Buka pagar yang kutemui adalaha rintik hujan. Rintiknya yang sangat banyak. Dalam hati aku bertannya. Sampai kapan rintik ini? Akan kah menjadi besar dan disertai angin kencang?
Semoga saja tidak.
Ya benar, tidak terjadi. Aku bersyukur karena hari ini aku akan berlibur ke rumah nenek.
Aku mengeluarkan sepeda motorku. Jam menunjukan pukul sembilan pagi. Ya hujan yang tadi hanya gerimis.
Menjalankan motorku. Udara cerah, matahari bersinar. Namun tidak terlalu panas.
Ada beberapa titik tempat untuk mecapai rumah nenek.
Titik pertama. Aku akan melewati rel pertama, keluar dari perumahan, aku menyeberang, jalan raya, penuh dengan kendaraan. Di kiri jalan aku melihat mobil menjual es kelapa. Aku mengenalinya, itu tetanggaku. Rajin juga.
Melewati beberapa kantor pemerintahan. Ya aku akan melewati kota. Kota terbesar kedua di Indonesia. Pagi hari padat merayap. Aku memikmati setiap lampu merah di jalan utama kota.
Melewati rel keduaku, yang di apit tempat perbelanjaan besar juga rumah sakit islam besar.
Aku berjalan, melewati kebun binatang, aku melongok sebentar, tak terlalu ramai antrian, tetapi banyak polisi yang berjaga.
Memasuki tengah kota, tiba-tiba ada motor dengan suara kencang menyalipku. Membuat tak fokus. Bukan motornya tapi suaranya. Ya ia meluncur dengan cepat dan tak terlihat.
Sampai satu lampu merah dengan speaker suara gubernur saat ini memberi wejangan membuatku lupa dengan motor berisik itu. Sedetik, semenit daaann aku merasa apa kita perlu mendengarkannya hingga selesai?
Sangat lama. Wejangan yang yah begitu, no heart feeling pak! Hormat!
Lampu berganti hijau. Aku meluncur bersama motorku. Menikmati lebarnya jalanan. Dengan banyak pabrik juga tempat dilalui berbagai truk tronton pengangkut peti kemas.
Titik kedua. Jalanan lebar dengan banyaknya motor dan mobil dengan kecepatan tinggi. Juga truk-truk nya.
Banyak disini tempat parkir untuk peti kemas karena tempat ini dekat dengan pelabuhan.
Juga rel ketigaku, memasuki pabrik-pabrik dengan truk tronton bermuatan yang membuatku berdigik ngeri jika beejalan disampingnya.
Ada jembatan dengan air pasang. Jalanan yang begitu lebar mengerucut. Menjadi kecil dengan hanya dua mobil. Berjejer rumah-rumah penduduk tak lama jalanan menjadi lebar kembali.
Aku melihat suami istri renta mengendarai motor tuanya dengan knalpot berasap.
Dibelakangnya ada sepasangan muda mendekati motor suami istri renta itu. Aku mengikuti dibelakangnya.
Aku melihat pasangan muda itu mengiring pasangan renta itu pada sebuah bengkel. Aku berinisiatif berhenti lalu mendekat pada perempuan muda dan bertanya.
"Ibu bapaknya ya mbak?" Ia menggeleng. Aku tersenyum.
"Bantu ya mbak?" Tanyaku.
"Iya mbak" si mbaknya tersenyum,
Aku merogoh kantong depan tasku lalu mengenggam kertas dan memberikannya pada mbaknya.
"Ini mbak tambahan bapaknya buat benerin motornya, saya duluan ya" aku menyerahkan lembaran merah pada perempuan muda.
"Makasih mbak" si perempuan muda itu mengangguk padaku.
Ya aku melanjutkan perjalananku ke titik ketiga.
Titik ketiga. Welcome kota ke dua, melewati sebuah jembatan dengan monumem penyanbutan. Aku membelokkan sepada motorku ke kiri. Jalan pintas. Jalan para truk tronton lewat.
Karena jika aku mengambil jalan lurus. Aku akan melewati kotanya yang pasti memutat dan macet.
Aku melewati tempat kuburan salah satu wali songo. Jika kota dengan jalan lurus. Beda dengan jalan yang aku lewati ini. Jalan berkelok dengan banyak turunan juga tanjakan yang sangat menungkik.
Tapi aku senang karena banyaknya lahan kosong dengan banyak pepohonan rindang. Juga beberapa kali aku berjumpa dengan delman.
Dan aku melihat ada kandang kuda di pinggir jalan. Mereka akan berangkat menuju kuburan wali songo itu. Delam menjadi salah satu wisata disana. Nanti kamu akan diajak berkeliling. Kota wali itu. Mungkin seperti napak tilas, ntah.
Duh! Jalanannya tak terlalu bagus, aspalnya bergelombang.
Titik keempat. Dua masjid di belokan jalan. Masjid pertama. Masjid lama yang megah dengan banyak pedagang kaki lima berjualan. Masjid berwarna hijau itu sangat megah.
Berdekatan dengan tempat perbelanjaan besar. Aku berpikir, tempat perbelanjaan itu dibuat khusus, untuk karyawan pabrik semen. Karena ada kedai kopi duyung hijau, juga tempat nontong mehong yang katanya lebih bagus dari ibukota.
Tepatnya didekat kantor gubenur kota itu. Aku bergerak lurus dan melewati bundadan yang akn bertemu dengan masjid kedua, masjid baru yang juga tak kalah indah.
Titik kelima ini jalan panjang luruuuuuussss tanpa terputus. Mengikuti jalan rel kereta yang ada disisi kiriku.
"Eh ada kereta lewat." Suara dari portal kereta berbunyi. Denga portal berwarna merah dan putih khas milik pintu lintasan kereta.
Aku menunggu, aku biasa menumpang kereta dari ibu kota ke tempat nenek juga dengan kereta. Suara klakson kereta terdengar dari kejauhan.
Ia mulai mendekat, kereta panjang baru saja melintas. Kembali fokusku pada jalanan. Dan suara berisik motor menyalipku. Motor yang tadi.
Aku hanya melihat motor itu sebal. Dan melanjutkan jalan panjang. Aku sampai pada pasar di pertangahan perjalananku. Pasar yang biasa membuat macet. Namun kini tidak. Pasarnya cukup sepi.
Melewati pasar, akubakan menemukan jalan panjang dengan jalanan dengan coran baru. Jalan baru yang mulus. Dan membuatku suka.
Walau kanan kiri banyak tambak ikan, juga angin yang berhembus seperti membuatku melayang. Untungbaku menggunakan jaket dua lapis.
Bisa-bisa masuk angin aku.
Aku melanjutkan perjalanan. Hingga sebuah gapura kota yang aku tujuh menyambutku. Gapura besar dan kokoh dengan ukiran indah. Pasti waktu pembuatannya memakan biaya yang besar pula.
Ya dari sini mungkin akan memerlukan waktu 20 menit. Untuk sampai ke titik enam. Sampai di rel terakhir yang akan aku lewati. Berarti sebentar lagi aku berada di kota tujuanku.
Titik ke enam. Pusat kota menuju rumah nenek. Ya namanya pusat kota pasti ramai. Apalagi alun-alunnya. Sudah. Macet? Pasti. Tapi tak sepadat itu.
Disini biasa aku membeli bahan kue yang akan aku buat dirumah nenek. Aku melipir sebentar. Ada yang berjualan corndog menggodah disana.
Corndognya menul menul, dan lucunya ia sudah digoreng. Jadi terlihat seperti donat.
Aku membelinya buat cemilan nanti dirumah nenek.
Aku melanjutkan perjalananku, memasuki jembatan besar pemisah kota dan pedesaan.
Titik terakhir. Jalan meleleh. Aku namai jalan meleleh ya soalnyaaspalnya meleleh. Karena banyaknya truk besar dengan muatan berat lewat jadi membuat jalannya rusak.
Selain harus hati-hati juga ekstra masker debunya berterbangan, udara panas menyengat menabah susah untuk bernafas. Padahal bukan lalu waktu aku kesini, jalanannya malah kebanjiran. Jalan besar ini diapit oleh sungai.
Dan persawahan dikanan kiri juga. Sebenarnya sangat sejuk jika debu ini tak mengotori udara.
Aku sempat singgah kewarung untuk membeli es batu juga nutri sari jeruk peras panas-panas begini pasti segar.
Melewati jalanan yang berbatu aku memacu motorku hingga ujung jalan buntu. Dan membelokkan ke rumah dengan bangunan besar.
"Assalamualaikuuuuummm" teriakku setelah melepas helm ini.
"Akhirnya datang juga cucu nenek" wanita 64 tahun itu menyambutku. Memelukku yang masih duduk diatas motor. Wanita cantik kesayanganku ini. Kupeluk erat dirinya.
"Arin pulang nek"