Diana pulang setelah bersekolah, namun saat masuk rumah , ia melihat ibunya yang bercucuran darah , dengan adiknya Diara
Diara hanya mengatakan dirinya masuk , namun rumah gelap , ia juga mengatakan dirinya melihat seseorang keluar dari jendela kamar dan sepertinya itu adalah pembunuh ibu
"Diara apa yang terjadi dengan ibu kenapa ibu berjujuran darah ? apa seseorang menusuk ibu ?"
tanya Diana
"kakak aku baru pulang, saat aku masuk rumah gelap , aku melihat seorang keluar dari jendela, dan saat menghidupkan lampu aku melihat ibu sudah seperti ini" ucap Diara sambil mengusap air matanya
"tapi kita harus bawa ibu kerumah sakit dan lapor polisi" ucap Diana
"kak tapi ibu sudah tiada , ia sudah tidak bernafas" ucap Diara
"kalau gitu biar kakak telepon ayah dulu" ucap Diara kepada adiknya itu
Diana melenepon ayah , kemudian mengatakan bahwa ibu sudah tiada , dan seseorang telah membunuh ibu
"hallo!!! ayah ini Diana baru pulang dari sekolah tapi ibu sudah meninggal, dan ada seseorang yang telah membunuh ibu" ucap Diana kepada ayahnya
"kamu tenang aja ayah akan datang bersama polisi" ucap ayah
"baik ayah" ucap Diana
ayah datang bersama para polisi , beserta ambulans untuk membawa ibu agar di autopsi dan mengintrograsi lokasi kejadian
"Diana , Diara kalian tenang aja ayah akan cari tahu siapa pembunuh ibu , hari kalian bisa tinggal di penginapan dulu ya, agar polisi bisa melakukan penyelidikan" ucap ayah pada kedua putrinya itu
"baik ayah kami akan tinggal di penginapan malam ini " ucap Diara dan diana
"ayah akan adakan pemakaman setelah ibu di autopsi" ucap ayah
"iya baik ayah" ucap Diana dan diara
setelah ibu diautopsi dan makamkan , ayah memutuskan untuk berpindah rumah meninggalkan rumah itu
"Diana dan diara ayah memutuskan untuk pindah rumah bukan karna ayah ingin melupakan ibu , ayah juga sama sedihnya dengan kalian , ayah hanya ingin kalian tidak larut dan kesedihan dan memulai kemudian baru yang lebih baik , ayah juga tahu bahwa kalian juga sama terkejut
dan menderita sama halnya juga dengan ayah , ayah harap kalian mengerti" ucap ayah sebelum pindah rumah waktu itu
setelah berpindah di rumah baru , Diana terus melihat Diara adiknya yang terus bersikap aneh , seperti tersenyum , menangis , tertawa di kaca , dan bahwa tertawa terbahak - bahak melihat foto ibu dan masih banyak hal yang membuat Diana malah menjadi takut dengan adiknya itu
Diana yang semakin hari semakin takut dengan sikap adiknya itu , akhirnya memilih untuk mengatakan kepada ayah , namun ayah malah mengatakan hal yang sebaliknya
" ayah Diana ingin mengatakan sesuatu" ucap Diana
" iya kamu kamu mau bilang apa? " tanya ayah
"ini tentang Diara ayah " ucap Diana
"iya , Diara kenapa?" tanya ayah
"Diara mulai bersikap aneh sejak kita berpindah rumah ini seperti tersenyum , menangis , tertawa di kaca , dan bahwa tertawa terbahak - bahak melihat foto ibu dan masih banyak hal lagi " ucap Diana
" dia hanya mungkin terpukul karna ibu meninggal dengan tiba - tiba , dan dia juga kan yang pertama menyaksikan ibu meninggal" ucap ayah
"tapi ayah bukan karena hal itu sepertinya" ucap Diana
"terus karena apa? " tanya ayah
"emmm , Diana yakin bukan karna itu tapi nggak tahu karna apa" ucap Diana
"ya, kalau kamu nggak yakin mending kamu hibur dia aja biar dia juga nggak kayak gitu lagi"ucap ayah pada Diana
"tapi ayah dia takut" ucap Diana
"kalau kamu takut emang kamu mau adik kamu selamanya kayak gitu ? cuman kamu yang bisa hibur dia ayah juga mungkin nggak bisa kan" ucap ayah
"iya ayah nanti Diana usahain buat hibur dia" ucap Diana
setelah berbicara dengan ayah beberapa hari, kemudian Diana masuk ke kamar Diara , namun adiknyanya sedang bermain boneka, Diana kemudian bertanya pada adiknya dan mengajak berbicara , tapi Diara justru mengatakan hal yang mengerikan dan membuat Diana terkejut
" Diara apa kamu senang bermain boneka? " tanya Diana
" aku sangat senang karna bisa bermain boneka sepuasku , tanpa ada yang melarangku melakukan"
ucap Diara sambil tersenyum lebar
" maksud kamu apa?" tanya Diana
" aku sangat senang karna tidak ada ibu , dan artinya usahaku tidak sia - sia" ucap Diara sambil tersenyum lagi
" maksud kamu usaha apa ?"tanya Diana lagi
"apa kakak berpura - pura bodoh selama ini? apa kakak benar - banar tidak tahu?" bukankah kakak juga tidak suka dengan sikap ibu selama ini ? ucap Diara sambil berbisik di telinga kakaknya
"maksud kamu? tanya Diara "
" apa kakak tahu siapa yang membunuh ibu ?" akulah yang melakukannya , namun dia tak kunjung mati jadi aku menusukan banyak tusukan" ucap Diara sambil tersenyum lebar dan tertawa terbahak - bahak
" apa kamu pembunuh ibu? " ucap Diana sambil melangkah keluar
"haaaaaaah haaaaaahh haaaaaaah" tawa Diara tak kunjung berhenti
Diara yang takut , kemudian melangkah keluar dan mengunci adiknya di kamar, dan melepon polisi
" hallo!!! pak polisi saya Mau melaporkan ******** pembunuh sebenarnya ibu saya adalah adik saya sendiri " ucap Diana kepada polisi
" iya baik sekarang adik kamu dimana? ,alamat rumah kamu dimana?" ucap polisi
Diara yang berhasil keluar kamar kemudian memukul kepala kakak nya dan telepon terputus
"hallo !!! hallo !!! apakah kamu bisa menjawab saya" ucap polisi sebelum telepon terputus
polisi yang mendapat telepon , kemudian menghubungi ayah , menanyakan alamat rumah , dan datang kerumah , namun rumah sudah sepi dan pintu kamar Diara rusak , dan ada bercak darah
polisi tidak dapat menemukan mereka setelah pencarian selama 6 bulan dan ayah hanya terus mencoba mencari berharap mereka masih hidup
apa yang sebenarnya terjadi dengan Diana ?
apa yang dilakukan Diara terhadap diana?
kemana mereka pergi?
apa mereka masih hidup?
*semua pertanyaan yang terus menjadi misteri bagi ayah dan para polisi*