Hari-hari berlalu, kelakuan Ibu dan saudaranya semakin parah dan menyiksa.
Bebek Sulung semakin kurus, bulu di badannya tampak memudar, ia tampak menderita kekurangan gizi yang parah.
"Sayang, anakmu semakin tampak kurus, ia tidak akan lolos seleksi alam. Kenapa kita tidak membuangnya saja? toh lambat laun ia akan mati karena sakit-sakitan."
Bebek Ayah berpikir sesaat, ia sebenarnya tahu alasan Anak Sulungnya menjadi kurus dan tampak sakit, itu karena ia selama ini dianiaya oleh Ibunya dan Adik-adiknya, ia juga hanya bisa makan sedikit makanan karena makanannya dirampas oleh Saudara-saudaranya.
Adalah hal lumrah untuk membuang salah satu anaknya di dunia ini saat jumlah makanan di alam berkurang, itu tidak melanggar aturan HAM karena mereka adalah Monster Binatang, dan Binatang Buas cenderung menyingkirkan anaknya yang terlemah saat kesulitan dengan makanan.
Bebek Ayah tidak ingin membuang Anak Sulungnya, tapi ia tidak mau bertengkar lagi dengan Istrinya, terlebih Istrinya menolak kawin saat mereka berperang dingin.
Dalam hatinya ia lebih memilih membuang Anak Sulungnya daripada bertengkar lagi dengan Istrinya.
"Kita biarkan seleksi alam yang menentukan," jawab Bebek Ayah.
Pada suatu hari di musim semi
Bebek Sulung bangun pagi-pagi karena merasakan perutnya sangat lapar, ia keluar dari sarang meminum air di sungai untuk meringankan rasa laparnya.
Sudah 3 hari ia tidak makan apapun, bukannya Orang tuanya tidak membawakan makanan, tapi Ibunya tidak mau memberinya makan, hanya adiknya saja yang diberi makan oleh Ibunya. Ayahnya datang dengan makanan, tapi dalam kondisi sulit ini, Ayahnya hanya bisa membawa sedikit makanan dan kelima Saudaranya menghabiskan setiap makanan yang dibawa Ayahnya tanpa menyisakan makanan untuknya. Akibatnya ia kelaparan parah selama 3 hari ini.
"Perih.." rintih Bebek Sulung, ia mengusap perutnya yang kelaparan.
Ia masuk ke sarang dan tidak melihat Orang tuanya, Orang tuanya rupanya sedang mencari makanan di luar. Biasanya hanya salah satu yang pergi, tapi karena sedang musim semi, makanan di luar menjadi jarang, sehingga kedua Orangtuanya harus keluar mencari makanan pada saat bersamaan untuk mencukupi tuntutan perut adik-adiknya.
Tak lama kemudian, Ibunya datang membawa bangkai ular kecil, ia membiarkan anak-anaknya makan, tapi tidak dengan si Sulung.
Bebek Sulung hanya bisa meneteskan air liur menyaksikan adik-adiknya makan daging ular kecil, karena ularnya kecil, adik-adiknya masih merasa lapar dan meminta Ibunya untuk keluar mencari makanan tambahan. Ibu Bebek pun terbang ke luar kembali mencari makanan.
Bebek Sulung memegang perutnya, ia kelaparan dan sekarat, ia bertanya-tanya, 'kenapa hanya adikku yang diberi makan? apa salahku?! aku selalu mengalah pada Adikku soal makanan, tidak membenci Ibuku yang selalu memusuhiku, tidak memukul adikku yang menolak berbagi makanan ataupun membalas pukulan setiap mereka memukulku. kenapa aku diperlakukan tidak adil?! kenapa?!!'
Bebek Sulung hanya merasakan perasaan sedih di hatinya, 'Ayah, kamu juga akhir-akhir ini mulai mengabaikanku, dulu kamu akan menegur mereka yang menggertakku, tapi sekarang kamu bahkan menutup mata membiarkan Ibu dan Adik menggertakku! kamu berubah Ayah! kamu tak peduli padaku lagi!'
Dalam keadaan melamun, Adik-adiknya berteriak kegirangan karena Ayahnya datang dengan Ikan besar di paruhnya.
"Ayah datang dengan makanan! Ikan besar!" kata Mama si Bebek Bungsu.
"Kita tidak akan kelaparan hari ini!" kata Sang si Bebek Ketiga.
Ayah Bebek menaruh ikan besar di sarang, ia langsung pergi keluar mencari makanan untuk dirinya sendiri meninggalkan anak-anaknya dengan ikan besar.
Ikan besar langsung dikerumuni oleh Adik-adiknya, sementara Bebek Sulung hanya menatap dengan air liur yang menetes deras, dalam pikirannya hanya ada satu kata yaitu 'makan!'
"Ikan ini masih segar dan enak!"
"Betul, ikan ini juga besar dan dagingnya ini cukup untuk kita berlima!"
"Ibu bilang setelah makan, kita harus membuang tulangnya ke sungai, jangan membiarkan ia memakan tulangnya!"
"Ibu ingin ia mati kelaparan, dan dengan begitu makanan kita akan terus terjamin tanpa harus berbagi dengannya!"
"Itu bagus jika monster itu cepat mati! ia tidak setampan kita yang memiliki 4 jari, juga aku tidak mau bersaudara dengan monster!"
Kata-kata Adiknya harusnya sangat menyakiti perasaan Bebek Sulung, tapi saat ini keadaan Bebek Sulung seperti sedang kesurupan, ia sama sekali tidak mendengarkan perkataan adik-adiknya, rasa lapar telah mengambil alih tubuhnya.
Bebek Sulung melangkah maju dengan air liur menetes dari paruhnya. Ia menatap ikan besar dan mematuk dengan paruhnya. Hal ini membuat Adik-adiknya marah, dan Sing si Bebek Kedua mendorong si Bebek Sulung hingga jatuh ke tanah.
Bukk!
Seolah tersadar dari keadaan kesurupannya, Bebek Sulung memandang adik-adiknya, lalu berkata, "Aku kelaparan, aku belum makan tiga hari ini. Ijinkan aku bergabung dengan kalian untuk makan!"
"Tidak boleh! Kamu tidak diijinkan makan apapun!"
"Ini makanan kami!"
"Kamu tidak perlu berbagi denganmu! Ibu tidak mengakui kamu sebagai anaknya! Ayah juga sudah tidak peduli denganmu!"
"Kamu bukan lagi saudara kami! kami tidak punya saudara monster sepertimu!"
"Betul betul betul!"
"..."
Satu per satu adik-adiknya menghinanya, ia untuk pertama kalinya merasakan sakit hati.
"Kenapa kalian jahat padaku?!! Aku juga Bebek sama seperti kalian! kenapa hanya aku yang harus selalu mengalah?! kenapa aku yang selalu kelaparan?!! ini tidak adil!! aku ingin makan! kalian tidak bisa menghalangiku!" Teriak Bebek Sulung. Ia merasa ia sudah cukup sangat bersabar terhadap keluarganya ini.
Bebek Sulung berdiri dan berlari maju ke arah ikan, ia kelaparan dan tidak bisa lagi mentolerir perutnya yang kelaparan!
Ia berlari maju hendak memakan ikan, tapi langkahnya dihentikan oleh Saudara-saudaranya, mereka mengepungnya lalu mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.
Bukk! Bebek Sulung terjatuh.
"Kami bilang, kamu tidak diijinkan makan! apakah kamu bodoh??" kata Sang si Bebek Ketiga.
"Ia pasti bodoh," kata Sing si Bebek Kedua.
"Jika kamu berani memakan makanan kami, kami akan memukulimu!" kata Papat si Bebek Kelima.
Bebek Sulung marah mendengar ancaman adik-adiknya, ia biasanya selalu mentolerir kelakuan adik-adiknya, tapi hari ini ia sudah sangat kelaparan, jika hari ini ia tidak makan, maka ia akan mati.
"Jangan menghalangiku! aku lapar! aku ingin makan!!" Teriak Bebek Sulung.
"Kau sangat tidak penurut! menjengkelkan sekali! saudara-saudaraku, ayo kita pukuli Bebek Monster!"
"Ayo!"
Kelima adiknya mengepungnya dan memukulinya, ia ingin membalas tapi ia yang kurus dan kekurangan gizi, samasekali bukan tandingan adik-adiknya, terlebih lagi ini 1 vs 5, tidak adil! bukan pertarungan yang adil!
Bukk! Bukk! Bukk! suara pukulan.
Kelima adiknya dengan senang hati dan tanpa perasaan terus memukuli Kakak mereka tanpa peduli bahwa Kakaknya bisa mati kapan saja.
Setelah cukup lama memukuli Bebek Sulung, mereka akhirnya berhenti saat si Bebek Sulung mengeluarkan banyak darah dan terluka parah akibat pemukulan mereka.
Samasekali tidak ada rasa iba pada mereka!
Samasekali tidak ada perasaan menyesal pada mereka! baginya Kakaknya bukan siapa-siapa.