Bukan kali pertama sepasang sepatu bot coklat yang ujung sol sebelah kanannya sedikit gompel itu bertengger canggung di atas keset “welcome”. Kumasukkan kedua tangan pada saku jaket Miki Si Tikus yang sudah berusia nyaris sepertiga usiaku. Kuedarkan pandangan ke kanan-kiri, sambil berusaha sesantai mungkin menunggu kedatangan si Pemilik rumah. Sebuah pesan yang kukirimkan hanya berisi namanya dengan huruf vokal akhir yang kupanjang-panjangkan dan mendapat undangan untuk bertandang ke rumahnya.
Seperti kukatakan, ini bukan kali pertama aku ke rumahnya. Tapi jelas ini kali pertama aku ke rumahnya tanpa Eja, Umi dan Papi di dalamnya. Angin berhembus cukup sopan di luar sini sampai seakan menembus kaca jendela yang membuat hordeng hijau bercorak bunga matahari terkuak. Sebuah kepala menyembul di sana dengan senyuman dan sebuah kata “wait” terbentuk dari lengkungan bibirnya. Gumam tidak jelas mengantarkan pada segemerincing suara kawanan anak kunci yang digiring dan dimasukkan paksa pada lobang kunci. Hingga, pintu rumah di atas keset “welcome” yang kuinjak, terbuka lebar dengan Eden dibaliknya.
“Masuk,” perintahnya halus.
Sedikit kikuk, aku melangkah masuk yang malah mendapat ocehan seakan aku adalah orang yang akan memasukin rumah hantu. Pintu berdebam tertutup dengan slot kecil digeser oleh Eden di belakang.
“Umi-Papi ke mana?” tanyaku memecah keheningan sembari melepas sepasang sepatu bot dan merapikannya rapat dengan tembok berwarna kuning gading yang sedikit menggelembung-mengelupas di dekat pintu masuk.
“Uak sakit, Umi-Papi jadi pulang. Ga ngerti balik kapan. Si Ejakulasi nginep dari kemarin di rumah temennya, pulang kalo inget,” jelas Eden sambil menggantungkan sekumpulan anak kunci di tembok sebelah kaca dengan ukiran gebyok khas jogja.
Lorong rumah itu sampai ke ruang tengah cukup sempit jika diajak jalan bersisihan berdua. Alhasil, saat aku kembali menegakkan tubuhku tepat di saat Eden berbalik menghadapku. Lalu, jarak kami hanya terpaut satu kaki saja...
*
Helaian rambutnya mengibas perlahan. Serbuan aroma khasnya tiba-tiba menyeruak tanpa aba-aba. Pertahanan belum kubangun sepenuhnya. Aroma samponya yang kuhafal mati setelah empat tahun kami tidak sengaja berkenalan di sebuah taman kota. Aroma bunga segar. Aroma yang entah mengapa menenangkanku yang tidak jelas sejak kapan dimulai.
Oke, temukan dirimu! Temukan dirimu! Sekarang!
“Walau aku tak tahu kapan Umi-Papi akan pulang, tapi setidaknya kita cari aman. Tanpa asap rokok di ruang tengah,” ujarku sambil memusatkan tatapanku pada area di antara jarak dua buah alisnya yang dibubuhi sedikit sentuhan perempuan. Pensil alis, itu kah namanya? “Kamar gua ga di kunci.”
Que mengangguk pelan. Seakang seperti seseorang yang baru dikembalikan dari alam lain. Tapi setidaknya gerakan tipisnya itu meyakinkanku bahwa ucapanku cukup jelas.
“Duluan aja, aku siapkan minum sama cemilan,” ujarku sambil mengambil inisiatif terlebih dahulu menuju dapur dan mendengar langkah ragunya yang menaiki tangga. Setidaknya memperlebar jarak yang nyaris membuat aku kehilangan kesadaran.
Que bukan sosok yang sulit, apapun yang disuguhkan dia akan sungguh menerima dengan baik. Terkadang banyak juga hal yang menjadi komplainnya tapi itu lebih untuk melucu. Que si badut. Tapi si Badut itu cukup diam hari ini. Mungkin kejutan kecil akan sedikit membuatnya kembali mengoceh. Setidaknya, ocehannya menghilangkan kecanggungan yang menyata jika kami hanya berdua di rumahku, untuk pertama kali.
*
Setelah membuka jaket Miki si Tikus, menyimpannya baik di atas ranjang yang seprainya sedikit tertarik keluar aku melangkah menuju jendela. Menyibakkan vitrase dan membuka daunnya luas-luas, tak lupa memasang pengaitnya agar tetap berada di tempat, kupandang hamparan pepohonan hijau setidaknya berjarak dua kilometer dari rumah Eden. Jarang sekali aku melihat pemandangan dengan hawa yang lebih sejuk, karena notabene ini ketiga kalinya aku memandang dari jendela kecil berukuran 2 x 1 meter itu. Biasanya langit lembayung menuju malam mendominasi, tapi udara pukul sembilan pagi ini terlalu tak biasa dan terlalu magis untuk ditinggalkan.
Sayup-sayup kejauhan burung-burung bersahutan, seakan merayu si bola cahaya bernama matahari agar lebih hangat lagi membelai permukaan bumi. Kuhembuskan napas, merasakan sensasi dingin memenuhi rongga hidung dan dada. Hingga sebuah aroma tambahan baru menginvasi indra penciuman dan mengembangkan rasa penasaran untuk menemukan apa penyebabnya.
Eden masuk membawa senampan penuh beisi seteko sedang air ber-es batu, terdengar setiap saat Eden bergerak dan es batu itu beradu dengan dinding teko, dua buah gelas dan beberapa toples berisi camilan.
“Ah, repot-repot,” sambutku sambil mengulurkan tangan hendak membantunya.
“Udah,” Eden melotot sebentar lalu rautnya kembali normal. “Yang ada nanti tumpah,” jawabnya sambil menjauhkan sedikit nampan itu dari jangkauanku.
Akhirnya, kusepak dengan kaki tas yang kubawa di lantai, dan memindahkan beberapa barang di atas karpet agar nampan beserta isinya di tangan Eden mendarat mulus tanpa gangguan. Setelah meletakkan bebannya dengan khidmat, Eden bersila yang juga mengajakku otomatis mengikuti gerakannya. Menyimpan diriku di sisinya, dengan nampan sebagai jarak kami. Kuluruskan kakiku.
“Penuhin,” candanya sambil tertawa mengejek. Menyodorkan asbak hijau kura-kura andalannya.
Aku mengumpatkan kalimat hewan yang kuperhalus dan terkikik pelan. Kurogoh tas yang telah kusepak tadi dan melemparkan korek serta sebungkus rokok yang telah berkurang koloninya seperti pemain gaplek melempar kartunya. Kita sama-sama tahu, babak ceritanya akan di mulai.
***
Mungkin, figur dengan rambut dikuntal asal di atas kepala adalah pribadi yang ingin kau tunjukkan saat kau “terpojok” seperti pagi ini. Berbeda dengan kau yang penuh cahaya dan energi positif, rambut kuntalmu akan terkulai lunglai dan berbentuk sedemikian rupa hingga memandangi tirai rambutmu saja sudah cukup memenuhi energi. Langit-langit kamarku semakin lama semakin pekat walau jendela telah kau buka lebar. Asap itu seakan seperti isi anganmu saat ini, terlalu penuh, terlalu pekat, namun tipis dan mudah terusir, jika kau ingin.
Kau mulai mengatai bosmu. Sepertinya satu orang ini adalah segala kunci kesalahan yang terjadi dalam hidupmu dan dengan akhirnya kau menyadari keteledoranmu menjadi kunci kesalahan yang membuntut. Lalu, anjingmu yang tua itu sudah mulai sering sakit. 3 hari sudah hanya mau makan setengah porsi dari yang biasanya kau sodorkan padanya. Hingga jatuh pada yang membuatku penasaran dan kesal setengah mati. Pacar LDR yang sering kau bilang tak ada rasa namun sudah tujuh bulan kau panggil sayang dan belum ada perubahan.
“Gimana putusinnya, Deeeeen?” Que berseru. Benar-benar seru.
“Kayak lu jadian aja dulu,” jawabku nyaris secepat kuhembuskan napas saat lelah.
“Hah?” kau mengangkat wajah. Kuntalan rambutmu bergoyang. Matamu bulat, tak paham.
Kuhirup rokokku dalam, ini melelahkan. “Se-ran-dom du-lu.”
Kau terdiam, perlahan kembali menunduk. Menekuri ujung celana jins birumu yang koyak lalu beralih menyusuri jalur pada karpetku. “Tapi ga semudah itu.”
“Udah mulai sayang? Bilang aja gitu,” ujarku. Agak terlalu keras dari yang kuperkirakan. Hingga jarimu terdiam. Tenggorokan sialan ini mengering. Kuteguk cepat es teh sereh yang malah membuatku tersedak.
Kau terkejut. Antara suaraku yang terlalu keras atau karena aku yang tersedak. Kau tepuk punggungku agar tenggorokanku lebih nyaman.
“Gak usah marah-marah,” katamu.
“Siapa?” lalu aku terbatuk lagi.
Tanganmu terhenti namun kemudian menepuk lebih keras dari sebelumnya. Membuatku harus memandangmu, pura-pura marah.
“Tuh kan marah,” putusmu.
“Cetakan muka kek gini dari sana,” elakku. Tak terima jika diriku betulan kena tebak sedang marah.
Que menjatuhkan diri tepat di samping, tak dihiraukan lagi jarak yang kami ciptakan dengan nampan berisi segala panganan. Seakan perempuan ini tak akan puas jika merengek dari jarak jauh.
“Aku ingin pulang,” desahmu lalu membenamkan wajahmu diantara lipatan tangan dan kaki.
Kupandang jins birumu hingga ke kuku-kuku kakimu yang dicat oranye dengan warna yang telah hilang di banyak bagian. Ujung celana jinsmu bergetar, semoga badutku tak menangis di sini. Setidaknya jangan di sini, di tempat paling aman sedunia. Aku memperbolehkanmu masuk, membagi tempatnya bukan untukmu menangis. Que...
“Sok, pulang. Ga ada yang larang,” kunyalakan sebatang rokok setelah yang sebelumnya habis tanpa terhirup lagi. “Tapi minimal cuci dulu ini gelas-gelas.”
Jemarimu cepat meraih rokokku sebelum sampai kuhirup kedua kali setelah membara di kepala. Tanpa ampun kau hirup dalam, lama kau tahan hingga kau hembuskan terlalu tipis. Terlalu banyak yang simpan, di dirimu, di lautan hatimu, di palung jiwamu. Tak inginkah kau muntahkan lagi seperti sebelum tujuh bulan yang terbuang sia-sia? Lalu lama, kau menggunakan gaya batumu, membiarkan siasap membawa pergi badan yang lama-lama mengerdil.
Tanganmu yang merengkuh kakimu perlahan melepas pelukannya dan meraih lenganku. Kontras. Kulit susumu terlalu terang untuk kulit kopiku. Seakan cat kuku dan tompel tanda lahir pun menjadi begitu berbeda. Perlahan kau mengangkat kepalamu, kedua matamu mencariku. Kita berpandangan cukup lama hingga kau jengah. Aku tak tahu apa yang kau rasakan, tapi matamu mengatakan kau lelah. Pulanglah, aku selalu ada.
“Badut ga cocok cengeng, mau abis gua panggang?” Aku berdiri, memaksa genggaman hangatnya pada kulitku meluruh. Kuambil remote dan mengarahkannya pada stereo sederhana di kamarku.
“Karaoke!!!” pekikmu senang.
Ada binar yang terselip di kedua iris pekat bola matamu. Kau menyambar sisir di atas kasurku seakan itu adalah pelantang yang membawamu ke atas panggung popularitas. Asapmu bergoyang kacau dari tembakau keretek yang perlahan dihabisi jilatan api. Beberapa abunya luruh ke karpetku, aku tak peduli. Si Badut konyol ini kembali dan seakan aku si Pahlawan yang menghidupkanmu kembali dari mati suri. Itu membuatku melesat jauh ke angkasa. Hanya dengan gagasan itu.
Aku menyalakan speaker bluetooth dan keningmu berkerut. Kucari beberapa lagu yang ingin kudengarkan untukmu dari gawaiku sambil tanganku yang bebas menggoyangkan jari telunjuk ke kanan-kiri menandakan ucapanmu salah. Aku menghancurkan ekspektasimu, kutahu. Tapi ada yang lebih jauh kaubutuhkan dari sekedar menyalurkan lewat teriakan maut kita berdua seperti biasa.
Dentuman bass mengisi ruangan kecil di mana kita sudah bersembunyi dari pekatnya dunia. Kau mulai manggut-manggut mengikuti beat yang ada walau wajahmu tak bisa memalsukan kecewa. Aku melempar gawai itu ke kasur, membiarkan ia melakukan tugasnya dan giliranku memastikan kau mendapatkan seharusnya yang kau dapatkan.
“Shall we?”
*
Eden menggantung tangannya tak jauh dari wajahku. Sisir plastik yang kugenggam erat kusimpan rapat di sisi nampan. Tugasnya jadi pelantang sepertinya belum diperlukan.
“Apa?” kupandang tapak tangannya dan memandang matanya, bertanya.
“Sambut saja tanganku,” telapak tanganmu bergerak.
“Ah, rokokku,” aku mengangkat tangan kiriku menunjukkan padanya.
“Rokokku,” suaranya jengkel. “Lagian, sundutan rokok saja tak akan menyakitiku, ayolah,” ungkapnya dengan gesa.
Kusampirkan telapakku pada telapaknya. Ujung jari telunjuk dan tengah masih setia mengapit kretek beraroma melati itu. Tarikan lembut namun tegas dengan lugas mengajakku berdiri dan menyambut ajakannya. Dibimbing lembut tangan kananku yang bebas agar menetap pada pundakmu dan akhirnya tangan itu bersinggah aman pada punggung bawahku.
“Dansa? Siapa di antara kita yang bisa?” gelakku.
“Entah, mungkin kau bisa menuntunku. Atau sebaliknya. Atau kita saling menuntun,” ucapmu ringan. Mencari irisku. Kucari irismu. Lalu sejenak, kau menuntunku kerengkuhan bernama tenang semua akan baik-baik saja.
Beberapa kali langkah kita saling ingin mengalahkan, pekikkan bersahutan. Entah karena kaki yang menginjak atau terkadang abu rokok yang masih mengandung gumpalan api menggelinding antara kau dan aku.
“Den, yang benar saja!” umpatku kesal namun tawaku makin keras. Aromanya. Suaranya. Hembusan napasnya. Menjagaku.
“Apa?” tanyamu tak kalah gelinya dari tawaku.
“We are not Holiwood,” beberku.
“Imagined it awhile,” ucapmu sembari mengalahkan suara musik yang mengurung kita berdua.
Hingga tanganmu yang menggenggamku, menginggalkan tempatnya dan bersatu dengan tanganmu yang tegas melingkar pada pinggangku. Kutempatkan tanganku yang berasap itu di balik tengkukmu. Tak ada takut tersundut, seakan kau percaya aku tak akan pernah menyakitimu. Kuselipkan kepala lelahku di ceruk antara pundak dan garis tegas rahangmu. Kuperhatikan rambut tipis yang ingin menyembul keluar dari bawah permukaan kulitmu. Pori-pori besar yang tersebar di sana. Kedutan urat nadimu yang cepat, terkonfirmasi dari degupan jantung yang kurasa mengantam dadaku.
“Jika aku hilang, tolong temukan aku kembali,” ucapku pelan. “Izinkan aku bersembunyi sebentar, di sini.”
Eden tak menjawab, namun kedua tangannya membawaku semakin rapat dengan tubuhnya. Ya, jawabmu. Bersembunyilah selamanya, jika perlu. Kupejamkan mata, menikmati aromamu, jiwamu.
“...And here comes the light That really show me what is real Deep in the ocean You become my lover and my bestfriend Tell me everything about you Never felt like this before The love feels so true...” – Just You (Teddy Aditya)