Dari jendela kamarku, kupandangi rintik riuh hujan yang membasahi pagi ini. Embun yang menghiasi dedaunan bak kristal bening itu, mengingatkanku akan air mataku yang pernah mengalir tanpa ingat waktu di masa dahulu.
Alunan musik religi berjudulbالحب في الصمت memenuhi gendang telingaku dengan syahdunya. Indah, namun ada tusukan yang dengan halus nan perlahan terus menusuk-nusuk hatiku. Sebuah pengalaman yang amat membekas hingga tak dapat terlepas.
Saat itu aku masih menginjak kelas X. Sungguh awal kehidupan SMA yang sangat indah, karena aku adalah si gadis yang amat famous dikalangan junior maupun senior di SMA Aksara Bangsa berkat kecantikan dan tumpukan bakat maupun prestasi yang sudah kupupuk sejak lama. Bukannya aku terlalu meninggikan diri, tapi semua orang jelas-jelas mengelu-elukan namaku baik dibelakang maupun didepanku.
Dan tak bisa dipungkiri, sontak saja banyak sekali cowok-cowok yang berusaha menarik perhatianku, tak terkecuali si ketua osis yang menjadi pangerannya SMA Aksara Bangsa.
Devan Adijaya namanya. Mungkin dia memang bukan pelajar terpintar disekolah ini, tapi dia punya wajah menawan layaknya selebgram berfolowers jutaan, keren dengan gaya rambut mempesona dan style good boynya. Tajir? oh jangan ditanya lagi, papanya jelas-jelas bukan orang sembarangan bagi sekolah ini, pemilik yayasan yang tak sombong dan baik hati.
Dan mana mungkin aku menolak cowok se-perfect itu. Walau sebenarnya, tak ada secuilpun cinta yang tersisip dalam hatiku untuknya. Jujur, yang ada hanyalah rasa obsesi ingin menjadi cewek no 1 di SMA Aksara Bangsa ini.
Aku bahkan sama sekali tak memedulikan kejomplangan yang terjadi diantara kami. Ya, kita beda agama. Tapi tak masalah, lagi pula aku sendiri tak pernah mengharapkannya menjadi suamiku kelak. Hhh, mana kepikiran aku. Ditambah lagi penampilankupun saat itu sangat-sangat tak mencerminkan sosok muslimah yang taat. Rok sekolah minim, serta baju seragam yang ketat tentu menjadi pilihanku agar terlihat stylish karena memperlihatkan lekuk tubuhku yang ramping nan ideal.
"Ara," Begitu halus Devan memanggil tepat disamping telinga kiriku saat itu.
Sontak saja aku menoleh dan menampilkan senyum terbaikku, aku bahkan tak
memperdulikan ratusan pasang mata penghuni kantin sekolah yang dengan sigapnya langsung mengamati adegan kami. Padahal jarak antara wajahku dan wajahnya hanya terpaut beberapa senti meter saja.
"I love you," ucapnya setengah berbisik dengan senyumnya yang kuakui memang menggoda.
"Too," ucapku juga, setengah berbisik sembari tersenyum menatapnya, tapi kemudian, DEGG! aku segera memalingkan wajahku karena baru saja mataku menangkap kehadiran seorang cowok di belakang Devan, lengkap dengan barisan serdadu dibelakangnya.
"Van!" Panggil cowok itu dengan suara berat nan dingin khas miliknya.
"Eh, Zam! tumben lo kesini, biasanya kan lo tinggal nyuruh babu-babu elo," canda Devan dengan gaya riangnya yang memang sangat berbanding terbalik dengan cowok dihadapannya.
Dia, Nizam Al-azam. Cowok terpintar sekaligus tercool di SMA Aksara Bangsa ini. Tak hanya itu, dia juga terkenal sebagai King Masternya gang The Soul, yang anggotanya hampir mencapai sepertiga cowok-cowok di SMA Aksara Bangsa. Andai saja boleh jujur, penampilannya lebih bisa dikata si preman jalanan dari pada si anak terpintar disekolahan. Kalau soal kejomplangan nama sih, aku tak mempermasalahkannya, toh aku sendiri sadar bahwa penampilanku tak mencerminkan namaku. Almeera Anastasya Khumaira.
"Gue cuman mau ngasih ini," katanya datar sembari menyodorkan sebuah kotak makanan. "Dari nyokap," katanya lagi. Ia terlihat acuh tak acuh dengan tatapan seluruh penghuni kantin yang seolah tak menyangka, cowok sedingin Nizam bisa melakukan hal sejanggal itu. Bayangkan saja, kok ada ya cowok berandal yang memberikan bekal makanan pada cowok lain di depan khalayak ramai seperti ini?
"Tumben," ucap Devan terdengar sedikit menahan tawa sembari menerima kotak pemberian Nizam. Ia sendiri terlihat tak menyangka sahabat karibnya itu bisa bertingkah sememalukan ini.
Penasaran, langsung saja Devan membuka kotak bekal itu. Dari belakang Devan aku bisa melihat dengan jelas sebuah ukiran dari saus yang bertuliskan "The sweet seventeen of Devan" diatas masakan nasi goreng yang jujur, terlihat amat menggoda.
"Met ultah Bro," singkat Nizam dengan senyum menawan khasnya. Kemudian tanpa kata dan aba-aba ia segera berbalik dan berlalu diikuti rombongannya yang tentu membuatnya terlihat bak sang raja singa.
Sontak saja seisi kantin heboh dengan adegan tadi. Mereka beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada Devan. Devan sendiri tersenyum senang, sedikit menggeleng-gelengkan kepala masih tak menyangka dengan ulah sahabatnya itu.
Dasar, bodoh sekali aku! Pacarku ulang tahun dan aku sama sekali tak tahu tentang itu. Dan sekarang dengan tanpa dosanya, aku malah terngiang-ngiang senyuman Nizam barusan. Cih! andai saja Nizam adalah salah satu cowok yang mengejar-ngejarku, pasti pilihan hatiku jelas akan jatuh padanya. Tapi tentu harapan tidak harus selalu menjadi kenyataan bukan?
Pernah sekali aku memergoki dirinya sedang duduk menyendiri dibawah pohon cemara dibelakang masjid sekolah. Kukira dia sedang bolos untuk merokok, tapi saat kudekati ternyata aku salah besar. Bukan kepulan asap yang mendominasi udara disekitar cowok itu, melainkan alunan bacaan al-Quran yang ia baca perlahan dari layar ponselnya.
Aku tertegun, aku tak menyangka ada orang seperti ini di SMA Aksara Bangsa. Kukira, semua orang hanya mencari sensasi, obsesi dan puji. Tapi aku salah. Pria yang sedang duduk memunggungiku saat ini, jelas-jelas melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian apalagi imbalan.
Tak sadar aku berdiri tertegun sampai ia mengakhiri bacaannya. Buru-buru ku balikan badanku membelakanginya berusaha sesegera mungkin menjauh darinya.
"Almeera!" suara itu tiba-tiba mencekat langkahku dan tanpa bisa kutangkis, aku pun membalikan badan sembari berusaha terlihat senatural mungkin seolah tak pernah mencuri dengar seperti barusan.
"Habis nguping ya?" tebaknya santai, tapi tak menampilkan sekilas senyum pun.
"Eh, enggak. Apaan sih, pd banget!" elakku demi menjaga imageku didepan cowok secuek dia.
"Mau denger yang lebih bagus? sini deh!" tawarnya sembari menampilkan senyuman mautnya yang jujur jarang sekali ia perlihatkan dengan cuma-cuma.
Dan rasanya aku seperti terhipnotis saja oleh senyumannya, kakiku dengan luwesnya terus berjalan mendekat kearahnya.
"Duduk!" titahnya saat aku sudah berdiri disebelahnya yang masih terduduk santai dibawah pohon cemara itu.
Dan seperti dugaan kalian, aku sangat menurut dengan setiap ucapannya. Mungkin ini karena aura si ketua gang yang dimilikinya. Entahlah, aku juga tak tahu.
Hening tiba-tiba saja menguasai suasana diantara kami. Aku bisa merasakan detak jantungku yang entah mengapa berdetak lebih cepat berkali-kali lipat dari pada biasanya. Bukan, bukan karena aku takut Devan memergoki kami. Aku sudah bilang padanya aku tidak mau dibatasi dan dia setuju saja tanpa memprotes sama sekali. Bahkan aku sendiri tak tahu pasti alasan dibalik kecanggungan ini, ataukah karena dia memang orang yang dingin? atau karena aku yang tak terbiasa didiami seperti ini?
"Pake!" ucapnya tiba-tiba sudah menyodorkan sebuah mp3 kecil lengkap dengan hedseatnya.
Tapi entah apa yang terjadi padaku, aku justru terdiam memandang wajahnya cukup lama, sampai-sampai ia memautkan alisnya heran. Dan anehnya lagi, aku tetap tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Sebab diam-diam, aku mengagumi wajah Nizam dengan paras tampannya yang seolah tanpa cela.
Merasa tidak mendapat respon dariku, dia hanya menghela nafas dan menampilkan senyumnya lagi- sungguh aku semakin tak berdaya dibuatnya.
Dan kemudian jantungku seakan-akan dibuat berhenti berdetak olehnya, nafasku seolah sudah benar-benar berhenti detik ini juga. Dia memasangkan hadset itu dikedua telingaku, dengan santainya. Kemudian kontak mata itu terjadi lagi, hingga aku benar-benar merasa menjadi mahluk pemuja cinta paling bahagia sedunia.
Sayangnya kontak mata itu tidak terjadi lama. Ia segera mengalihkan wajahnya dariku. Aku merasakan pipiku memanas dan sudah kupastikan semburat merah delima pasti sudah menjalari pipi ini.
Ia kemudian bergeming seolah membiarkanku menikmati alunan murotal ayat suci al-Quran yang jujur, membuat hatiku merasa tenang.
"Enak?" tanyanya tiba-tiba. Membuatku sedikit terkejut dan lagi-lagi pipiku terasa panas.
"Eh, iya," jawabku singkat, kemudian memalingkan wajah berusaha menutupi semburat merah itu lagi.
"Hhh ... dasar Khumairo," celetuknya membuatku malu setengah mati. Sudah pasti dia memergoki pipiku yang sudah seperti tomat ini.
"Namaku Ara, jadi jangan panggil aku Almeera apalagi Khumaira," ungkapku berusaha menutupi rasa malu sekaligus canggung yang kian menggunung.
"Hhh ... nama itu doa. Aslinya Almeera terus jadi Ara pasti lain artinya. Lagi pula kalo aku panggil kamu pake nama asli kamu, kan berarti aku turut berperan buat doain kamu," jelasnya santai.
Aku sedikit menundukkan wajahku, " Aku?" tanyaku berbisik pada diri sendiri. Bukankah Nizam harusnya menggunakan kata ganti lo-gue saat berbicara denganku?
"Gak nyangka ya, ada aja cowok berandal yang nyempetin bolos cuma demi dengerin kayak ginian," ungkapku jujur, masih menikmati alunan syahdu dari mp3 milik Nizam.
"Hhh ... gue sih gak alim Ra, tapi dengerin kayak gituan tuh enak, rasanya adem aja di hati," katanya sedikit meringis kemudian bangkit dari duduknya.
"Bay Ra! Gue gak bolos kok, cuman izin nenangin fikiran doang," katanya lagi, kemudian beranjak meninggalkanku pergi.
"Gue?" tanyaku lagi berbisik pada diriku sendiri, "Tadi 'Aku,' kan?"
"Eh! terus ini gimana?" tanyaku setengah berteriak baru menyadari bahwa aku masih mengenakan sepaket mp3 milik Nizam.
"Anggap aja kenang-kenangan!" teriaknya sembari melambaikan tangan dan terus berjalan menjauh tanpa berbalik menghadap kearahku.
"Hhh ... kenang-kenangan," kataku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian barusan sepaket dengan debar jantung yang kurasakan. Indah sekali.
Dan setelah beberapa hari memberi waktu bagi hati untuk merenung, aku pun membulatkan tekad untuk segera memutuskan Devan. Toh, sejak awal aku memang tak ada rasa dengannya. Ditambah lagi sekarang aku sudah menemukan orang yang mampu membuat otak dan hatiku tak pernah berhenti menyebutkan namanya.
"Tumben nyamperin kekelasku By, " sapa Devan dengan senyum manisnya saat aku baru saja sampai didepan mejanya.
"Aku mau bicara. Penting," ucapku kemudian mengedarkan pandangan pada teman-teman sekelas Devan yang terlihat ramai.
"Deg" Aku melihat dia, Nizam Al-azam. Dia terlihat sedang asyik bercengkrama dengan teman seganknya. Tapi kemudian aku segera memokuskan pandanganku pada Devan. Aku harus mengumpulkan keberanian dan juga menghapuskan rasa ibaku.
"Bicara apa by? ngomong aja lah," katanya terlihat semakin memaniskan wajah dan senyumnya serta memokuskan seluruh perhatiannya untukku.
"Berdua aja," Kataku singkat- sangat muak dengan semua perhatian yang ia berikan.
" Hhh ... disini aja ya by, mereka gak bakal ganggu obrolan kita kok," Ia berdiri menghadap diriku, sembari menggapai kedua tanganku.
Aku terdiam sejenak, kusadari seluruh pandangan kini tertuju pada aku dan Devan. Cih!! muak sekali aku dibuatnya. Jujur aku merasa seolah menjadi barang yang sedang dipamerkan olehnya. Tak butuh waktu lama, aku segera melepaskan kedua tanganku dari genggamannya. Aku benar-benar sudah tak tahan lagi dengan semua sandiwara cinta ini.
" Kita putus! " ucapku tegas, kemudian memalingkan wajah tak mau dan tak tega melihat wajahnya yang mungkin kini sangat terkejut dan kecewa dengan ucapanku barusan.
" Ra, kamu pasti becanda kan?" tanyanya tak menyangka.
" Aku serius!" jawabku singkat kemudian menatap matanya tajam.
Kurasakan semua orang kini terkejut mendengar keputusanku barusan. Sebenarnya aku amat tak tega melakukan ini pada Devan, bahkan kini aku merasa menjadi tokoh paling jahat dalam sebuah hubungan. Tapi aku harus bagaimana? Memangnya berpura- pura bahagia itu mudah? Aku sudah lelah dengan semua pencitraan ini.
" Tapi salahku apa?" tanya Devan menuntut penjelasan.
"Kamu gak salah, ini aku yang pengen," kataku, sebab tak mungkin aku menjelaskan alasan sebenarnya.
"Enggak! Pasti ini ada apa-apanya. Siapa cowok yang berani ngerebut kamu dari aku?" tanyanya mulai meninggikan suara, ia benar-benar tak dapat mengendalikan emosinya. Seolah-olah, ia tau semua tentang isi hatiku.
Sontak saja dadaku terasa sesak dengan pertanyaan sekaligus tuduhan itu dan entah apa yang terjadi padaku, pandanganku justru langsung beralih pada cowok yang kini juga sedang menatapku dengan tatapan datarnya.
Gemuruh didadaku semakin menyesakkan. Entah apa yang difikirkan Nizam saat ini, aku bahkan tak bisa membaca ekspresinya sama sekali. Tapi semoga saja dia tak beranggapan bahwa aku hanya ingin merusak hubungan persahabatannya dengan Devan.
"Bukan, bukan karena itu," kataku ketus setelah memokuskan kembali pandanganku pada Devan.
"Bohong! " tuduhnya singkat namun cukup membuat kepalaku pening dibuatnya.
"Karena kita beda agama," dalihku tanpa berfikir lama, karena sejak awal memang hal itulah yang menjadi perbedaan menonjol diantara kami.
"Cih, alasan! Atau jangan-jangan dugaan gue emang bener. Lo naksir kan, ama sahabat gue?" tuduh Devan penuh emosi kemudian memalingkan wajah pada Nizam yang masih bertahan dengan ekspresi dinginnya.
Kepalaku serasa dihantam batu besar. Dari mana Devan tahu? Aku sendiri bahkan tak pernah menceritakan perasaan ini pada siapa-siapa.
" Hhh, cuman bisa diam? Pasti gue bener kan?" tanya Devan dengan nada belagunya.
" Bangsat! Murahan banget sih lu! Dasar pelacur!" Maki Devan semakin memojokkanku.
Sakit sekali. Sebutan pelacur tentu membuatku merasa diinjak-injak tanpa hati. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa saat ini, kecuali hanya diam memandang wajah merah padam ketua OSIS SMA Aksara Bangsa itu.
"Eh," ucapku terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik tanganku hendak mengajakku pergi dari kelas itu.
"Ikut gue!" kata Nizam dengan suara berat nan dingin khas miliknya. Sontak saja semua orang memandang sinis kearahku seolah membenarkan tuduhan Devan barusan. Dan aku hanya bisa menurut dengan Nizam yang menarikku pergi karena akupun sudah tak punya muka jika harus terus menghadapi tuduhan benar Devan.
"Naik!" titahnya setelah aku terus membuntutinya sampai ditempat parkir. Sekarang, ia sudah siap memboncengku dengan motor ninja merah miliknya.
Dan tak butuh waktu lama aku pun menuruti perintahnya, karena aku pun tahu bahwa suasana hatinya pasti sedang tidak baik karena ulahku barusan.
"Maaf," ucapku tertunduk, setelah aku turun tepat didepan gerbang rumahku.
"Besok gak usah sekolah," ucapnya datar kemudian langsung menyalakan motornya lagi dan dalam hitungan detik ia benar-benar berlalu tanpa merespon permintaan maafku.
Hancur sekali, itulah yang kurasakan saat ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, padahal merusak persahabatan antara dua cowok terkeren di SMA Aksara Bangsa sama sekali bukan rencanaku. Tapi entahlah, semua sudah terjadi, walau aku agak khawatir karena saat ini mereka harusnya fokus untuk ujian kelulusan.
Aku benar-benar menurut dengan apa yang dikatakan Nizam. Kemarin aku tidak sekolah, melainkan menghabiskan hariku dengan merenung di kamar, juga sesekali memutar mp3 milik Nizam. Yaa ... walau begitu tentu tak lantas merubah keadaan.
Lihatlah, sekarang semua mata mengamatiku sinis sekali.
"Ra!" panggil seorang laki-laki dari belakangku.
Nafasku seolah dibuat berhenti karena ini jelas suara pria yang baru saja kusakiti dan hianati kemarin.
"No problem Ra, gue terima keputusan lo. Dan soal gue sama Nizam, lo gak perlu khawatir karena persahabatan kita cukup kuat dan gak bakal hancur cuma gara-gara cewek kayak elo," ujar Devan dengan sinis, setelah aku benar-benar membalik badan ke arahnya.
Aku terdiam sejenak. Ada yang berbeda dengan Devan, aku bisa melihat dengan jelas beberapa bekas memar di wajah dan juga bibir kirinya.
"Kalian abis berantem?" tanyaku membulatkan mata. Lalu bagaimana dengan keadaan Nizam saat ini?
"Masih pedu~"
"Nizam mana?" tanyaku langsung memotong ucapannya.
"Hhh, cari aja sendiri," katanya terlihat sebal dengan semua ulahku, yang kusadari memang seolah tak merasa bersalah padanya yang bernasib sebagai pihak tersakiti. Tapi lagi pula, bukan saatnya bagiku untuk peduli padanya karena sekarang aku harus mencari Nizam yang juga turut menjadi korban, hanya karena keegoisan perasaanku.
Buru-buru aku beelari untuk mencari Nizam. Pilihanku langsung tertuju pada tempat dimana aku benar-benar menjatuhkan perasaanku padanya.
Dan benar saja, kulihat dia sedang duduk bersandar di bawah pohon cemara yang sama seperti saat itu. Kuberanikan diri untuk berjalan mendekat, kemudian duduk di sebelahnya. Tapi cowok dingin itu benar-benar tak merespon kehadiranku, membiarkan keheningan terus merasuk diantara kami.
"Maaf," ungkapku tertunduk, setelah benar-benar sesak oleh keheningan barusan. Sempat kulihat beberapa lebam juga menghiasi wajah apiknya, membuatku semakin merasa bersalah saja.
"Kak Nizam, gak papa?" tanyaku lagi, walau lagi-lagi ia tak merespon permintaan maafku.
Tapi bukannya menjawab, ia justru beranjak dari posisi duduknya. Seolah benar-benar tak sudi berbicara denganku. Aku tak lantas menyerah, dengan sigap segera menyusul ia berdiri.
"Devan bener," kataku cepat, sebelum ia benar-benar pergi menjauh dariku.
Mendengar ucapan itu, ternyata sukses membuat Nizam bersedia menatap mataku.
"Aku jatuh cinta sama Kak Nizam, dan Kak Nizam yang pertama bagi aku," ungkapku sembari menyentuh pergelangan tangannya, berusaha meyakinkan bahwa aku benar-benar tak pernah mencintai Devan.
Hening seketika, Nizam seperti sedang mencerna kata-kataku barusan.
"Ra, maaf. Aku gak bisa nerima perasaan kamu," ujarnya jelas, perlahan melepaskan tanganku dari tangannya.
Deg! Hatiku serasa dihantam dan dihancur leburkan seketika. Diantara banyaknya cowok yang mengejar-ngejarku, kenapa Nizam justru menolakku mentah-mentah begini?
"Karena Devan?" tanyaku, tanpa bisa menutupi rasa kecawa.
"Bukan. Devan gak ada hubungannya sama keputusan gue," terangnya, dengan ekspresi seperti biasanya.
"Karena Kak Nizam gak punya perasaan sama aku?" tanyaku dengan suara serak, aku bahkan sama sekali tak bisa menahan buliran air mata yang menetes membasahi pipiku.
"Karena pacaran itu haram Ra, dan seberandal-berandalnya gue, gue gak bakal ngelawan Tuhan gue," jelas Nizam dengan suara merendah, berusaha membuatku mengerti.
"Jawab dulu pertanyaanku Kak! Kak Nizam gak punya perasaan sama aku?!" Aku terus bersikeras, setidaknya yang kubutuhkan sekarang adalah jawaban "ya," atau "tidak." Aku masih menyimpan harapan yang terasa begitu nihil.
"Udahlah Ra, gak usah pake ngotot segala! Nizam juga tau kali, mana cewek yang pantes buat dia, dan mana yang murahan kayak elo,"
Suara itu tentu langsung mengejutkanku. Spontan saja aku menoleh ke asal suara.
Ternyata itu suara Rania, si cewek ratu gosip yang memang sejak dulu dengan terang-terangan memuja-muja Nizam. Dan buruknya, dia tak cuma sendiri. Disebelahnya ada Devan dan hampir 1/4 murid SMA Aksara Bangsa kini memandangku sinis seraya berbisik-bisik ria.
Benar-benar memalukan. Dan yang menjadi pilihanku saat itu adalah berlari pergi. Aku sudah tak kuat lagi menanggung penghinaan ini. Rasanya harga diriku seperti diinjak-injak dengan sadisnya oleh mereka.
Bruak! Saking buru-burunya aku bahkan tak sadar bahwa ada yang hendak menjegal kakinya. Sontak suara tawa langsung menggema memenuhi gendang telingaku.
"Ra!"
Aku mengenali suara itu, itu suara cowok yang baru saja menolak cintaku mentah-mentah. Tapi apa peduliku? Buru-buru aku bangkit dan berlari lagi. Pergi dari semua penghinaan ini.
Buruk sekali. Harga diriku yang semula melunjak bagai miss Indonesia, kini anjlok menjadi bahan gosip nomor satu yang ramai dibincangkan tak cuma di SMA Aksara Bangsa tapi juga di dunia maya.
Beberapa hari sejak kejadian itu yang bisa kulakukan hanya menangis dan mengurung diri di kamarku. Tak kupedulikan kedua orang tuaku yang ku tahu pasti sangat menghawatirkan keadaanku. Aku benar-benar kecewa pada dunia, yang melambungkanku dengan tingginya dan menjatuhkanku dengan teganya.
"Non!" panggil pembantuku dari luar kamar, dengan suara sedikit mengeras.
Malas menyahut, aku hanya memelankan suara tangisku.
"Ada teman Non dateng, katanya namanya Nizam!" teriaknya lagi.
Mendengar nama itu, justru semakin membuat dadaku terasa sesak saja. Pertahananku tak cukup kuat saat ini, jika harus bertemu seseorang itu.
"Bodo!" teriakku dengan suara serak, karena tangisku beberapa hari ini yang sebenarnya sangat menyiksa diriku sendiri.
Lama, tak ada suara pembantuku lagi. Mungkin ia benar-benar menyuruh Nizam pergi.
Jujur, ada rasa sesal dihatiku karena bagaimanapun juga, aku tak bisa menghapusnya begitu saja, pun secara paksa. Tapi aku juga tak ingin membuatnya semakin merasa bersalah dengan melihat keadaanku yang semenyedihkan ini.
"Non!" panggil pembantuku lagi, dan lagi-lagi aku hanya menjawab dengan memelankan suara tangisanku.
"Ini ada surat dari temen Non. Katanya, gak papa gak dibaca, yang penting jangan dibuang!"
Sedikit senyuman merekah dibibirku, mengingat cowok si pemberi surat itu adalah cowok terdingin sekaligus tercuek di SMA Aksara Bangsa yang dengan mudahnya berhasil membuatku gila karenanya.
Kupandangi sepucuk surat yang kini sudah tergeletak manis tepat di bawah pintu kamarku. Aku tak tahu apa yang difikirkan oleh Nizam hingga ia bisa-bisanya menulis sebuah surat dan menghiasnya semenggemaskan itu. Imut sekali, perpaduan warna pink dan pernak-pernik yang sangat serasi. Tahukah ia, bahwa itu adalah warna kesukaanku?
Tapi kemudian senyumku ku hempaskan. Aku tak siap jika harus menanggung kecewa lagi. Bisa saja Nizam mengirimkan surat itu hanya karena rasa kasihannya padaku. Ah, malang sekali nasibku. Mana mungkin dia mau membalas cinta cewek yang sudah menjadi bahan celaan seperti diriku.
Tapi aku penasaran dengan surat itu, jadi aku tetap mengambil dan membukanya. Sembari menyiapkan pertahanan hati agar kemudian tak kecewa lagi.
السلام عليكم...
Hay Ra! Pasti kamu masih marah tentang kejadian beberapa hari lalu. Aku minta maaf. Tapi mempermalukanmu di depan umum sama sekali bukan rencanaku.
Dan tentang perasaanku, kamu jangan khawatir karena aku sudah jatuh cinta padamu bahkan sebelum kau mengenal namaku. Tapi ternyata sikapku terlalu dingin, hingga sahabatkupun mendahuluiku mendekatimu, dan akhirnya berhasil pula mendapatkanmu.
Aku jatuh cinta padamu. Ya, itu benar. Jangan anggap ini hanya karena rasa kasihanku akan keadaanmu. Hanya saja cintaku pada tuhanku lebih besar, hingga aku tak mampu melanggar larangannya. Maaf.
Kata Bundaku "Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya," Dan aku percaya itu.
Aku pamit pergi, dan mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah benar-benar pergi.
Jangan khawatir, kalau Allah ingin mempertemukan pasti tak akan ada yang bisa memisahkan. Tapi kalau kita memang tak dipertemukan Kudoakan seseorang yang lebih baik datang padamu, membahagiakanmu seperti cita-citaku.
ان في حبك
Nb: Maaf, kalau kurang puitis. Abis, aku gak bidang sih kalau bahasa indonesia.
والسلام عليكم...
Hhh, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat sepucuk surat dan semua rentetan kejadian itu. Indah sekaligus perih, karena sampai saat ini aku masih mengemban rindu yang amat mendalam pada si cowok cuek nan dingin bernama Nizam Al-Azzam itu.
Dan ya, tebakan kalian benar. Dia benar-benar pergi sejak dua tahun lalu, dan aku sudah benar-benar tak pernah bertemu dengannya lagi. Waktu itu sempat sih, aku membuka tirai jendela kamarku, memeriksa apakah ia sudah benar-benar pergi atau belum. Ternyata dia masih menunggu, tapi saat aku hendak membuka jendela kamarku tiba-tiba seorang wanita berhijab yang mungkin adalah bundanya, menyentuh pundaknya dan mengatakan sesuatu padanya, mungkin menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Dan aku kalah cepat, karena Nizam benar-benar menuruti perkataan bundanya.
Tapi sejak kedatangan Nizam ke rumahku, aku tak lagi larut dalam kesedihanku. Kucoba bangkit walau tak ada seorangpun yang berdiri di sampingku untuk menguatkanku. Teman, bahkan sahabat. Semuanya pergi seolah tak pernah mengenal dan menghabiskan waktu bersamaku.
Walau begitu, aku mencoba tetap tegar. Aku percaya pada apa yang ditulis Nizam pada suratnya "Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya."
Sejak saat itu aku berubah. Pakaian yang awalnya menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan pria kini kuganti dengan pakaian yang lebih tertutup. Aku behijab. Walau semua orang mengatakan bahwa hijabku hanya sebagai pencitraan, aku tak peduli. Nizam adalah laki-laki yang baik maka jika benar aku menginginkannya, tentu terlebih dahulu aku harus menjadi perempuan baik-baik pula.
Tetapi, kalian jangan berprasangka bahwa hijrahku hanya karena seorang cowok dan bukan karena Allah, karena aku melakukan semuanya sebab sadar akan kewajibanku pada-Nya. Hanya saja, Nizam adalah salah satu perantara Allah agar aku kembali pada-Nya.