Aku selalu memimpikan seseorang yang tidak pernah bisa ku raih, Aku selalu memuja dirinya bahkan di saat aku tidak pernah bisa bertemu dengannya.
Masa kecil ku adalah masa paling membahagiakan bagi ku dimana banyak orang yang selalu mendukung apa yang ku mau, sampai akhir dimana saatnya aku harus terdiam membisu kehilangan banyak waktu.
Setiap malam aku selalu menangis meratapi kesakitan dalam dada ku, degup jantung ku memacu terlalu cepat, dan nafas ku terlalu berat dan dinding putih serta lampu dalam ruangan ini selalu saja menyudutkan ku dalam gelapnya malam.
Aku kehilangan banyak teman, banyak waktu dan banyak kesempatan, aku mengidap penyakit kelainan jantung, ayah serta ibu ku memilih untuk meninggalkan diri ku sendirian di rumah sakit walau terkadang ia menjenguk diri ku.
Ayah dan ibu berkerja keras untuk memenuhi biaya rumah sakit ku, walau sebenarnya mereka adalah seorang pembisnis sukses, tapi mereka tidak bisa diam saja jika keuangan mereka menurun karena pengobatan diri ku.
"Nona? bagaimana kabar mu hari ini? apakah kita bisa mencopot semua alat bantu anda?" Dia dokter yang menangani ku, aku selalu menatapnya dengan mata berbinar, aku tidak pernah menatap pria lain seperti dirinya, ataukah hanya dia satu satunya pria selain ayah ku yang bisa ku tatap.
"Tidak dokter, tanpa alat bantu pernapasan dan yang lainnya aku tidak bisa menormalkan diri ku." jawab ku pelan.
"Nona, besok kau akan melakukan oprasi dan selama 8 tahun ini kita menunggu oprasi ini bukan, ku harap kau tidak takut."
"Lalu, jika operasinya gagal bagaiman?"
"Nona, jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk mu, selama ini kau menjalankan terapi dengan baik dan mengikuti semua saran ku, maka seharusnya ini akan baik baik saja, cukup tenang dan percaya." Dia tersenyum dengan manisnya, 8 tahun aku mengenalnya dengan cukup baik, Dokter Agra dokter muda pengganti dokter sebelumnya, aku jatuh hati padanya.
Aku sadar aku tidak mungkin bisa menggapainya, yang pertama karena usia dokter Agra 15 tahun di atas ku, lalu dokter Agra sangat tampan sementara aku? dokter Agra sehat dan baik, sementara aku? aku berpenyakit dan hampir mati.
Keesokan harinya, aku tidak sadarkan diri setelah operasi berjalan selama 4 jam lebih, bahkan kematian ku hampir di umumkan, namun dengan kuasa Tuhan jantung ku kembali berdetak.
Kali pertama aku membuka mata aku menatap dokter Agra, dia yang selalu menemani malam ku, malam yang muncul dalam setiap langkah kaki ku, dia yang menyadarkan diriku.
Selama aku tidak sadarkan diri aku seperti bermimpi dokter Agra bersama dengan ku menuju ke pelaminan bersama bahagia, itu alasannya mengapa aku tersenyum saat pertama menatap dokter Agra.
"Akhirnya kau bangun juga nona, kondisi mu sangat baik hari ini, beristirahat lah, dua bulan koma bagaimana rasanya?"
Aku tidak bisa menjawab setiap pertanyaan nya.
Hari berlalu sejak aku dinyatakan bisa kembali beraktivitas normal, aku mulai sekolah kembali, dan tidak pernah bertemu dengan dokter Agra, kabar terakhirnya dokter Agra sekarang berada di luar negri dan aku tidak dapat bertemu dengannya lagi.
Tepat 5 tahun setelah operasi pertama ku, kali ini aku merasakan detak jantung ku nyaris berhenti, dokter di rumah sakit menyatakan aku harus kembali dirawat secara intensif, dan para dokter menyarankan agar ayah mengirim ku ke salah satu rumah sakit di Singapura.
Akhirnya aku berada di sini, diam menunggu dokter datang untuk memeriksa ku.
Seorang dokter dengan jas putih berlengan panjang, baju ruang oprasi berwarna merah, stetoskop di kantung kirinya, pengukur suhu di kantung atasnya dan juga pulpen dan papan jalan yang di pegangnya, seorang suster datang memberikan secarik kertas.
"Masih mengingat ku nona manis?" ujarnya dan seketika aku sadar itu dokter Agra.
"Dok... Ter Agra?"
"Ya... aku Agra yang selalu menemani proses operasi pertama mu."
aku terdiam saat dia sejenak memeriksa detak jantung ku.
"Dokter, kemana saja?"Dia tersenyum dan meletakkan semua alat yang di pegangnya.
"Menunggu tuhan kembali mempertemukan kita." jawabnya singkat.
"Apa? apa maksud mu?" ujar ku.
"Saat itu aku mengira aku adalah seorang pedofil jika berterus terang pada mu, dan sekarang usia mu sudah cukup, aku tidak ragu lagi untuk mengatakannya, dan yang perlu kau ingat adalah aku menyayangimu seperti seorang pria menyayangi miliknya."
"Kau tidak bergurau dokter?"
"Bagaimana bisa aku bergurau jika saat menunggu mu selama 2 bulan di ruang rawat setiap malam, 5 tahun terakhir aku selalu memantau dirimu walau dari jauh, aku pergi sejauh ini hanya untuk meyakinkan hati ku, bahwa gadis kecil ku adalah cinta bagi ku." Jelasnya panjang.
Oprasi kedua ku berjalan dengan lancar tidak ada satu hal pun yang perlu di khawatir kan, aku dan dokter Agra saling menyatakan perasaan.
Kami sering menghabiskan waktu bersama sampai akhirnya aku dan dokter Agra memutuskan untuk menikah.
Jas abu yang menghiasi langkah dokter Agra meyakinkan ku bahwa sebentar lagi aku dan dirinya akan menjadi kita, menyatu dalam ikatan
suci pernikahan. Kini aku dan dokter Agra telah sah menjadi sepasang suami dan istri namun kejadian tak sesuai dengan prediksi ku, detak jantung ku seakan menghilang dari diri ku.
Semua orang panik dan dokter Agra berusaha keras untuk memacu jantung ku agar kembali berdetak, oprasi kedua nampaknya baru saja terlihat dampaknya, dokter Agra menangis kali pertamanya aku menatap nya dengan air mata, dia enggan melepaskan tangan ku.
Sayang jika aku bisa menyentuh mu, maka aku akan menyentuh mu, namun sayangnya kau hanya dapat menjadi pangeran dalam mimpi dan cerita singkat ku, menjadi bagian dalam hidup ku, tapi tidak dengan aku dalam hidup mu, aku hanya bisa menjadi wanita yang kau cintai dalam setiap detak jantung mu, dan mungkin semua itu akan berganti arti seiring berjalannya waktu.
Agra, 14 tahun kita saling mengenal, 13 tahun kita saling bungkam, mengharapkan tuhan berbelas kasih pada kita, menyatukan kita dalam sebuah mahligai, namun nyatanya kita bersatu namun hanya dalam 9 bulan terakhir, Agra maafkan aku melukis kisah menyedihkan dalam hidup mu, kau tidak bisa menatap ku lagi, kau tidak bisa menyentuh ku lagi, namun satu hal yang perlu kau tau, kau adalah pangeran dalam setiap mimpi dan juga kenyataan hidup ku, di saat ayah dan ibu tidak ada kau ada selalu disini, di sisi ku di dalam hati ku, di setiap darah yang mengalir di dalam jantung ku.
Agra, maaf aku tidak bisa menemani langkah kaki mu lagi, tidak bisa berada di samping mu lagi, dan ku harap kau mendapatkan seorang yang tepat di dalam hati mu, di dalam hidup mu, dan menyisakan sedikit celah untuk nama ku, aku berharap kau dapat bahagia setelah ku pergi, jangan menangis Agra aku mencintaimu sampai waktu mempertemukan kita nanti, aku selalu berharap akan hal itu.
Selamat tinggal dunia, ku titipkan Agra pada mu, waktu pertemukan lah Agra pada cinta yang mampu memberikan bahagia untuknya.