Diam-diam aku melihatnya dari kejauhan, sosok pria yang baru saja pindah di depan rumah ku. Tampan wajahnya, putih kulitnya, berperawakan tegap dan tatapan mata penuh ketegasan. Aku melihatnya dari atas balkon, sambil memegang wadah yang berisi air yang hampir tumpah. Dia sedang sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil bersama supir dan salah satu pria yang dari tadi sudah mondar-mandir keluar masuk rumah.
“Tuan Fatah, kamar sudah siap” ucap lelaki berjanggut tersenyum kepadanya.
Namanya fasih aku ingat, hingga langkahnya menghilang dari pandangan. Hari ini angin begitu kencang, menerbangkan selendang yang melingkar di leher ku terbang menuju balkon rumahnya.
“Selendang ku” ucapku.
Perasaan ku tidak menentu, tetangga itu baru saja pindah tapi hari ini sepertinya alam tidak bersahabat dengan ku. Di benak ku kini, aku merelakan selendang ku hingga aku memutuskan untuk kembali ke kamar.
Di rumah baru, Fatah berkeliling melihat-lihat sekitar rumah. Ketika dia berdiri di balkon, dia melihat sebuah kain berwarna merah muda.
“Kain siapa ini?” gumamnya.
Di ujung selendang terlihat sebuah sulaman nama tertulis kata Humaira. Dahi Fatah mengerut berjalan menuruni anak tangga.
“Pak sen, apakah bapak mengenal Humaira?” tanyanya kepada asistennya.
“Apakah yang tuan maksud adalah nona Humaira yang tinggal di seberang?”
“Bisa jadi selendang ini tanpa sengaja terbang akibat angin kencang sore ini” gumam Fatah.
Dia berjalan melihatnya berjalan menuju rumah ku. Dari balik kaca jendela, aku buru-buru masuk ke ruangan lain mendengar suara bel rumah yang aku abaikan sampai pekerja rumah ku membukakan pintu untuknya. Dia mengembalikan selendangku, bi inah memberikannya saat aku berdiri di samping tangga.
Pertemuan pertama kami yang seolah menjadi garis takdir, pagi ini kami sama-sam keluar dari pintu dan saling bertatapan dari kejauhan. Dia tersenyum melambaikan tangan kepada ku, senyuman manis itu terpaksa aku balas dengan lambaian tangan pula. Tuan Fatah berlari menghampiriku, setelan kaos putih, celana training berwarna putih dan sepatu berwarna biru. Dia berdiri tepat di hadapan ku, mengulurkan tangan sembari berjabat tangan kepada ku.
“Bu Humaira, kenalkan nama mu Fatah” ucapnya.
“What? Dia tau dari mana nama ku?” batin ku yang masih menyambut jabatan tangannya.
“Salam kenal pak fatah” jawabku bernada datar.
“Jangan panggil aku bapak, apakah aku sudah terlihat setua itu? Panggil saja aku Fatah” ucapnya.
“Baiklah Fatah, terimakasih telah menemukan selendang ku.”
"Tidak perlu sungkan. Tanpa sengaja aku menemukan nya."
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Hari demi hari pun berlalu, setelah pertemuan ku dengannya. Tanpa aku sadari dia selalu memperhatikan kegiatan ku. Fatah hari ini menawarkan tumpangan ketika aku berdiri selama satu jam menunggu supir yang tidak kunjung tiba.
“Bu Humaira, jika berkenan ijinkan aku mengantar ibu hari ini” ucapnya dari balik kaca mobil.
Dia membuka pintu untukku, bersikap sangat sopan sampai mengubah suasana canggung dengan berbagai macam cerita humor penuh candaan. Di balik wajah tampannya yang mempesona menyimpan sifat berbudi baik dan humoris. Tetanggaku rupanya idola ku, wajah yang rupawan itu membuat aku tidka bisa berhenti membalas tatapannya.
-THE END-