Aku adalah anak tunggal dari keluarga yang memiliki status ekonomi menengah ke atas tanpa mengalami kesusahan apapun, itulah pemikiran orang lain terhadapku. Akan tetapi, satu fakta
yang tidak mereka ketahui, bahwa kedua orang tuaku adalah tipe orang yang sangat kaku, yang mana semua keputusan mereka sampaikan kepada anaknya haruslah dilaksanakan tanpa terkecuali. Akhirnya, aku tumbuh dengan pikiran dan ruang gerak yang sangat terbatas seperti wayang yang digerakkan sesuka hati oleh dalangnya.
“Sadis ! ya, memang sadis hidup ini”, pikirku.
“Apakah ini garis takdir yang diberi oleh Tuhan kepadaku ?, sungguh tak adil Tuhan”,
Pikirku lagi.
Suatu hari yang cerah Ibu memberitahuku bahwa bapak memanggil diriku ke ruang kerja beliau. Seketika, irama jantungku dua kali lipat dari biasanya, tubuhku bergetar dan keringat dingin mulai bercucuran di telapak tangan serta kakiku. Ruangan itu lagi, aku sudah muak dengan tempat itu. Secara tidak langsung, aku memiliki trauma pada ruang kerja di rumah
karena semua peranku sebagai wayang dimulai oleh dalangnya yaitu bapakku sendiri.
“Apakah bapak akan menjalankan perannya sebagai dalang lagi ?” lirihku pelan, setelah kepergian ibu dari kamarku. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, lalu membawa langkah demi langkah ke tempat yang mencekamkan tersebut. Setibanya di depan ruangan yang bertuliskan “Room Work”, dengan
sisa-sisa keberanian aku mulai mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Setelah itu, aku
menyimpan kepalan tangan-tanganku yang berkeringat dingin di kedua sisi badanku.
“Masuk” aku tersentak dengan suara tegas yang terdengar dari dalam ruangan, karena terlarut dengan pikiran sendiri. Pelan-pelan aku membuka pintu tersebut, lalu terpampanglah di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja dan seberangnya ada seorang laki-laki paruh baya yang menduduki kursi dengan tegap serta memancarkan aura wibawa dan karisma yang tak lekang oleh waktu, beliau adalah bapakku Rio Yudhishthira. Tak lupa pula, di sisi kanan bapakku terdapat wanita cantik nan elegan sedang tersenyum lembut kepadaku yaitu Widya
Yudhishthira ibuku. Sekarang aku berdiri di depan kedua orang tuaku dengan posisi kepala menunduk dan tangan yang sudah bercucuran keringat dingin, menahan gugup entah apa alasannya tetapi firasatku saat ini tak nyaman.
“Duduklah” Kembali, aku tersentak mendengar suara pria paruh baya di depanku ini. Kemudian aku melirik ke arah ibuku, yang mana ibuku langsung memberikan anggukan persetujuan kepadaku.
“Ba-baik, terima kasih pak” jawabku gelagapan.
“Umur kami berdua sudah tidak muda lagi nak. Kami ingin melihatmu menikah, agar kami
berdua lebih tenang di masa tua kami ini ” Ucap bapak langsung kepada inti pembicaraannya.
“Tapi, aku belum mempunyai seorang kekasih yang mampu diajak untuk menuju ke hubungan yang serius pak” sanggahku.
“Kamu tidak perlu risau akan hal itu, bapak akan menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis
bapak” jawab bapak dengan santai, sedangkan aku berkebalikan dengan sikap bapak saat ini. Kedua tanganku yang awalnya sudah rileks, terkepal kembali lebih kencang dari sebelumnya
disertai badan yang gemeter menahan luapan emosi dari dalam diriku ini.
“Aku masih muda pak, masih ingin menjelajahi dunia luar dan mengembangkan karirku sebagai dokter hewan” dengan posisi menunduk, aku berusaha merubah pemikiran bapakku.
“Kamu dapat menjalankan keinginanmu setelah menikah nanti” jawab bapak dengan rahang mengeras terlihat sangat jelas di wajah keriputnya.
“Tapi pak---” belum selesai aku berbicara, bapak telah memotong pembicaraanku.
“Cukup Lulu Yudhishthira. Jika kamu tidak menerima perjodohan ini lebih baik kamu keluar dari rumah !” Bapak telah memanggil nama lengkapku, pertanda bahwa pertahanan bapak untuk menahan emosinya sudah hancur, sedangkan ibu yang berada di sisi bapak berusaha menenangkan beliau dengan memberikan elusan halus pada punggungnya.
“Baik, kalau itu keinginannya bapak. Aku tidak akan menerima perjodohan ini dan lebih memilih keluar dari rumah” putusku dengan emosi yang tak kalah dari bapak. Aku pun bergegas meninggalkan ruangan yang mencekam penuh dengan emosi dan terus berjalan
tanpa menghiraukan raungan ibu yang memanggil-manggil namaku untuk tetap berada di rumah.
Hancur sudah impianku, seperti kaca yang dilempar menggunakan benda tajam sehingga menimbulkan serpihan-serpihan yang tidak dapat disambung lagi. Impianku hanya satu yaitu memiliki keluarga yang mampu mendukung semua keputusanku, tidak seperti perlakuan orang tuaku selama ini. Akan tetapi, aku akan berusaha untuk bangkit dengan menjaga sebagian impianku yang masih utuh dan mengumpulkan serpihan-serpihan impianku yang telah hancur tadi.
Sudah dua jam aku berjalan gontai menyusuri jalanan sepi yang gelap gulita dan hanya berbekal handphone serta secarik uang seratusan didompetku. Aku tidak sempat membawa beberapa baju ganti, karena fokusku tadi bagaimana caranya aku dapat kabur dari rumah
tanpa sepengetahuan orang-orang suruhan bapak. Keringat di pelipis dan punggungku telah bercucuran dengan deras, tetapi aku tidak perduli dengan hal itu dan tetap melanjutkan perjalanan yang tak berarah. Tanpa sadar, aku berjalan menyeberangi jalan tanpa menoleh sisi kiri dan kanan terlebih dahulu. Tiba-tiba dari arah kananku terdengar ban mobil yang berdecit cukup keras, sehingga aku pun secara sepontan membungkukkan badan agar tidak
terlalu berdampak besar jika aku tertabrak. Akan tetapi, badanku tidak terhempas ke arah
lain.
“Hei, kamu tidak apa-apa ?” tanya sesorang kepadaku dengan nada khawatir, tetapi suara ini sangat familiar di telingaku. Aku pun mendongakkan kepalaku untuk memastikan bahwa
pemilik suara yang terdengar barusan adalah orang terdekatku.
“Dion, teman kuliahku?” tanyaku balik. Ia hanya mengangguk dan membantuku berdiri. Lalu, ia menuntunku untuk masuk ke dalam mobilnya dan membawaku ke suatu tempat.
“Hei, kita kemana ?” tanyaku penasaran
“Ke rumah nenek” jawabnya singkat.
Sesampainya disana, ia mempersilahkan untuk masuk dan menjamuku dengan baik. Setelah keadaan lebih santai kami pun mulai mengobrol ringan. Aku juga menjelaskan mengapa aku bisa berjelan sendiri di tengah malam yang sepi, dan akhirnya bertemu dengannya. Ia hanya
tersenyum simpul dan berusaha menenangkan diriku yang masih diliputi dengan rasa emosional yang hebat. Kemudian, keesokan harinya ia membawaku ke suatu tempat. Tiba-
tiba mobil berhenti di depan rumah, seketika badanku menenggang. “Bagaimana bisa ia
mengetahui tempat ini ?”, pikirku.
“Ayok masuk” ajaknya kepadaku setelah kami berdua turun dari mobil. Belum sempat aku berbicara ia telah menggenggam tanganku erat dan menuntun untuk masuk ke rumah
tersebut.
Sesampainya di dalam rumah, kedua orang tuaku yang melihat diriku langsung merengkuh secara erat badan ini. Ya, Dion ternyata membawaku ke rumahku sendiri. Akan tetapi, aku
tidak tahu maksud dari semuanya. Raut wajahku ternyata diamati oleh bapak, akhirnya beliau tersenyum dan menjelaskan kepadaku.
“Orang yang bapak jodohkan denganmu adalah Dion nak. Dion telah menjelaskan bahwa kalian berteman baik saat kuliah. Akhirnya bapak dan bapak Dion sepakat untuk menjodohkan kalian berdua, karena memang Dionlah yang terlebih dahulu melamar ke bapak atas namamu. Bapak juga meminta maaf karena bersikap sangat keras terhadap hidupmu selama ini” bapak menunduk lesu. Aku segera menggeleng-gelengkan kepala dan segera menggenggam tangan keriput bapak.
“Tidak pak, Lulu yang salah. Maafkan atas sifat keras kepalaku ke bapak dan ibu kemarin” jawabku menunduk dan sesekali air mataku menetes dengan sendirinya. Akhirnya aku mampu mengumpulkan kembali serpihan impianku menjadi kaca yang utuh walaupun tak sempurna yang diinginkan, tetapi aku akan berusaha menjaganya sepanjang hidupku.