Sebuah sawah membentang luas, dengan rumput ilalang tumbuh liar di sana-sini. Deretan pohon tinggi menjulang di ujung sawah. Di samping tanaman padi, tumbuh tanaman jagung yang mungkin akan panen tidak lama lagi.
Sinar matahari yang terik tak menyurutkanku, dan teman-teman bermain di ladang jagung ini. Angin yang sesekali berhembus kencang seolah mampu menetralisir sengatan sinar matahari yang menusuk kulit.
"Satu... Dua... Tiga... "
Aku segera bersembunyi saat Arin--perempuan satu-satunya diantara kami berempat--sudah mulai menghitung. Celingukan mencari tempat aman, pandanganku akhirnya tertumpu pada celah di bawah tumbuhan jagung. Tempatnya lumayan strategis.
"Sepuluh... Siap tidak siap, aku datang!"
Set.
Arin mulai memicingkan matanya sambil menyapu setiap tempat yang mampu terlihat oleh netranya.
"Rehan!" seru Arin langsung melihat ke arahku yang sedang berjongkok, sambil menutup mata, berusaha agar dia tidak melihatku.
Namun usahaku sepertinya nihil. Aku memang tidak melihatnya. Tapi, jelas-jelas dia yang melihatku. Ah, sial. Secepat itu dia menemukanku.
"Jono! Kyaaa!"
Arin berlari menghindari kejaran Jono--saat dengan mudahnya pula Arin menemukan tempat persembunyiannya--yang ingin mendahului mencapai gawang.
Tap.
Arin berhasil menyentuh gawang itu terlebih dahulu.
"Hahaha."
Arin tertawa penuh kemenangan.
"Tunggu!" sergahku tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Kurang satu orang," sahutku.
"Ah, iya benar. Cahyo belum ketemu," timpal Jono sambil menahan tawa.
Aku sudah tahu jika Cahyo ada di dekat Arin saat ini. Namun gadis itu belum menyadari sepertinya.
"Cari dulu sana. Masa cuma jaga ditempat doang," kritikku, sambil memberi kode pada Cahyo yang bersembunyi di balik pohon tak jauh dari gawang.
Set.
Arin langsung menoleh pada arah pandangku. Ah, jeli sekali dia.
Tap.
"Cahyo! Di belakang pohon, keluarlah! Kau sudah kutemukan."
Nah kan, dia berhasil menemukan kami bertiga.
"Rehan sih, pake kedip-kedip segala," sungut Cahyo melempar pandangan tajam ke arahku.
"Hehe, maaf," Aku mengusap tengkukku.
"Sekarang Rehan yang jaga," ujar Arin sambil melompat-lompat kegirangan.
"Iya deh."
"Satu... Dua... Tiga... "
Kami memulai permainan petak umpet lagi. Tak terasa mentari mulai pulang ke peraduan. Namun permainan kami semakin seru-serunya.
"REHAN! Pulang, Nak. Sudah hampir maghrib."
Seruan lantang ibuku membuat permainan kami berhenti. Aku segera menghampiri ibu, sebelum tanduk di kepalanya mulai muncul. Aku akan sangat ketakutan jika ibu sudah marah karena tidak menurut.
"Iya, Ibu."
Aku pulang bersama ibu, meninggalkan teman-temanku yang sepertinya juga akan pulang. Tapi, aku tidak melihat Arin dimana pun. Mungkin saja ia sudah pulang duluan. Dia kan paling takut dengan kegelapan.
Setelah sampai di rumah aku segera membersihkan tubuh yang mulai gatal karena biang keringat.
Tok Tok Tok
Tepat setelah aku, ayah, dan ibu, selesai melaksanakan sholat maghrib di rumah secara berjamaah--karena letak surau yang lumayan jauh--pintu rumah kami diketuk oleh seseorang.
Ceklek.
"Oh, Ningsih? Tumben malam-malam begini kesini. Mari masuk," Ibu menyambut tamu yang tak lain adalah tante Ningsih, ibunya Arin.
Aku mengamati ibu dari ruang tamu sambil sesekali mencuri dengar. Penasaran saja, karena di kampung kami jarang ada orang bertamu malam-malam jika tidak ada masalah serius.
Apa Arin baik-baik saja?
Kenapa tiba-tiba aku malah khawatir dengan Arin? Siapa tahu tante Ningsih ada urusan dengan ibu.
"Tidak usah, Bu, terima kasih. Saya cuma mau tanya. Apa Arin main ke sini? Dari tadi belum pulang soalnya. Saya sudah cari kemana-mana, tapi belum ketemu juga. Saya pikir Arin main sama Rehan."
Penjelasan tante Ningsih membuatku terhenyak. Aku baru ingat, waktu kami pulang Arin sudah tidak ada. Astaga! Apakah Arin masih main petak umpet? Apa dia masih bersembunyi di ladang?
Terakhir kan aku yang jadi. Panggilan ibu membuat permainan kami berakhir. Jono dan Cahyo belum sempat bersembunyi. Sedangkan Arin...
"Ibu!" Aku segera berdiri menghampiri ibu dan tante Ningsih di ruang depan.
Dua kepala itu menoleh ke arahku bersamaan.
"Ada apa, Han?"
"Ladang--"
Kalimatku tercekat di tenggorokan. Aku takut perkiraanku benar.
"Mau ngomong apa, Han? Kamu tahu, dimana Arin?" Kali ini tante Ningsih menatapku penuh harap.
"Tadi kami main petak umpet di ladang, terus Ibu manggil nyuruh pulang. Tapi, setahu Rehan, Arin udah gak ada di sana. Rehan pikir Arin udah pulang duluan," jelasku.
"Astaghfirullah ... !" pekik tante Ningsih sambil mencucurkan air mata, membuatku bingung.
Apa aku salah cakap?
"Ada apa ini? Kok, Bu Ningsih nangis?" Isak tangis tante Ningsih membuat ayah yang selesai tadarusan menghampiri kami.
"Arin, Pak Yudha. Hiks... "
"Ada apa dengan Arin?" tanya ayah, dengan air muka yang terlihat tegang.
"Arin belum pulang ke rumah. Kata Rehan mereka terakhir main petak umpet di ladang, Pak. Saya takut terjadi apa-apa dengan anak saya. Tolong Pak, bantu saya mencari keberadaan Arin. Hiks... " racau tante Ningsih dengan pipi yang semakin basah dan bahu bergetar.
"Baik, Bu. Saya akan membantu sebisa saya. Kita serahkan semuanya pada Allah. Ibu tunggu di sini saja. Saya akan mencari Arin bersama warga yang lain." Ayah masuk kembali ke dalam kamar.
Ketika keluar ia sudah membawa senter. Sarung yang tadi melilit pinggang, kini sudah disampirkan di pundak, melingkar miring hingga pinggang.
Ketika ayah berhenti di depan rumah untuk mengambil kentongan, aku segera menyusulnya.
"Ayah, Rehan ikut," pintaku yang berdiri di sampingnya.
"Tidak usah, ini bahaya buat anak kecil. Kamu di rumah temenin ibu sama tante Ningsih saja."
Tanpa menunggu protes dariku, ayah sudah keburu pergi, menyibak gelapnya malam sambil membunyikan kentongan. Para warga yang semuanya bapak-bapak keluar rumah dan mengerubungi ayah.
Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa semua orang jadi heboh begini? Gerombolan bapak-bapak itu pergi ke arah ladang. Pasti mereka ingin mencari Arin.
Tapi, kenapa wajah mereka terlihat panik? Juga tante Ningsih kenapa menangis? Paling Arin cuma ketiduran di ladang saat bersembunyi tadi.
Set.
Ibu yang entah sejak kapan ada di belakang, menarik tanganku untuk memasuki rumah.
"Masuk, Han," titah ibu dengan nada gusar.
"Ibu, sebenarnya ada apa? Kenapa tante Ningsih menangis? Kenapa para tetangga panik? Arin kenapa?" cecarku, bingung.
"Belum saatnya kamu tahu, Nak. Sudah sana belajar."
Sebenarnya aku belum puas karena belum mendapatkan jawaban yang aku mau. Tapi, aku harus menuruti perintah ibu.
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah melihat Arin lagi. Aku dan teman-teman sudah mengunjungi rumah Arin, dan bertanya pada tante Ningsih. Namun betapa terkejutnya kami saat mengetahui jika Arin tidak pernah pulang ke rumah. Kemana sebenarnya dia? Bahkan ibunya sendiri tidak tahu keberadaan anaknya.
Aku jadi kasihan dengan tante Ningsih yang seorang singel parent jadi hidup seorang diri sekarang. Kemana perginya Arin? Kenapa dia setega itu meninggalkan ibu dan teman-temannya tanpa pamit?