"Kamu yakin ingin pindah ke sana,Ar?" Suara Rani memecah keheningan antara kami.
"Sangat yakin Ran,aku ingin cari suasana baru..aku bosan disini" kataku.
"Bosan? aku yakin bukan karena itu.." tukasnya cepat.
"Kalau sudah tahu,kenapa tempe Bu..." candaku,menutupi suasana hatiku saat ini.
"Hahaha makanya gak usah basa basi,sama aku ini Ar.." dia tergelak karena berhasil membuat ku tak bisa mengelak.
Dan disinilah aku..di sebuah desa terpencil,sangat jauh dari hiruk pikuk kota..tenang..seperti keinginanku.
Kulangkahkan kaki ku menuju sebuah sekolah Dasar yang berada tak jauh dari tempat tinggalku,karena perumahan guru sudah penuh,aku ditempatkan di sebuah rumah kecil,disebelah kantor Desa tersebut.
Pukul 07.30 pagi
Suara lonceng sekolah terdengar bergema,membuat anak-anak kecil yang tadinya berhamburan di halaman sekolah kini berbaris rapi di depan kelas masing-masing.Aku sendiri sudah stand by di depan kelas 2,memeriksa murid-murid yang akan masuk ke dalam kelas,beginilah kegiatanku selama hampir sebulan ini..memeriksa kerapihan pakaian mereka,memeriksa kuku dan tangan tangan,kebersihan gigi dan rambut,setelah itu baru boleh masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran
Aku..Arini,menjadi seorang guru adalah pilihanku setelah kegagalanku dalam berumah tangga,yang membuat aku terpisah dengan anak-anak ku,karena egoisnya keluarga mantan suami dan keluarganya.Kutinggalkan pekerjaanku di sebuah instansi pemerintah yang selama ini menjadi sumber penghidupanku,aku memilih menggunakan ijazah ku untuk mengajar di sebuah yayasan panti asuhan,demi bisa mengobati rasa rinduku pada anak-anak ku,sedikit bisa mengobati..tapi tetap saja aku tersiksa,karena setiap kali berangkat mengajar,aku lewat di depan rumah mantan mertuaku,dimana anak-anak ku tinggal..setiap kali lewat,aku berharap bisa melihat mereka walau hanya melihat dari jauh,tapi semuanya hanya tinggal harapan..aku tak pernah sekali pun melihat mereka.
Hingga suatu hari,aku mendapatkan tawaran dari teman kuliahku dulu yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah desa terpencil,di pelosok Sulawesi tenggara.Tanpa pikir panjang,aku menerimanya..aku sempat mendiskusikan hal ini dengan sahabat ku Rania,awalnya dia kaget dan sempat meragukan keinginanku ini,dia takut aku tak akan betah di sana,tapi akhirnya dia setuju juga,dengan syarat jika aku ingin kembali,aku harus tinggal bersamanya..aku pun menyetujuinya,dia memang sahabat terbaik ku.
Dengan cepat,aku bisa beradaptasi dengan keadaan disini..aku mulai terbiasa dengan ritme kehidupan desa yang tenang dan keramahan penduduknya.Aku sangat menyukai lingkungan hidup dan kerjaanku saat ini.
"Gimana...sudah bisa beradaptasi dengan anak-anak Ar?" suatu hari temanku bertanya sekembalinya aku dari kelas.
"Sudah Pak..sepertinya saya akan sangat betah disini" jawabku tetap formal,walaupun dia sahabatku,tapi saat ini kami berada dalam lingkup pekerjaan yang mengharuskan aku tetap menjaga sopan santun atasan dan bawahan
"Syukurlah jika demikian..jarang ada guru bahasa Inggris yang mau mengabdi di desa terpencil seperti ini,terimakasih karena kamu mau mengabdikan diri disini" ujarnya yang kubalas dengan anggukan kepala.
Hari ini aku hanya ada jadwal di tiga kelas,jadi lebih banyak waktu untuk bersantai.Aku berencana untuk membuat taman di depan rumahku.Banyak bunga yang sudah kupersiapkan sebelumnya,Dengan semangat aku memulai pekerjaanku setelah sebelumnya berganti pakaian..
Hampir 3 jam aku berkutat dengan tanah dan pupuk,kini hampir seluruh halamanku telah penuh dengan berbagai macam bunga,juga beberapa tanaman obat.Ketika tengah mencuci tangan,tiba-tiba ada suara yang mengejutkan aku..
"Sibuk Bu guru?" suara bariton itu menyapaku.
"Tidak juga,sudah selesai kok..hanya menanam bunga,biar gak keliatan tandus saja kok Pak" jawabku sambil mengingat-ingat,siapa kiranya orang ini..aku belum pernah bertemu dengan dia sebelumnya,batinku.
"Wah guru teladan nih cocoknya"
"Ah..biasa saja Pak"
"Oh iya Bu guru,Maaf sebelumya..perkenalkan,saya Angga,saya bekerja di perkebunan kelapa sawit itu" dia memperkenalkan dirinya sambil menunjuk ke arah hamparan perkebunan kelapa sawit yang nampak jelas terlihat dari rumah ini
"Oh iya Pak Angga..saya Arini,belum lama pindah ke sini" jawabku sambil mengulurkan tangan,yang disambut hangat olehnya.
"Saya sering memperhatikan ibu,maaf..bukan bermaksud lancang atau kurang ajar..tapi itu karena setiap kali berangkat kerja,saya melewati rumah ibu" katanya lagi.
"Aaahh..iya Pak..saya malah tidak memperhatikan itu"
"Tidak apa Bu,saya baru saja pulang kerja,sengaja mampir untuk kenalan..kalo begitu saya pamit dulu Bu guru,sudah sore.." Pak Angga pun berpamitan,setelah terlebih dahulu menyalami ku.
Sejak hari itu,setiap kali berangkat dan pulang kerja,Mas Angga selalu menyempatkan diri mampir sekedar berbincang denganku.Aku senang karena mendapatkan teman baru,aku bukan orang bodoh yang tidak bisa menangkap sinyal suka yang ditunjukkan Mas Angga padaku,ketika dia memintaku untuk merubah panggilan Pak menjadi Mas,aku sudah bisa membaca hal itu..aku pun sebenarnya menyukainya,mulai merasakan sayang padanya..hanya saja,saat ini aku belum siap untuk memulai hubungan baru.
Aku terlalu takut untuk berkomitmen kembali..takut dikecewakan untuk kedua kalinya,takut gagal lagi,dan takut akan banyak hal lainnya yang kemungkinan akan kurasakan jika berada dalam sebuah hubungan.
Aku hanya berharap Mas Angga tidak akan pernah menyatakan perasaanya padaku, sungguh-sungguh berharap.
Tapi harapanku tak terwujud...
Sore itu,Mas Angga tak mampir ke rumah seperti biasa yang dilakukannya setiap hari sepulang kerja..Tapi dia datang setelah ba'da isya..hatiku berdebar,perasaan was-was mulai muncul saat itu,keringat dingin mulai membasahi tubuhku bahkan telapak tangan dan kaki ku.
"Maaf jika aku datang di jam begini Arini,ada sesuatu yang ingin ku bicarakan,tapi tak mungkin jika dibicarakan seperti hari-hari biasanya" Dia memulai pembicaraan ini dengan suara yang lembut.
"Ehm..ada apa ya Mas? sepertinya ada hal serius" aku pura-pura tidak tahu apa maksudnya,padahal saat ini hatiku berdebar-debar,takut apa yang kupikirkan menjadi kenyataan.
"Kita sama-sama sudah dewasa,aku tahu kalau kamu sebenarnya tahu apa yang ingin aku sampaikan,tapi tak apa..aku akan tetap mengatakannya padamu malam ini .." dia menghembuskan nafasnya lalu mulai melanjutkan..
"Aku menyukaimu,menyayangimu,dan ingin melamar mu menjadi istriku..apakah kamu bersedia?"
Deg..jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga,aku terdiam,terpaku menatapnya..lidahku kelu..di satu sisi aku pun merasakan hal yang sama,tapi di sisi lain rasa takut itu terus menghantuiku..
Setelah terdiam hampir 10 menit,aku menghirup nafas dalam-dalam,lalu menghembuskannya dengan keras..aku harus menjawabnya..Mas Angga menunggu jawabanku.
"Maaf kan aku Mas..tapi saat ini aku tidak bisa menerima niat baikmu,aku belum siap" akhirnya aku mengambil keputusan itu dengan berat hati.
Dia juga menghembuskan nafas dengan kasar,setelah mendengar jawabanku..
"Kamu menolak ku,aku pikir selama ini ada hal istimewa yang mengikat kita,ternyata aku salah..kalau begitu aku pamit Arini,terimakasih karena tidak menggantungku" Mas Angga berdiri lalu melangkah ke arah pintu keluar..
"Hati-hati Mas..maafkan aku sekali lagi" tapi ucapanku tidak dipedulikannya..dia berlalu tanpa menoleh sedikit pun.
Ada perasaan sedih dalam hatiku,mengingat aku pun harus merelakan perasaan ini,tapi mungkin ini lebih baik untuk kami berdua.
Ku tatap punggungnya yang semakin menghilang..ketika dia tak terlihat lagi,aku terduduk di teras ini sambil berbisik..
"I Love You Mas..tapi biarlah dalam diam saja"