"Sepertinya akan turun hujan..kita harus bergegas kalau gak mau ketinggalan jemputan" aku mengumpulkan berkas yang ada di atas mejaku lalu secepatnya berjalan keluar dari ruangan itu,dengan tergopoh kulihat Irma asistenku berusaha mensejajarkan langkahnya denganku.
"Bisa gak bawanya? kalo repot,sini aku bawa sebagian" ku ulurkan tanganku untuk mengambil separuh barang bawaannya.
"Bisa kok Bu" jawabnya
"Sudah..sini saya bawa sebagian,kita bisa terlambat kalau kamu begini" Irma kemudian menyerahkan sedikit kertas-kertas itu padaku
Untunglah ketika sampai di depan kantor,mobil jemputan masih menunggu kami..
"Kirain sudah pulang Bu,hampir saja saya jalan" Arfah sang sopir menegur ku,lalu mempersilahkan aku dan Irma untuk mengambil tempat duduk di tengah.
"Trimakasih Pak sudah mau nunggu.." ucapku
"Bu..apa kita jadi ke rumah pak Munawarman?" pertanyaan Irma membuatku menepuk jidat,aku lupa..
"Duh..Ir..coba di telpon dulu,orangnya bersedia gak ditemui sekarang? aku betul-betul lupa"
"Iya Bu.." sejurus kemudian,aku mendengar Irma bercakap di telpon.
"Oh iya pak..terimakasih banyak karena sudah mau menyediakan waktunya untuk kami..kami menuju ke sana" sepertinya Irma berhasil membuat janji temu dengan Pak Munawarman.
"Kita diminta segera ke kantor beliau Bu..bagaimana?" tanya Irma.
"Pak Arfah,bisa minta tolong? drop kami di depan kantor Imigrasi,saya ada janji dengan kepala kantornya sekarang ..kamu langsung pulang saja Ir,nanti saya yang akan menghandle semuanya"
"Baik Bu"
"Trimakasih Bu"
Jawab Pak Arfah dan Irma bersamaan.
10 menit kemudian..
Tok tok tok
"Masuk"
"Maaf pak..ini ada Ibu Catherine dari Bank B ingin bertemu degan Bapak,katanya sudah ada janji" Sekretaris Pak Munawarman memberi tahu kedatanganku pada bos nya.
"Persilahkan saja masuk Ning..saya memang sudah ada janji" kudengar sebuah suara yang sangat berwibawa dari dalam ruangan tersebut.
"Silahkan Bu" Wanita yang ku dengar bernama Ning itu mempersilahkan aku masuk.
"Trimakasih" aku tersenyum padanya.
"Masuk Bu.ayo..silahkan..mau duduk dimana nih?" Pria yang sangat ramah,itu penilaian ku.
"Ah iya..terimakasih Pak..di sofa itu saja" aku menunjuk sofa kecil di sudut ruangan itu,dekat dengan jendela..berkesan tidak terlalu formal saja menurutku.
"Boleh..boleh..ayo Bu..silahkan duduk" kami lalu menuju sofa tersebut.
Hampir satu jam kami membahas produk yang aku tawarkan padanya.Akhirnya beliau menyetujui untuk membeli beberapa produk dari Bank kami dan menjadi nasabah prioritas.
"Terima kasih banyak Pak untuk kerjasamanya,kami sangat senang sekali bisa mendapat kepercayaan dari Bapak" ucapku sambil menjabat tangannya.
"Sama-sama Ibu Catherine..saya yang merasa terhormat karena Ibu sudah mau menyempatkan diri datang kesini..semoga kerja sama ini bisa berlangsung lama" ujarnya.
"Kalau begitu saya pamit dulu pak,sudah sore sekali..maaf jika menyita waktu bapak terlalu lama" aku lalu berjalan menuju pintu keluar.
Beliau mengantarku sampai di depan pintu..ketika aku hendak keluar,aku hampir saja bertabrakan dengan seseorang..
"Fadly..dari mana? Bu Catherine baru saja akan pulang,kamu ditunguuin dari tadi' Beliau menegur orang itu yang ternyata seorang pria bertubuh tinggi besar,tegap dan tampan.
"Tadi habis ngurus klien dulu,jadi sudah selesai? yaah aku gak ikut kerja sama dong" ucapnya.
Kesempatan nih..nambah nasabah..pikir ku.
"Oh ya..kenalkan Bu..ini adik saya..Fadly" pak Munarman memperkenalkan pria itu yang ternyata adalah adiknya.
"Kalau Bapak tertarik,ini kartu nama saya..Bapak boleh hubungi saya kapan saja,saya siap bantu untuk menjelaskan produk-produk kami" ku ulurkan kartu namaku padanya.
"Jangan panggil Bapak dong..saya masih bujang" aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu,saya pamit dulu..mari Bapak-bapak semua" pamit ku segera meninggalkan tempat itu.
"Hei..aku nanti telepon boleh ya"
Aku menoleh pada suara itu,rupanya Fadly.
"Boleh Pak Fadly..eh..Kak,Bang,Mas..aah apalah..boleh kok" aku bingung mau memanggil dia apa..aku melanjutkan langkahku menuju keluar.
Sudah sebulan lebih kejadian itu,aku bahkan sudah lupa karena terlalu sibuk dengan pekerjaan ku..memang aku tidak lupa sepenuhnya pada Pak Munawarman,karena berkat beliau,aku bisa mendapatkan bonus yang lumayan besar dari kantor dan langsung ku investasikan dengan membeli sebidang tanah.
Aku berniat membangun sebuah rumah dan usaha menjahit kecil-kecilan,aku ingin membuka butik ku sendiri..itu mimpi ku dari dulu,punya usaha sendiri agar tak perlu lagi meninggalkan anak semata wayangku Al,kasihan sejak kecil dia sering kutitipkan di rumah tetangga karena harus bekerja.
"Saya ajak nonton tennis mau gak Bu?" Irma membuyarkan lamunanku.
"Maaf Ir..aku harus pulang..aku harus menjemput Al" jawabku
"Sekali-sekali menyenangkan diri sendiri,gak berdosa loh Bu ..Ibu juga butuh suasana baru,biar gak stress,biar tambah semangat ngasuh Al" aku berpikir sejenak,benar juga apa yang dikatakan Irma..selama ini aku hanya berkutat dengan rumah,pekerjaan dan mengasuh anak..hampir tak pernah punya waktu untuk diri sendiri.
"Baiklah..aku ikut,tapi kalo diluaran sana,jangan panggil Ibu dong Ir..kesannya aku tua banget,padahal kita hampir seumuran" jawabku
"Hahaha terus aku harus panggil apa Bu?"
"Panggil nama saja..atau apapun..terserah kamu,yang penting jangan Ibu"
"Iya deh Mbak..ayo ah berangkat,ntar keburu pertandingannya dimulai"
"Emang kita mau nonton tennis apa sih? kamu suka nonton tennis ya?" tanyaku pada Irma.
"Wah mbak bener-bener deh..ini babak seleksi pra PON mbak,tennis lapangan itu masuk kategori olah raga keren loh,pemainnya cakep-cakep,makanya aku senang nontonnya" dia tersenyum sambil memutar bola matanya.
Aku tertawa saja melihatnya..kami bergegas menuju tempat yang di maksud Irma.
Suasana riuh terdengar saat kami menuju pintu masuk gedung Pengadilan Negeri di kota ini..Irma menarik tanganku untuk lewat pintu samping,sepertinya dia sudah sering ke sini..ketika sampai di ujung lorong,aku takjub memandang ke arah belakang kantor Pengadilan ini.
Ternyata sangat luas sekali..di sana terdapat tiga lapangan tennis yang kesemuanya sedang menyuguhkan pemain-pemain yang tengah bertanding dan tengah disoraki oleh penonton yang berada di tribun.
Kami lalu menuju ke salah satu tribun yang bisa menatap langsung pemain yang berada di lapangan nomor 1..saat duduk,aku mulai memperhatikan para pemain itu..tapi hey..aku seperti mengenal salah satu pemain itu,tapi dimana aku pernah melihatnya?..aah mungkin hanya perasaanku saja.
Kami pun menonton hingga hampir 2 jam,sambil sesekali berteriak,bertepuk tangan,atau tertawa saat ada yang seru atau saat ada pemain yang melakukan kesalahan atau ada kejadian lucu.
"Gimana mbak? seru kan? gimana menurut mbak pemain tennis itu? ganteng-ganteng gak?" tanya Irma saat kami hendak pulang karena semua pertandingan telah selesai.
"Hehe..aku nonton permainannya Ir..bukan pemainnya,jadi gak tau ganteng apa gak" selorohku.
""Ih mbak ini..diajak kesini buat cuci mata,malah ga merhatiin yang ganteng-ganteng" Aku hanya tertawa mendengarnya ngedumel.
"Hei..hei..Bu Catherine..tunggu sebentar.." Kami berdua menoleh kebelakang,ke arah suara tersebut.
"Ah mbak...ternyata diam-diam main belakang ya..tuh buktinya..cakep banget..kenal dimana mbak?" Irma melirik sambil mencubit lenganku.
"Ada-ada saja kamu Ir..aku gak kenal kok"
Pria tersebut menghampiri kami..dia tersenyum..
"Ibu Catherine kan?" dia memastikan
"Catherine saja..tapi maaf..siapa ya?" tanyaku heran.
"Bang..Bang..kenal mbak ku dimana?" Irma seperti menginterogasi..
"Oh iya..kenalin aku Irma..Abang siapa ya?" mulai deh..Irma genit,kutarik lengan bajunya untuk mundur.
"Pak Munawarman,kantor Imigrasi? masih ingat kan?" kata pria itu.
"Aaahh..Fadly..benar kan?" aku menunjuknya sambil tersenyum mengingat pertemuan kami.
"Betul sekali..oh ya,sudah mau pulang? tunggu sebentar ya..aku ambil barang-barang dulu..jangan kemana-mana" ujarnya sambil berlari kecil meninggalkan kami
"Mbak curang.." mata Irma mulai menyelidik..aku hanya tertawa melihatnya
Beberapa saat kemudian,kulihat Fadly berjalan menuju ke arah kami..
"Aku ajak makan boleh ya? mau makan apa?" tanyanya tanpa memberi kesempatan aku menolaknya.
"Aku pamit deh mbak,Bang..kalian lanjut aja berdua,aku ada keperluan lain" Irma kemudian pamit setelah sebelumnya mengedipkan mata kirinya padaku.
"Oh iya Bu..silahkan.." ucap Fadly pada Irma
"Hati-hati di jalan ya Ir.." pesanku.
"Oke..selamat bersenang-senang" Irma berlalu sambil melambaikan tangan.
"Aku harus pulang,anakku sudah menunggu,maaf..makannya lain kali saja" kata ku
"Eh pamali nolak rejeki..apalagi nolak makanan" ujarnya kekeuh.
.
"Tapi..."
"Bungkus saja deh kalau begitu,tolong jangan menolak..sudah lama saya ingin mengajak kamu,tapi teleponku gak pernah diangkat" gerutunya
.
"Maaf..mungkin karena nomor baru,jadi gak aku angkat..kalo begitu saya permisi dulu ya,saya buru-buru,beneran" jawabku.
"Ya sudah..saya antar kalo begitu" kami lalu menuju ke tempat parkir.
Dia beneran mengantarku pulang,sikapnya sangat sopan..
Sesampainya depan kontrakan ku..
"Aku akan telpon sebentar ya..diangkat kali ini"
"Iya..terimakasih banyak ya" balasku,lalu masuk ke dalam rumah.
Setengah 8 malam..
Drrrttt...drrrttt
Kuraih handphone ku di atas nakas..lalu menggeser tombol hijau itu untuk menjawab panggilang..
"Halo.."
"Halo Cath..aku lagi di luar nih,mau beli makanan..kamu pesan apa?"
"Gak usah..aku gak mau merepotkan" jawabku
"Gak usah basa basi ah..sebut saja..ini sudah malam,kamu belum makan,bukan?"
"Hmm..baiklah..kalo gitu aku pesan chichken fillet sama sup asparagus aja deh" jawabku lagi.
"Oke..tunggu ya..aku akan minta orang untuk mengantarnya ke rumah mu" dia pun menutup teleponnya.
35 menit kemudian...
Tok tok..suara ketukan pintu terdengar..
Aku beranjak dari kursi ku lalu membuka pintu,di depan pintu sudah ada seorang pemuda dengan tentengan kresek di tangannya.
"Bu Cathy?"
"Iya.."
"Ini ada titipan dari pak Fadly"
"Oh iya..saya terima ya,terimakasih banyak.."
"Sama-sama Bu..kalo begit saya pamit"
"Iya..mari.."
Setelah itu,aku kemudian menelepon Fadly untuk memberi tahu makanan yang dia belikan telah sampai,sekalian mengucapkan terimakasih.
"Al..makan dulu nak..kita dapat berkat nih" aku memanggil anak ku untuk makan bersama.
"Iya Ma.."
Aku lalu mengeluarkan semua bungkusan makanan itu dari plastik kresek.
Tapi aku heran karena sepertinya ada yang salah...
"Ma..mama beli apa?"
"Tunggu nak..mama periksa dulu"
Chicken fillet ada,tapi mengapa ada 2 bungkus nasi dan satu bungkus kangkung tumis?
Aku lalu mengirim chat ke nomor Fadly..
"Terimakasih ya.." (send)
Tring..
"Sama-sama..oh iya..aku belum pernah makan chichken fillet dan asparagus,jadi kurang tau itu gimana,makanya karena kulihat chicken fillet nya gak ada nasi,jadi aku membeli nasi sekalian,dan Asparagus kangkungnya cocok bukan?"
Balasan chat dari Fadly seketika membuatku tertawa...
"Iya..terimakasih yaa..lain kali,aku ajak makan chichken fillet sama asparagus" (send)
Tring...
"Oke .selamat makan"
Kutatap makanan yang ada di depanku sambil tertawa terpingkal-pingkal..