“Take care! Pastikan sabuk pengaman, dan kencangkan pegangan kalian!”
Pramugari berusaha menenangkan penumpang meski dia sendiri ketakutan, sepuluh menit terasa sangat lama ketika pesawat yang aku tumpangi terombang-ambing dalam badai ganas tidak tahu asal-muasalnya. Semua penumpang ketakutan, teriakan histeris salah satu penumpang memancing kepanikan penumpang lain. Suara bayi menangis, bau muntahan, keringat, semua bercampur tak karuan mengaduk-ngaduk hidung. Lagi pula siapa yang akan mengkhawatirkan itu? Semua orang mengkhawatirkan keselamatannya masing-masing. Aku sendiri tidak bisa disebut baik-baik saja, kakiku rasanya mati rasa, darahku terasa beku karena saking takutnya, ingin rasanya berteriak, tapi mulutku bagai terkunci dan tenggorokanku seperti tersedak apel. Nyawaku berada di ujung tanduk.
Azura Ihya di sebelahku yang merupakan partnerku tidak jauh berbeda keadaannya. gadis berkulit putih cerah, bermata cerah, berwajah cerah, mempunyai bibir cerah, berambut cerah, sifatnya juga cerah, segalanya cerah, kecuali saat ini. Wajahnya meredup, matanya tertutup, mulutnya mengatup bagai ada yang membungkamnya, biasanya dia yang paling percaya diri dalam menghadapi segala hal, menghadapi orang asing, menghadapi lingkungan asing, bersosialisasi dengan orang lain, kemampuan bahasa inggris yang mengagumkan, namun di keadaan genting semacam ini agaknya kemampuan itu kurang bisa diandalkan dan kini tenggelam dalam keputusasaan.
“Aduh san, bagaimana ini san, bagaimana ini! Aku tidak mau mati, tidak mau, aku harus pulang, aku mau pulang!”
Begitulah kata-kata terakhir Azura dengan suara parau dan tangis ketakutan, sebelum menjadi sedemikian mengenaskan. Sementara aku hanya bisa diam seribu bahasa, tidak sempat berpikir untuk menjawab pertanyaan Azura, dadaku bergemuruh, berdentum-dentum, menghitung detik-detik akhir riwayat hidupku. Berakir sudah. Hans, Herry, Farahdina, Firman, Mufti, Izza, Hanum, Bu Indri, Pak Subi, Pak Kusman, Pak Jefri, Bu Diah dan Pak Falah, yang merupakan orang terdekatku, satu delegasi Nusantara, sama-sama perwakilan dari LIPI dan satu pesawat bersamaku, aku tidak tahu sama sekali keadaan mereka. Padahal baru saja kami pulang dari Negeri Paman Sam, berkompetisi ketat di sana membawa nama baik Nusantara. Mati-matian demi memperoleh medali, diremehkan juri, dihujat pengunjung, dihujat juri yang pura-pura menjadi pengunjung, belum lagi ketika persiapan sebelum lomba, entah berapa waktu yang kami habiskan untuk mempersiapkan persentasi dan mempersiapkan jawaban dari kemungkinan pertanyaan saat exhibition. Semua sudah cukup sulit bagiku. Lupakan medali, sertifikat, pujian-pujian yang kudapat. Tidak ada yang kupikirkan selain keselamatan diri sendiri kali ini.
Kabin pesawat ini terasa berputar-putar cepat, tak terkendali. Kepalaku pusing, tubuhku kaku dan terbanting-banting. Pesawat ini terhuyung dan terus melakukan tarian manuver bebas, sebebas-bebasnya. Sang pesawat terlalu khusyuk berputar-putar sampai-sampai lupa apa yang di dalamnya. Hinggalah suara keras terdengar, seperti dentuman, dan tak lama air asin menyambut, memeluk kami tak sabaran, tubuhku basah dibuatnya. Semua panik dan berteriak. Pramugari yang tadi mengumumkan dengan suara lantang tidak terlihat lagi batang hidungnya. Kejadian diluar dugaan, siapa juga yang bisa menebak hal ini akan terjadi?
Hujan deras dan gemuruh ombak terdengar berirama, langit masih mendung gelap dengan congkak menghalangi sinar matahari. Pesawat yang kami tumpangi terombang-ambing di tengah laut berulang kali digulung-gulung ombak yang murka, mengerikan. Pengalaman yang tidak pernah kuharapkan.
Hempasan air laut di dalam kabin memaksaku untuk bergerak, aku melepas sabuk pengamanku, menarik tangan Azura yang mulai menggigil dan memberi isyarat untuk mengganggam tanganku kuat-kuat, kemudian berusaha keluar dari kabin sebelum terlambat dan pesawat ini tenggelam. Sebenarnya rasa takut telah sempurna menyelimutiku, sangat inginku keluar dari kenyataan ini. Namun aku berusaha mempertahankan kesadaranku, khayalan macam itu tidak membantu sama sekali. Air laut perlahan memenuhi kabin pesawat yang mulai tenggelam. Para penumpang saling berdesakan berusaha keluar melalui lubang bekas dari pesawat yang patah atau pintu keluar yang telah dibuka. Aku termasuk di antara mereka, terhimpit.
“Move! Move! I wanna out now, get out of my way!”,
Seorang penumpang lelaki paruh baya dengan wajah panik merangsek maju mendorong-dorong penumpang lain
.
“You idiot, bastard!, ini sudah sesak, jangan kau buat suasana makin runyam, kau mau berurusan denganku!?” umpat seorang wanita berbadan gempal yang sedang didorong-dorong oleh lelaki paruh baya tadi.
Sementara di depanku pemuda berumur tiga puluhan bertubuh tinggi, clingukan menatap kiri dan kanan, dan tiba-tiba dia berteriak histeris,
“Where’s my wife, where’s my son!? Somebody, anybody, help me, PLEASE!”
Dia seperti orang linglung yang kehilangan akal, dia menatap penumpang lain dengan pandangan memburu dan tergesa-gesa, tampak mengenaskan, namun aku sama sekali tidak ingin berurusan dengan dia. Bagaimanapun keadaanku tidak memungkinkan untuk membantu, begitupun juga dengan kebanyakan orang, siapapun pasti ingin keluar dari kabin yang terus terisi air dan hampir tenggelam ini. Aku mengendap-ngendap, berusaha tenang, bermaksud menyelinap menghindar demi tidak berurusan dengannya. Namun hal itu rupanya tidak akan terjadi.
Lelaki berbadan bidang itu, bagai memperoleh ilham, petunjuk, dengan sigap segera menoleh ke arahku. Menatapku tajam, tubuhku mengeluarkan keringat dingin dibuatnya. Sepertinya ini tidak bagus, firasatku, dan benar saja.
Dia menggenggam bahuku kuat-kuat, menggoyang-goyangnya seenak jidat dan berteriak “WHERE’S MY WIFE, WHERE’S MY SON!” teriaknya tepat di depan mukaku, dengan mata melotot. Benar-benar orang gila.
Wajahku yang pucat semakin pucat, keringat dinginku semakin deras, tatapannya yang menggila terkesan mengerikan. Dia benar-benar stress dan sudah tidak sadarkan diri. Aku berpikir harus bisa megendalikan diri dan rasa takut yang kurasakan, kemudian mencoba berani untuk membentaknya balik. Harapannya orang aneh itu tidak menggangguku lagi,
“I don’t know, and I don’t care! Enyah kau crazy bastard!” gertakku, sambil menepis tangan hangatnya yang mencengkeram kuat kedua bahuku, sementara mataku merem-melek dan tanganku gemetar.
Betapa beruntungnya tangan itu segera terlepas, kemudian dengan segera aku melanjutkan penyelamatan diri dan Azura demi keluar dari kabin sialan ini. Aku sempatkan menengok ke belakang, tampaklah orang aneh tadi tertunduk murung, seolah tidak lagi memiliki alasan hidup. Maaf saja aku juga sedang dalam kondisi kesusahan.
Dalam keadaan yang tak karuan ini, di saat semua orang memikirkan keselamatannya sendiri, ketika satu dengan yang lain tidak peduli lagi, saat kepanikan mendominasi. Tidak jauh terlihat di hadapanku, seorang bertubuh kekar dan berotot tampak lihai membantu penumpang lain untuk keluar dari pesawat. Dia sangat santun dan setia bertahan di pintu pesawat yang terbuka untuk menarik keluar membantu orang yang berdesakan ingin keluar, tidak peduli siapapun, dia sigap membantunya, tua, muda, anak-anak, pria, wanita, semua yang mencapai tangannya akan ditariknya keluar. Aku memberikan tangan Azura terlebih dulu untuk di tariknya. Selanjutkan diriku yang merangsek naik ke pintu itu, tidak peduli menginjak bahu atau kepala penumpang lain—kurasa—yang masih berdesakan demi meraih tangannya.
Hingga beberapa waktu kemudian pesawat benar-benar tenggelam. Tidak tahu apakah ada korban jiwa dalam insiden ini, tapi seingatku ada beberapa orang yang pingsan. Entah mereka sempat dibawa keluar atau tidak, aku tidak tahu pasti. Yang pertama kupikirkan adalah mencari Hans, Herry, Farahdina, Firman, Mufti, Izza, Hanum, Bu Indri, Pak Subi, Pak Kusman, Pak Jefri, Bu Diah dan Pak Falah, untuk mengetahui keadaan mereka. Sementara tanpa jeda waktu, angin kencang, ombak yang menggila dengan gelombang setinggi dua meter menggulung-gulung terus menghajar kami hingga beberapa menit kedepan. Jangan harap bisa menghubungi seseorang, alih-alih tidak ada sinyal, aku disibukkan berusaha untuk bertahan untuk tetap hidup, menggerak-gerak kaki dan tangan, berusaha meraih apapun dan mencuri-curi napas dalam kegilaan ombak ini, lagipula gawai yang terendam air terlalu lama mendadak menjadi barang rongsokan.
Kulihat di depan mataku, seorang ayah perkasa mati-matian mempertahan anaknya yang masih bayi agar tidak terendam air, sementara otot bisep lainnya menjadi tempat bergantung sang istri agar tidak tenggelam. Ketika aku memperhatikan lebih baik lagi, ternyata ayah perkasa itu adalah orang gila yang kujumpai di dalam kabin tadi. Wajah orang itu sudah lebih baik dari kondisi sebelumnya, namun tetap saja tetap memprihatinkan. Kondisiku juga tidak lebih baik dari itu, pelipisku perih dan mengeluarkan darah, kakiku terasa sangat pegal setelah terbentur sesuatu, mungkin memar. Kondisi Azura terlihat sangat payah, beberapa kali masuk tenggelam dalam air, kemudian muncul terbatuk-batuk memuntahkan air, dan kembali tenggelam gelagapan. Aku agak terkejut, gadis yang memiliki tubuh ideal seperti dia tidak bisa berenang. Dengan senang hati kukalungkan tangannya ke leherku. Meski tidak terlalu baik hasilnya, karena aku juga akhirnya kewalahan keluar masuk air, gelagapan. Beberapa kali hidungku kemasukan air. Nafasku tersengal. Mataku mengerjap-ngerjap terasa perih.
Saat semua mantan penumpang pesawat sibuk dengan tingkahnya masing-masing, meratapi nasib, tiba-tiba orang bertubuh besar yang santun dan peduli tadi berteriak sangat keras. Dia memberi intruksi kepada semua penumpang selamat untuk saling berpegangan, agar tidak ada yang terpisah. Kata-katanya menggelegar, keras, bagai petir. Cukup keras untuk di dengar semua orang. Berkarisma kuat, cukup untuk membuat semua orang terkesima, Aku dan semua orang bagai tersihir, berkumpul menuju arah sumber suara, mulai saling berpegangan, mengikuti perintah itu. Mungkin ini termasuk efek dari rasa pasrah sepenuhnya, dikuasai rasa takut, panik, sulit untuk berpikir, seandainya aku diperintahkan untuk menahan napas, atau menghentikan gerakan kakiku yang bisa saja membuatku tenggelsam, bisa jadi aku tetap mengikutinya.
Formasi tersebut bekerja, ajaib, setidaknya kami tetap bersama, tidak ada yang terpisah hingga badai mereda. Matahari mulai menampakkan diri di balik awan, sangat terang sinarnya menerpa menghangatkan tubuhku. Kilauan pantulan cahaya mulai menghiasi samudra luas tanpa daratan sejauh mata memandang. Sangat indah memanjakan mata. Menyelinap perasaan tenang dalam hati. Betapa aku merasa beruntung bisa berada di sini, dengan keadaan semacam ini.
Tunggu.
Aku tidak akan tertipu hanya dengan keindahan sesaat semacam ini!
Lihatlah sejauh mata memandang tidak terlihat daratan sama sekali, bukankah itu sangat menakutkan. Ya, takut, begitulah seharusnya yang aku rasakan dan apalagi aku tidak tahu apa-apa soal bintang untuk menentukan arah, dadaku terasa sesak membayangkan semua orang akan mati perlahan tersedak air. Kami hanya bisa menunggu. Mudah-mudahan fakta pesawat kami yang tiba-tiba hilang segera mendorong tim evakuasi untuk menyelamatkan kami.
Anak-anak, orang yang pingsan, dan orang tua renta telah dinaikkan ke kapal karet yang sempat diambil dari dalam pesawat. Aku sempat heran bagaimana kapal karet bisa tersimpan dalam pesawat. Namun, sepetinya tidak ada waktu untuk menghawatirkan itu. Kakiku sendiri sudah mulai pegal dan payah sedari tadi bergerak, Azura seperti kehilangan jiwa, tatapannya kosong bagai tidak lagi memiliki harapan masa depan. Semua orang tidak jauh berbeda. Anak-anak merengek, orang tua kebingungan, politisi kelabakan karena belum sempat merasakan kekayaan hasil jerih payahnya, para bujang lapuk merana, sebab merasa di hidupnya yang sudah sial sekarang bertambah sial. Aku tersenyum memikirkan imajinasiku yang mulai liar. Setidaknya ada beberapa orang petugas awak pesawat masih waras dan merasa bertanggung jawab untuk menenangkan penumpang pesawatnya.
Tidak seperti mereka dengan wajah-wajah yang suram. Aku memiliki kabar baik. Aku berhasil menemukan delegasi nusantara. Hans, Herry, Farahdina, Firman, Mufti, Izza, Hanum, Bu Indri, Pak Subi, Pak Kusman, Pak Jefri, Bu Diah dan Pak Falah, mereka semua lengkap tanpa kurang satupun. Aku senang menemukan mereka. aku melambaikan tangan, mereka melihatku dan beberapa membalas lambaian tanganku. Aku tersenyum, mereka membalas dengan senyum persahabatan yang sama. Aku tertawa lebar, mereka tiba-tiba saja bungkam menatapku dengan tatapan curiga, dan penuh selidik.
Aku sedikit khawatir dengan keluarga yang menungguku. Orangtua, kakak, paman, bulik, pakde, bude, simbah, sepupu. Belum lagi keluarga besar sekolahku, guru pembimbingku bu Eli, Kepala sekolah, waka kurikulum, waka kesiswaan, guru-guru, dan juga teman-teman yang sangat mendukungku. Bagaimana perasaan mereka yang menaruh harapan besar kepadaku saat aku tidak kembali. Setelah melewati masa-masa sulit, bersama delegasi yang membersamaiku. Arfan yang merupakan teman sekamarku saat menginap di Arizona, kemampuan bahasa inggrisnya yang expert karena sudah menjadi bahasa sehari-hari di sekolah khususnya di Ibu Kota, Hans yang satu tim dengan Farahdina dengan analisisnya yang tajam, Herry teman sekamar Hans yang hanya sendiri karena partnernya ada urusan tertentu, namun persiapannya luar biasa matang. Mufti dan Firman yang satu tim dan juga satu kamar hotel saat di Arizona dengan karya inovasinya yang keren, yaitu BOTANI, Robot Pembantu Tani. Robot itu bisa membantu mengatur suhu, kelembapan dan kesediaan air yang dibutuhkan bagi tumbuhan. Begitu mengesankan. Izza dan Hanum, mereka berdua masih tingkat Elementary School, umurnya saja masih sangat muda sekitar sepuluh hingga dua belas tahun, namun sangat mengagumkan karyanya dipercaya oleh Lembaga Penelitian LIPI untuk diikutkan di lomba Internasional Intel ISEF. Aku merasa agak tersindir, memikirkan waktu seumurannya, aku hanya suka bermain-main, menjahili kakak dan menangis bila keinginanku tidak dikabulkan. Azura, partnerku satu kamar dengan Farahdina. Aku merasa beruntung satu tim dengannya, dia memiliki analisis tajam, kemampuan bahasa inggris yang tidak diragukan lagi, bahkan inovasi yang kami lombakan, ide awal berasal darinya. Microcube Photovoltaic: Penyuplai Listrik Otomatis Berbasis Photovoltaic sebagai Sistem Cepat Tanggap Darurat Bencana. Alat itu berupa kotak kecil yang dapat menyimpan daya listrik tinggi, memanfaatkan sinar matahari sebagai penghasil listrik yang di-convert oleh panel-panel elastis photovoltaic yang bisa mengembang dan mengatup seperti model satelite terbaru. Alat itu mengembang bisa mencapai enam kali llipat ukuran semula, dan ketika mengatup akan membentuk kotak kecil. Peranku sendiri hanya sebagai tukang preparasi. Memastikan alat itu bekerja dan memperbaiki bila alat ada masalah adalah tanggung jawabku, tentang persentasi aku hanya menyampaikan seadanya itupun tergagap-gagap. Sisanya aku serahkan pada Azura, menambah kekurangan persentasi, menjawab pertanyaan juri, dan melayani pengunjung yang banyak tanya.
Kemudian ada Pak Subi seorang profesor dari LIPI yang dipercaya sebagai salah satu juri Intel ISEF. Bu Indri, perwakilan dari LIPI yang menemani kami di sini, memberi tips dan trik untuk persentasi dan meyakinkan juri. Pak Jefri, sebagai pembimbing dari Arfan, masih sangat muda masih menjalani kuliah Magister. Pak Kusman, pembimbing dari Firman dan Mufti, ahlinya program microcontroller. Pak Falah dan Bu Diah, yang merupakan pembimbing tim Izza dan Hanum sekaligus orang tua dari Hanum. Benar-benar pasangan ideal, melahirkan generasi yang berprestasi. Namun akankah semua hanya akan berakhir di sini? Pikiranku kalut, ingin rasanya terbangun, berharap ini semua hanya mimpi.
Tiba-tiba aku teringat mempunyai sesuatu pemberian dari Davira, seseorang yang sangat aku benci, padahal aku pernah sangat mencintainya. Aku diberitahukan untuk menghubunginya melalui benda itu jika terjadi sesuatu yang sangat gawat. Sempat hampir menghilangkannya, karena aku pikir tidak akan pernah menggunakannya. Tapi saat ini aku berada di keadaan harus melakukan apapun yang bisa menyelamatkanku meski kemungkinan sangat kecil. Berpikir untuk menghubunginya, artinya saat ini aku benar-benar terhimpit. Beruntung alat itu berada di kantung khusus yang selalu kubawa. Aku menghidupkan alat itu harap-harap tetap berfungsi meski telah lama terendam air. Tanpa dinyana, muncul tampilan holo menampilkan wajah Davira dan mengeluarkan suara
“What's up, Hasan?”
Aku terkejut sekaligus merasa sangat beruntung bisa terhubung dengan Davira. Sedikit aneh karena seharusnya tidak ada sinyal sama sekali di sini.
“Tolong aku, please! Kami hampir tenggelam di tengah laut!,” jeritku dengan kosakata campur aduk, awalnya ‘aku’ namun berakhir ‘kami’.
Alat itu mendadak mati tanpa jawaban. Aku panik belingsatan, menekan-nekan tombol yang ada di alat itu berharap bisa terhubung kembali, namun hasilnya nihil. Aku semakin berusaha dengan menekan-nekannya lebih keras. Alat itu seperti gawai lainnya tidak bisa bekerja, padahal aku yakin seharusnya alat ini bekerja.
“Hei apakah gawai itu bekerja!?” gertak seseorang di depanku, “berikan padaku!”
Orang tersebut merebut begitu saja alat itu dari tanganku kemudian menekan-nekan asal. Wajahnya suram, hidungnya kembang kempis, tangannya gemetar, terlihat ketakutan dan panik seperti orang kebanyakan.
“Hei, bagaimana cara menyalakannya?” selidik orang itu, membelalakkan matanya ke arahku.
“Ak-aku tidak tahu. Aku hanya memencet tombol itu, kemudian menyala sesaat dan akhirnya mati lagi,” ucapku reflek dan tergagap, karena kaget.
“Ah! Sama saja, alat ini pasti error kemasukan air,” ucap orang itu kesal, kemudian melemparnya seenak jidat, dan membuatnya tenggelam.
Sontak aku menyelam berusaha meraih alat itu, kulepas tangan Azura, kubiarkan berpegangan dengan seorang di sampingnya, formasi itu masih bertahan. Mendadak kumerasa alat itu menjadi sangat penting dalam hidupku. Aku merasa sangat marah, ingin rasanya aku memukul keras orang tak tahu diri itu. Beruntung alat itu belum terlalu jauh tenggelam sehingga aku bisa segera meraihnya.
Setelah kembali ke permukaan, aku kembali menekan-nekan alat itu berharap kembali menyambung. Meski sebenarnya aku tidak begitu yakin, apa yang bisa dilakukan Davira, seorang gadis kelas sebelas SMA, untuk bisa menyelamatkanku yang hampir tenggelam di tengah samudra Atlantik diantara benua Amerika dan Asia ini. Rasanya aku benar-benar ingin menangis sekarang. Aku telah putus asa.
Hidupku akan berakhir dipelukan samudra dihiasi terpaan sinar mentari yang damai. Dalam keadaan kalut, bayang-bayang aneh bermunculan pada layar mataku selayaknya orang menjelang ajal. Ingatan-ingatan masa hidupku berseliweran di kepalaku, aku seperti teringat akan sesuatu.
***