Kalimat yang ku yakini, bahwa cahaya tak akan pergi meninggalkan mu apapun yang terjadi. Karena cahaya itu ada di dalam diri mu, di hati mu. Tak akan dapat pergi atau direbut. Karena itu sudah melekat dan menyatu dengan hati mu.
Sebuah pertengkaran dan perbedaan pendapat ku anggap sebuah hal yang wajar, karena dalam sebuah hubungan aja hampir gak mungkin kalo gak ada masalah kan? Hampir gak mungkin, karena gak ada hal yang mustahil.
Gak ada hal yang mustahil di dunia ini. Dan gak ada pula hal yang pasti. Karena yang pasti itu cuma Tuhan, iya kan? Tuhan, karena terdapat begitu banyak agama dan kepercayaan.
Manusia hanya bisa berusaha. Yakin dan percaya bahwa suatu hal pasti atau tak akan terjadi. Berusaha untuk mencapainya, berusaha untuk menepatinya.
Suatu keyakinan muncul karena kepercayaan. Sebuah hal dianggap "Pasti" Karena kita mempercayainya sepenuh hati. Bahkan keyakinan kita pada Tuhan yang diri kita puja saja, berasal dari sebuah kepercayaan yang tertanam di hati kita kan?
Tak ingin diakui, tapi memang begitu hal yang benar. Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang memutuskannya.
Aneh ya? Untuk orang yang mengenalku sejak sebelum aku mulai menulis, mungkin bakal berpikiran aneh. "Seorang Manni bisa berpikir religi? Tobat?" Haha...mengingat aku super jahil dan ngeselin.
Sebuah keyakinan dan kepastian muncul dari kepercayaan sepenuh hati. Yang diterima sepenuh hati, tanpa paksaan atau tuntutan.
Begitu kepercayaan ku pada kalian. "Cahaya" ku.
Kepercayaan sampai memperlihatkan sisi lemah ku, hal yang selama ini ku pendam dan tutup rapat dengan sebuah topeng bernama "Keceriaan".
Ini diriku. Kosong, sangat mudah hancur, egois, tapi terkadang menyebalkan dan kaya anak kecil. Kenapa? Entah juga. Mungkin karena aku gak merasakan saat-saat masa kecil secara total?
Aku rindu kalian. Rindu keceriaan dan hal-hal absurd yang menghiasi hari-hari kita. Rindu masalah dan semua penyelidikan yang membuat sakit kepala tapi juga menyenangkan disaat yang bersamaan.
Sebuah jurnal yang ku tulis belum lama ini, yang kini sudah tak ada di tanganku lagi. Bukan dalam arti gak ku pegang loh, tapi karena dah ku kasih. Gak berarti jurnalnya di atas meja belajar jadi gak di tanganku. Beneran. Dah di tangan pacar kesayangan.
Di salah satu isinya... "Apa kalian masih menerimaku?"
Senyuman manis dan tulus yang sudah sangat jarang ku tunjukkan. Bahkan sebuah senyuman murni yang benar-benar tulus... Sudah sangat lama tak ku tunjukkan. Sampai aku lupa bagaimana caranya tersenyum seperti itu.
Untukmu, yang tak pernah pergi walau sudah berbeda alam kehidupan. Untukmu, yang tulus menyayangi ku yang bahkan sebelumnya tak memiliki hubungan apapun dengan mu.
Terimakasih, karena sudah menerima ku. Terimakasih, karena tulus menyayangi ku. Terimakasih, karena tak pernah meninggalkan ku atau membuang ku. Terimakasih, karena sudah menjadi sosok "Ibu" Yang benar-benar berarti bagiku.
Satu-satunya, pertama dan terakhir. Melebihi sebuah ikatan darah atau sebuah proses yang menyakitkan. Sosok ibu...yang benar-benar ku anggap ibu. Terimakasih.
Lalu untukmu, yang selalu ada untukku. Yang tulus menyayangiku, yang memberitahu ku akan "Kasih sayang" Dan "Cinta".
Terimakasih, walau jujur kau sangat menyebalkan. Membuatku terlena sampai tak tau daratan.
Lalu untukmu, sosok "Kakak" Pertama bagiku. Aku tau kau tak ingin adikmu kesakitan. Aku tau kau tak ingin keluargamu kesakitan. Aku tau kau juga tak ingin menutup mata atas segala kesalahan yang telah ku lakukan.
Oleh karena itu, izinkan aku mengatakan maaf. Maaf atas segalanya, maaf atas semua perilaku ku yang telah menyinggung bahkan terus menyakiti. Baik itu menyakiti mu, bahkan menyakiti keluargamu. Maaf.
1 hal yang ingin ku katakan, bukan sebuah pembelaan, tapi jawaban atas apa yang kau katakan. Aku tau rasanya kehilangan orang tua, karena sosok yang benar-benar ku anggap ibu sudah pergi dariku.
Pergi, dalam arti...berbeda alam dengan dimana aku berada saat ini.
Lalu untukmu, sosok adik yang begitu menyebalkan bagiku. Menyebalkan, karena memendam dan menanggung semuanya sendiri seperti itu. Menyebalkan, karena terus merasa sakit dan menangis tanpa diketahui siapapun itu.
Menjawab perkataanmu, jika aku tak tau rasanya kehilangan orang yang berarti bagiku. Jujur, itu benar. Karena walau sudah pergi, sosok yang begitu ku sayangi, sosok ibu ku, tak benar benar pergi dariku.
Lalu untukmu, sosok yang jujur begitu menyebalkan bagiku. Menyebalkan, tapi menempati posisi pertama orang yang ku hormati. Sosok ayah, yang selalu memikirkan anak anaknya.
Jujur, walau kau bilang tak marah, perasaan bersalah masih tetap ada dalam diriku. Perasaan bersalah karena telah mengecewakan, karena telah melanggar janji. Karena telah membocorkan hal yang kau rahasiakan dengan rapat.
Masih menerima hukuman.
Lalu untuk semua, karena rasanya akan terlalu panjang jika ku ketik semuanya satu per satu. Dan juga...a...dah lewat jam tidur saya takut diomelin. Masalahnya nih tambahan hukuman, 3 orang pula.
Maaf. Sungguh, aku bukan tak memikirkan. Aku memang egois, aku tau itu. Maaf juga, karena telah membenci diriku sendiri sampai terus memaksakan diri. Maaf, karena telah melukai dan menyakiti. Maaf karena telah membuat air itu menetes dari mata yang kuharap selalu bersinar dan bercahaya. Walau kini, mata itu sudah mulai datar dan begitu kosong.
Aku memang orang yang tak memikirkan sebuah peraturan, karena perasaan begitu penting bagiku sejak dulu. Tapi hal yang baru ku sadari belum lama ini, dalam kehidupan tak hanya membutuhkan 1 titik yang dominan. Karena sebuah kestabilan dalam diri kita sendiri, terbentuk dari sebuah kestabilan dari setiap titik dalam diri kita sendiri.
Oleh karena itu, aku akan memikirkannya. Dan aku akan memperbaikinya. Mulai dari diriku sendiri, tanpa merubah diriku sendiri.
Maaf atas semua air mata yang telah menetes karena ku. Maaf atas semua darah yang menetes karena ku. Maaf atas semua pandangan kosong yang tercipta karenaku.
Maaf karena sebuah pertanyaan yang menyakitkan dariku.
Aku sayang kalian. Cahayaku, keluargaku, segalanya bagiku. Kehidupanku.
Lalu khusus untukmu, kesayanganku. Terimakasih untuk segalanya. Kita gak ada bedanya ya? Sama-sama tanya hal yang sama mulu, sama-sama marah karena sebuah hal yang kita anggap kecil, sama-sama mudah hancur dan drop dengan sebuah masalah yang sebenarnya sepele tapi terlalu kita pikirkan.
Keturunan siapa nih? Demo, arigatou. Untukmu, untuk orang yang telah membantu menyadarkan kami berdua juga. Walau menjadi nyamuk dan merpati pos karenanya.
Terimakasih karena telah meluapkannya. Memang sakit saat mengingatnya, tapi rasanya ingin tertawa saat tau kalo kita gak ada bedanya. Kalo dipikir-pikir malah kaya berantem sama diri sendiri ya?
Terimakasih telah menerimaku. Terimakasih telah selalu ada untukku. Terimakasih tak pergi meninggalkan ku. Terimakasih atas segala yang kau lakukan untukku.
Ai shiteru, Key-chi.
Alexander Key, kesayanganku.