sinar mentari mulai menelusup masuk melalui celah - celah tirai berwarna putih tulang. membangun Luna yang mulai merasakan pegal dan nyeri pada sekujur tubuhnya.
"gue harap bisa seperti ini der, loe yang terakhir gue lihar sebelum tidur dan loe yang pertama gue lihat tiap hari" ucap Luna menatap lekat wajah deri. kemudian mendaratkan ciuman pada bibir yang masih pucat deri
"gue ke luar sebentar yah der, cari minum sama sarapan buat loe" ucap Luna mengambil tas jinjingnya.
"dan gue harap loe yang pertama der, loe tahu gue nggak mungkin nolak permintaan mama kan?" ucap Luna sebelum benar - benar keluar dari ruangan tersebut.
sebuah senyum terlukis indah di bibir pucat itu. sesekali sang pemilik menyentuh bibir, kemudian berpindah ke bagian dada. memastikan yang terjadi adalah nyata.
luna yang selama ini terlihat cuek dengan hubungan mereka, yang selalu bersikap dingin dalam menanggapi setiap hal. nyatanya juga mampu berubah setelah kecelakaan motor yang menimpa Deri kemarin.
"yah Tuhan der, gimana keadaan kamu? apa masih sakit?" tanya Nilam, bunda deri.
setelah mendengar peristiwa kecelakaan deri, Nilam segera bergegas kembali dari luar kota membatalkan semua agenda pertemuannya dengan koleganya.
"aku udah baikan kok bunda" ujar Deri dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.
"semalam siapa yang bawa ke sini? siapa yang jaga kamu semalam?" ucap Nilam tampak khawatir.
"udah lah bun, ada teman - teman deri kok" ujar deri tanpa menyadari sesosok bayangan yang memutar langkah setelah mendengar penuturannya.
***
"pagi Luna!" sapa deri menghampiri wanita yang sibuk dengan buku di tangannya serta headset yang menggantung di telinganya.
"hei.. hei Luna" kata deri kembali sambil melambai - lambaikan tangan di depan wajah Luna.
"hmm, kenapa?" tanya luna tanpa ekspresi yang berarti.
"kok ngambek?, kenapa nggak balik ke rumah sakit tempo hari, padahal aku nungguin kamu" ucap Deri mensejajarkan langkah dengan luna yang mulai beranjak pergi.
"buat apa?" tanya Luna kembali
"padahal nih aku mau ngenalin kamu sama bunda" kata deri
"ngenalin sebagai teman kan?" batin Luna mempercepat langkahnya.
"kok balik dingin lagi sih?" tanya deri berusaha menghadang langkah Luna
"udah yah der, gue ada kelas. dan loe udah sehat juga kan" sarkas Luna kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Deri.
***
"udah pulang nak, sini suduk dulu!" pintah Reini, mama Luna.
"ada apa mah?" ujar Luna mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan riko ayahnya.
"kapan kamu ada waktu buat bertemu dengan keluarga fahmi?" tanya Reini langsung ke inti pembicaraannya.
"ma, pa, bisa kasih waktu seminggu lagi nggak?" tanya luna
"kenapa sayang, hal baik tidak boleh terus di tunda loh nak!" ujar riko
"minggu ini luna ada beberapa UAS di kampus, luna nggak mau konsentrasi keganggu, setelah minggu depan terserah mama mau nentuin waktunya" jelas Luna
"baiklah nak, tapi janji yah? nggak bakal ngulur - ngulur waktu lagi!" kata Reini yang hanya di jawab anggukan oleh luna.
"ini terakhir kalinya gue berharap Der, dan gue harap loe secepatnya bertindak" batin Luna menatap pantulan wallpaper ponselnya.
meski sudah hampir 5 bulan menjalin hubungan namun tak satu pun dari mereka yang mengenalkan pasangan pada keluarga mereka.
baik luna maupun deri selalu bersikap acuh dengan hal tersebut. merasa nyaman dengan hubungan tanpa ada sangkut paut dengan keluarga masing - masing
***
"der! loe bisa anterin gue pulang nggak?" tanya luna, untuk pertama kalinya luna berinisiatif mengajak deri ke rumahnya.
"maaf yah, gue nggak bisa!" ucap deri dengan sedikit rasa tak nyaman menolak permintaan Luna
"gue masih ada latihan soalnya sama teman - teman gue" jelas deri menunjuk ke arah teman - temannya yang sudah siap dengan seragam tim basket mereka.
"hmm, baiklah" ucap Luna berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya.
"atau loe mau nungguin nggak, nanti kita pulang bareng?" usul deri
"nggak usah deri, gue lagi buru - buru pulang nih. gue duluan yah?" ucap Luna
"baiklah, hati - hati yah di jalan!" ucap deri.
"eh.. iya, kamu juga semangat latihannya. biar bisa menang minggu depan" kata Luna sebelum berbalik meninggalkan deri.
"kenapa der?" tanya lintang salah satu teman basket Deri
"nggak tahu nih, Luna minta diantar pulang" jawab deri dengan heran.
"tumben luna minta diantar pulang. bukannya tiap hari dia selalu pulang sendiri pake motor?" tanya lintang kembali.
"atau jangan - jangan dia mau ngomongin hal penting sama loe?" tebak lintang.
"nggak lah! biasanya juga luna to the point kalau ada masalah" bantah deri.
***
"bodoh banget sih" gerutu Luna berjalan melewati gang sempit. hari ini luna sengaja berangkat menggunakan taksi online. berharap saat pulang nanti deri akan mengantarnya pulang. namun, semua tak sesuai ekspektasinya. luna lupa hari ini deri ada jadwal latihan basket.
"hei..." teriak seseorang dari belakang luna
"kamu, tunggu bentar!" ujar laki - laki tersebut semakin mengejar langkah luna.
"mau kemana loe?" ucap pria lain yang berhasil mencegat langkah luna
"mau pulang kak, eh.. bang" ucap luna yang mulai ketakutan dengan dua pria berwajah sangar tersebut.
"buru - buru amat sih, main dulu dong sama kita" ucap pria yang berbadan besar. dari aroma nafasnya yang berbau alkohol bisa dipastikan mereka habis meminum miras.
"tidak, gue harus pulang mama udah nungguin" ucap Luna yang semakin bergetar.
"main dulu lah kita, belum malam juga" ucap pria yang mencegat langkah luna tadi
"udahlah sini, nanti kita antar pulang yah" tambah pria bertubuh besar sambil menarik paksa tangan luna.
"nggak... nggak.. tolong lepasin, sakit.." rengek luna berusaha berontak melepaskan diri
"tolong.... tolong.... tolongin luna" teriak luna dengan sekuat tenaga.
"udah diam, nggak usah buang tenagamu dulu." ucap pria yang berada di belakang luna sambil berusaha membekap mulut luna. dengan refleks luna menggigit tangan pria tersebut yang langsung merintih kesakitan. membuat temannya tak siaga dengan tendangan luna yang mengenai paha atasnya. kesempatan itu langsung dimanfaatkan luna berlari kembali ke arah jalan raya yang sempat dia lewati tadi.
"tolong... tolongin gue" ucap luna mencegat sebuah mobil sedan yang melintas
"loe kenapa?" ucap pria dengan perawakan tinggi tersebut. tanpa basa basi luna langsung menerobos masuk dan meminta pria tersebut bergegas pergi. namun naas kedua pria tersebut berhasil menghadang mobil tersebut. dengan terpaksa pria itu keluar dari dalam mobil dengan perlahan.
"sini loe, berani loe ikut campur!" ucap salah satu pria yang langsung menghajarnya. meski sempat melawan namun pria itu dapat dengan mudah dikalahkan oleh dua preman tersebut.
tak selang lama sirine polisi mulai terdengar. ternyata luna sempat menghubungi kepolisian setempat untuk meminta bantuan.
***
"maaf sudah membuat mu seperti ini" ucap Luna
yang sedang mengobati luka di wajah pria tersebut. meski dengan tangan dan tubuh yang gemetar hebat namun luna berusaha menahan air mata yang berusaha ia bendung.
"gue fahmi, dan udah selayaknya kita saling membantu" ucap pria tersebut menarik luna dalam peluknya. berharap itu bisa membuat luna sedikit tenang.
"luna, loe dimana?"
"kenapa nggak masuk kampus?"
"dari kemarin chatnya kok nggak dibalas"
"loe lagi sibuk yah?"
"nanti hubungi gue yah"
"jaga kesehatan yah!"
isi chat deri yang tak digubris luna
setelah kejadian kemarin luna hanya mengurung diri di kamar. tak berani keluar dan juga tak berani menceritakan apapun pada Reini yang selalu berusaha membujuknya untuk bercerita.
***
"nak senin depan kamu siap - siap yah, kita mau ketemu sama keluarganya fahmi" tutur riko di selah sarapan mereka.
"baik pa" ucap luna tanpa mengalihkan pandangannya
"papa serius, senin?" tanya Reini
"iya ma, dua hari lagi. makin cepat makin bagus juga kan ma" tambah riko
"apa kamu yakin, siap nak?" tanya reini menatap lekat putrinya. mengingat keadaan luna saat kembali ke rumah kemarin.
"iya ma" jawab luna singkat
"mama kenapa sih, kok sekarang kayak nggak rela gitu" ucap riko menatap istrinya heran
"nggak kenapa - kenapa pa" ucap reini melanjutkan kegiatannya.
***
"pagi sayang kok kemarin nggak datang?" tanya deri menghampiri luna
"kemarin nggak enak badan" jawab luna tanpa menghentikan langkahnya.
"kamu sakit?" tanya deri menempelkan punggung tangannya pada dahi luna
"udah lah" ucap luna menepis pelan tangan deri
"udah baikan kok" ucap luna pelan.
"der, loe benaran sayang kan sama gue?" tanya luna
"hmm, gue sayang banget malahan sama loe" tutur deri dengan mantap
"kalau gitu temui orang tua gue!" pintah luna yang membuat deri terdiam sekejap.
"loe seriusan?" tanya deri yang hanya dijawab anggukan kecil oleh luna
"gini yah, loh tunggu gue yah. setelah gue mapan nanti, tanpa loe minta gue bakal dengan suka rela datang ke rumah loe" jelas deri yang semakin membuat luna kesal
"jadi?" tanya luna memperjelas
"untuk saat ini gue belum siap" ucap deri
"oh gitu yah?" ucap luna dengan senyum ketirnya
"oh yah, senin loe datang yah ke pertandingan basket kami" ucap deri mengalihkan pembicaraan
"nanti yah kita lihat. tapi gue usaha in datang" ucap luna berusaha mengendalikan ekspresinya
"iya, makasi sayang" ucap deri mencium puncak kepala luna.
*hari senin di pertandingan basket*
"doa in kita yah lun, biar menang!" pintah deri menyempatkan ke kursi penonton untuk berbincang dengan luna
"iya.. iya.. sana yang semangat mainnya, biar loe pada menang" ucap luna tersenyum cerah
"wihh senyum luna manis juga yah" goda lintang
"apaan sih, udah sana. udah mau mulai juga" ujar deri sedikit tak suka dengan tatapan lintang pada luna.
*setelah pertandingan*
"selamat yah!" ucap luna menghampiri deri dan beberapa temannya
"iya makasi sayang" ucap deri menyambut luna dengan pelukan
"ini juga berkat hadirmu, jadi makin semangat buat menang" ucap deri sesekali mengusap lembut kepala luna.
"hemm, dikondisikan dong tempatnya" ucap bima
"iya nih, tahu gini gue bawa pasangan juga" timpal lintang.
"hahaha emang loe punya?" tanya bima
"yah kagak sih!" ucap lintang dengan mengulas senyum jailnya
"tahu nih, udah lama pacaran! jadi kapan ada undangannya" nyeletuk dirga yang mendekat ke arah mereka.
"kalian tunggu saja, nanti kalau udah siap kita kabarin deh" ucap deri
"loe juga kapan?" tanya bima
"tahu nih ntar diambil anak sekolah sana lagi" ujar lintang
"yah enggak bakal lah, secepatnya deh gue urus" kata dirga tersenyum penuh arti
***
"der, nggak usah anterin gue. sampai disini saja" ucap luna melepas genggaman tangan deri saat sampai di parkiran motor
"kenapa?" tanya deri heran
"gue mau kita putus" ucap luna yang bagaikan sambaran petir untuk deri
"ini lagi prank yah?" tanya deri polos
"gue dijodohin sama orang tua gue, nanti malam mereka akan nentuin tanggal pernikahan kami" tutur luna
"gue udah ngulur waktu seminggu, berharap loe bakal datang nemuin orang tua gue. kalau pun loe belum siap, loe hanya perlu perkenalkan diri loe ke mereka dan mereka akan batalin niatan mereka tapi loe nggak pernah datang der" kata luna dengan sesekali ngusap air matanya yang berhasil lolos
"gue udah berusaha buat loe mengerti dan agar loe setidaknya bisa ketemu sekali saja sama mereka. sampai kemarin gue hampir diperkosa sama preman saat pulang karena loe nggak bisa nganterin gue. tapi setiap usaha gue gagal" jeda luna untuk mengambil nafas
"kenapa loe nggak nolak?, apa loe nggak sayang sama gue?, kenapa harus nungguin gue dateng orang tua loe? loe bisa membatalkan tanpa harus gue lun" lirih deri menatap luna dengan mata memerah
"andai gue bisa nolak permintaan mama, gue pasti udah lakuin itu, andai yang datang nyelamatin gue orang lain dan bukan dia. mungkin gue nggak akan ngerasa hutang budi sama dia" ucap luna.
"tapi bisa aja itu semua akal bulus dia?" duga deri
"kalau itu benar, kenapa dia sampai patah tulang, kenapa dia sampai cedera parah atau kenapa dia nggak tahu mau antarin aku pulang ke alamat mana" kata luna
"tapi gue sayang sama loe, gue nggak mau kehilangan loe!" ucap deri mendekap erat tubuh luna.
"maaf der mungkin ini memang yang terbaik buat kita" ucap luna melepas paksa pelukan deri dan berlari ke arah taksi yang menuggu penumpang.
dan akhirnya luna tetap menerima perjodohan tersebut serta berharap mereka bisa saling menyayangi. sedangkan deri hanya bisa berusaha menerima semua, meski banyak penyesalan yang dia tampung untuk dirinya sendiri