Ketika mempunyai hobi memotret membuat setiap momen menjadi kenangan dapat dipegang. Bermodal dengan gaji pertama aku bekerja sebuah kamera dengan harga standar menemaniku dalam mengabaikan setiap momen.
Seperti sore ini, kerjaanku beres dengan cepat dan membuatku bisa pulang lebih awal. Hal ini langsung aku gunakan untuk merefresh jiwa dan ragaku dengan memotret.
Memotret bisa dilakukan dimana saja. Kali ini aku ingin mengunjungi candi peninggalan jaman dahulu yang terkenal dengan kisah percintaanya.
Bonus memang mengunjungi situs peninggalan jaman dahulu selain sejarahnya banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan kita.
Aku bergegas untuk pergi ke salah satu candi yang ada di Jawa Tengah. Bermodal sepeda motor, kamera dan sisa uang yang ku punya aku berangkat sendiri tanpa mengajak teman lainnya.
Bukanya tidak mau mengajak, faktor keinginan mendadak membuatku lebih nyaman pergi sendiri dan menikmati me time.
Selain itu aku lebih leluasa untuk memotret saat sendiri. Seberapa lama ku menangkap sebuah momen itu tak bisa ditentukan sampai aku merasa puas mendapatkan hasil foto yang ku inginkan.
Tiket sudah ditangan, ku langkahkan kaki menyusuri setiap bangunan.
Takjub pasti, walau ini sudah ketiga kalinya aku kesini. Terlebih ini sore hari, membuat terik matahari tak terlalu menyilaukan. Semilir angin sore ditemani cahaya yang perlahan akan redup.
Ketika mataku melihat suatu objek langsung aku mengarahkan kameraku ke objek tersebut. Entah berapa jepretan yang aku ambil. Aku tak menghitungnya.
Satu bangunan sudah ku susuri, kini aku pindah ke bangunan yang lebih besar. Saat berjalan mengelilinginya tak sengaja aku menangkap sudut bangunan yang cukup menarik untuk difoto. Aku langsung mengambil beberapa sisi untu nanti aku pilah.
Saat sedang asik memotret dari belakangku ada pengunjung yang sedang berkeliling juga.
"Permisi" kata rombongan ibu ibu yang langsung aku balas dengan minggir ketepi memberikan jalan kepada rombongan itu ditambah senyuman manis.
Saat rombongan itu sesaat sudah lewat aku lebih memilih melihat layar kameraku untuk mengecek hasil yang tadi.
"Hmm kurang deh. Coba lagi." Ucapku sendiri lalu mengarahkan kamera ke sisi bangunan tadi.
Cekrek
Deg
"Waw!" Ucapku dalam hati.
Keren yah, disana aku melihat sosok pria sedang berjalan dan tak sengaja aku memotretnya dari belakang. Biasa aja sih mungkin buat orang lain. Namun aku merasakan hal berbeda. Ditambah ketika aku melihat secara langsung.
Saat itu aku meihat cahaya matahari sedikit ke oren an yang seakan membelah bangunan candi itu. Sayang sekali keindahan yang dilihat dimata tak sesempurna itu ketika ditangkap melalui lensa kamera.
Perlahan pandanganku kehilangan objek itu. Laki laki itu memang terus berjalan.
Hal ini membuatku ingin mengikutinya. Langkahku terus dibelakangnya.
Bahkan ketika ku mendapati moment dirinya sedang melihat lihat sisi bangunan terlihat sangat epic bagiku.
Aku dalam jauh terus mengamatinya tanpa sepengetahuan laki laki itu. Entah dia siapa, namun dia membuatku selalu ingin memotretnya.
Tindakanku seharusnya tak benar memang mengambil foto orang lain tanpa ijin. Namun ego ku terus menginginkan untuk mengambil setiap momen yang ia lakukan.
Hingga aku lelah berjalan, dengan berat hati aku menghentikan langkahku dan berhenti mengikuti sosok itu.
"Biarlah capek." Ucapku sendiri sambil duduk di kursi bawah pohon.
Haus dan lapar yang ku rasakan saat ini. Efek sesudah pulang kerja aku tak makan dulu hingga aku sudah disini saat ini.
Sayang seribu sayang, botol minumku tertinggal di jok motor. Aku lupa membawa saat masuk tadi.
"Aish, kenapasih teledor banget aku" ucapku ngomong sendiri.
Yaudah aku beristirahat sejenak sambil melihat foto foto yang ku ambil tadi.
Ternyata sudah terlalu banyak yang ku ambil. Bahkan aku sudah menemukan foto favoritku.
Aku pandangi foto itu terus menerus dengan beberapa kali zoom in dan zoom out.
Grep
Ada orang duduk di sampingku. Aku langsung menoleh ke sumber suara.
"Hai, gue ikut duduk ya." Ucap orang itu membuatku kaget.
Sangat kaget
Bahkan aku tak bisa berkata kata dalam beberapa detik. Hingga dia menjentikan jari didepan mataku dan membuatku sadar.
Klik
"Eh iya... iya.... si... sil... silahkan!" Ucapku gugup.
Gimana gak gugup, orang yang baru aku pandangani di layar kameraku kini duduk disampingku.
Oh tuhan, aku harus gimana ini. Salah tingkah beneran ini.
"Apa aku pergi aja ya?" Ucapku dalam hati.
Namun seakan mendapat bisikan aku tak jadi beranjak pergi.
"Keren juga foto gue." Ucap laki laki itu membuatku tersentak.
"Boleh liat?" tanya laki laki itu dengan pandangan ke kamera yang berada di tanganku.
"Hmm maaf maaf, saya gak... gak bermaksud jahat. Maaf sudah memotret anda. Maaf." Ucapku memohon maaf ke orang itu.
"No problem, boleh liat?"
"Owh ini" ucapku menyerahkan kameraku kepadanya.
Dia melihat dengan serius ke layar kameraku. Sungguh dalam posisi seperti ini sangat membuatku takut. Pikiranku kemana mana sekarang, bahkan aku membayangkan mungkin orang ini bakal menghapus fotonya dari kameraku.
Atau bahkan dia bakal menyeretku ke kantor polisi dan melaporkan atas memotretnya tanpa ijin.
Hua aku benci pikiranku saat ini. Aku tak berani menatap wajah orang itu untuk melihat apa yang dia lakukan sekarang. Aku berusaha mengatur kata kata untuk pembelaan nanti. Namun seperti otakku tak dapat diajak kompromi. Aku tak bisa berfikir sekarang.
Frustasi aku mulai detik ini.
"Udah berapa lama motret?" tanya laki laki itu.
"Ha.. owh emm cuma iseng aja kok bukan buat apa apa. Maaf kalau anda keberatan bisa kok dihapus tapi jangan laporkan saya ke polisi ya. Saya tak ada maksud jahat memotret anda. Saya mohon maaf." Ucapku memohon kepadanya.
Tik
Tok
Tik
Tak ada respon, aku memberanikan diri untuk melihat kearahnya.
Cekrek
Aku terkejut, laki laki itu memotret secara tiba tiba.
"Pftt, Hahahaha." Laki laki itu tertawa sekarang membuatku penasaran. Apa yang berhasil di dapatkan dari fotoku.
Duar.....!!!!
Muka komukku yang membuatnya tertawa terpingkal pingkal.
Sungguh ini hari paling memalukan untukku. Malu ketahuan memotret orang, malu muka komukku yang tak terkondisikan tertangkap kamera yab walau punya sendiri. Namun ada orang lain yang melihat.
Huaa mimpi apa semalam aku.
"Sorry, gue ketawa. Tapi its funny. You look like..." ucap laki laki itu sambil memeragakan ekspresi muka komukku itu.
Diam aku hanya diam, aku tak kuasa mebgeluarkan suara saat ini. Sudah sungguh memalukan.
"Ups sorry kalau gue nyinggung loe" ucap datar laki laki itu.
Akupun heran kenapa dia yang minta maaf ya?
"Lho kok anda yang minta maaf. Harusnyakan saya yang tanpa izin memotret anda....." belum selesai ku ngomong dia sudah mengulurkan tangan ke padaku.
Aku menyengir sebentar lalu menyambut tangannya untuk berjabat tangan.
"Gue Leo. Siapa nama loe?"
"Owh iya saya Nala."
"Cute name."
"Hmm owh terimaksih."
"Loe sendiri?"
Aku menjawab dengan anggukan.
"Gue juga. Habis ini langsung pulang?"
"Belum saya mau nunggu sunset dulu di bagian sana habis ini"
"Wah seru tuh. Can i join with you?"
"Ha...?"
"Boleh aku ikut ke tempat yang kamu maksud. Gue juga pengen liat sunset"
"Owh ok"
"Yaudah ayook"
"Lah.. Fotonya? Anda.... foto... ga.." ucapanku gugup langsung dipotong olehnya.
"No problem, I like it. Mungkin entar lo bisa kirim ke gue ya. Let's go!!" ucap laki laki itu sudah berdiri tegap
Aku langsung mengikuti berdiri dan berjalan bersama menuju salah satu wilayah bagian dalam candi yang dapat melihat semburat cahaya matahari saat tenggelam dan dengan view candi tersebut.
Kami berdua duduk beralasan ruput hijau. Beberapa obrolan kecil menyelangi kami. Beruntung disini ada pengunjung lain juga yang duduk disekitar kami. Hal ini dapat membuatku sedikit menyibukkan diri untuk melihat orang lain.
Ini aku lakukan karena aku masih deg deg an saat bersamanya. Terlebih aku ke gap memotretnya. Semoga ia benar benar tak mempersalahkan ini nanti.
"Hei look that!!" seru Leo yang duduk disampingku sambil menujuk e arah depan.
Uwaw yah ini waktunya. Bukan hanya golden our. Ini pemandangan dimana bangunan candi menjadi silulet dan dibelakangnya langit kebiruan dibagian atas lalu bergradasi orange sampai ke bawah.
Tak ku sia siakan momen ini. Aku langsung mengarahman kameraku untuk mengabadikannya. Sungguh ini sangat cantik.
"Beautiful" ucap Leo membuatku menoleh ke arahnya.
"Iya cantik" balasku kembali menatap ke depan.
Kami kembali saling diam menatap pemandangan di depan. Akupun sudah cukup mengambil foto momen ini membuatku tinggal menikmatinya sebelum entar menghilang.
"Thanks Nala. Berkat lo gue bisa liat kaya gini."
"Owh ok." balasku singkat karena aku juga bingung harus menjawab seperti apa.
"Huftt jadi tambah berat" kata Leo membuatku heran. Berat apanya?
"Its last day I'm in here...." imbuh Leo seakan menjawab pikiranku.
"Emang anda asal mana?"
"Panggil gue Leo aja. Gue rasa umur kita gak terlalu jauh."
"Owh maaf Leo."
"Gue nanti malam balik ke USA. Dan ini hari terakhir gue di Indonesia lebih tepatnya di sini. Gue gak tau bakal kapan lagi kesini. Berat banget rasanya sekarang" ucap Leo mengeluh sedih hingga aku sedikit bergetar merasakan apa yang dia rasakan.
Aku menjadi penasaran dengan Leo ini. Namun aku tak berani bertanya lebih lanjut. Berhubung kami baru berkenalan beberapa menit yang lalu.
"Kenangan gue sama kakek nenek gue disini. Tapi dulu waktu kecil gue gak inget ada tempat ini" ucap Leo membuatku menoleh lagi ke arahnya.
"But, sekarang gue harus meninggalkan kota ini. Hah...." imbuh frustasi Leo.
"Kan Leo bisa berkunjung sebentar kesini kalau liburan atau apa" ucapku hati hati karena aku tak mengetahui banyak tentang dirinya.
"Udah gak ada alasan lagi buat kesini Nala. My grandpa and grandma udah disana" sahut Leo sambil mendongkakan kepala ke atas.
" Owh maaf, saya gak bermaksud." balasku kikuk duh salah omong lagi. Nala oh Nala.
"Entah gue bisa balik kesini lagi atau engga. Itu yang bikin berat banget. Aku takut aku gak bisa kesini lagi." kata Leo sambil menatapku dengan mata yang sedikit berkaca kaca.
Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Sebagai orang asing, rasanya kurang pas kalau bertanya lebih banyak tentang dirinya. Aku memilih menjadi pendengar dibanding menjawab setiap pemikirannya.
Leo terus berbicara tentang kapan ya dia bisa balik ke kota ini.
Hingga cahaya langit berubah menjadi gelap. Lampu taman sudah menyala. Kami pun beranjak untuk kembali menuju pintu keluar.
Setelah berjalan beberapa menit, aku dan Leo berhenti sejenak selepas pintu keluar.
"Makasih ya Nala. Sorry lo malah dengerin curhatan gue."
"Sama sama Leo. Saya juga minta maaf udah lancang memotret tanpa ijin. Owh iya untuk fotonya mau saya kirimka lewat email gimana?" tanyaku dengan sopan.
"Kenapa email? kamu keberatan kah kalau nyimpen nomer gue?"
"Ha? eh gak juga. Takutnya saya nanti..."
"Udah sini mana ponsel lo"
Aku langsung mengarahkan ponselku kepadanya. Dia langsung menuliskan nomernya dan me-misscall ke nomer itu.
"Save ya, jangan lupa kirim"
"Ok. Yaudah kalau gitu Nala pulang dulu"
"Ok bye... I hope we meet again Nala"
Kami berdua berpisah menuju tempat parkir kendaraan masing masing.
Sesampainya aku dirumah aku langsung membersihkan diri lalu memindahkan file foto tadi ke laptop. Aku tak lupa memilah milah foto Leo yang sengaja aku ambil. Aku beri sedikit sentuhan perbaikan tone warna foto tersebut.
[Picture]
[Picture]
......
(Semoga foto ini bisa menjadi obat rindu kota ini. Leo you will back here again😊)
Send.
Total ada 8 foto yang ku kirimkan. Satu foto yang aku kirimkan saat kami menikmati sunset tadi. Yah Walau tak ada muka dia disana. Tapi dalam foto itu terlihat cantik kala warna langit yang bergradasi dan view candi yang silulet.
Namun aku menyukuai foto pertama kala aku tak sengaja memotretnya saat berjalan. First take and epic.
Dling
Leo membalas pesanku.
(You're welcome. Balik USA kapan emangnya? Safe flight ya)
Deg.
Aku kaget membaca pesan itu. Langsung saja aku balas.
(Apa?)
Ha? kaget jelas. Aku bingung sekarang. Sejam lagi dia terbang ke USA. Tapi kenapa ia ingin bertemu denganku lagi. Kita hanya orang yang baru kenal. Akankah ku mengiyakan atau menolak permintaannya?
Bingung oh sungguh bingung.
(Ok, kita ketemu di bandara langsung aja kan?)
Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya kembali sebelum dia pergi.
Dengan sepeda motorku akhirnya 25 menit kemudian aku sampai ke bandara. Langsung ku telfon Leo menanyakan posisinya dimana. Dia memberi arahan ke padaku hingga mataku tertuju oleh sosok laki laki yang baru ia kenal tadi sore.
"Hei!!" Serunya saat kami melihat satu sama lain. Aku langsung menyamperinya dan memberikan paperbag yang aku bawa.
Itu terdapat sebuah frame yang aku punya. Yah walau aku tak sempat mencetak fotonya. Namun aku memberikan Frame 3D berwana hitam dengan ukiran di sekeliling frame.
"Ini apa?" tanya Leo.
"Buah tangan hehehe. Maaf aku gak sempet bawain apa gitu selain ini."
Leo tersenyum sejenak menatapku membuatku malu. Asli malu ditatap cowok kaya gini.
"Thank you so much Nala." Ucap Leo sambil menerima paperbag itu dariku.
Sesaat setelah itu, terdengar announcer tentang keberangkatan pesawatnya. Oh tidak singkat sekali pertemuan kami disini.
"Tuh sana check in dulu. Safe flight Leo..." ucapku sambil melambaikan tanganku dengan seceria mungkin. Aku berusaha membuat situasi yang menyenangkankan.
"Can I hug you?"
"Ha?"
Grep
Leo memelukku sebentar lalu mengusap kepalaku.
"Thanks for today. I hope we can meet again. Wait me please. I will come here for you again"
"Love you Nala. Bye...."
Sungguh aku membeku mendengarnya. Ini mimpi atau bukan. Oh tuhan aku harus bagaimana. Dia sudah masuk dalam gate aku masih terdiam dan memandangnya. Leo bahkan beberapa kali melambaikan tangan ke arahku dengan senyum manisnya.
Sedang aku, aku tak tau ini perasaan apa.
Dia sekarang telah pergi dan aku hanya bisa memandang foto foto yang kumiliki.