Aku sadar jika saat ini usiaku bukan lagi remaja belasan tahun, namun usiaku telah menginjak hampir di angka 30. Cukup tua bagi perempuan lajang tanpa pasangan sepertiku. Begitu banyak gadis di luar sana yang masih muda dengan paras yang lebih cantik dan lebih menarik dari pada diriku ini.
Namun bolehkan diriku yang hanya perawan tua ini berharap menemukan seorang pria hebat layaknya pangeran dalam drama yang selama ini kutonton?
Begitu banyak waktu yang telah kuhabiskan untuk menonton drama romantis. Bukan tanpa sebab, namun kulakukan semata – mata hanya untuk menghibur diri yang teramat rindu akan belaian kasih dari seorang pasangan.
Tak pandai berias diri, namun kucoba berpenampilan sebaik mungkin. Tak pandai memikat perhatian, namun kupastikan sikapku tak akan berlebihan.
Kumohon,
Pangeran berkuda, CEO tampan, atau siapalah itu, wujudkanlah fantasi pikiranku menjadi kenyataan. Datanglah pada kehidupanku secepatnya. Karena telah lama kuhabiskan waktu luangku ini hanya untuk membayangkan hari itu tiba.
Rasa kesepian ini dengan perlahan mulai menelan kewarasanku. Di saat sebayaku telah menemukan bagian dari rusuknya, aku masih harus mengarang cerita jika suatu hari ada pertanyaan keramat yang menusuk hatiku yakni “kapan nikah”
Kapan, kapan, dan kapan?
Aku sendiri tak mengetahuinya, apalagi untuk berbagi jawaban denganmu, sungguh melukai akal pikirku.
Aku dibesarkan dalam keluarga yang tak pantas disebut keluarga. Kedua orang tua yang tak pernah membagi kasihnya padaku, ditambah lagi lingkungan keluarga yang terus menginjak keinginan serta mimpi indahku. Ambisi menjadi orang berpunya telah tertanam pada benak kedua orang yang harus kusebut dengan panggilan ayah dan ibu.
Hingga suatu saat akhirnya kusadari, bukan hanya kebahagiaan materialistis yang harus kujunjung tinggi, namun memiliki sebuah lingkup keluarga utuh dengan curahan kasih di dalamnyalah yang aku dambakan selama ini.
Hari ini aku pulang dari tempatku bekerja sedikit lebih telat karena masih ada beberapa masalah yang perlu kuselesaikan. Hanya tetesan air hujanlah yang menemani sepanjang per jalanku. Namun di tengah perjalanan, motor yang kukendarai tiba – tiba oleng dan tak seimbang, hingga kuputuskan untuk menepi.
“Bannya bocor, awannya bocor, sekalian saja hatiku yang bocor” aku terus menggerutu dalam batin sembari menuntun motorku yang berat mencari tempat tambal ban. Cukup lama kuberjalan, tak kunjung kutemukan tempat tambal ban, apalagi untuk menemukan dirimu wahai pangeran penolongku.
Langit semakin gelap dan hujan pun tak kunjung mereda, hingga jaket yang kukenakan telah basah sepenuhnya. Kakiku yang lecet hampir mati rasa karena kelelahan, dan ingin sekali kududuk untuk beristirahat. Namun jika kuhentikan langkah ini, bagaimana nasibku yang hanya seorang diri dalam jalanan sepi tanpa ada yang wara – wiri.
Saat kulewati rumah besar berpagar biru, terdengar suara seorang sedang memanggil namaku “Bu Rosita?”, “iya?” sahutku sembari menoleh ke arah suara. Mataku tak berkedip memandang pria yang memanggilku itu nampak muda, tampan, dan begitu menggairahkan.
Hanya dengan sekilas memandang wajahnya, telah membuat fantasi dalam pikiranku bergejolak hebat. Siapakah pria tampan dan begitu menarik perhatian serta hasratku ini.
Pria tampan tersebut menghampiri dan meraih motor yang telah lama kutuntun ini menuju teras rumahnya. “neduh sini bu!” sahut pria muda itu, dan aku yang terhipnotis langsung mengikuti langkah pria itu dengan patuh. “Bu Rosita pasti bingung ya, saya Zero, karyawan yang baru bergabung di Perusahaan tempat ibu bekerja, kemarin!” pria tersebut menjelaskan sembari tersenyum. “oh, kamu anak baru itu, maaf saya gak menyadarinya!” sahutku dengan malu – malu menatap dia yang masih tersenyum manis.
“masuk dulu bu, soalnya gak akan ada tambal ban kalau malam begini!, rumah ibu dimana? Biar saya yang antarkan ibu!” ucap pria muda bernama Zero itu dengan ramah. “masih cukup jauh sih, di daerah mawar!” sahutku dengan lemas. “masih jauh ternyata!, saya antar aja gimana bu?” Zero menawarkan sembari memberikan jaket miliknya untuk kupakai menutupi tubuhku yang mulai menggigil kedinginan.
Entah mengapa pandangan Zero nampak sedikit berbeda terhadapku. Aku tak yakin, namun aku berharap ia memiliki ketertarikan terhadapku seperti diriku yang saat ini begitu tertarik terhadapnya.
Dibonceng pria muda yang tampan seperti Zero, sungguh perasaan indah bagiku si perawan tua yang gejolak hasratnya telah meninggi ini. Ingin sekali kubertindak lebih impulsif meskipun hanya memulai obrolan, namun aku bukan orang yang mudah mencari topik pembicaraan.
“bu, maaf apa boleh saya bertanya?” sahut Zero memecah keheningan. “oh iya, boleh”. Aku penasaran dengan pertanyaan yang akan ia layangkan padaku. “apa ibu sudah menikah?” Zero meneruskan pertanyaannya. “belum, saya masih single!” sahutku dengan nada yang pelan. “kalau gitu, masih ada kesempatan untuk siapapun termasuk saya untuk merebut hati ibu?” sungguh mencengangkan sekaligus mendebarkan bagiku. “boleh kok!” sahutku dengan malu – malu.
Didekati pria muda yang tampan, siapa yang sanggup menolak. Hatiku langsung meleleh mendengar perkataan Zero. Kami pun sampai di rumah kontrakan yang hanya kutempati sendiri. “ayo masuk dulu, kubuatkan kopi!” ucapku sembari tersenyum. Zero pun masuk ke dalam rumah, dan hanya ada kami berdua di dalamnya.
Kopi telah tersaji, dan dengan canggung kami pun duduk berhadapan dengan rasa canggung yang tak bisa kujelaskan. Jaket milik Zero pun kulepas, dan kulanjutkan dengan membuka jaketku yang telah basah kuyup tadi hingga telah merembes pada kemeja kerja serta kulit tubuhku.
Zero memandang aneh ke arahku, apa mungkin ini hanya pikiran mesumku saja, kurasa ia menelan ludahnya menatap seragamku. Oh astaga, aku lupa jika hari ini aku hanya mengenakan kemeja warna putih tanpa kaos dalam. Bra warna pink milikku menerawang dengan jelas, dan nampaknya membuat syahwat Zero seketika bergejolak. Aku pun terperanjat dan dengan sigap kututup seragamku kembali dengan jaket yang masih ada di tanganku sembari berlari menuju kamar mandi. “oh sungguh memalukan!” ucapku dalam batin.
Cukup lama kami berbincang, hingga rasa canggung diantara kami pun sirna. “oh inikah rasanya di apeli oleh seorang pacar?” hatiku terus berkata demikian. Merasakan begitu syahdunya malamku ini, hingga ingin kutulis gejolak perasaan ini dalam bait lagu untuk kunyanyikan.
“oh inikah cinta yang selama ini kudambakan? Apakah terlalu cepat untuk kukatakan sebagai cinta sejati? Bagi perawan tua sepertiku, berharap kasih tulus dari seorang prialah keinginan terbesarku. Dengan hati yang bergetar hebat, kuberanikan diri untuk bertanya kepada Zero “apa kamu sudah memiliki pacar?” sahutku dengan malu – malu.
“mungkin akan segera punya, jika Bu Rosita mau menerimaku!” sahutnya sembari menatap malu - malu ke arahku. Perkataannya sungguh menusuk hati dan mengobrak – abrik akal sehatku secara bersamaan. Bukankah terlalu cepat baginya untuk berkata demikian? Namun anehnya kata – kata manis inilah yang ingin kudengar dari bibirnya itu. “iya saya mau!” sedikit malu – malu, aku pun mengangguk.
Tanpa pikir panjang, segera kutetapkan hati ini dan wenerima Zero menjadi penyempurna dalam kisah asmara yang akan akan kurajut. Bagi wanita yang hampir kehilangan rasa percaya diri sepertiku, mendapat pria muda yang nampak tulus bagaikan bernafas dalam air, sugguh mustahil. Singkatnya, kami pun merajut tali asmara layaknya pasangan remaja yang tengah kasmaran.
Tanpa wawancara detail mengenai kehidupan masing-masing, kami hanya fokus dengan kisah asmara bahagia diantara kami berdua. Bertemu 3 kali dalam seminggu, chatingan hampir di sepanjang waktu luang, dan melakukan video call sebelum tidur. Seperti itulah kami menghabiskan waktu untuk mempererat jalinan kasih diantara kami berdua.
Namun secuil hal yang masih membuat anganku bertanya – tanya. Jika Zero adalah anak baru di tempatku bekerja, lantas dari divisi apakah ia bekerja setiap harinya. “apa dia karyawan kontrak yang statusnya berada di bawahku? Atau jangan – jangan ia hanyalah karyawan kebersihan atau OB di kantor ini?” gumamku sembari menoleh ke kanan dan kiri guna mencari wujud Zero, di sela – sela waktu senggangku bekerja. Jika ia hanya seorang OB, bukan hal yang memalukan bagiku. Karena selama berhubungan, ia nampak tulus dan bertanggung jawab terhadapku.
Karena terus diremehkan dan dipandang sebelah mata atas statusku yang hanya wanita single berusia matang, beberapa teman di kantorku pun selalu menyerangku dengan berbagai pertanyaan yang cukup menyakiti perasaan, yakni mengenai pasangan. Dan sudah kuputuskan untuk mengumumkan statusku yang tak lagi single mulai hari ini, dan sedikit kujelaskan bahwa pria yang memacariku ialah seseorang yang juga bekerja di tempat yang sama sepertiku, yakni di kantor ini.
“ dengar-dengar, pacarmu anak kantor ini?" Sahut Feli, salah satu karyawan usil dan terkenal suka menggibah di kantor ini. " Oh, iya!" Sahutku singkat. "devisi mana?" ia meneruskan pertanyaannya."ehm, kurang tahu sih!” sahutku dengan ragu – ragu. “jangan ngaku – ngaku dong, tunjukin mana pacarmu?, jangan – jangan kamu bohong!, iya pasti dia sekarang lagi bohong, pasti dia bilang gitu cuma ngaku – ngaku aja!” hampir seluruh teman kerjaku memojokkan dan menuduhku berkata bohong.
Sungguh perih hati ini merasakan tuduhan dan cacian yang mereka ucapkan terhadapku. Ingin rasanya kuberteriak, namun tiada guna juga karena sekuat apa pun kujelaskan, mereka tak akan mempercayai perkataan tanpa bukti.
“sayang, kenapa kamu gak bilang sama mereka semua kalau kita pacaran?” sahut Zero yang dengan tiba – tiba muncul dan mengagetkan feli dan beberapa karyawan lain, termasuk diriku sendiri. Aku pun menoleh kaget ke arah Zero yang saat ini tengah berdiri di sampingku bak seorang penyelamat dalam dunia drama yang pernah kutonton.
Setelan jas berdasi ditambah dengan sepatu pantofel mengkilat , sungguh aku terpana yang ke dua kalinya terhadap Zero. “Pak Zero?” sahut Feli dengan sopan sembari menatap kaget ke arah Zero. Tak hanya Feli, hampir seluruh karyawan lain juga menatap kaget ke arah Zero. Kiranya apa jabatan Zero dalam kantor ini, hingga seluruh teman beserta atasanku begitu menghormati Zero.
Setelah meninggalkan Feli beserta karyawan lainnya, Zero yang masih menggandeng tanganku tiba - tiba menghentikan langkahnya dan menatapku tiba - tiba sembari berkata “sayang, pacarmu ini Manajer baru di kantor ini, jangan biarkan orang lain menindasmu mulai dari sekarang!” sahut Zero sembari mengelus poniku dengan lembut. “astaga, pria muda dan tampan ini ialah pacar sekaligus manajer di tempatku bekerja. Sungguh inilah alur cerita dalam drama yang selalu kuinginkan” sahutku penuh rasa syukur dalam batin.