Saat itu sedang libur sekolah, rumahku di Jakarta dan aku ingin berlibur ke rumah nenekku di Banten. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu nenekku di sana, sudah lama sekali kami tidak berjumpa.
Kala itu aku berangkat sendiri saat hari masih siang, tepatnya pada pukul 1 WIB. Aku berangkat dengan perasaan yang riang gembira, maklum saja sudah kepalang rindu.
Ini pertama kalinya aku berangkat sendiri tanpa didampingi oleh siapapun. Mungkin karena usiaku yang mulai beranjak dewasa sehingga orang tuaku mengijinkan aku pergi sendiri terlepas dari Jarak yang cukup jauh.
Sedikit kesal juga karena terjadi keterlambatan keberangkatan. Kereta yang seharusnya sampai pukul 1 justru malam sampai pukul 2.
Disaat seperti ini aku jadi ingat Lagu dari Penyanyi yang melegenda di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Iwan Fals? Ingat dengan lagu, Kereta Tiba Pukul Berapa? Oke, berhenti bernyanyi.
Aku duduk dengan tenang di tepi jendela seraya memandang keluar. Perlahan kereta mulai berangkat, dan aku akhirnya bisa melihat alam pedesaan yang indah dan asri. Saat itu memang perkotaan belum maju seperti sekarang.
Dalam perjalanan aku membayangkan keluarga di Banten sana, membayangkan wajah nenekku yang sangat ku rindukan. Hingga tanpa terasa kantuk mulai melanda, aku berpikir untuk memejamkan mata sejenak.
Booommm
Entah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba aku terkejut dan terbangun karena sesuatu yang membuat ku terkejut. Aku mendengar suara dentuman yang cukup keras sehingga membuat ku tersentak.
Aku berdiri lalu mengedarkan pandangan ke sekitar, menatap ke arah jendela dan melihat kalau langit mulai gelap. Aku berpikir seperti nya Matahari mulai lengser dari singgasana nya saat ini.
Namun aku merasa malu saat melihat penumpang lain tampak tenang seolah tidak terjadi apapun. Lantas pelan-pelan aku kembali duduk dan berusaha menikmati perjalanan seraya berpikir.
Apakah aku baru saja bermimpi?
Aku berpikir sepertinya itu memang mimpi, tapi saat aku kembali mengedarkan pandangan, aku merasa aneh. Penumpang yang lain terlihat terdiam kaku, tidak ada aktivitas seperti sebelumnya.
Tidak terdengar candaan maupun obrolan. Itu sangat aneh! Padahal beberapa waktu yang lalu tidak seperti ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapa penumpang di sebelah ku yang kebetulan adalah seorang wanita paruh baya. Sedari tadi aku melihat kalau wanita itu seperti sedang tertidur, aku mencoba untuk membangunkan nya.
"Permisi Bu."
"Bu!"
Berkali-kali aku membangunkan nya, namun beliau tidak bergeming sedikitpun. Disaat itu aku mulai gelisah, ini terasa semakin aneh bagiku. Kenapa dikala pertama kali aku mencoba mandiri, aku harus mengalami hal seperti ini? Aku menepis pikiran negatif yang tiba-tiba datang dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa.
Aku berdoa agar tidak terjadi apapun karena suasana saat ini begitu tegang, tak ada seorangpun yang dapat aku sapa. Aku mencoba memberanikan diri untuk pindah ke gerbong lain.
Aku beranjak dari dudukku, seraya mencoba melihat ke arah depan dan belakang bergantian. Aku dilanda bimbang saat itu, gerbong mana yang harus aku hampiri?
Karena yang aku lihat, semuanya sama meski aku hanya melihat dari kejauhan. Penumpang cukup ramai di gerbong lainnya. Tapi aku berharap ada seseorang yang bisa aku tanyai di gerbong itu.
Anehnya...
Begitu aku ingin melangkahkan kakiku, aku merasa kakiku berat hingga tidak bisa berbuat apapun. Aku ingin menangis dan menjerit, namun suaraku tidak keluar, seolah tertahan di tenggorokan.
Ya Tuhan! Apa yang terjadi sebenarnya?
Aku mulai mencoba untuk kembali melangkah, tiba-tiba lampu kereta yang aku tumpangi mati. Aku semakin gelisah dan spontan berteriak. Entah terdengar seseorang ataupun tidak, tapi aku merasa kalau aku sedang berteriak sekeras mungkin. Menangis memanggil ibuku.
Hanya selang beberapa saat, lampu kembali menyala disertai penumpang yang tiba-tiba hilang. Aku histeris tentu saja.
Namun saat aku melihat sekitar, ternyata hanya gerbong ini saja yang lampunya menyala. Gerbong lain yang ingin aku tuju tampak gelap gulita. Tentu saja aku semakin takut dan bingung.
Apa yang harus aku lakukan?
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesosok wanita muda. Mungkin usianya tidak jauh lebih tua dariku, dia berjarak hanya selang beberapa sekat kursi dari tempatku saat ini.
Aku pikir ia adalah korban, sama seperti yang aku alami. Akupun mencoba menghampirinya, berjalan melewati sekat kursi dan berhenti tepat di samping kursi tempat dia duduk. Kulihat wanita itu duduk dengan kepala menunduk dan bersandar di kursi yang berada di depannya. Jujur aku takut, tapi aku mencoba memanggilnya meski jarakku dengannya belum begitu dekat.
Aku memanggilnya, tapi tidak ada tanda-tanda sahutan darinya, aku pikir dia sedang tertidur atau sedang menangis karena mengalami hal yang serupa denganku. Aku mencoba menguatkan diri untuk semakin mendekatinya.
Saat itu aku berada tepat di sisinya, meski sedikit lebih ke belakang. Aku memandanginya senjenak.
Apa yang terjadi dengan wanita ini, sehingga dia tidak menggubris panggilanku?
"Mbak!!"
"Mbak!!"
"Tolong Mbak!!"
"Ada apa sebenarnya dengan kereta ini, Mbak?!"
Tepat setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dengan tidak sepatah kata pun keluar dari bilah bibirnya. Dia menoleh ke arahku.
Dan...
Betapa terkejutnya aku setelah melihat wajahnya dengan jelas. Aku seolah kehilangan kendali atas tubuhku, aku mati rasa. Seluruh tubuhku kaku, tak dapat digerakkan. Aku hanya menganga tanpa mampu mengatakan sepatah kata.
Karena wanita itu ternyata bukan manusia, dia menghampiriku dan tangannya mencengkram erat lengan kananku. Aku sama sekali tak dapat mengelak dan hanya bisa menangis sekeras mungkin, berharap ada seseorang yang bisa menolongku.
Wanita itu berusaha mencengkeram leherku dengan tangannya yang lain. Wajahnya yang bisa dibilang penuh luka, dia menyeringai ke arahku.
Grepp
Dia mencekikku!!! Aku mencoba memberontak, namun seketika tubuhku terkulai lemas karena sudah terlambat. Aku hanya mampu memanggil seluruh keluargaku dalam hati.
Aku sadar kala itu aku mulai tergeletak di lantai kereta dengan pandangan yang mulai gelap. Aku menutup mataku, dan berdoa.
Mungkin doaku terkabul karena seketika ada yang merengkuh kedua bahuku, seraya memanggilku.
"Neng!!"
"Neng!! Bangun Neng!!"
"Neng!!"
Aku mengerjapkan mataku, berusaha menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba memasuki retina. Dan untuk kesekian kalinya aku terkejut karena saat itu aku sudah dikerumuni beberapa orang, yang juga berusaha membopongku, membawaku keluar dari gerbong kereta.
Aku dibawa ke pos waktu itu di stasiun terakhir, dengan perasaan bingung aku teringat kejadian sebelumnya dan memutuskan untuk bertanya.
"Pak! Wanita yang tadi mana? Tolong pak, ada yang berusaha membunuhku." Tuturku dengan nada panik.
"Tenang Neng! Eneng duduk aja, Eneng aman disini." Jawab security itu seraya menyodorkan botol air mineral ke arahku.
Aku masih tidak habis pikir, apa sebenarnya yang terjadi? Namun bapak security itu mengatakan kalau aku tergeletak di kursi, tertidur lama karena kereta yang kutumpangi adalah kereta terakhir sehingga penumpang seluruhnya sudah turun.
Bapak security itu mengatakan aku hanya tertidur. Pihak security mencoba menghubungi keluargaku yang memang tidak terlalu jauh dari stasiun karena aku masih shock. Aku hanya menunggu keluargaku menjemput di stasiun.
Itulah ceritaku.
Aku tidak tahu, apakah itu benar terjadi atau hanya sekedar mimpi...
Tapi semua itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan.
END