Jim merebahkan dirinya dengan melipat tangannya di belakang kepala. Ia mengingat lagi masa lalu yang membuatnya kini berada di kamar itu. Lily, salahkah aku yang sudah membawamu hingga sejauh ini?
Lima belas tahun yang lalu di sebuah jalan di Amerika, seorang anak laki-laki kecil sedang berjalan sendiri di tengah malam. Ia sedikit ketakutan tapi ia paksakan berjalan. Tiba-tiba seorang anak kecil lainnya datang dari arah lain. Ia menghentikan langkahnya. Kemudian datang lagi satu orang anak laki-laki dari arah depan dengan wajah menyeringai senang menatap mangsanya sudah terkepung. "So Jim, you finally come.(Jim, akhirnya kamu datang)"
Anak yang berada di tengah kepungan itu ketakutan karena di sudut lain dua orang anak kecil datang ikut mengepungnya. Padahal mereka masih anak-anak. Jim sendiri waktu itu masih sekitar 6 tahun tapi lawannya semua berusia lebih tua darinya sekitar 7 hingga 8 tahun. Mereka mulai mendatangi Jim seperti hendak mengeroyoknya.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa. Suara anak perempuan. Mereka terlihat kebingungan mencari sumbernya. Tapi alih-alih ketemu asal suaranya, mereka semua dihujani batu kerikil. Tiba-tiba terlihat kain putih yang berterbangan di atap sebuah panti asuhan. Anak-anak itu ketakutan dan berlarian kocar kacir ke sana kemari. Jim melongo, tapi hanya sebentar. Ia berusaha fokus melihat kain yang melayang-layang di udara. Sepertinya ia melihat ada besi di dalam kain itu yang menyebabkan kain itu bisa bergerak-gerak di udara. Jim sepertinya tahu siapa yang melakukan itu. Pasti gadis kecil itu yang melakukannya.
Ia sudah mengamati gadis itu sejak lama, tapi ia tidak tahu namanya. Gadis itu memang tinggal di panti asuhan itu sejak 3 tahun yang lalu. Jim tinggal tak jauh dengan panti asuhan itu. Ia yang pendiam suka sekali melihat ke arah panti asuhan itu karena banyak anak-anak dan ramai. Setiap hari sepulang sekolah, ia pasti membuka jendela kamarnya dan mengintip anak-anak di panti asuhan. Walaupun sedikit jauh jaraknya tapi ia bisa melihat tingkah para penghuni panti asuhan dari jendelanya, dan yang paling favorit adalah gadis ini. Gadis kecil ini selalu terlihat murung tapi ia bisa melakukan hal-hal aneh yang orang lain tidak bisa lakukan dan hanya Jim yang melihatnya. Gadis kecil itu pernah berdiri di atas pagar, atau memanjati dinding panti lewat tanaman rambat yang menempel di dinding, atau juga pernah memanjat dari jendela hingga ke atap gedung panti. Pernah juga Jim melihat gadis itu bergelayutan di jemuran besi dengan kepala ke bawah dan kaki di sangkutkan di besi. Anehnya tak ada satupun orang yang pernah melihat gadis kecil itu bisa seperti itu kecuali Jim.
Memang tidak aneh karena gadis kecil ini memang selalu memisahkan diri dari yang lain, karenanya tidak ada yang tahu aksinya. Namun karena Jim suka sekali dengan gadis kecil ini, ia ingin sekali berkenalan dengannya.
Ia melihat gadis kecil itu turun dari atap gedung melalui tanaman rambat yang memenuhi hampir sebagian dinding luar panti. Jim menantinya di bawah di depan pagar panti yang terbuat dari besi. Setelah sampai di bawah, Jim memanggilnya. Ia berpakaian baju hitam-hitam pakaian piyama.
"Sst. Hei." Bisik Jim pada gadis itu.
Gadis kecil ini menengok dan menghampirinya. "What?(Apa?)"
"Thanks for helping me.(terima kasih telah membantuku)"
"What help?(membantu apa?)" Tanya gadis kecil itu bingung.
"You just scared them away.(kamu baru saja menakut-nakuti mereka)" Kata Jim senang.
Gadis itu mengerutkan keningnya. "I don't know.(aku tidak tahu)" Pasalnya gadis itu berada di atap gedung panti asuhan itu saat ia bosan berada di dalamnya. Ia mendengar keributan di bawah dan merasa terganggu hingga ia melempar batu kerikil yang sering ia kumpulkan dan bawa ke atap gedung untuk melempari orang atau binatang yang menurutnya berisik dan mengganggu ketenangannya di atas gedung. Itulah yang terjadi tapi Jim menganggapnya telah menolongnya.
"What's you name? I'm Jim.(siapa namamu? Namaku Jim)" Jim menyodorkan tangannya.
Gadis itu tidak menjawab atau membalas tangan Jim tapi memperhatikannya. "Why are you here at night?(Kenapa kamu di sini malam-malam?)"
"And you?(Lah, kamu?)"
"I want to die.(aku ingin mati)"
"What? Why?(Apa? Kenapa?)"
"Nobody want me. My parents sent me here.(Tidak ada yang menginginkanku. Orang tuaku mengirimku ke sini.)"
"What? Really?(Apa? Sungguh?)"
"Yeah.(ya)"
"Oh, ok. I'll go home now.(Oh, ok. Aku pulang sekarang.)" Jim berpamitan. Ia teringat sudah larut malam.
Baru saja ia membalikkan tubuhnya, gadis itu memanggilnya. "Jim ...."
Jim menoleh. Gadis berambut panjang bergelombang itu sudah memanjat pagar. Ia melakukannya dengan cepat seperti seekor kera. Dalam sekejap ia sudah berada di belakang Jim. Anak laki-laki itu terkejut, untuk apa gadis itu keluar menemuinya.
"Jim, can I go with you?(Jim, apa aku boleh pergi denganmu?)"
Jim terperangah. "But, I'm going home. Your home is here.(Tapi aku pulang ke rumah. Rumahmu di sini.)"
"So, you don't want me too.(Jadi kamu pun tidak menginginkanku.)" Kemudian gadis itu kembali murung dan pergi ke arah berbeda.
"Hei, where are you going?(hei kamu mau ke mana?)"
"I'm going to die!(aku ingin mati!)" Teriak gadis itu.
Jim merasa bersalah. Ia mengikuti gadis itu untuk mencegah jika tiba-tiba gadis itu berbuat nekat.
Benar saja, gadis itu mendatangi sungai dekat situ.
Jim berlari mengejarnya. "Don't die, please. I like you.(Jangan mati, aku mohon. Aku suka padamu.)" Jim menggenggam lengan baju gadis itu.
"No, you lie.(Tidak, kamu bohong)." Gadis itu terlihat murung.
"I'm not. Please, don't die.(Tidak. Aku mohon, kau jangan mati.)" Jim memeluknya. Gadis itu menangis dipelukannya. Gadis itu memang lebih tua setahun dari Jim tapi jiwanya begitu rapuh.
Setelah selesai menangis mereka berdua duduk di pinggir sungai. Jim terus membujuknya untuk pulang, berharap ada yang akan mengadopsi gadis itu dan menyayanginya. Akhirnya gadis itu setuju untuk pulang.
Di tengah jalan, mereka melihat kepulan asap hitam dari jarak jauh. Asap itu seperti asap kebakaran dan itu berasal dari rumah yatim piatu. Mereka bergegas kembali.
Benar saja, apinya sangat besar sampai-sampai mereka tidak bisa mendekat karena hawa panas dari rumah yang terbakar itu. Di sana sudah banyak mobil ambulan dan pemadam kebakaran yang sedang berupaya untuk memadamkan api. Orang-orang yang berasal dari rumah penduduk ikut keluar melihat kebakaran besar itu.
"Jim, here you are. Where are you? I'm so scared I couldn't found you.(Jim, kau di sini rupanya. Kamu dari mana saja? Aku sangat takut tidak menemukanmu.)" Ibu Jim datang menghampiri.
"Oh, mom. I'm with my friend.(Oh, mom. Aku dengan teman.)"
"Friend?(teman?)" Ibu Jim memperhatikan gadis kecil di samping Jim.
"She's an orphan.(dia yatim piatu)"
"Oh, she's from that house? Someone looking for anyone from that house who are still alive.(oh, dia dari rumah itu? Ada yang mencari orang-orang dari rumah itu yang selamat.)" Ibu Jim mengantar gadis itu pada seorang pria yang sedang mengumpulkan orang-orang yang selamat. Ternyata sudah ada 3 orang yang selamat, dan ketiganya orang baru. Dua orang anak yatim piatu baru dan seorang pegawai panti asuhan yang baru. Mereka tidak mengetahui nama gadis itu karena banyaknya anak panti dan gadis kecil itu jarang berbaur.
"What's your name?(Siapa namamu?)" Petugas itu bertanya pada gadis kecil itu.
"Her name is Lily. (namanya Lily)" Spontan Jim memberi nama gadis itu dari nama kucingnya yang mati beberapa hari yang lalu.
"Lily? Jim, you just ....(Lily? Jim, kamu baru saja ....)"
"Her name is Lily, mom." Jim berusaha meyakinkan ibunya. Entah kenapa ia saat itu ingin memberi nama gadis itu Lily.
"Ok, Lily. Let's come with me. We will find a new home for you.(Ok, Lily. Ayo ikut aku. Kita akan menemukan rumah baru untukmu.)"
Gadis kecil itu hanya diam dan mengikuti pria itu.
Setelah itu, untuk waktu yang lama, Jim tidak bisa melihatnya. Namun Jim terlanjur jatuh hati padanya. Ia mencari tahu keberadaan gadis itu ke mana-mana, tapi karena ia masih terlalu kecil, sulit baginya untuk menemukannya.
Saat beranjak dewasa, ia mendapat kabar bahwa Lily sudah di adopsi oleh orang tua yang baru, bahkan ia kuliah dan sudah punya pacar. Jim mencari tahu alamatnya dan menemukannya. Ternyata Lily masih ingat padanya. Jim kagum melihat kecantikan Lily yang semakin bersinar. Banyak yang naksir padanya tapi ia hanya menjatuhkan pilihannya pada seorang pria teman kuliahnya. Bahkan Jim juga masih mencintainya, walaupun Lily cinta pertamanya.
Takdir bergulir. Sebelum Lily di wisuda pacarnya meninggal karena kecelakaan. Belum habis di rundung duka, sebulan kemudian orang tua angkatnya pun tewas karena kecelakaan lalu lintas. Ia kembali hidup sendiri. Jim yang di anggapnya sahabat, kembali menemani hidupnya. Namun Lily gadis yang rapuh. Beberapa kali Jim menemukan Lily minum obat penenang. Bahkan pernah beberapa kali ia overdosis dan dilarikan ke rumah sakit. Jim sangat sedih. Ia ingin menolong gadis impiannya tapi ucapannya tak pernah mempan untuk Lily. Lily terlalu depresi melihat hidupnya sendiri.
Sampai suatu ketika Jim di terima bekerja di sebuah organisasi rahasia milik pemerintah. Walaupun itu organisasi milik pemerintah tapi mereka melayani klien seluruh dunia untuk melakukan misi rahasia sesuai permintaan klien. Hanya saja organisasi ini tidak melakukan pembunuhan, hanya melakukan tugas mata-mata saja.
Awalnya ia nyaman dengan pekerjaannya. Hingga ia mendapati Lily yang kembali stres dengan hidupnya.
"Jim, I want to die.(Jim, aku ingin mati.)" Lily tak bisa menerima kenyataan hidupnya di tinggal kedua orang tua yang sangat dicintainya dan juga pacarnya.
"Lily, please don't think of dying. I love you so much. Can my love just enough for you?(Lily, aku mohon jangan pernah berpikir tentang mati. Aku sangat mencintaimu. Apa cintaku tidak cukup bagimu?)" Akhirnya Jim menyatakan cintanya.
"I wish I could erased everything about my parents and my boyfriend because it's hurt. It's hurt me so much.(Seandainya aku bisa menghapus semua ingatanku tentang orang tuaku dan pacarku karena rasanya sakit. Sakit sekali.)" Lily menyandarkan kepalanya pada bahu Jim.
Jim tiba-tiba teringat pekerjaannya. Ia tahu Lily punya kemampuan untuk memanjat yang luar biasa, mungkin dengan sedikit polesan belajar membuat topeng wajah, ia akan jadi agen yang sempurna. Ia menawarkan pekerjaan itu pada Lily. Pekerjaan ini juga mengharuskan sang agen untuk bersedia di hapus masa lalunya hingga tidak mengacaukan pekerjaannya. Hanya saja pekerjaan itu tidak membolehkannya punya pacar, keluarga, terikat seumur hidup dan nyawa taruhannya. Ia juga tidak bisa tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya karena kontrak itu.
Namun di luar dugaan Lily menerimanya. Ia benar-benar ingin menghapus masa lalunya. Dengan berat hati Jim mendaftarkan Lily pada organisasi yang di sambut baik di sana karena memang para agen yang bekerja untuk organisasi itu adalah kebanyakan berasal dari orang-orang terbuang atau para yatim piatu yang mempunyai kemampuan untuk bisa melarikan diri dengan caranya sendiri.
Lily pun di puji luar biasa karena mampu menyelesaikan banyak misi dengan cepat. Ia beberapa kali di pindah ke beberapa negara karena kelihaiannya. Terakhir ia mencuri dompet Chris dan minta menetap di Indonesia. Agen rahasia ini memang sengaja di hilangkan datanya di negara asalnya agar saat ia tertangkap, tak ada yang bisa mengetahui asalnya. Terlebih beberapa agen ada yang bisa menguasai beberapa bahasa seperti Lily. Ditambah, itu juga bisa menyelamatkan organisasi.
Sayangnya, Lily tak bisa mengingat Jim. Ingatannya tentang Jim turut terhapus bersama masa lalunya. Jim pasrah. Kalau itu bagian yang bisa menyelamatkan Lily, ia rela asal Lily hidup bahagia.
Namun, apakah Lily bahagia?
(Diambil dari potongan kisah di novel Senandung Cinta Jilbab Reina 2)
Tamat