💔SUAMI PELIT💔
1. Omongan Orang.
Sebut saja namaku Leon, dan istriku bernama Suny. Kami menikah karena suka sama suka, istriku berasal dari panti asuhan kota semarang. Sedangkan aku berasal dari keluarga yang cukup sederhana.
Usia pernikahan kami saat ini memasuki usia ke tujuh, pasang surut ombak badai pernikahan sering terjadi. Tapi syukur, semua dapat kami berdua lalui dengan baik.
Lima tahun pertama menjadi titik terberat ketika kami yang notabenya masih pasangan muda, dan belum mengetahui karakter masing-masing. Aku yang pendiam berbanding balik dengan istriku yang grasak-grusuk dan ceplas-ceplos bak knalpot motor bocor🤣🤣..
Aku yang pendiam dan masa bodoh sama omongan orang yang selalu membicarakan diriku, tapi tidak dengan istriku, Ia adalah yang paling gampang sakit hati kalau dapat omongan miring dari tentangga. Mungkin karena tidak berdaya, istriku selalu menangis berjam-jam di kamar. Seperti saat ini.
"Sudahlah, jangan masukin hati kata-kata mereka. "Bujukku, tapi tak ada tanggapan dari istriku itu. Hingga aku lelah dan membiarkan dia menangis sepuasnya.
Ditahun awal pernikahan, istriku sering meminta untuk di belikan baju, scincare, atau ingin kredit perabotan rumah.
"Mas, nanti kalo udah gajian, beliin aku baju baru. Uah? ". Istriku memasang senyum manisnya sambil merangkul lenganku.
"Bukannya tahun lalu, kamu udah dapet dua baju. Ya? ". Tanyaku.
"Ya udah deh gpp, kalo gitu beliin scincare aja. Yah? " Masih mencoba untuk membujukku.
"Kamu itu sudah cantik, tanpa make-up sayang. "Aku mengusap rambut yang tertutup jilab tersebut.
"Diih gombal,, " istriku memukul lenganku dengan pelan. "Kalo gitu aku ikut kreditan perabotan rumah aja yaahh.. "
"Buat apa? " Tanyaku lagi. Kali ini aku di buat jenuh dengan semua permintaannya.
"Tetangga selalu menggosipi tentang rumah kita. "Ucapnya, dengan wajah sendu ketika sudah melepaskan rangkulan dilenganku dan hanya memainkan jari kukunya.
Memang, aku memiliki rumah sendiri dan rumah itu aku bangun saat aku masih bujangan.
"Makanya jangan di dengerin. Biarlah mereka berkata apa tentang rumah kita, toh! Kita ngak pernah ngemis makanan sama mereka! "Tegasku!
Tapi aku tak pernah menuruti kemauannya. Bagiku pantang mendengar ocehan tak bermutu dari orang lain, dan istriku sering mengeluh ini dan itu dan meminta inilah itulah lain sebagainya. Biar katanya gak di bicarain sama tetangga. Begitu dalihnya. Tapi aku tetap kekeuh untuk menolak. Sebab semua keuangan aku yang pegang.
"Kalau bukan hal penting, jangan sampai mengahambur-hamburkan uang. " Aku pergi meninggalkan dirinya di kamar.
Dan dari situlah aku kehilangan istriku. Bukan! Istriku tidak meninggal dunia atau pergi jauh meninggalkan diriku, tapi aku kehilangan sosoknya yang ramai.
Ramadhan di tahun kelima pernikahan kita, saat itu aku mengajaknya pergi kepasar malam untuk membeli baju buat di gunakan saat lebaran nanti. Kami sudah lelah berkeliling pasar untuk mencari baju yang cocok untuknya. Padahal aku dan anakku sudah mendapatkan beberapa setel pakaian.
Sampai akhirnya aku lelah dan menyuruhnya untukencari sendiri. Tapi ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Emmbb.. mas, akuu.. "
"Apa? "
"Ituu.. "
"Udah dapet bajunya? Atau apa? " Sergahku, bercampur kesal.
"Cepatlah, ini sudah larut malam. "Aku memaksanya untuk bicara.
"Aku .. ingin gamis levis. " Ucapnya cepat.
"Ya sudah, di mana tempatnya? " Tanyaku, lalu kami pergi kearah penjual yang di maksud istriku.
"Tiga ratus tujuh puluh lima, " kata sang penjual. Hingga membuatku tak sengaja terpekik.
"Apa! " Aku melihat baju gamis itu sambil menimang-menimang, jika di belikan baju lain bisa mendapatkan beberapa setel pakaian.
"Ayo kita cari baju lain saja. " Aku membawa anakku serta istriku untuk mencari baju lain.
Saat sudah berada di tempat yang agak sepi, ia berkata. "Sejak aku masih gadis, aku ingin sekali memiliki baju seperti itu, toh. Itu harganya belum pas masih bisa di tawar. Mas, "
"Tidak! Kita cari baju lain saja. " Aku menolak. Dia diam selama aku mengajaknya untuk berkeliling mencari bajunya. Saking jengkelnya aku. Aku mengajak ia untuk segera pulang.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam tak bersuara, saat aku melirik spion motor aku melihat wajahnya telah basah, aku mengadahkan tangan seperti meminta di langit. "Tidak hujan, tapi kenapa wajahnya basah? " Tanyaku. Dalam hati. Hingga tak sengaja aku melihat bahwa air itu keluar dari sudut matanya. Ada rasa penyesalan di dalam hatiku, mau berbalik pergi ke pasar lagi tapi rasanya sudah terlanjur, ini sudah hampir dekat rumah.
"Akan ku beri dia uang, untuk membeli baju yang ia sukai itu sendiri. " Ucapku dalam hati.
Beberapa hari berlalu istriku tetap diam, dia menolak uang yang ku berikan untuk membelikan baju kesukaannya tersebut. Hingga saat hari raya tiba, ia tak membeli baju baru sama sekali. Dia berubah menjadi pendiam. Meskipun tugasnya sebagai istri tetap ia kerjakan seperti biasa.
2. Perpisahan.
Dua tahun berlali sejak hari itu, aku tak lagi mendapati istriku yang cerewet, ramai dan ceria. Yang ada kini hanya sosok pendiam, irit sekali bicara, tapi masih mengurus rumah tangga dengan baik. Pernah aku memberikan uang kepadanya dengan jumlah uang yang cukup besar untuk membeli semua yang ia butuhkan, Istriku menerimanya.
Namun saat aku kembali dari bekerja, ku dapati uang tersebut sudah kembali ke dalam lemariku dan masih utuh!. Lama kelamaan aku memperhatikan istriku ini semakin kurus, wajahnya begitu kusam tak terawat, dan tak ada senyuman disana. Dan hari ini ia akan menghadiri rapat wali murid, ku dapati ia memakai baju yang sudah pudar warnanya di padukan dengan rok hitam dari jaman ia masih gadis, ketika hendak naik di motor aku melirik sendal yang ia gunakan, sendal jepit yang sudah tipis dan hempil di beberapa sisi yang ia kenakan. Hatiku benar-benar terenyuh melihat pemandangan itu.
"Sebegitu dalamkah sakit yang ku torehkan hingga kau tak pernah mengeluh dan meminta ini dan itu padaku? "Ujar batinku.
_______
Hujan membuatku tergopoh-gopoh untuk mengangkat jemuran, tapi tiba-tiba jariku tertusuk benda tajam.
"Peniti di branya? " Ucapku.
Ku pandangi semua, baju-baju yang ada semuanya terlihat memudar, ada beberapa baju yang sudah berbintik hitam dan sedikit robekan di tiap masing-masing baju. Mungkin karena Dicuci-kering-pakai oleh istriku. Sedangkan pakaianku semuanya bersih tanpa noda.
Hatiku sakit melihat itu, "maafkanlah aku, Istriku. "Ucapku lirih.
Aku menunggunya pulang hingga sore tiba, dan tahukah kalian, sakitnya itu tak pernah terhingga.
"Ini mas, ambillah. " Ia memberiku sebuah amplop coklat yang tebal.
"Apa ini? "Tanyaku, karena memang aku tak tahu.
"Bukalah. "
"Uang dari mana ini? " Tanyaku ketika aku sudah mengeluarkan isinya dari amplop cokelat tersebut. Dan itu uang tabungannya sebesar LIMA PULUH JUTA
"Bukankah itu uangmu? Uang yang kamu beri makan padaku dan anakku. Tapi tak pernah ku pakai, dan aku tak pernah mengambil selembar kertas pun untuk keperluanku dan anakku. "
" Apa yang kau bicarakan! "Bentakku padanya.
"Aku tahu, uang itu haram bagiku dan anakku untuk menggunakannya. Jadi ya.. aku kembalikan pada yang punya. "Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Lalu pergi meninggalkanku sendiri bersama anak kita.
End by SUNY