Hari ini aku pergi belanja ke tukang sayur seperti biasanya. Membeli beberapa bumbu sederhana seperti cabai, bawang, dan daun bawang, tak lupa semuanya dibungkus kertas koran. Bumbu dasar untukku dan keluargaku yang hampir setiap hari memakan nasi goreng di pagi hari. Kadang kala nasi itu merupakan nasi sisa kemarin yang kami sayangkan untuk memakannya.
Seperti biasa, aku belanja berusaha tak lebih dari 5000 dan bisa mendapatkan semua itu setiap harinya. Apakah itu mungkin? Ya mungkin saja. Karena di pemukiman ku yang katanya permukiman kumuh itu memang isinya orang-orang yang setiap hari kerjanya belum tentu mendapatkan penghasilan.
Masalah nasi? Kami rutin mendapat jatah tiap bulannya dari pemerintah desa. Walaupun permukiman ini kumuh namun bukan berarti ini ilegal. Hanya saja nampak kumuh sebab bersandingan dengan kompleks perumahan yang diisi kalangan orang menengah.
Mereka yang tinggal di permukiman sebelah itu, di hampir tiap rumahnya berlangganan koran yang berbeda. Entah dibaca atau tidak, atau hanya sekedar untuk pamer status belaka sebagai 'wong sugih'. Dengan uangnya bisa mengakses informasi yang lebih daripada kami.
Ah apakah benar begitu? Tak perlu terlalu dipusingkan juga sih. Aku dan anakku si Samin senang sekali bisa mendapatkan koran-koran itu. Entah harus mencuri dengar dari orang-orang di warung kopi yang membawa koran bekas ataupun dari bungkusan sayur dan gorengan.
Setiap aku belanja sayur atau membelikan gorengan selalu menitip pesan padaku. Seperti pagi tadi saat aku pamit kepadanya, karena hanya ia yang sudah bangun di antara anak-anakku dan suamiku.
"Bu, minta ke bude Mar agar koran nya jangan disobek seenaknya sendiri. Kalau bisa satu halaman. Tapi jangan bagian iklan rumah atau mobil. Itu malah membuatku semakin bermimpi jadi orang kaya."
"Iya, Min. Bude Mar sudah tahu kebiasaan kita berdua kok, kalau dihadapkan sama koran-koran itu, meskipun cuma selebar tisu."
Ya, hanya selebar tisu pun bagi kami merupakan hal yang berharga. Misalnya saja bila selebar tisu yang kami dapat itu berupa gambar calon bupati. Wah tentu jelas sekali, ada beberapa kemungkinan. Orang itu pasti yang akan jadi bupati, orangnya kaya karena bisa menampakkan wajahnya di koran.
Orang mana yang tidak tahu kalau di koran pun juga jadi lahan sponsor? Toh wong kita juga beli, jelas sekali kalau koran itu alat kampanye yang bisa kena di orang yang buka-buka koran.
Sayangnya kalau kata anakku yang sudah ada les komputer di sekolahnya itu, orang zaman sekarang sudah tidak langganan koran, lebih banyak lihat HP. Eh lah sek, kalau seperti itu nggak salah toh aku? Kalau orang di permukiman sebelah pada langganan koran itu cuma untuk gaya-gaya aja?
Walah... Walah... Ya pantas kalau begitu. Anaknya bude Mar yang jadi pembantu di permukiman sebelah dan temannya itu sering banget bawa pulang koran majikannya. Pernah aku tahu koran itu diterima orang pagi harinya, eh sore harinya sudah ada di meja warkop sebelah rumah. Katanya beli di anaknya Bude Mar dan temannya. Banting harga jadi 1000 rupiah dari harga eceran di loper koran pinggir jalan yang setara sama batas maksimal belanjaanku tiap harinya. Lumayan biar orang di warkop yang digosipkan itu yang ada tulisannya di koran. Biar dikira melek huruf dikit juga. Ah bukan juga sebenarnya. Aku teringat kisah kang Bejo yang punya warkop itu.
"Gini loh ibunya Samin. Kamu tiap hari ke sini sama Samin juga gak ada masalahnya toh. Warkopku ini bebas, aku nggak peduli yang ke sini banci atau bukan, laki-perempuan, simpanan apa bukan. Pokok selama makan dan minum dari warkopku pada membayar. Jadi tidak termasuk harus bayar koran-koran itu. Anggap aja koran-koran itu untuk mengalihkan orang-orang yang suka nongkrong di sini termasuk si bapaknya Samin. Biar nggak teralihkan sama gosip-gosip yang beredar di kalangan perwarkopan kampung kita ini."
Ah, dari hal itu juga. Aku selalu mewanti-wanti bapaknya Samin agar selalu menceritakan isi koran tiap dia pulang dari warkop. Kami biasanya berkumpul di ruang tamu. Mematikan televisi butut sejenak dan berbagi tentang apa saja yang dijumpai dalam setiap koran, bahkan itu yang menjadi bungkus panganan sekalipun.
Kami berbagi cerita tentang hal yang entah terjadi kapan, karena tak setiap tulisan di sobekan koran itu memuat tanggal. Syukur-syukur ada sekolom koran utuh yang menjadi bahan bagi kami untuk bertukar cerita sebelum tidur. Jadi kami tidak mengenal apa itu dongeng sebelum tidur, dan berharap terbuai bersamanya dalam mimpi yang musykil kami alami di dunia nyata. Bisa dibilang kami berbagi fakta yang dihimpun dari sobekan koran.
Hingga anak kami yang ketiga dan masih tiga tahun itu, entah sejak kapan dia mulai banyak cerita pula tentang apa yang ada di koran ke teman-temannya yang masih balita dan setiap sore harus ke balai desa untuk mengikuti program PAUD yang iurannya seadanya sesuai dengan kehidupan kebanyakan orang yang ada di sini. Mungkin saja sejak dalam kandungan ia telah aktif merekam segala hal yang kami bicarakan bersama-sama setiap malamnya.
Aku melanjutkan kembali perjalananku ke Warung Bu De Mar yang ada di tepi jalan raya sana. Ya bisa dibilang di depan sana ada banyak toko yang dimiliki orang kampung kami. Hanya bangunan sederhana, dari papan triplek yang kalau ada penggusuran masih bisa dibangun lagi dengan alasan mempercantik trotoar demi kenyamanan pejalan kaki, alah bohong, wong yang berjalan kaki ya kami-kami ini, yang lain jelas minimal pakai sepeda motor meskipun jaraknya cuma 50 meter dari rumahnya.
Aku berjalan dengan tenang, sampai banyak orang berlarian ke arahku. Bu de Mar menabrak ku.
"Ayo, ibuke Samin, mlayu (lari)! Ada gusuran seperti biasa."
"Tapi kan saya... tidak ikut apa-apa, bu de."
"Wes tah, mlayuo sek wae! (lari saja dulu). Karena kita lagi diliput itu sama TV yang juga punya koran. Biar kita kelihatan panik. Padahal tiap hari ya Satpol PP itu biasanya mbungkus sayur untuk keluarganya di tempat ku, kok."
"Tapi, saya boleh ambil koran-koran nya bu de dulu yang tidak jadi buat bungkusan hari ini sebentar?"
"Wes ta, nggak usah. Itu kan biar tak buat bungkus besok-besok."
"Tapi... Saya kan juga mau beli sayure juga."
"Ya kalau itu ke rumahku saja. Ayo kita lari saja. Soalnya batas larinya harus sampek di gang sana, biar kelihatan di TV sama koran kalau kita ketakutan. Oh ya kabar baiknya karena kita besok bakalan ada di koran. Koran-koran nya bakalan dibagikan ke kita atau dijual dengan harga murah ke kita. Kalau bisa juga dapat yang gratis. Wah, kamu sama Samin pasti bakalan seneng. Sudah ibunya ada fotonya di koran, koran nya besok kamu miliki juga. Lumayan lah jadi kenang-kenangan kalau kamu masuk koran dan bisa diceritakan sampai anak cucumu besok."
"Iya, bu de. Ayo kita lari!"