Terkadang kita tidak bisa memaksakan prinsip dan kehendak kita. Sebagian orang mungkin bekerja sesuai yang mereka mau. Tapi sebagian yang lain memilih bekerja, mengabaikan keinginannya, melewati banyak kesulitan karena tanggung jawabnya pada keluarga.
...
Hai, aku Niel. Aku lulusan teknik mesin di sebuah universitas ternama yang sering nangkring di list universitas favorit. Harusnya dengan riwayat pendidikan seperti di atas aku mudah mendapatkan pekerjaan sesuai yang aku inginkan. Dan benar, aku sudah memulai pekerjaan yang aku inginkan tapi bukan pekerjaan yang orang lain harapkan.
Pekerjaanku dapat dilakukan di rumah. Mungkin orang yang tidak melihat aktifitas ku di dalam rumah mengira aku ini sarjana yang betah menganggur. Karena persepsi masyarakat soal pekerjaan adalah bekerja selalu di luar rumah dan menghasilkan uang.
Dan berita buruknya, keduanya tidak selaras dengan pekerjaanku saat ini. Pekerjaan yang sedang digandrungi banyak anak muda. Dari yang asal-asalan sampai jadi mata pencaharian. Ada yang beresiko dimanipulasi, ada juga yang niat analisis sendiri.
Ya, kesibukanku yang ku anggap pekerjaan adalah trading. Sejak menyelesaikan tugas akhir, alih-alih mencari pandangan ingin bekerja dimana, aku justru mulai tertarik dengan dunia investasi dan saham. Aku rajin mempelajari jual beli saham atau trading. Akhirnya setelah berbekal ilmu yang cukup, aku memakai sisa uang sakuku untuk modal trading. Bukan uang yang besar sehingga hasilnya pun tidak seberapa. Malah terbilang kecil.
Karena tidak berjalan baik, aku berinisiatif mencari tambahan modal dengan meminjam uang papaku. Saat itu ku pikir jika modalnya besar, keuntungannya akan lebih banyak.
Papa sedikit curiga aku meminjam uang dengan jumlah yang besar. Tapi aku jelaskan apa yang sedang aku tekuni dan bagaimana keuntungannya. Aku juga berjanji akan mengembalikannya. Papaku mengerti dan setuju untuk meminjami ku sejumlah uang.
Singkat cerita, hampir setengah tahun aku trading tapi hutangku pada papa belum juga ku lunasi sepersen pun. Apakah trading ku untung? Tentu. Keuntungan ini ku gunakan untuk pengganti uang saku ku yang sejak lulus kuliah aku tak minta lagi pada papa. Selain karena tidak enak sudah berhutang, aku sudah bertekad akan mencukupi kebutuhanku sendiri tanpa mengandalkan papa. Tapi tak jarang juga aku rugi. Jika tidak cermat, yang modalnya banyak kemungkinan rugi pun juga besar.
Selama itu juga papa tak pernah menanyakan terkait hutang itu padaku. Aku sudah tahu dia tak kekurangan uang sehingga aku harus membayarnya segera. Ku kira dia akan memaklumi, sampai saat makan malam ia menanyakannya padaku untuk pertama kali.
"Kau masih trading?" Tanya papa.
"Ya." Jawabku singkat.
"Bagaimana perkembangannya? Lancar?"
"Aku masih belajar."
"Sudah enam bulan dan kau masih belajar? Harusnya sudah jadi profesional."
Aku meliriknya yang masih santai menyantap makan malam buatan mama. Kenapa papa membicarakan ini? Ku pikir dia tidak peduli.
"Niel, papa tak pernah melarang mu belajar apapun. Tidak pernah. Tapi seorang laki-laki selalu dinilai dari tanggung jawab nya." Lanjutnya.
"Apa bekerja seperti ini tidak bertanggung jawab?" Tanyaku ragu-ragu.
"Kau bahkan belum membayar hutangmu sepersenpun." Ucap papa santai.
Kini aku tahu arah pembicaraannya. Papa menyinggung soal hutangku yang belum ku bayar sama sekali. Baginya waktu enam bulan sudah cukup untuk melihat hasilnya. Tapi bagiku tidak, lagipula tidak semua orang belajar dengan cepat.
"Aku akan membayarnya. Penghasilanku belum cukup." Sanggah ku sambil memalingkan pandangan ku darinya.
"Belum cukup? Tapi kerjaan mu pergi main terus."
"Apa? Aku hanya nongkrong di warung kopi."
Papa selesai dengan piringnya. Tapi ia terlihat ingin memulai perdebatan denganku. Kami memang kadang berbeda pendapat. Aku pikir papa percaya padaku dan tak pernah keberatan dengan apa yang ku lakukan. Kenapa sekarang hitung-hitungan?
Papa menatapku sejenak. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia berdiri, tak jadi meneruskan perdebatan ini dan bersiap pergi.
"Bagaimana kau akan bertanggung jawab untuk keluargamu kelak. Sekarang saja kau masih begini." Ucapnya lagi.
"Hah? Kejauhan!" Bantahku langsung.
Aku sangat kesal jika disinggung soal masa depan yang belum kelihatan arahnya. Berkeluarga apa? Urusan percintaan ku saja tak pernah mulus.
Sedangkan mamaku yang sedari tadi hanya mendengarkan kami berargumen kini mulai angkat bicara.
"Kau harus mulai serius, Niel. Lihat mana yang lebih prioritas." Ucap mamaku lembut.
"Mama juga tidak mendukungku?"
Mamaku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Mama selalu mendukungmu."
"Lalu?"
"Kau punya tanggung jawab membayar hutang, kan?"
"Sudah ku bilang aku akan membayarnya. Aku janji."
"Mama mengerti. Papamu juga tidak serius menagih mu. Tapi jika pekerjaanmu tidak menjanjikan, kau bisa memilih opsi yang lain."
"Aku masih belajar. Sabar, ma." Kataku lirih. Mendengar mama berkata pekerjaan ini tidak menjanjikan, aku cukup sedih.
"Perempuan selalu sabar asal laki-lakinya terus berusaha."
"Ma..." Ucapku kesal karena mama mulai menggodaku.
"Ya sudah. Selesaikan dulu makan mu." Pungkas mama.
...
Aku melihat grafik saham dan jejeran candlestick yang ada di depan mataku. Sebenarnya, lama-lama jenuh juga menatap laptop berjam-jam. Padahal dulu aku sangat antusias. Harusnya sekarang aku semakin semangat karena modal ku sudah banyak. Apa mungkin aku sudah bosan dan itu hanya ketertarikan sesaat?
Aku mulai memikirkan ucapan mama sambil membuka google untuk mencairkan pikiranku. Meskipun mama hanya bergurau tapi aku mengerti apa maksudnya. Selama ini aku memang terlihat tidak bersungguh-sungguh. Aku menganggap enteng hutang pada papaku sendiri. Harusnya aku menunjukkan kesungguhan ku bekerja dan mengembalikannya. Jika trading tidak terlihat hasilnya, aku bisa memilih jalan lain.
Jariku tak sengaja masuk ke situs pencarian kerja. Aku menemukan lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang aviasi. Pekerjaan yang belum pernah ku tahu sebelumnya tapi aku masuk kualifikasi.
...
Lebih dari 6 bulan aku berhutang pada papaku dan masih tidak ada kemajuan. Aku masih belum membayarnya sepersenpun. Tapi papa tidak lagi menyinggung soal itu. Mungkin karena sekarang aku sedang sibuk dengan pekerjaan baruku dan tidak ada waktu bermain.
Setelah makan malam, aku mengambil handphone di kamarku. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada papa.
"Apa ini?" Tanya papaku saat ku sodori bukti resi transfer ku hari ini.
"Hutangku." Jawabku singkat.
"Kau baru bekerja dua bulan, jadi pegawai tetap saja belum. Simpan saja dulu."
"Aku masih punya uang."
Aku berkilah. Gaji ku dua bulan sudah hampir habis untuk membayar semua hutangku pada papa. Tersisa uang bensin untuk pergi bekerja. Aku sudah berniat akan hidup irit setelah ini.
Papaku mengernyitkan dahinya.
"Sejak kapan uangmu banyak?" Tanyanya heran.
"Tidak banyak."
"Lalu kenapa buru-buru mengembalikan?"
"Aku sedang belajar."
"Belajar apa?"
Aku terdiam sejenak.
"Bertanggung jawab." Jawabku.
Papa ku hanya tersenyum.
...
Esok harinya aku mendapatkan notifikasi ada sejumlah uang yang masuk ke rekeningku. Nominalnya sejumlah uang sakuku. Sudah jelas siapa pengirimnya.