Sudah lama aku mengenal Abimanyu, dia salah salah satu manajer di kantor cabang perusahaan suamiku, usia kami terpaut 10 tahun. Kami menjadi dekat sejak suamiku meninggal 3 bulan lau karena kecelakaan saat mengikuti balap mobil. Awalnya kami acap bertemu karena urusan pekerjaan, lama-lama karena sering hang out bareng.
Meskipun sedih harus kehilangan teman hidup selama 20 tahun, di sisi lain aku merasa lega. Ya, lega karena pada akhirnya aku terbebas dari pernikahan yang bermula akibat perjodohan itu.
Aku terpaksa menikah karena dulu orangtuaku bangkrut lalu terjerat hutang dengan keluarga Kevin, mendiang suamiku. Seandainya Kevin tidak meninggal, rasanya kami tetap akan berpisah karena perceraian. Sebenarnya pernikahan kami bisa dibilang baik-baik saja. Kevin yang gila kerja itu sangat bertanggung jawab memenuhi kebutuhanku dan anak-anak hanya saja, dia terlalu kaku dan dingin, aku bosan hidup bersamanya.
Berbeda dengan Abimanyu, dengannya aku menemukan hubungan yang kuinginkan, dia lelaki yang perhatian dan sangat panas di ranjang.
Dia selalu memgutamakan kepuasanku, hingga membuatku seolah masih seperti wanita berusia 20 tahun-an saja, padahal aku sudah 40 tahun, hihi.
Suatu ketika, setelah ada acara perayaan di kantor dan Abimanyu berinisiatif mengantarku pulang. Awalnya aku menolak, karena punya supir yang siap mengantarku kembali ke rumah tapi, bagai terhipnotis kharismanya, aku pun menuruti permintaan Abimanyu.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucapku sambil menutup pintu mobilnya.
"Sama-sama, bu bos cantik," balas Abimanyu sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh, mau ke mana?" tanyaku saat melihatnya keluar dari mobil.
"Memastikan kamu tiba dengan selamat."
"Kamu lihat, aku sudah sampai dan baik-baik saja, jadi silakan kembali."
"Besok saja. Malam ini aku mau bersenang-senang dengan bu bos cantikku ini."
"Ish, jangan gila kamu."
"Haha, biarin. Setelah malam ini, aku yakin bu bos malah merindukan kegilaanku."
"Jangan, aku gak enak sama anak-anak."
"Aih, anak-anakmu sudah tidur. Mereka tidak akan terganggu dengan kehadiranku, lagi pula anakmu pasti mengerti kalau ... ibunya haus belaian dan butuh kehangatan dari lelaki sepertiku," rayu Abimanyu.
Lalu dengan bodohnya aku malah mempersilakan Abimanyu masuk ke rumahku.
"Apa kita akan melakukannya di sini?" tanya Abimanyu sambil duduk di sofa.
"Melakukan apa?" Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya.
"Hm, sesuatu yang akan membuatmu meledak, sayang."
Sayang? Ish, berani-beraninya lelaki muda ini mengodaku.
"Lalu, kamu maunya di mana?" Entah apa yang difikiranku sampai melontarkan pertanyaan itu.
"Enaknya sih, di kamar yang kedap suara gitu, tapi kalau kamu maunya di sini, aku tidak keberatan," jawab Abimanyu sambil melepas gesper ikat pinggangnya.
Tunggu, dia maunya apa sih? Melakukan itu apa, sesuatu yang bikin aku meledak? Aku tidak mengerti, masa iya dia mau melakukan hal yang sakral itu denganku?
Aku memang janda dan rindu belaian tapi itu yang dia maksud, apakah sama dengan 'itu' yang ada di otakku?
"Hei!" pekikku saat kulihat Abimanyu menurunkan celananya.
"Lho, kalau gak mau di sini trus di mana, dong?"
"Si-situ," jawabku tanpa sadar sambil menunjuk ke kamar tamu.
"Baiklah, ayo," Abimanyu menarik lenganku menuju kamar yang ku tunjuk.
"Eh, kenapa kamu malah mengajakku ke sini juga?"
"Karena permainan itu tidak asyik kalau dilakukan sendiri, sayang," bisik Abimanyu sambil melucuti pakaianku. Astaga, rupanya benar ... itu yang dimaksud Abimanyu adalah 'itu' yang kumau.
Abimanyu menghempaskan badanku ditempat tidur, kemudian dia menutup mataku dengan sapu tangannya lalu mengikat tanganku dengan dasinya.
'Astaga, Abimanyu mau-nya ngapain sih?' batinku.
Aku mencium aroma lilin yang dibakar.
Tes. Kulitku terasa panas dan perih, aku menebak Abimanyu meneteskan lilin itu ke tubuhku, lalu terasa sesuatu sesuatu yang basah dan hangat menyapu kulit yang ditetesi tadi.
Tubuhku bergetar saat sesuatu itu terus menyapu tubuhku bahkan merambah bagian yang tidak ditetesi.
"Kevin harus menyesali kata-kata hinaan yang pernah ia lontarkan padaku dulu, haha," bisik Abimanyu di telingaku.
Plak, plak.
"Aduh, kenapa kamu menyakitiku begini, Abimanyu?" rintihku saat merasa benda yang kutebak adalah ikat pinggang itu mengenai tubuhku.
"Katakan kamu menginginkanku, sayang."
"Tidak!" Jawabku tegas.
"Hei, jangan angkuh begitu." Ujarnya sambil mengcengkram kedua pipiku.
"Memohonlah agar aku memuaskanmu, Aluna. Bilang, ayo ... cepat bilang kalau kamu sangat mendambakan kehangatanku!" ucap Abimanyu lagi dengan kemarahan.
Meskipun aku tidak melihat ekspresinya, aku dapat merasakan emosinya. Ish, bisa-bisa aku mati ditangannya jika aku tidak menuruti kemauannya.
"Ah, Abimanyu ... a-aku menginginkanmu, a-aku mohon, pu-puaskan aku." Putusku sambil berharap semoga saja jawabanku mampu meredam kemurkaannya yang entah apa sebabnya itu.
"As you wish, babe." Benar saja, seketika Abimanyu melunak. Ia membuka penutup mataku lalu melepaskan ikatan tanganku. Selanjutnya Abimanyu memperlakukanku bak ratu, manis sekali caranya memanjakanku. Sangat berbeda dengan Kevin dulu, dengan Abimanyu aku merasa sangat dibutuhkan.
Walaupun dengan pembukaan yang cukup menyiksa, tapi kenikmatan yang kudapat darinya tidak bisa aku definisikan dengan kata-kata. Ah, aku kok jadi suka disiksa sama Abimanyu?
Abimanyu benar, setelah malam itu malah aku gelisah karena merindukan kegilaannya di tempat tidur.
"Abimanyu sayang, aku mau kamu selalu ada di sampingku seperti ini," kataku usai bercinta kilat di sela-sela jam istirahat kantor.
"Sayangnya, aku tidak mau selalu ada di sampingmu," sahutnya.
"Kenapa? Apa karena aku sudah tua lalu kamu ... tidak mau kita menikah? Sayang, aku malu hubungan kita sudah jadi bahan pergunjingan."
"Aluna, aku tidak mau hanya ada disampingmu saja karena aku maunya, posisi yang bervariasi bisa di belakangmu, di depanmu, di atasmu, di bawahmu, di ..."
"Abimanyuuuu, kamu nakal sekali," ujarku sambil mencubit perutnya gemas.
"Awh ... sakit Aluna, sayang."
"Uh, tapi kamu juga sering menyakitiku bahkan lebih dari ini."
"Tapi, setelahnya kamu suka kan, sayang?"
Aku mengangguk.
Abimanyu meraih kepalaku lalu menggigit bibirku hingga berdarah. "Aku juga tidak suka jadi bahan omongan orang, besok kita menikah, ya?"
Tentu saja aku bahagia mendengar ajakan Abimanyu.
.
.
-TAMAT-