Mei terisak duduk disudut ruangan yang gelap, sudah dua hari ini ia terkurung didalam ruangan itu, tanpa air minum dan juga makanan. Perih memenuhi wajah dan juga tubuhnya. Tamparan, pukulan dan juga tendangan menghantam tubuhnya yang kurus itu. Hari ini ia tidak membawa sejumlah uang sebesar yang telah ditentukan.
Pekerjaannya hanyalah pedagang asongan, setiap hari ia berkeliling naik turun bis hanya untuk menjajakan dagangannya. Tapi hari ini pendapatannya menurun. Semenjak sekolah pada libur dan juga masih hari cuti bersama, sedikit sekali orang yang membeli barang dagangannya.
Ia mengingat kembali saat ia diambil oleh keluarga ini dari rumah panti asuhan tempat pertama kali ia tinggal. Suami istri yang mengadopsinya ini terlihat tulus sekali dan baik hati. Tetapi ternyata setelah sampai di rumah, mereka berubah. Mei diperlakukan layaknya seorang pembantu, tiap hari ia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setelah itu ia hanya diberi makan sedikit. Tak jarang pada malam hari ketika semua tertidur ia pergi mengais sampah di sebuah warung dekat rumahnya hanya untuk mendapatkan sedikit makanan sisa.
Sekali dua kali pekerjaannya mengais sampah ini tidak ketahuan sampai akhirnya salah seorang tetangga melihatnya sedang makan di dekat tempat sampah. Hal itu membuat pasangan suami istri itu murka. Mei dihajar tanpa ampun, setelah itu dia disuruh kerja sebagai pedagang asongan dengan jumlah setoran yang telah ditentukan.
Pintu kamar itu terbuka. Terlihat didepan matanya dua orang manusia yang sangat dibencinya, pandangan mata kedua orang itu sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sayang. Dalam hati Mei menginginkan setidaknya tolonglah perlihatkan rasa sayang itu kepadanya walaupun sedikit.
"Cepat keluar, enak sekali ya, dikurung dikamar seperti ini, tanpa kerja", kata perempuan yang bernama Ana itu.
Mei diam saja, percuma berharap banyak pada perempuan yang berusia 40 tahun ini. Perkataannya barusan sudah dapat mewakili bagaimana sebenarnya sifat perempuan ini. Dengan tertatih ia keluar kamar itu. Tanpa memperdulikan tatapan Ana , dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengganti baju, Mei duduk dipinggir tempat tidurnya. Kapan semua ini berakhir, pikirnya. Perutnya lapar sekali.
Terdengar suara laki-laki didepan pintu kamarnya. Dia adalah Darma, suami Ana, laki-laki itu berusia 45 tahun. Mei dengan cepat mengunci pintu kamarnya, untuk saat ini ia ingin tidur sebentar saja. Tak terasa hari menjelang malam, terhitung sudah tiga hari ia tidak makan dan minum. Cukup katanya dalam hati, cukup sudah penderitaan ini, umurnya sekarang sudah 15 tahun, selama sepuluh tahun ia harus merasakan penderitaan ini. Secara perlahan ia membuka pintu kamarnya, di ruangan tamu tidak ada siapa-siapa, dengan menguatkan diri ia keluar dari rumah itu.
Sepanjang jalan ia hanya bisa memasrahkan dirinya pada Yang Maha Kuasa. Matanya berkunang-kunang, tak lama kemudian ia pingsan.
Sebuah mobil mewah berhenti di samping tubuhnya yang sedari tadi tidak sadarkan diri. Sepasang tangan mengangkat tubuhnya dan merebahkannya di kursi mobil.
Mei terbangun, ia mendapatkan dirinya sedang berada di sebuah ruangan yang mewah. Disampingnya duduk seorang Kakek yang sedang membaca sebuah buku.
Kakek itu menoleh kearahnya dan berkata," Sudah bangun rupanya, bagaimana keadaanmu?, sebentar lagi makan malam mu akan segera tiba, makanlah dulu setelah itu barulah kita berbincang-bincang".
Seorang pelayan membawakannya makan malam dan meletakkannya di meja di samping tempat tidurnya. Kakek yang tadi menemaninya keluar dari kamar itu saat pelayan tadi masuk.
Ia makan dengan lahap, Mei belum pernah menemukan makanan seenak ini. Dalam sekejap mata makanan itu langsung ludes dimakan olehnya. Setelah makan ia merasakan tubuhnya bertenaga lagi.
Pintu kamar terbuka, tampak kakek itu datang bersama seorang pria dengan pakaian yang rapi.
"Perkenalkan ini adalah tangan kananku yang bernama Bram, kamu bisa memanggilnya Om Bram, kelak semua urusanmu dialah yang akan mengaturnya.
"Aku adalah Surya, kamu panggil aku Kakek Surya, siapa namamu", tanya kakek Surya.
"Nama saya Mei, Kek", jawabnya.
"Kamu tau kenapa aku menolong dirimu?", tanya Kakek Surya lagi.
Mei menggelengkan kepalanya.
"Wajahmu mirip sekali dengan cucuku yang hilang sepuluh tahun yang lalu, sekarang ceritakan lah semua tentang dirimu beserta semua yang kamu alami dengan jujur", Kakek Surya dan Om Bram mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur.
Mei mulai menceritakan perjalanan hidupku. Kakek dan Om Surya terdiam.
"Kejam sekali, Bram, kamu tau apa yang harus kamu lakukan bukan", tanya Kakek Surya kepada Om Bram. Om Bram menganggukkan kepalanya. Om Bram berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari kamar itu.
"Kamu adalah cucuku yang asli, Kakek menyangka kamu telah tiada, saat kamu tidak sadarkan diri Kakek diam-diam mengambil sampel darahmu untuk diperiksa DNA nya, dan hasilnya cocok".
"Maafkan Kakek, Ayah dan Ibumu telah meninggal dunia karena kecelakaan dan waktu itu kamu ada bersama mereka, hanya dirimu yang tidak diketemukan di tempat kecelakaan itu".
"Mulai saat ini Mei tidak perlu khawatir lagi, Kakek akan menjagamu", Kakek Surya tersenyum menatapku.
Air mata mengalir di pipi Mei, akhirnya Mei menemukan keluarganya kembali. Masa-masa suram itu akan berakhir sampai disini saja.
Selama sepuluh tahun Mei mengejar semua ketinggalannya selama ini. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Secara perlahan ia mulai belajar mengelola perusahaan Kakek Surya, sementara Kakek Surya hanya diam di rumah menikmati masa tuanya.
Hari ini sepulang dari perusahaannya, ia menemukan pemandangan yang mengingatkannya dengan apa yang ia alami selama sepuluh tahun yang lalu. Kedua orang yang pernah menyakitinya dulu sedang menyeret seorang anak kecil perempuan yang berusia sekitar sepuluh tahun.
Mei menghentikan mobilnya dan merekam kejadian itu di layar hpnya. Ia langsung mengirimkan video itu ke Om Bram untuk ditindak lanjuti.
Keesokan harinya sepasang suami istri itu ditangkap polisi dan dipenjarakan untuk waktu yang sangat lama, sementara anak kecil itu diangkat Mei menjadi adiknya. Kehidupan Mei dan Tiara adik angkatnya itu berserta Kakeknya sangatlah bahagia. Perusahaan Kakek Surya berkembang pesat dibawah kepemimpinan Mei.
Tidak selamanya kekerasan harus dibalas dengan kekerasan pula, serahkanlah semua kepada hukum yang berlaku.
TAMAT
Happy reading...😊