Terhitung sebulan pernikahanku dengannya yang sama sekali tak kucintai.
Ya, kami dijodohkan. Pernikahan ini berjalan begitu saja. Tanpa ada sebuah kebahagiaan. Ah, aku jadi dibuat dengan seorang pria di masa lalu. Dialah yang ku harapkan menjadi imamku hari ini. Sebuah kesalahan fatal yang dilakukan terlebih dahulu membuat sakit hati bahkan sampai sekarang hal itu masih memutar di otakku. Tuhan pun berkata lain. Aku harus menikah dengan seorang dokter rupawan yang tampan namun berhati dingin. Yang semoga saja bisa lebih baik dari masa laluku.
Pernah mantanku itu mengancamku agar aku kembali kamu. awalnya dia hanya meminta maaf dan aku pun memaafkannya tapi tidak untuk kembali. Hari demi hari mantan pacar ku berperilaku ekstrem. Mungkin depresi, pikirku. Mengirimkan foto yang telah tergores oleh dirinya sendiri. Sejak saat itu aku menjadi takut dan tak ingin bertemu dengannya lagi sekali pun.
Aku televisi. Sekedar mencari informasi terbaru di dunia kelam ini. Sebuah berita menarik perhatianku. awal ku simak penjelasan dari sang presenter.
"Satu keluarga tewas dibunuh oleh seorang pyscho. Orang yang melakukan pembunuhan bukan hanya sekali atau dua kali di atas menyimpulkan bahwa orang ini menderita penyakit mental atau bahkan bisa disebut psikopat. Namun, ya sampai sekarang orang itu tidak berhasil pihak kepolisian."
Aku bergidik seketika ngeri. Lalu, ku simak kembali sang presenter itu.
"Berikut sedikit data diri yang berhasil ditemukan. Diduga ia adalah seorang pria berumur kurang lebih 28 tahun. Memiliki nama lahir Yunki . Aksi ekstrimnya ini bermula pada masalah yang dialaminya 8 tahun yang lalu."
Mendengar lanjutan dari sang presenter aku terkejut bukan main. Nama serta umur pembunuh itu sama dengan mantanku dulu. Juga yang membuatku tambah yakin. masalah mula ia membunuh, karena percintaan. Ku mencoba berpikir positif hanya nama serta umurnya saja yang sama. Tidak mungkin hanya karena ku putuskan hubungan dengannya menjadi seperti itu.
Suasana di rumah sungguh sepi. Suamiku masih bekerja di luar kota. Inilah setiap hariku sendiri di rumah. Mendadak perut ku bunyi tanda diisi. Segera aku menuruni anak tangga menuju dapur.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu terhenti langkahku. Apa itu pria yang sekarang sebagai suamiku? Ah tidak mungkin. Dia bilang akan pulang 5 hari lagi dan ini baru 3 hari dihitung sejak awal kepergiannya dari rumah.
Tak mau lagi berpikir panjang aku langsung berjalan ke pintu utama rumah dan langsung membukanya. Pertama, ku lihat suamiku masih dengan seragam dokternya. Dia sudah pulang? Mungkin waktu kerjanya dipercepat, pikirku. Namun, ada seorang yang menarik perhatianku. Dia adalah seorang pria yang berdiri tepat di samping suamiku. Dengan busana serba hitam. Pria itu menurunkan pandangannya dan melihat kembali.
"Oh halo." Sapanya padaku yang hanya ku balas dengan senyuman tipis. Dia membocorkan ku lama. Apa dia mengenalku? Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya. Masker yang menutupi wajahnya membuat ku tak bisa mengenali.
"Sepertinya kita pernah bertemu nih,"
Persis dugaan dia hampir mengenaliku. Mungkin agak lupa.
Tiba-tiba suamiku dengan santai langsung masuk melewati kami. Aku lupa kita masih di ambang pintu masih dalam posisi berdiri. Segera ku persilahkan tamu ku untuk masuk.
Kami kemudian duduk di ruang tamu. Pria yang masih belum memberi tahu namanya itu mulai membuka maskernya. Aku yang sedari penasaran langsung fokus pada Anda. Sisi kanan tampak. Berasa slow motion kalau begini. Hampir seluruh wajahnya terlihat.
"Buatkan kami minuman." Suamiku memudarkan pikiranku juga pria itu ikut berhenti membuka topengnya.
"Baiklah, Tunggu sebentar." Aku beranjak ke dapur. Membuatkan 2 teh hangat seraya untuk menghangatkan tubuh mereka dalam suhu yang cukup rendah ini. Mengaduk kemudian setelah memberi gula secukupnya.
Akhmm...
Ku dengar rintihan seseorang. Seperti habis ditikam dengan pisau di bagian perut. Ya, aku berpikir begitu karena aku dulu adalah seorang jaksa yang sering menangani kasus-kasus pembunuhan. Kini ku berhenti mengaduk. Pikiranku tak tenang. Rintihan siapa itu. Aku benar-benar takut sekarang. Ku tarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ku bawa 2 gelas itu dengan nampan kecil kembali ke ruang tamu.
"Ini minum--"
Prakk..
Jantungku seolah-olah berhenti peduli. Tak percaya dengan pemandangan di depan ku. Tanganku tergerak menutup mulutku yang ternganga masih tak percaya dengan yang ku lihat sekarang.
Pria yang sekarang menjadi tamuku. Dia.. dia menikam suamiku. Tak lama pria itu menoleh kepadaku. Tak lagi dengan masker yang menutupinya tadi. Aku berjalan mundur, takut dengan cintanya.
Lain hal dengan pria itu, ia menghampiriku. Memberi mematikan. Wajahnya nampak familiar. Benar! Dia mantanku dulu!
"Halo Yeji, sudah lama kita tak bertemu." Ia tersenyum padaku.
Semakin membuatku takut. Berjalan mundur, lagi. Sial! Tembok menahan. Aku tidak dapat melakukan apa pun sekarang.
Pria bernama Yunki itu mendekat. Kemudian, tangan kanannya menempel di dinding di belakangku. Wajahnya mendekat. Keringat mulai bercucuran di pelipisku.
"Akhirnya ku temukan alamat rumahmu. Kau tahu, aku ini teman dari pria yang sudah tewas itu di sofa. Kau pikir aku cemburu? Yups, benar-benar cemburu aku cemburu. Dan siapa pun yang macam-macam denganku dia akan seperti suamimu."
"Mengerti sayang?"
Aku terus berdoa pada sang maha pencipta. Ku harap dia kasian padaku.
"A-ku mohon m-maaf." Titahku dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Hm..,"
Akkhh..
Darah mulai mengalir di pipiku. Sakit sekali rasanya.
"Akh.. sakit. Yung tolong m-maafkan aku. Amp-puni a-aku."
Berjuta kali ku memohon. Namun, hasilnya nihil. Di hari itu juga nyawaku melayang dengan puluhan luka di sekujur badan.
.
.
.
.
.
Bersambung...