Anis tak sadar jika selama ini memiliki seorang tetangga yang masuk kategori tampan. Saking cuek dan sibuknya Anis, sampai tak menyadari kapan lelaki yang ternyata bernama Rangga itu mulai berdomisili di depan rumahnya.
Hal itu sangat berbanding terbalik dengan sang mertua juga ibu-ibu kompleks lainnya yang ternyata selama 2 bulan terakhir sangat getol, nongkrong di teras rumah Anis, demi bisa bertegur sapa dengan tetangga idola tersebut.
Dengan beraneka ragam modus para ibu ibu itu lakukan di teras rumah yang bagai sentral wadah berkumpul. Mulai dari saling bertukar Info masalah kecantikan, berbagi resep makanan sampai bercerita tentang model-model baju. Semua di bahas, bahkan tak jarang mereka juga mengadakan jualan kecil-kecilan.
Agar komumitas itu terlihat berfaedah, sehingga modus mereka mengicar aktivitas Rangga tersamarkan.
Sejak itu, Anis pun jadi terketuk hatinya untuk kepo tentang keseharian Rangga. Kebetulan kamar Anis di depan, jadi kadang ia sengaja tidak menutup tirai depan jendelanya demi diam diam memperhatikan gerak Rangga yang hanya terlihat keluar masuk rumah di jam jam tertentu.
Satu tanda tanya besar yang ada di benak Anis adalah Rangga yang terlihat sibuk, namun tak pernah kelihatan bersama orang lain dalam rumah itu.
Di suatu pagi saat Anis akan bersiap ke tempat kerja, seperti biasa jika ia sedang berdandan. Ia hanya menggunakan daster rumahan.
"Ma... Mama. Udah sarapan. Bareng yuks." Ujar Anis yang sebelum mandi tadi sudah memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.
Tetapi alangkah terkejutnya Anis melihat mama mertuanya itu tersandar di sofa tengah rumahnya.
"Ma... Mama. Kok tidur di sini?" Anis menepuk pipi bu Meriam pelan. Tapi mertuanya tetap tak bergeming.
Anis panik, segera berlari keluar rumah untuk mencari siapa saja yang bisa menolongnya.
"Tolooong... Tolong." Teriaknya panik sambil mondar mandir di depan rumahnya, berharap ada yang memperhatikan kepanikannya.
Perjuangan Anis tampak sia sia, sebab di jam itu orang banyak berseliweran untuk berangkat ke tempat kerja masing masing.
"Mah... Mamah." Anis kembali ke dalam menemui mama mertuanya kembali. Sueah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Permisi... Maaf mbak. Tadi minta tolong ya?" Suara khas bariton laki laki terdengar di ambang pintu rumah Anis. Serta merta Anis menoleh ke asal suara, sempat saja dadanya berdegub kencang, saat tau jika yang datang itu adalah Rangga, tetangga depan rumanya yang masih mengenakan celana pendek khas rumahan, bahkan tampak seperti orang yanh belum mandi.
"Oh... I.. iya. Pa.. eh Mas. Ah..., Silahkan masuk. Tolong... mama saya tiba tiba pingsan." Panik Anis bercampur grogi. Saat tetangganya tersebut masuk mendekati mama mertuanya.
Rangga tampak sigap menyentuh pergelangan tangan bu Meriam, lalu meletakkan punggung tangannya di leher mertua Anis.
"Kita ke rumah sakit saja ya, mbak." Ucapnya dengan wajah sedikit gelisah pada Anis.
"Hah... I.. iya. Tapi, dengan apa?" tanya Anis gagu.
"Nanti ku antar." Lanjutnya akrab.
"Oh .. iya." Jawab Anis agak lega. Di tengah ke bingungannya masih Tuhan kirimkan baginya seorang penolong.
"Aku siapkan mobil dulu ya. Eh... Maaf. Kamu masih sempat ganti baju kok. Jangan panik."Ujarnya yang sempat melangkah ke arah luar, tetapi kemudian berbalik mengingatkan Anis, agar pergi keluar tidak dengan
dasternya.
"Oh... Iya. Terima kasih sudah mengingatkan. Mas juga sempat berganti dengan celana panjang." Senyum manis Anis terpancar, saat mengingatkan jika saat itu Rangga juga sedang menggunakan pakaian yang tak layak ke tempat umum.
"Siap... Siap." Jawabnya tak kalah menunjukkan senyum tampannya.
Anis tak hanya mengganti pakaian, tapi juga menyempatkan dirinya untuk meminta ijin pada atasannya. Jika hari ini ia tidak bisa turun bekerja.
Mobil HRV hitam milik Rangga sudah terparkir di depan rumah Anis. Rangga tampak tampan dengan penampilan baru yang ia sulap dalam waktu kurang lebih 10 menit. Entah, apakah ia sempat mandi atau tidak, tapi yang pasti Anis hampir bersin saking wanginya pria itu, lewat di depannya untuk membuka pintu mobil untuk Anis.
"Kamu masuk duluan, nanti aku gendong mamamu." Perintahnya.
Anis patuh, dan duduk di sebelah kanan belakang kemudi.
Rangga bertambah gagah saat tubuh proporsional itu meraup tubuh ringkih bu Meriam. Hingga kepala sang mertua berhasil masuk, berbantal di atas paha Anis.
Rangga kembali ke rumah Anis. Untuk memastikan keamanannya saat di tinggal. Lalu menyerahkan kuncinya pada Anis.
Mobil pun segera melaju berbaur dengan berbagai jenis kendaraan lainnya saat sudah keluar dari dalan komplek.
Sesekali Rangga mencuri-curi pandang lewat kaca depan ke arah Anis sih kelihatan khawatir dengan keadaan Mama mertua.
Sesampai di pintu IGD Rumah Sakit Daerah yang kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal mereka tampak beberapa perawat langsung datang mendorong blankar untuk menyambut kedatangan mertua Anis.
Entah memang kenal atau perawat rumah sakit tersebut memang ramah, saat mereka berpapasan dengan Rangga, tampak kepala beberapa perawat laki-laki dan perempuan itu mengangguk ke arah Rangga, dan tanpa diperintah dengan sigap mereka langsung mendorong blankar tersebut menuju ruang periksa di IGD.
"Kamu duduk di sini sebentar ya, biar aku yang melihat ke dalam." Perintahnya pada Anis yang bagai terhipnotis padanya, dan segera mendudukkan bokongnya di kursi tunggu.
Tirai ruang periksa tersibak tampak Rangga keluar bersamaan dengan dokter yang baru saja memeriksa keadaan mama mertua Anis. Dengan isyarat tangan, Anis pun mendekat ke arah Rangga sebab sepertinya ada yang ingin dokter itu sampaikan pada Anis.
"Keluarga pasien?" tanya pria yang menggunakan pakaian khas dokter tersebut ke arah Anis.
"Iya dokter." Angguk Anis menatap dokter jaga itu dengan harapan akan menyampaikan berita bahagia.
"Begini... Pasien tampaknya mengalami penyakit yang cukup serius. Terutama jantungnya. Untuk itu kami sarankan untuk di rawat inap saja, dan di lakukan pemeriksaan lengkap. Agar segera di tindak lanjuti."
"Hah...?" Kejut Anis patah hati. Seketika hatinya remuk kembali. Baru setahun ia lepas dari urusan sakit penyakit dan rumah sakit, saat merawat Felix almarum suaminya. Mengapa semesta tak lelah bercanda dengannya untuk urusan seputar kesehatan yang selalu nyawa menjadi taruhannya.
"Tapi.. ibu tenang saja. Serahkan semuanya dengan dr. Rangga. Beliau spesialis penyakit dalam. Pasien seperti ini adalah makanannya." kekeh dokter tadi mengarah pada Rangga.
Aaah... Kenapa kini Anis merasa perlu ikut berbaring di bed pesakitan seperti mertuanya? Merasa limbung, setelah tau jika tetangganya adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Singkat cerita, proses pemeriksaan dan ruang rawat inap pun. Segera teratasi dengan cepat. Bahkan kini mama mertua Anis tampak telah di pasangkan beberapa alat medis lengkap hingga oksigen. Ya... bu Meriam kini telah mendapat kamar VIP di rumah sakit daarah tersebut tanpa kendala.
Semuanya tak lepas dari peran dr.Rangga yang bekerja di rumah sakit tersebut. Merupakan salah satu dokter kebanggaan yang RSUD itu miliki di kota mereka tinggal sekarang.
"Mamanya mbak mengalami penyakit yang cukup serius." Terangnya pada Anis.
"Hah...?" Kejut Anis.
"Iya... Kerja jantungnya sangat buruk. Jadi harus segera dipasang ring untuk membantu kinerja jantungnya, dan itu harus dilaksanakan dalam waktu dekat." Jelas Rangga pada Anis dengan pelan agar Anis tak merasa shock.
"Hah...? Apa mas, eh. Pak dokter Rangga bisa bantu?"
"Kenapa jadi di panggil pak sih...? Saya tua banget ya mbak?" Rangga sengaja menggoda Anis agar tidak tegang.
"Ya kan... Masnya ternyata dokter di sini. Bisa tolong mama, mas Rangga?" Ulang Anis dengan pelan dan agak malu, sebab hatinya mendadak gaduh bertalu talu. Bukankah sudah lama hatinya beku, setelah di tinggal suaminya.
"Itu tugas saya di sini, mbak Anis. Pasti akan saya bantu." Jawab Rangga dengan senyum termanisnya.
Mantan mertua Anis segera mendapat jadwal pemasangan ring. Bagai melewati jalan tol bebas hambatan, bu Meriam rencananya dua minggu kemudian akan segera di eksekusi, sambil menunggu keadaannya stabil dan normal. Sebab ternyata penyakit beliau tak hanya jantung namun dan lain lainnya juga. Komplikasi.
Anis cukup sibuk mengurus bu Meriam, sulit baginya membagi waktu untuk bekerja juga menjaga ibu dari mendiyang suaminya.
"Anis... Maafkan mama hanya bisa merepotkanmu selama ini." Ujar Meriam yang tau betapa letih Anis dengan sabar menjaganya.
"Mama jangan bicara begitu. Itu sudah bagian dari tanggung jawab Anis, ma." Bu Meriam menggeleng.
"Tidak nak... Sejak Felix tiada, sebenarnya mama sudah bukan tanggung jawabmu lagi. Tak pantas mama berkeras untuk tinggal denganmu."
"Ma... Orang tua Anis sudah tidak ada. mama juga sudah Anis anggap seperti orang tua Anis sendiri. Anis bahagia masih bisa mengurus mama." Ujar Anis mengusap tangan yang tertancap jarum infus itu.
"Apa kamu sudah memberi kabar pada Habel, tentang penyakit mama?" Habel adalah adik Felix yang bekerja merantau di daerah Tanjung, Kalimantan Selatan. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa ke kota cantik mereka. Jika di lalui lewat darat. Tapi tidak jika lewat udara.
"Sudah ma. Mungkin hari ini mereka akan tiba di sini."
"Mereka?"
"Iya... Habel akan datang bersama istri dan anaknya, cucu mama." Habel memang adik Felix tapi lebih dahulu menikah juga telah memiliki keturunan. Berbeda dengan rumah tangga Felix dan Anis yang lebih banyak di habiskan di rumah sakit dan berakhir menjadi rumah duka, mana sempat Anis mencicipi bahagianyan mondok di rumah bersalin. Untuk mempersembahkan cucu untuk sang mertua. Atau jangan jangan, bahkan Anis masih perawan.
Di minggu kedua bu Meriam di rawat, Rangga pun datang menjenguk.
"Sore bu Meriam." Sapa Rangga ramah datang dengan sekeranjang buahan segar.
"Sore juga dokter. Bukannya tadi sudah visite? Apa sore saya harus di periksa lagi?" tanya Bu Meriam yang juga semakin akrab dengan Rangga. Sebagai dokter yang menangani penyakitnya tersebut.
"Oh... Tidak bu. Saya datang tidak sebagai dokter yang menangani sakit ibu. Tetapi sebagai tetangga yang perhatian." Ujarnya ramah dengan senyuman.
"Syukurlah... Jika masih ada tetangga super sibuk, seperhatian dokter Rangga." Jawab bu Meriam di sela selanya mengatur nafasnya.
"Jangan banyak bicara dan bergerak dulu ya bu, kesehatan ibu belum stabil." Bu Meriam mengangguk.
"Nak... Rangga. Sudah punya istri?" tanya bu Meriam ke arah Rangga.
"Sudah bu..." Jawabnya.
"Oh... Kenapa tidak di ajak tinggal di rumah depan?"
"Karena dia tinggalnya di rumah lain bu, bersama anak kami." Jawabnya pelan.
"Oh... Sudah besar anaknya? Berapa?" tanya bu Meriam lagi.
"Mungkin sekarang kurang lebih 3 tahun bu."
"Kok mungkin, jarang ketemu ya sama anaknya?"
"Memang tidak pernah bertemu lagi bu." Jawabnya dengan raut wajah agak sedih.
"Maksudnya?"
"Anak dan istri saja sudah meninggal bu, 3 tahun lalu karena kecelakaan. Dan itu terjadi saat saya ambil spesialis ini." Jawabnya tabah
"Oh... Maaf nak Rangga."
"Ga papa bu. Saya sudah move on kok."
"Sudah move on kok, masih terlihat sendiri terus siih." Lanjut bu Meriam.
"Akan berakhir bu, kalo Anis terima saya." Tembak Rangga tiba tiba, sontak mengejutkan Anis yang namanya di sebut.
"Kok aku?" tanya Anis bingung lalu berganti ganti menatap Rangga juga bu Meriam.
"Serius bu. Kalau ibu ijinkan saya mau menjalin hubungan khusus dengan Anis. Apakah boleh?"
"Alhamdulillah... Dengan senang hati ibu ijinkan. Tergantung yang punya diri saja nak Rangga. Ibu malah bahagia, dan akan merasa tenang, kalau ada yang menjaganya." Bu Meriam menggapai tangan Anis juga meminta tangan Rangga untuk bersatu dengan tangannya.
Anis salah tingkah, dan Rangga tetangga idola komplek itu sangat senang melihat ekspresi malu malu di wajah wanita berparas ayu itu.
"Anis... Jika nak Rangga serius meminangmu. Ibu minta kamu terima saja. Sudah waktunya kamu bahagia. Ibu yakin Alm. Felix pun merestuimu." Ada buliran bahagia tergenang di sudut mata Anis dan bu Meriam.
Tak ada kata yang sanggup Anis rangkaikan sekarang. Ia bahkan tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Terutama akhir akhir ini, sejak bu Meriam yang sakit, membuatnya memang lebih dekat dengan Rangga. Bahkan, malam malam Rangga sering mengantarkan secangkir ronde untuk menghangatkan perutnya. Saat cuaca hujan lebat.
Saat itu sebenarnya Rangga sudah mengungkapkan isi hatinya pada Anis. Ingin bangkit bersama dari masa lalu mereka yang kelabu. Tapi Anis tak bisa menjawab, ia tak ingin menerima tanpa restu ibu dari mendiang suaminya terdahulu.
Tapi berberbeda dengan suasana sore itu, saat dukungan sang mantan mertua sudah ia kantongi. Anis bahkan tak punya alasan lagi untuk menolak. Saat tangannya dan Rangga bersatu dalam genggaman tangan bu Meriam.
Rangga justru mencium kening Anis lembut, lama dan tanpa ragu.
"Melangkahlah bersamaku, kita akan mewujudkan rumah tangga yang sesungguhnya." Ucapnya secara jantle.
Anis lagi menatap nanar mata mantan mertuanya. Ada senyum tulus dan anggukan ikhlas mendesak Anis untuk segera menerima lamaran Rangga di ruang rawat RSUD tersebut.
"Jadilah orang yang sungguh menyayangiku dengan segala kelebihan dan kekuranganku mas Rangga." Akhirnya Anis bicara.
"Andalkanlah aku menjadi satu satunya tempatmu berbagi suka dan dukamu." Rangga melepas pegangan tangan bu Meriam, lalu memeluk tubuh Anis dengan erat.
"Ibu harus sembuh, harus cepat sembuh. Ibu mau segera menimang cucu dari kalian." Celetuk bu Meriam penuh semangat. Dan pelukan pasangan duda dan janda itu pun terlepas.
"Comming so on bu." Kekeh Rangga tak ingin melepas satu tangannya dari pinggang Anis.
TAMAT