Seperti biasa, sepulang sekolah Ratih selalu bersemangat ketika berjalan kaki melewati rumah besar yang berisi pria tampan pujaan hatinya. Ratih sudah tahu kalau setiap hari Rabu dan Jumat ia bisa melihat Rio tetangganya membuka gerbang rumahnya lalu keluarkan mobil dan menutupnya kembali. Kalau sudah begitu saatnya Ratih menebar senyum, menganggukkan kepala pada pria yang akan berangkat ke kampus saat Ratih pulang sekolah.
Rumah Ratih ada diperkampungan setelah melewati komplek perumahan Rio. Walaupun beda kasta tapi mereka bertetangga karena masih berada dalam RT yang sama. Hanya saja ada batas berupa portal bagi perumahan Elite dan rumah kampung, walaupun bisa dilewati oleh pejalan kaki. Biasanya kalau teman-teman Ratih menjemput dengan mobilnya, ia selalu meminta temannya parkir didepan rumah Rio Dan Ratih akan berjalan kaki sedikit keluar gang lompati portal pembatas.
Hari ini Ratih harus kecewa karena pulang sekolah tidak seperti biasanya, mobil Rio tidak terlihat di parkiran rumahnya, berarti harus menunggu dua hari lagi Ratih baru bisa menebar senyumnya pada Rio.
"Ratih..." seseorang yang tidak Ratih harapkan menyapanya. Tetangganya juga tapi dari gang sebelah. Dino yang selalu menyebalkan buat Ratih karena selalu membahas hal yang tidak penting jika bertemu Ratih.
"Ya." mau tidak mau harus menjawab, kata Mama tidak sopan kalau ada yang menyapa tapi kita tidak membalasnya.
"Kemarin ada yang cari kamu." kata Dino lagi.
"Siapa?" tanya Ratih malas, karena Dino suka mengarang bebas.
"Tian. Kamu kenal? pakai mobil Corolla edisi terbaru." Ratih memutar bola matanya dengan malas, kenapa juga harus sebut merk mobil yang dipakai, tidak penting juga buat Ratih.
"Tidak kenal." jawab Ratih.
"Dia kirim salam buat kamu." lanjut Dino lagi.
"Memang kenal aku?" tanya Ratih, mereka berhenti didepan rumah Rio, sesekali Ratih melirik kalau-kalau ada Bi Jum tetangga Ratih yang bekerja harian membantu dirumah keluarga Rio.
"Kalau tidak kenal mana mungkin kirim salam." jawab Dino.
"Oh..." hanya itu saja tanggapan Ratih, bagaimanapun walau masih pelajari sekolah menengah atas, Ratih termasuk kembang di kelurahannya. Kecantikannya paripurna, siapa yang tidak naksir Ratih, sepertinya hanya Mas Rio saja yang tidak pernah Kirim salam sama Ratih. Aih Mas Rio, Ratih jadi senyum sendiri, ia ikutan panggil Mas Rio walaupun belum kenal, ikutan Bi Jum yang selalu heboh menceritakan aktifitas keluarga majikannya yang terkenal dermawan dan baik hati.
"Dibalas tidak salamnya?" tanya Dino.
"Tidak kenal dan tidak tahu orangnya yang mana, jadi tidak dibalas." jawab Ratih santai.
"Aku sudah bilang Tian sih, kalau tidak naik mercy Ratih pasti tidak mau kenal." Ih menyebalkan, bisa-bisanya ambil kesimpulan begitu, bikin Ratih tambah malas saja sama Dino. Tapi biarkan saja Dino ambil kesimpulan begitu, Ratih tidak ambil pusing.
"Oke ya Din, aku pulang dulu." melihat tidak ada pergerakan dari dalam rumah Rio, Ratih pun segera tinggalkan Dino. Mending cepat pulang sampai dirumah bisa makan dan tidur siang sambil tulis buku diary.
"Sayang, baru pulang." kembali ada yang menyapa Ratih, yang suka panggil sayang ini Mas Rully tetangga Mas Rio, kalau Mas Rully sih tidak sekalem Rio yang hanya membalas senyuman Ratih kalau mereka bertemu. itu pun Ratih duluan yang lempar senyuman.
"Iya Mas Rully." Ratih tersenyum manis membalas sapaan Rully yang kalau kebetulan ada di teras rumah menyapa Ratih dengan panggilan sayang, ia sudah menganggap Ratih seperti adiknya sendiri. Kebetulan adik Rully teman kursus bahasa Inggris Ratih dulu waktu mereka masih kecil. Weni adik Rully ke London lanjutkan sekolah bahasanya, sedang Ratih cukup sampai lulus ditempat kursusnya saja.
"Nanti Mas, mau jemput Weni loh ke Bandara. Kamu mau ikut?" ajak Rully yang sering mengajak Ratih kalau dia malas pergi sendiri. Itulah kenapa dikampungnya Ratih terkenal materialiastis, hanya mau berteman dengan orang kalangan atas. Padahal bukan begitu, hanya saja Ratih tidak nyambung bergaul dengan tetangga yang sesungguhnya, mereka sangat posesif, jika sudah dekat dengan satu orang kaya, Maka yang lain tidak boleh mendekat, mana bisa begitu. Ratih sih bebas mau bergaul dengan siapa yang dia mau. Ratih punya sahabat di kampungnya, Wida dan Ica. Kemanapun mereka selalu bertiga, tidak peduli dengan yang lain yang suka kepo, ketiga gadis ini hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri, tidak mau peduli urusan orang lain.
"Ratih, mau ikut mas jemput Weni tidak?" tanya Rully lagi dari teras rumahnya, sementara Ratih berdiri didepan pagar yang jarang-jarang itu.
"Ratih tanya Mama dulu ya, Mas Rully." jawab Ratih sopan, bagaimanapun tetap harus ijin Mama, mana bisa main pergi saja.
"Bilang Mama, Mas Rully yang ajak." percaya diri diijinkan karena pernah mampir kerumah Ratih saat menjemput Weni yang tidak membawa payung karena hujan deras, sementara paying dirumah Ratih sedang dipinjam tetangga tiga hari belum dikembalikan.
"Iya." jawab Ratih tersenyum.
"Nanti Mas jemput, ijin sama Mama kamu." kata Rully lagi.
"Memangnya Mbak Keke tidak bisa temani Mas Rully?" Ratih tanyakan Keke tunangan Rully.
"Mbak Keke lagi pemotretan." jawab Rully, Ratih anggukan kepalanya. Kekek model terkenal tunangan Rully pernah beberapa kali mengajak Ratih syuting iklan bersamanya, meskipun jadi figuran dan tidak terlihat jelas saat iklan tayang, lumayan Ratih dapat uang jajan lebih dan bisa dibelikannya berbagai barang bermerk, bahkan Ratih jadi punya tabungan walaupun tidak banyak, tapi jadi punya ATM yang bisa ia banggakan saat membuka dompet dan terlihat oleh teman-temannya. Hanya itu yang bisa Ratih banggakan, selebihnya apalagi? kesekolah jalan kaki, sementara temannya diantar supir atau bawa mobil sendiri. Kendaraan yang Ratih miliki cuma sepeda, itupun tidak bisa dibanggakan karena rantainya suka kendor.
"Ya sudah, nanti kalau Mama ijinkan, Ratih chat Mas Rully." jawab Ratih.
"Yah, Nanti habis ashar, Mas jemput kamu." jawab Rully, kerumah Ratih hanya berjalan kaki lima menit dari rumah Rully. Kalau Rully jemput sudah pasti ada bisik-bisik tetangga. Cowok sombong yang hanya mau kenal sama Ratih saja, begitu image Rully dimata tetangga Ratih.
"Tidak usah, Ratih saja yang kesini." tolak Ratih.
"Tidak sopan sayang, Weni kalau ada yang ajak pergi, kita pasti harus tahu dia pergi sama siapa." kata Rully lagi.
"Terserah Mas Rully deh." jawab Ratih akhirnya mengalah.
"Habis Ashar ya." teriak Rully lagi saat Ratih mulai berjalan tinggalkan dirinya diteras.
"Nanti Ratih kabari." Ratih balas berteriak, cowok-cowok tongkrongan yang selalu duduk diwarung langsung terhenti aktifitas bermain gitarnya karena Ratih mendekat.
"Cantik, baru pulang." sapa salah satu dari mereka.
"Eh iya, permisi ya." Ratih tersenyum pada para tetangganya itu. Sedikit risih karena mereka banyak tapi Ratih tetap berusaha ramah, yang penting mereka tidak pernah mengganggu Ratih secara fisik, hanya sekedar menyapa dan sedikit pujian-pujian merayu saja. Jujur Ratih yang sudah terbiasa tidak menjadi tersanjung karena itu. Walaupun terkenal cantik, Ratih tetap saja insecure dengan kondisinya yang bukan berasal dari keluarga kaya raya. Beruntung saja ia bersahabat dengan orang-orang kaya.
Sore harinya setelah mendapat info dari Ratih kalau ia diijinkan ikut Rully menjemput Weni, setelah sholat ashar di Mesjid, Rully langsung kerumah Ratih yang hanya beberapa langkah dari tempat sholatnya. Sesuai janjinya, ia akan langsung ijin pada Mamanya Ratih.
"Aku ajak dulu ya Tante, Weni maunya dijemput Ratih juga." kata Rully pada Mama Ratih.
"Iya hati-hati, mau hujan loh. Jangan ngebut-ngebut." pesan Mama Ratih pada Rully. Setelahnya mereka langsung kerumah Rully lagi ambil mobil baru setelahnya menuju Bandara.
"Kamu sudah makan?" tanya Rully ketika sudah berada dimobil.
"Sudah." jawab Ratih tersenyum.
"Telepon Mbak Keke deh, kasih tahu kita sudah dijalan." pesan Rully pada Ratih. Biasanya begitu, kalau Rully menyetir, Ratih atau Weni yang jadi juru bicaranya.
"Ratih..." panggil Keke saat wajah mereka sudah muncul di sambungan video handphone masing-masing.
"Mbak Keke, masih pemotretan?" tanya Ratih.
"Iya, kalian sudah jalan?" Keke balik bertanya.
"Iya sudah baru keluar komplek." jawab Ratih.
"Kamu selesai jam berapa sayang?" tanya Rully pada tunangannya, untung saja Keke tidak ambil pusing Rully panggil semua wanita yang dekat dihatinya Sayang. Yang penting Keke tahu siapa saja orangnya.
"Nanti jam delapan." jawab Keke.
"Dari Bandara kalau tepat waktu, kita jemput kamu deh." jawab Rully.
"Eh Mas, partner model aku ternyata tetangga kamu loh, kamu kenal Rio? dia kenal kamu." Keke langsung saja mengoceh.
"Kenal, idolanya Ratih tuh si Rio." jawab Rully tertawa.
"Memang dia model ya Mbak?" tanya Ratih.
"Iya, nih orangnya." langsung saja Ratih menarik Rio yang kebetulan lewat dan arahkan kamera pada mereka berdua.
"Hello you..." sapa Rio dengan wajah sedikit terkejut saat melihat Ratih.
"Halo Mas Rio." Ratih lambaikan tangannya pada Rio dengan senyum malu-malu.
"Kenal Ratih, Rio?" tanya Keke pada Rio.
"Oh namanya Ratih ya. Salam kenal." Rio balas lambaikan tangannya pada Ratih. Duh Ratih jadi bingung mau bilang apa tiba-tiba saja lidahnya kelu, hanya bisa senyum dengan pipi gerak-gerak karena salah tingkah.
"Hai Rio, pinjam dulu Ratihnya ya, nanti kita makan malam sama-sama, oke." kata Rully lalu matikan sambungan teleponnya. Tinggal Ratih yang jadi bingung kenapa juga Mas Rully bilang pinjam Ratih sama Rio.
"Mas Rully..." Ratih delikkan matanya.
"Apa-apa, mau komplen Apa?" ih malah galakan Mas Rully.
"Salam kenal tuh katanya, dia sering titip Salam sama kamu tahu." Rully langsung cengengesan.
"Bohong!" Ratih tidak percaya.
"Ya sudah kalau tidak percaya." jawab Rully acuh tak acuh.
"Mas Rully yang benar dong." berusaha untuk percaya.
"Nanti you tanya sendiri deh." kata Rully ikuti sapaan Rio yang tadi bilang hello you itu. Ah Ratih jadi tidak sabar menunggu makan malam bersama. Senyumnya terus mengembang sampai Weni sudah bergabung sama mereka. Weni berpikir Ratih begitu bahagianya bertemu Weni sampai senyum terus. Padahal Ratih pikirkan mereka yanga akan makan malam bersama Rio.
Acara makan malam berlangsung seperti triple date, Mas Rully bersama tunangannya, Weni bersama pacarnya yang sama-sama kuliah di London, jadilah Ratih bersama Rio yang belum jelas punya pacar apa tidak, yang pasti malam ini jadi patnernya Ratih.
"Rio, nanti pulang titip Ratih boleh? kalau Ratih ikut aku antar Keke dulu kasihan terlalu malam sampai dirumah, besok pagi dia harus ke sekolah." kata Rully pada Rio.
"Boleh mas." Rio langsung anggukan kepalanya.
"Tidak apa ya Ratih, kamu sama Rio pulangnya. Kalau takut jalan kaki dari rumah Rio ke rumah kamu, Mas telepon Henry supaya antar kamu kerumah." kata Rully sebut nama adiknya.
"Aku saja nanti yang antar kerumahnya. Dekat rumah Bi Jum kan?" tanya Rio, Ratih anggukan kepalanya.
"Kamu sama kita juga kan Wen?" tanya Ratih.
"Aku nginap dirumah Mbak Keke malam ini." jawab Weni, ih kakak beradik ini seperti kompakan dekatkan Ratih dengan Rio.
Setelah makan malam mereka pun berpisah, Ratih dengan canggung ikuti Rio ke mobilnya.
"Mobilku berantakan, maaf ya." Rio persilahkan Ratih masuk kemobilnya setelah rapikan barang-barang yang ada dimobilnya.
"Tidak apa Mas." Ratih tersenyum manis. Masih agak kaku karena ini perdana ia bicara dengan Rio, bahkan sekarang posisi mereka sangat dekat, berada di dalam mobil berdua saja.
"Aku kira hari ini tidak bertemu kamu." kata Rio bikin Ratih jadi tersenyum bahagia, rupanya Rio juga menantikan saatnya bertemu dengan Ratih sepulang sekolah.
"Ini sekarang bertemu." jawab Ratih.
"Iya Alhamdulillah. Kalau tidak bertemu harus tunggu jumat lagi deh, itu juga kalau aku tidak ada kerjaan seperti sekarang." katanya lagi.
"Memang Mas Rio tahu kita selalu bertemu Rabu dan Jumat?" tanya Ratih polos.
"Iya, kan hanya hari itu kita bisa bertemu, selebihnya aku seharian dikampus. Aku sering titip Salam disampaikan tidak ya?" tanya Rio.
"Titip salam buat siapa?" tanya Ratih.
"Buat you lah." jawab Rio. Ratih gelengkan kepalanya.
"Titipnya sama siapa?" tanya Ratih.
"Mas Rully, Bi Jum, Dino." jawab Rio, ah satu pun tidak ada yang sampaikan. Malah tadi Dino sampaikan salamnya dari Tian bukan dari Rio.
"Tidak pernah sih." Ratih terkekeh. Tidak masalah yang penting kan sekarang sudah ngobrol berdua.
"Ratih minta nomor handphone kamu ya, biar salamnya aku sampaikan sendiri deh." kata Rio sodorkan handphonenya bikin Ratih tertawa. Ia ikuti maunya Rio masukkan nomor handphonenya di kontak Rio.
"Kalau aku chat dibalas kan? kata orang-orang kamu sombong." eh siapa yang kasih kabar begitu sama Rio.
"Chat saja, pasti Ratih balas." jawab Ratih semangat. Ok You, masa iya Ratih mau abaikan chat dari idolanya sih.