaf, aku harus pulang dulu ! " kataku sambil berlari memegang dadaku yang berdeguk kencang.
" Perasaan apa ini, bahkan akupun belum tau namanya ! " gumamku sambil berlari meninggalkan Syifa yang masih memegangi dasiku.
" Kakak, siapa nama kakak ? " teriak syifa ke arahku.
" Namaku Gian, Giantoro ! " teriakku sambil menoleh kearahnya.
Keesokan harinya, di jam ke 3 adalah jam pelajaran bahasa inggris yang paling tidak kuminati. Setelah bunyi jam pelajaran berganti, aku mengajak sahabatku Arif untuk bolos ke kantin. Tak kusangka ditengah perjalanan, aku bertemu Syifa
" Syifa ? Habis dari mana ? " tanyaku.
" Habis dari UKS kak. Maaf ini dasi kakak yang kemarin, sudah kucuci. "Jawabnya.
" Terima kasih ! " jawabku.
" Tidak, akulah yang harus berterima kasih kak. Terima kasih banyak.! " Sahut Syifa. Aku tersenyum dan mengangguk, lalu kudengar bisikan temanku.
" Cantik sob, kenalin ke gue dong ! " bisik Arif. Kulangsung memukul kepala sahabatku itu dengan dasi yang baru kuterima dari Syifa.
" Enak aja lu, ogah ngenalin dia ke elu. Lu kan terkenal buaya di kelas kita ! Sahutku.
Ku lihat Syifa tersenyum saat ku bercanda dengan sahabatku, namun tiba-tiba seorang siswi datang.
" Syifa kamu dari mana ? Sudah 2 jam kamu tidak ikut pelajaran ! " Teriak sahabat Syifa yang menyela. Dia adalah Dias, sahabat Syifa sejak masih SMP dulu.
" Kakak, jangan deket-deket Syifa ya? Bukankah kakak si pembuat masalah itu kan ? " tanya Dias kepadaku dengan nada tinggi.
" Iya benar, lalu ada apa ?. " jawabku. " Jangan pernah deket Syifa, dia gak pantas berteman dengan berandalan seperti kakak!. " ( dengan nada tinggi. )
Syifa tersenyum sambil menenangkan sahabatnya yang masih terbakar amarah.
" Tidak apa-apa dia baik banget kok!. " jawab Syifa yang menenangkan sahabatnya itu. Lalu Dias menarik Syifa menjauh dariku, dan Syifa tetap menjelaskan tentang sosokku di mata sahabatnya itu. Lalu kulihat Arif bersembunyi di belakangku.
" Kenapa lu sob ?. " tanyaku.
" Ngeri bro, baru pertama gue lihat amarah cewek. Jantung gue dag dig dug bro, jangan-jangan gue naksir sahabatnya temenlu lagi !. " jawab Arif sambil melihat Syifa dan Dias pergi.
Tiba-tiba Syifa datang berlari membawa secarik kertas kearahku.
" Jangan lupa hubungi aku ya, kak. ! " kata Syifa dengan meyerahkan kertas tersebut.
" Apa ini ?. " tanyaku. Syifa berlari dan kembali lagi ke kelasnya, kulihat kertas itu bertuliskan Nomor telepon milik Syifa. Aku tersenyum, dan langsung kucatat Nomor itu di HPku.
" Bagi Nomornya sob !. " sela Arif. " Enak aja lu, yok jadi kantin gak nih ? " sahutku.
" Yoi, skuylah gaskeun ! " kata Arif sambil kegirangan.
Aku di kantin hingga bel istirahat pertama berbunyi, tiba-tiba muncul rivalku dari kelas sebelah. Dia adalah Kevin, yang selalu menantang bermain futsal padahal dia hanya pernah sekali menang dalam 7 pertandingan. Namun dia tetap mau menantangku bermain.
" Futsal lagi berani gak lu ? " tanya Kevin dengan sesumbar.
" Masih mau nantang lagi, gak inget kekalahan kemaren apa ?. " jawabku sambil minum es di Kantin.
" Lu beruntung aja kemaren ! " sahutnya yang masih sesumbar.
" Oke, panggil temen-temen kita Rif !. " kataku sambil menyuruh Arif untuk memanggil teman satu kelasku.
Pertandingan dimulai, seperti biasa kami yang menguasai pertandingan. Tiba-tiba Arif terkena tendangan oleh Kevin, seketika aku marah.
" Bisa main gak sih lu haa..? " Kataku sambil memaki.
" Halah, teman lu aja yang jago akting !. " sahut Kevin sambil mengambil bola. Aku lekas menolong Arif yang terkena tendangan di perutnya, tiba-tiba bola menghantam keras ke kepalaku. Dan kulihat Kevin sengaja menendangnya ke arahku, tanpa pikir panjang kupukul dia hingga tersungkur. Dan semua menjadi ricuh hingga para guru datang melerai.
Seperti biasa aku disuruh ke ruang BK kembali, dalam perjalanan kulihat Syifa datang berlari terengah-engah.
" Kamu tidak apa-apa kak, kudengar kakak berantem ya.. ?. " tanya Syifa dengan nada khawatir.
" Tidak, aku baik-baik saja ! " jawabku untuk menenangkan Syifa yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku mendapat hukuman membersihkan lantai di 3 lorong sepulang sekolah, dan mendapatkan surat peringatan karena memukul Kevin dengan keras hingga dia pingsan.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas melaksanakan hukumanku. Tak kusangka Syifa telah menungguku di depan kelasku..
" Aku mau membantu kakak menjalani hukuman !. " kata Syifa sambil tersenyum manis kearahku.
" Baiklah, tapi apa kamu tidak apa-apa membantuku ?. " jawabku.
" Tidak, aku tidak apa-apa kok ! " sahut Syifa yang ingin meyakinkanku. Satu lorong kelas telah kuselesaikan tinggal satu lorong lagi dan kumelihat Syifa yang masih fokus mengepel lantai.
Tiba-tiba kejadian yang tak pernah kuduga pun datang, Syifa tersungkur jatuh kelantai. Aku berlari menghampirinya sambil berteriak meminta tolong. Akhirnya muncul Pak Deri, dia adalah guru agama dan dia adalah satu-satunya guru yang tidak pernah memandang rendah para muridnya, walaupun dia tahu kenakalan para muridnya karena Pak Deri percaya bahwa setiap manusia akan berubah menjadi lebih baik. Pak deri lekas membawa Syifa ke Rumah Sakit yang tidak jauh dari tempatku sekolah, Pak Deri juga menghubungi keluarga Syifa.
Setelah sekian lama keluarga Syifa pun datang, dia adalah Ayah dan Bibi Syifa. Dan pak Deri menjelaskan pada meraka, namun tiba-tiba Ayah Syifa datang dan menamparku.
" Bagaimana kamu bisa menyuruh Syifa membantumu mengepel ?. " kata Ayah Syifa dengan marah dan geram denganku.
" Maafkan saya pak !. " kataku sambil menunduk. Aku bingung dan perasaanku bercampur aduk menjadi satu.
" Ada apa dengan Syifa Pak? Apa dia baik-baik saja ? " tanyaku yang masih khawatir dan bingung. Namun ayah Syifa pergi menjauh dariku.
Setelah semua kemarahan mereda, ayah Syifa memanggilku dan dia menceritakan semua hal tentang Syifa .
" Akan ku katakan tentang penyakit Syifa hanya kepadamu, karena Syifa tidak akan mungkin membantu seseorang yang tidak ia sayangi. ! " kata ayah Syifa.
Akupun terdiam, dan mencoba mencerna maksut dari perkataan ayah Syifa.
" Syifa memiliki penyakit hati kronis, penyakit ini adalah penyakit keturunan yang juga merenggut istriku, ibunya Syifa. Dan Syifa juga telah di diagnosa bahwa umurnya juga tidak akan panjang. ! " kata ayah Syifa sambil menitikan air mata.
Aku termenung mendengar pernyataan ayah Syifa, seperti tidak kupercaya gadis ceria dan periang menyembunyikan sakit yang luar biasa. Tak terasa air mataku ikut jatuh membasahi pipiku, itu adalah pertama kalinya aku menangis karena seseorang. Aku seperti tak percaya, dan menangis tersedu-sedu di depan ayah Syifa yang sembari menepuk pundak ku.
Jam sudah menunjukan pukul 6 petang, ayah Syifa menyuruhku pulang. Sampai dirumah aku pun murung dan mengurung diri di kamar. Sampai ibuku kaget karena tak biasanya aku pulang tak memberi salam dan langsung ke kamar.
" Ayo mandi, sholat kemudian makan. ! " teriak ibuku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
" Hmmm.. Nanti saja. ! " jawabku dengan nada malas. Kemudian aku teringat nomor telepon yang Syifa berikan.
" Hai, Syifa.. ! Ini aku Gian. ! " Namun tak ada respon dari pesan yang telah kukirimkan.
Hari telah berganti, sudah satu minggu sejak Syifa dirawat aku tak pernah melihatnya disekolah lagi. Aku pun tidak diperbolehkan menjenguk oleh bibinya Syifa di Rumah Sakit, dan duniaku seperti hambar, aku tidak tahu arah tujuanku. Karena merasa bersalah, setiap hari aku hanya merenung dan melamun di kelas.
" Lu kenapa sob ? " tanya Arif kepadaku.
" Gak kenapa-kenapa bro. ! " sahut ku dengan nada yang tidak meyakinkan.
" Ceritalah sob, siapa tau kita semua bisa bantu. Apa lu gak inget apa yang lu katakan pada kita semua ? Kita adalah keluarga. ! " kata Arif sambil menyemangati ku.
" Terima kasih sob, tapi beneran gue gak apa-apa. ! " jawabku dengan nada rendah.
Sepuluh hari berlalu sejak Syifa dirawat, tiba-tiba aku mendapat notif pesan dari nomor yang tidak ku kenal.
" Hai kak,.. Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit, dan juga sudah menengok ku setiap hari walaupun kakak tidak diijinkan masuk oleh bibiku. Terima kasih ya kak :) dari temanmu Syifa ... " itulah pesan yang Syifa sampaikan, aku terkejut dan sangat gembira. Hingga aku melompat lompat kegirangan yang membuat teman-teman sekelasku bingung.
Hari itu adalah hari sabtu, dimana Full Day School diterapkan di sekolahku. Dan aku hanya masuk mengikuti ekstrakurikuler futsal, setelah pukul 10 aku pulang dan sengaja mampir ke rumah sakit menengok Syifa. Aku terkejut, Syifa sudah duduk-duduk di taman rumah sakit seperti orang yang sangat sehat.
" Syifa, apa kabar ? Apa kamu baik-baik saja ? Kamu sudah beneran sehat. ? " sapaku dengan berbagai pertanyaan di kepalaku.
" Aku baik-baik saja, lihat aku tidak merasa sakit kan.? " kata Syifa untuk meyakinkanku.
" Aku sudah membuat daftar rencana, apa kamu mau ikut, Gian.? " Tanya Syifa sambil tersenyum kearahku.
" Baiklah, asalkan tidak yang aneh-aneh ya ? " Jawabku untuk membuatnya bahagia.
" Siap kapten, hehehe .. ! " Kata Syifa dengan raut wajah senang.
Hari itu adalah hari Minggu, Syifa mengajakku melihat taman rekreasi yang baru saja dibuka. Kita berjalan beriringan, aku terkejut tanganku tiba-tiba di genggam oleh Syifa.
" Heek.. Apa ini ? " Tanyaku yang kebingungan.
" Maaf ya kak, aku pengen genggam tangan besar kak Gian. ! " Jawab Syifa.
Kemudian kita berada di puncak taman yang sangat indah pemandangannya. Syifa menunjuk kearah Matahari terbenam.
" Cantik ya kak Matahari terbenam itu ? Ingin rasanya, aku hidup selamanya untuk melihat Matahari terbenam bersama kakak setiap hari. ! " Kata Syifa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Kakak tahu rahasiaku kan ? Aku mohon rahasiakan ya kak dari siapapun juga, meskipun itu dari Dias sekalipun. Janji ya kak, Gian ?. " Tanya Syifa yang terlihat serius.
Aku terdiam dan menunduk, dan tak menjawab pertanyaan yang Syifa lontarkan padaku.
Hari sudah semakin gelap, dan nyala lampu penerang pun sudah mulai menyala. Aku mengajak Syifa untuk pulang, saat aku membalikkan badan tiba-tiba Syifa memelukku dari belakang.
" Terima kasih atas waktunya hari ini ya kak, Gian. ! " Ucap Syifa sambil menitikan air mata. Seketika suasana menjadi hening, kabut mulai turun di taman itu yang tepat berada di pegunungan. Aku pun kembali tertunduk.
" Aku suka kamu kak Gian ! " Teriak Syifa dengan kencangnya.
Seketika aku terdiam dan jantungku serasa tersentak, aku bingung dengan rasa yang bercampur aduk.
" Aku juga menyukaimu, tapi apa kamu pernah berfikir bagaimana denganku setelah kamu pergi nanti. Apakah aku harus hidup dengan cinta ini sendirian ?. " kataku yang terlihat marah dan bingung. Syifa menunduk sambil memegang bajuku dengan satu tangannya.
" Maafkan aku yang telah egois dalam mencintaimu, maafkan aku ! " Ucap syifa sambil tersedu-sedu.
Jam sudah menunjukan pukul 9, kita sudah sampai di rumah masing-masing dan aku terus mengingat apa yang kuucapkan kepada Syifa tadi, hingga ku terjaga sampai larut. Keesokan harinya yang masih biasa saja dan tidak terlalu istimewa sampai kumelihat Syifa sudah kembali bersekolah. Kita berpapasan dan saling diam, kemudian Syifa menyerahkan sesuatu padaku yang dibungkus rapi.
" Semoga hadiah dariku, akan membuatmu tetap mengingatku seperri kumengingat ibuku. Jagalah dengan baik-baik. " Ucap Syifa yang kemudian berlalu pergi melewatiku. Setelah kubuka hadiah itu dan ternyata adalah sebuah pita merah yang pertama kali kulihat. Akupun kaget mengapa barang berharga miliknya diserahkan kepadaku.
Hari demi hari telah berganti, kini sudah memasuki bulan Desember. Dan tak pernah kulihat Syifa masuk ke sekolah lagi, ini adalah Minggu ke 2 setelah ia memberiku hadiah pita miliknya. Pesan ku pun tak pernah dia jawab, dan kutanya sahabatnya, Dias katanya Syifa sedang pergi keluar kota dengan ayahnya karena urusan bisnis dan acara keluarga. Namun semua terasa begitu ganjil bagiku.
Di pagi hari terdengar suara orang mengetuk pintuku, aku yang ingin berngkat ke sekolah membuka pintu dan orang itu adalah bibi nya Syifa.
" Mas, saya ingin menyampaikan pesan bahwa kini Syifa sudah pergi meninggalkan kita semua ! Bibi kesini untuk menyampaikan wasiat terakhir dari Syifa. Datanglah ke pemakamannya Syifa !. " ucap bibi Syifa sambil gemetaran.
Aku terkejut bukan kepalang, aku merasa semua ini hanya mimpi buruk. Namun takdir berkata lain, aku membanting tasku dan pergi kerumah duka Syifa. Disana keluarga Syifa berterima kasih dan meminta maaf. Aku semakin tidak percaya bahwa ini nyata, Syifa yang kukenal pergi meninggalkanku.
Ku kira aku telah mengenal Syifa dengan baik, namun tidak sepenuhnya kumengetahui segala hal tentangnya. Dia sembunyikan rasa sakitnya dengan senyuman, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat ceria ternyata sedang melawan rasa sakit yang membelenggunya. Dia sembunyikan sakitnya dari mata dunia, bahkan sahabatnya sekalipun tak tahu sakit yang ia derita.
Ayah Syifa menyerahkan ponsel milik Syifa padaku, dia meminta untuk membaca apa yang ada di dalam ponsel tersebut. Dan aku kembali menangis setelah kubaca pesanku yang kukirimkan kepada Syifa.
" Aku menyayangimu, tolong jangan pergi ! " begitulah sebuah pesan yang ingin kutujukan kepada Syifa. Dan juga aku semakin terkejut ketika melihat sebuah catatan di dalam ponsel milik Syifa.
" Hari ini aku telat kesekolah, namun aku senang karena aku dihukum bersama orang yang kusukai dan dia terus melihatku, akhirnya dia menyapaku aku bahagia sekali. Apa dia tau ya, aku menyukainya dari dulu sekali bahkan sebelum aku mengenalnya. Aku jatuh cinta ketika dia menyelamatkanku dari bola futsal yang hampir mengenaiku. Disitulah awal cintaku bersemi. Dia mungkin terkenal suka membuat masalah, namun bagiku dia adalah orang yang baik, dia berkehendak atas hati nuraninya.
Ini adalah pertemuan keduaku, aku sangat malu sekali, dibawah atap halte yang saat itu hujan deras dia menyeka air mataku ... aku senang sekali dan membuatku semakin menyukainya . Kutahu kelasnya berada di atas, karena aku sering mengikutinya tanpa dia sadari. Dan aku paling malu adalah ketika memberikan nomorku kepadanya, hatiku serasa terbang melayang ..
Dan momen paling bahagia salah satunya adalah ketika aku bersamanya mengepel lantai . Tapi gara-gara aku, dia ditampar ayahku . Aku sedih tak bisa melihatnya lagi . Dan akhirnya semua terbayar lunas ketika dia mau kuajak berwisata .. Disana aku nembak dia rasanya aku gembira sekali . Namun aku terlalu berhayal, ternyata dia masih bingung dengan pilihannya yang tahu umurku tidak lama lagi.
Setelah itu aku rasa penyakitku semakin memburuk , aku ingin menyerahkan pita ibuku ini untuknya, agar dia selalu mengingatku. Dan benar aku telah kalah dengan penyakitku ini . Aku ingin melakukan banyak hal dengan kak Gian. Namun apa dayaku, sekarang aku hanya terbaring dirumah sakit sudah selama dua minggu . Namun aku bahagia bisa mengenalnya. Terima kasih Gian. "
begitulah isi catatan yang terdapat dalam ponsel milik Syifa. Aku kembali menangis, dan ingin ku ulangi semua waktu bersamanya. Dan kuterdiam setelah kubaca halaman terakhir dari catatan di ponselnya.
" Maafkan aku yang telah membuatmu berada dalam masalah, apa kamu tahu ? Bahwa semua orang itu sama. Tetapi kupikir ini yang terbaik, kamu bisa hidup dengan normal meski tanpaku. Sampai jumpa, Gian. Aku menyayangimu :). "
Hatiku langsung hancur berkeping-keping, aku bahkan tak kuat untuk berdiri. Ayah dan bibi Syifa memelukku yang tahu bahwa anak yang disebutkan oleh Syifa di catatan itu adalah aku.
Satu tahun telah berlalu setelah kepergian Syifa, kini ujian kelulusan juga sebentar lagi. Aku berubah menjadi manusia yang lebih baik. Namun aku masih takut untuk memulai suatu hubungan karena rasa sakit yang ditinggalkan olehnya masih membekas dan membuatku trauma. Kini mungkin hanya tinggal sebuah cerita yang akan memudar termakan oleh waktu.
Pita merah yang Syifa berikan kini menjadi bukti, bahwa di dunia ini masih ada manusia yang menyayangi dan menginginkanku. Dia mengajarkanku betapa berharganya hidup itu, saling menyanyangi dan memberi karena segala hal didunia ini tidak ada yang abadi. Dan secara tidak langsung, pita merah itu menjadi penghubung antara aku dengannya.
Kukira takdir akan menyatukan kita seperti legenda benang merah, namun Tuhan berkehendak lain, mungkin Tuhan lebih menyayangimu hingga Dia tidak rela cintamu dibagi denganku. Bagiku pertemuan dan perpisahan kita bukanlah sebuah kebetulan belaka, tetapi Tuhan telah merencanakanNya. Hidup terasa begitu cepat bagi orang yang menginginkannya namun begitu tak berarti bagi orang yang menyia-nyiakannya.
Tamat.