Pada suatu hari, pemuda gagah bernama Tan Liong berniat memperluas usaha dagangnya. Dengan berat hati, ayah angkatnya yang bernama Tan Siok memberi kepercayaan pada Tan Liong pergi berlayar dengan beberapa pengawal.
Hari berganti minggu, minggu berganti purnama, Tan Liong dan rombongannya mengarungi lautan dan samudra. Setiap kali ada dermaga, kapal Tan Liong singgah beberapa hari untuk berjualan juga membeli produk setempat untuk dijual di perhentian selanjutnya. Mendapat keuntungan, tidak membuat Tan Liong berpuas diri dan kembali pulang ke negeri Cina, menemui orang tua angkatnya.
Tan Liong masih melanjutkan petualangannya hingga pada suatu ketika tanpa sadar kapal mereka berhenti di tempat kelahiran Tan Liong.
Lebih dari 20 tahun lalu, Tan Siok menemukan anak lelaki kecil bernama Menteng yang sedang menangis di tepian dermaga. Terdapat luka menganga di kepala Menteng, luka yang menurut penuturannya akibat pukulan ibunya sendiri, sehingga Menteng tidak mau kembali ke rumahnya karena takut ibunya masih marah.
Saat kapal dagang milik Tan Siok bersiap meninggalkan dermaga itu, Menteng merengek ingin ikut dengan Tan Siok. Hal itu membuat Tan Siok iba dan meninggalkan pesan pada warga setempat kalau ia membawa Menteng bersamanya.
Tan Siok yang tidak memiliki keturunan kemudian mengangkat Menteng jadi anaknya dan mengganti namanya menjadi Tan Liong.
Tan Liong tumbuh dengan limpahan kasih sayang Tan Siok dan istrinya. Ia merawat juga mendidik Tan Liong menjadi seorang pedagang yang kemudian mengantarkan pemuda itu menjadi seorang saudagar yang kaya raya.
Merasa terkesan dengan keramahan warga di pulau yang mereka singgah kali itu membuat Tan Liong betah apalagi karena ada seorang gadis cantik yang memikat hatinya.
"Fengyin, temani aku menemui kepala desa," kata Tan Liong pada salah satu orang kepercayaannya.
"Memangnya ada apa, tuan?"
"Aku mau minta izin tinggal di sini sekalian mengutarakan niatku membangun rumah."
"Hah, rumah? Apa tuan berencana menetap di sini?"
"Iya. Sudah saatnya kita menata hidup kita dan aku memilih berdiam di pulau ini."
"Wah, tuan tidak pingin kembali ke Cina saja? Orang tua tuan pasti sudah sangat merindukan tuan."
Tan Liong tersenyum, "Ayahanda Tan Siok tahu betul, prinsip pria yang sudah dewasa seperti kita bebas berpetualang dalam mencari jati dirinya, juga berhak memutuskan akan bekerja apa, tinggal di mana juga ... perempuan seperti apa yang kelak mendampingi hidup kita."
"Aha, perempuan? A-apakah ada gadis yang telah mengikat hati tuan sehingga ... " Mata Fengyin mengikuti netra Tan Liong pada sosok wanita berparas cantik, berkulit putih bersih dengan rambut hitam legam sepinggang yang sedang berbelanja di kapal mereka.
"Ya, namanya Intan Batuah," jawab Tan Liong dengan mata yang menatap penuh kekaguman.
"Oh, pantas saja," gumam Fengyin.
Menjadi warga pendatang yang pandai membawa diri membuat Tan Liong mudah mendapat simpati penduduk setempat, termasuk gadis cantik yang telah mencuri perhatia Tan Liong itu.
Tidak butuh waktu lama, Tan Liong pun berhasil mendekati perempuan yang juga menjadi idola para pemuda setempat. Namun rupanya keberuntungan berpihak pada Tan Liong, sebab kemudian Intan Batuah menyambut cinta Tan Liong.
Banyak hal yang dilakukan Tan Liong demi menyesuaikan diri dengan kebiasaan warga setempat, termasuk mempelajari bahasa, kebiasaan juga adat istiadat di pulau itu. Selain berdagang, Tan Liong dan para awak kapalnya juga ikut berladang, berkebun dan juga belajar beburu.
"Kakanda, begini cara menggunakan *sipet," kata Intan Batuah seraya memberikan alat itu ke tangan Tan Liong.
Dheg.
Jantung Tan Liong berdebar kencang saat tidak sengaja kulit mereka bersentuhan.
"Kakanda, baik-baik saja?" tanya Intan Batuah kala melihat Tan Liong mematung.
"Eh, ya ... em, bagaimana cara menggunakannya?" Tan Liong gelagapan.
"Ditiup begini, kakanda. Piuuuuh," Intan Batuah tersenyum lalu mencontohkan cara menggunakan sipet.
"Wow," Tan Liong kagum saat tiupan sipet Intan Batuah tepat mengenai babi hutan yang berkelabat beberapa meter di depan mereka.
"Cobalah, kakanda. Di sini, lelaki dianjurkan bisa berburu guna memenuhi kebutuhan pangan keluarganya," jelas Intan Batuah.
"Begitu, ya," jawab Tan Liong yang lalu mencoba meniup sipet, tapi selalu gagal.
Intan tertawa, "Rupanya kakanda harus sering berlatih agar pandai menggunakannya."
"Ah, aku fikir aku tidak perlu pandai menggunakan ini jika memilikimu," rayu Tan Liong sontak membuat wajah Intan Batuah bersemu.
"Ah, kakanda ini ... ."
"Aku serius Intan. Aku menyukaimu sejak pertama kali kamu berbelanja di kapalku. Dan sekarang kita cukup lama menjalin hubungan spesial, maukah kamu menjadi istriku?" tanya Tan Liong tanpa berbasa-basi.
Intan Batuah menunduk, "Tapi kakanda, aku mau jujur. Setelah aku ceritakan kisahku, keputusannya aku serahkan pada kakanda."
"Baik katakanlah, sayang," Tan Liong menarik kepala Intan Batuah agar bersandar di bahunya.
"Kakanda, dulu aku adalah seorang bawi kuwu, wanita pingitan yang sangat dibatasi pergaulanku dengan dunia luar, bahkan untuk calon suami, orangtuaku yang menentukan."
"Oh, bawi kuwu. Aku fikir kamu bidadari yang membuatku harus menyembunyikan selendangmu agar kamu tidak bisa kembali ke khayangan," canda Tan Liong.
"Ah, kanda bisa aja."
"Habisnya kamu cantik sekali, Intan Batuah. Em, lalu kenapa kamu bisa mudah keluar rumah, berbelanja ke kapalku dan menemaniku berburu seperti sekarang?" tanya Tan Liong.
"Itu karena aku bukan seorang gadis lagi. Aku pernah menikah dan punya anak."
"Dimana mereka sekarang?"
"Sudah tiada, kakanda."
"Oh, jadi kamu adalah seorang janda?"
Intan Batuah mengangguk. "Benar, aku janda. Apa kakanda masih ingin menjadikanku istri?"
"Hm, tidak masalah."
"Baiklah, kalau begitu kakanda harus meminta izin pada ayahandaku terlebih dahulu."
"Iya, aku akan segera menemui orangtuamu, sayang. Tapi sebelumnya terimalah ini sebagai bukti keseriusanku padamu." Tan Liong merogoh saku celananya dan mengambil sebuah gelang batu berwarna hijau pupus.
"Gelang giok ini adalah pemberian ibuku. Ibuku berpesan untuk memberikan ini pada wanita yang kucintai," kata Tan Liong sambil memasangkan gelang itu ke tangan kanan Intan Batuah.
Desas-desus kedekatan Intan Batuah dengan saudagar dari Cina itu ternyata telah sampai ke telinga ayahanda Intan Batuah. Mengingat putrinya adalah seorang janda dan Tan Liong satu-satunya pria yang gigih dan berhasil meluluhkan kebekuan hati putrinya paska ditinggal suami dan anaknya, membuat ayahanda tidak mau mempersulit.
"Em, Tan Liong aku berharap kamu tidak keberatan atas keadaan putriku yang sudah janda," ujar janda.
"Siap, pak."
"Trus bagaimana dengan orang tuamu di Cina, apa tidak mempermasalahkan hal itu."
Tan Liong menggeleng, "Saya yang menjalani kehidupan saya pak. Mereka akan mendukung apapun yang membuat saya bahagia."
"Baiklah kalau begitu ... maka untuk menghindari fitnah, aku akan segera menikahkanmu dengan putriku."
Bukan main girangnya hati Tan Liong usahanya mendekati Intan Batuah selama hampir 3 purnama membuahkan hasil.
"Kakanda, bagaimana rasanya sekian lama hidup terombang-ambing di perairan?" tanya Intan Batuah.
"Jika adinda mau, aku akan mengajak adinda berlayar ke negeri Cina untuk mengunjungi orangtuaku," sahut Tan Liong sambil membelai mesra lengan calon istrinya.
Hari yang dinantikan pun tiba, Tan Liong yang sudah memenuhi syarat untuk memperistri Intan Batuah, kini duduk di pelaminan dengan wajah sumringah.
Jder, jdeeer. Kilat bersahutan usai Tan Liong mengikrarkan janji sehidup-sematinya denga Intan Batuah namun itu tidak menyurutkan kebahagiaan sepasang pengantin baru. Walau bagi kepercayaan penduduk di pulau itu, cuaca yang buruk di hari pernikahan merupakan pertanda ada sesuatu yang salah dan menyedihkan bagi pasangan yang baru menikah, namun pesta tetap berlangsung meriah, Tan Liong mengajak Intan Batuah ke kapal untuk menikmati malam pertama mereka.
Cuaca yang memburuk disertai hujan lebat dan angin kencang malam itu justru membuat Tan Liong semakin bersemangat melaksanakan tugas pertamanya sebagai suami, menyatukan diri dengan gadis pujaan hati adalah sesuatu yang sudah lama diimpikannya. Begitu juga dengan Intan Batuah, seorang janda yang telah bertahun-tahun merindukan kehangatan lelaki.
Usai bercinta, pasangan yang dimabuk cinta itu merasa lapar. Intan Batuah berinisiatif menyediakan makanan untuk mereka.
"Kakanda, bisa ceritakan sedikit tentang bagaimana kehidupan mertuaku di Cina?" tanya Intan Batuah sambil memasak.
"Hm, mereka orang yang penyayang tidak seperti ibu kandungku," sahut Tan Liong dengan nada suara yang menyedihkan.
"Ibu kandung? Maksud kakanda?"
"Aku bukan asli orang Cina. Tan Siok adalah ayah angkatku, beliaulah yang menyelamatkanku. Dulu, aku adalah anak yang nakal. Pada suatu ketika, aku melakukan sesuatu yang membuat ibuku sangat marah sehingga ia memukulku. Aku yang ketakutan berlari ke dermaga di mana Tan Siok menambatkan kapalnya. Rupanya tangisku membuat Tan Siok iba, singkatnya ia membawaku berlayar dan tinggal di Cina."
Raut wajah Intan Batuah berubah mendengar penuturan Tan Liong, "A-apakah ibumu memukul kepalamu hingga berdarah?"
"Iya, adinda bisa melihat bekasnya, nih," Tan Liong menunduk dan menunjukan bekas luka di kepala.
"Ka-kamu masih ingat, apakah ibumu memukulmu menggunakan ini?" Intan Batuah mengacungkan spatula besi yang ia gunakan untuk mengaduk masakannya.
"Iya, ibuku memukulku menggunakan benda itu."
"Tan Liong, a-apa nama aslimu adalah Menteng?"
"Dari mana adinda tahu Menteng adalah namaku?"
"Ka-karena aku adalah ibumu!" Seru Intan Batuah sambil melemparkan spatula di tangannya.
"A-apa? Jadi ... ."
Jder, Jdeer. Kilat kembali saling menyambar.
Intan Batuah berlari meninggalkan kapal, tidak lama datang angin kencang yang meyebabkan gelombang besar sampai membawa kapal Tan Liong terseret ke atas daratan tertinggi di desa itu.
Tiba-tiba dalam sekejap kapal milik Tan Liong beserta seluruh isi di dalamnya berubah menjadi batu. Demikian juga dengan tubuh Intan Batuah yang jatuh tersungkur tidak jauh dari posisi kapal, juga berubah menjadi sebongkah batu besar.
Seketika suasana menjadi lengang. Kilat berhenti, begitu juga dengan hujan dan angin yang seketika mereda.
Sunyi.
Sepi.
Warga desa termasuk ayah Intan Batuah akhirnya mengetahui penyebab atmosfir buruk saat pernikahan putrinya dan pemuda bernama Tan Liong adalah karena terjadi cinta terlarang antara ibu dan anak.
Batu besar yang merupakan perwujudan Intan Batuah hingga kini masih mengeluarkan air dari kedua celahnya yang diyakini masyarakat setempat merupakan air mata penyesalan wanita itu karena telah memarahi anaknya hingga pergi dari rumah dan kemudian saat kembali, secara tidak sengaja malah menjadi suaminya.
Kini kisah cinta Tan Liong dan Intan Batuah hanya tinggal legenda yang memilukan.
*Sipet = alat tradisional suku Dayak yang disebut juga sumpit)
.
.
-TAMAT-