"Sekarang aku jarang merasa bahagia dengan pacarku, beda dengan dulu kami selalu tertawa dan bersenang - senang " batin valen.
"Apa yang harus kulakukan?" ucapnya lirih.
Valen berjalan sendiri di sekitar taman yang dekat dengan rumahnya , ia keluar ingin mencari udara yang segar dan ingin menenangkan diri, ia cemburu melihat pasangan pasangan romantis di taman itu. betapa terkejutnya dia melihat satu sosok laki laki yang dikenalnya, ya itu pacarnya 'Brian' . Brian datang menghapiri Valen.
"Sudah kuduga kau ada di sini" ucap Brian.
Valen hanya menjawab sapaan itu dengan senyuman simpul.
"apa yang kau lakukan disini?" tanya valen pada Brian.
"tentu saja untuk bertemu dengan mu" jawab brian.
"Kau jangan terlalu sering keluar malem sendiri,itu tak baik untuk mu" ucap brian.
valen hanya mengangguk ngangguk.
"kau tau brian, lebih baik kita akhiri hubungan ini saja" ucap valen.
setelah mendengar kalimat yang diucapkan dari mulut valen brian pun sangat kaget.
"ke kenapa?, i ini tiba-tiba, bukankah hubungan kita baik baik saja" ucap brian seakan tersiksa.
"baik-baik saja katamu, kau tau brian bagiku kau yang dulu dan sekarang sangat beda, dulu kita selalu bersenang senang, sekarang kau sering memerintahku dan melarangku banyak hal" ucap valen terisak.
Brian kaget dan sedih ia tak tau kalau valen merasa tersiksa dengan larangannya, ia merasa bersalah.
sebenarnya benar apa yang dikatakan valen itu, tapi brian melarang dan menyuruh hal tersebut karena ia ingin pacarnya selalu baik baik saja, 2 bulan setelah pacaran brian selalu menyuruh valen agar tidak keluar malem malem, jangan makan makanan yang pedas, jangan selalu makan/minum yang dingin dingin, jangan sering makan coklat, dan jangan pergi tanpa izin brian.
sebenarnya ada alasan mengapa brian memerintahkan hal tersebut, ia tak ingin pacarnya sakit, dan ia tak ingin kehilangan pacarnya.
"A aku ,,, maafkan aku" Brian meminta maaf.
"Sebenarnya aku tak ingin kehilangan mu" ucap brian.
air mata brian pun turun. saat melihat itu pun valen kaget ia tak pernah melihat brian mengeluarkan air matanya.
"alasan mengapa aku selalu melarang mu seperti itu.." Brian memotong kalimat nya karena menangis
ia mengelap air matanya menggunakan tangannya.
"aku tak ingin kehilanganmu, aku selalu membaca berita, ada orang yang kehilangan pacarannya karena penyakit ,, makannya aku melarang mu untuk makan bebas" ucap Brian terisak.
"dan ada orang yang kehilangan pacarannya karena kecelakaan, makannya aku melarang mu untuk tidak pergi sendiri apalagi malem malem" sambungnya
Brian menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Bagiku yg terpenting di dunia ini adalah mencintaimu dan menjagamu karena aku ingin kita selalu bersama hingga nanti, tak kusangka kelakuan ku yang begini malah membuat ku kehilangan mu" ucap Brian seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.
Valen memperhatikan Brian yang hampir kehilangan akal sehatnya itu, ia menunduk dan merasa bersalah.
"tapi bagaimanapun itu keputusan mu aku tak ingin membantah, karena mencintai seseorang bukan berarti harus memiliki" ucap Brian terlihat seperti orang yang mengiklaskan padahal dalam hatinya ia merasakan keputus asaan.
Brian pun pergi dari taman itu, Valen yang masih berdiri tegak disana pun tak tau harus melakukan apa, di satu sisi ia masih kesal dengan larangan itu, disatu sisi ia masih sangat mencintai Brian.
Valen pulang kerumahnya dengan keadaan bingung, ia bejalan masuk ke kamarnya dan duduk dikasurnya, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Brian, namun ia sama sekali tak mengerti apa yang di ucapkan Brian, tanpa ia sadari Valen pun Ter tidur.
.
.
.
.
ini adalah hari baru baginya, karena ini adalah hari ia menjalankan hari hari tanpa Brian, ia merasa bebas karena tidak ada yang melarang nya lagi.
~setelah pulang kerja~
"Val mampir ke cafe biasa yu" ucap Rina sahabatnya yang sekantor dengannya.
"boleh" jawabnya.
"eh , tapi bagaimana dengan pacarmu itu?" tanya Rina, Rina mengetahui apa yang Valen alami karena Valen sering curhat padanya.
"kami sudah putus" jawab Valen sambil tersenyum palsu tanpa ia sadari.
"maafkan aku" ucap Rina.
"tak papa" jawabnya.
"padahal aku dan pacarku ingin mengajak kau dan pacarmu hang out bareng" ucap Rina bersedih.
Valen hanya menjawab itu dengan senyuman yang kecut, merekapun pergi ke cafe yang biasa mereka datangi setelah pulang kerja.
"Apa yang ingin kau pesan?" tanya Rina pada Valen.
"aku ingin ice americano saja" jawab Valen sambil tersenyum.
"bukankah pacarmu melarangmu minum dingin" Rina tak sadar apa yang iya ucapkan.
"ah ma maafkan aku"ucap Rina.
"aish, apa yg aku katakan, Rina kau sangatlah bodoh" batin Rina merasa bersalah.
(setelah memesan mereka pun duduk di kursi yang ada di cafe itu)
~tak lama pesanan pun datang~
Valen menyeruput minumannya dan tanpa sengaja ia menguping obrolan pasangan yg ada di belakangnya.
"sayang, kau tak boleh minum yang dingin ya, nanti kamu sakit" ucap laki laki itu pada pacarnya.
"terserah kamu huh" jawab perempuan itu merajuk.
"kalau kamu sakit nanti siapa yang jagain aku?" mencoba menenangkan pacarnya yang merajuk itu.
"ah kamu bisa aja,, kalo aku sakit kan di hatimu masih ada aku" jawab perempuan itu sambil tersenyum.
"pintar nya pacar ku ini" laki laki itu pun Tertawa.
"hahaha, kalo aku sakit nanti kamu jagain aku kan?" tanya perempuan itu sambil tersenyum.
"pasti dong"jawab laki laki itu dengan senyuman yang lebar.
Mendengar percakapan itu Valen bersedih ia merindukan masa masa menyenangkan bersama Brian , dan ia merasa larangan yang di berikan Brian padanya itu adalah larangan yang wajar diberikan seorang pria pada pacarnya ,, ia baru menyadarinya.
tanpa ia sadari air matanya pun jatuh. sontak kaget, Rina melihat sahabatnya tiba tiba menangis.
"kau baik baik saja kan" ucap Rina terlihat khawatir.
"a aku,, sekarang aku mengerti mengapa Brian selalu melarang ku" jawab Valen sambil menangis.
"kalau begitu,, pergilah cari dia , ini belum terlambat aku yakin dia juga merindukanmu" ucap Rina dengan tegar
"terimakasih karena kau selalu mengerti aku" nangis di pelukan Rina.
Valen pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Rina dan ice americano nya, ia mencari Brian. Valen pun pergi ke rumah Brian, sesampainya di rumah Brian ia bingung melihat rumahnya yang sepi biasa di depan rumah Brian selalu ada Brian sedang duduk di halaman rumahnya sambil membaca buku,,
"apa Brian sedang bekerja?"batin Valen.
"tapikan sekarang dia sedang libur" sambungnya.
tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Valen dan memegang bahunya , sontak Valen pun menoleh, dan ternyata dia adalah satpam komplek.
"non Valen ngapain disini?" tanya satpam itu.
"aku sedang mencari Brian" jawabnya.
satpam itu pun terlihat kaget, dan Valen pun dibuat bingung olehnya.
"den Brian sudah pindah rumah,, apa non tidak tau, saya kira non tau karena non pacarnya" ucap satpam itu.
"Pi pindah rumah" ucapnya kaget.
tanpa mengucapkan sepatah kata pada satpam komplek Valen pun lari pergi tanpa tujuan sambil menangis.
.
.
.
.
.
di bangku pinggir jalan dengan pemandangan laut yang indah ,, Valen menangis disana ia merasa ia telat untuk meminta maaf pada Brian .
"hiks hiks Brian kembalilah😭😭" teriak Valen
tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya, ia pun menoleh, sontak kaget Valen memeluk seseorang itu , seseorang itu adalah 'Brian'
"hiks maafkan aku, aku ingin kita kembali seperti dulu" ucap Valen menangis di pelukan Brian.
"sudah kubilang aku tak akan pergi jauh darimu" ucap Brian menenangkan Valen.
"hiks jadi kita pacaran lagi" tanya Valen sambil terisak.
"tentu saja" Brian pun Tersenyum lebar.
"sudah kubilang..." ucap Brian.
"YANG TERPENTING DI DUNIA INI ADALAH MENCINTAIMU DAN MENJAGAMU" ucap Brian
Brian pun menarik tengkuk Valen dia mencium lembut bibir Valen dan ciuman itu lama lama menjadi lum@tan, Valen pun membalasnya.....
~END~
hai semoga suka ya,, maaf kalo ada typo...
tolong like dan komen ya...