Penulis: Nienoll
🔖 "Saat kita tidak menyukai semua tentang dia itu banci lalu kemudian seiring berjalannya waktu semua berubah menjadi cinta."
📖📖📖📖
Di dalam kelas seorang cewek tengah mengeluh sembari memengang perutnya yang sedang sakit nama cewek yang duduk di bangku pojok itu ini ialah Bulan.
Cewek ini barusan dikerjain abisan dengan seorang cowok murid baru yang ganteng sulit di katakan."Dasar cowok nggak ada akhlak, perut gue kena ujung meja gegarah tuh cowok kampert! Awas aja sampai ketemu ku hajar habis tuh anak."
Tiba-tiba seorang cewek menghampiri Bulan dan berkata, "Elu lagi datang tamu Bul, atau lagi nahan BAB muka loh gitu amat dah," kelakar cewek manis itu di depan meja Bulan.
Bulan mendongak."Kampret lu, siapa juga yang nahan BAB Put, gue ini nahan sakit gegara kena ujung meja noh ... noh." Tangan telunjuk Bulan mengarah pada meja tak jauh darinya.
Putri menoleh sebentar dan berkata, "Elu oon sih, masa lu baku hantam ama meja sih Bul!"
"Siapa juga baku hantam amat tuh meja Put, yakali gue nggak waras!" sungut Bulan dengan raut wajah cemburut.
Dengan memutar bola mata malas Bulan berujar, "Gue tuh, tadi di dorong ama cowok br*ngsek bernama Radit yang luh ama yang lainnya sanjung-sanjung itu loh bak raja gitu."
Putri ber-"oh."
"Bingung gue, kok ada cowok model kaya gitunya! Tiap hari di sanjung-sanjung ganteng aja nggak malah ganteng Zany malik kali, malah dia mirip kaya ondel-ondel gitu!" Bulan membeberkan hina dan keheranannya sembari mengetok meja.
"Eeeh ... jangan salah Bul, Radit biar nyebelin tapi romantis tau nggak elu soal itu ...," tanya Putri pada Bulan.
Bulan diam sebagai balasan dari ucapan Putri.
"Nggak kan." Putri kembali melanjutkan ucapannya.
"Ohiya elu itu jangan terlalu benci tentang dia loh, takut elu itu ...." Putri menarik napas.
"Suatu saat nanti elu juga akan sikat tuh Radit ibarat jilat ludah elu sendiri." Putri mengatakan itu nada ejek terselip di kalimatnya.
"Ingat kata-kata gue Put, gue ogah ama dia." Bulan berkata sembari pergi dari hadapan Putri dengan bertati-tati.
«UKS»
Bulan berjalan menuju UKS sesampainya di sana terlihat sosok Radit sibuk merapikan kotak obat dan itu tak jauh dari depan matanya.
"Ini kok dunia serasa sempit banget yah, tadi di kelas ketemu Radit sekarang ketemu lagi jodoh kali yah ama gue, idih ogah benar gue."
Bulan membanti dibarengi merinding akan penuturannya tadi dengan langkah gontai mengarah kakinya ke brankar yang ada di dalam UKS itu.
"Hai, cewek cantik ngapai di sini? kangen yah sama gue!" Radit mengedipkan mata ke arah Bulan.
Bulan memandang tajam ke arah Radit. "Emang lu pacar gue pake kangen segala lagi, cepat obatatin gue." Bulan duduk di atas brankar.
Radit mendekati brankar Bulan sambil berucap, "Gue obati sekali kecup boleh lah."
Bulan mendengar perkataan Radit langsung melempar Radit dengan bantal ada di atas brankar.
"Woy waras lu udah punya pacar juga, elu godai gue emang gue mau hah! Dengarnya sekeras apapun usah elu dekati gue amit-amit dah gue ama elu." Bulan membentak Radit dengan lantang.
Radit menampilkan senyum seketika kedua lesung pipit terlihat dan hal itu membuat Bulan naik pitam. "Ni cowok stres kali dih, pake senyum lagi."
Radit membuka koas bajunya memperlihatkan perut sixpack pada Bulan sembari bercakap, "Ngomong yang keras-keras gimana dengan yang ini! Sentuh lah."
Bulan diperlihatkan perut sixpack itu biasa-biasa saja. "Gue nyentuh perut lu sixpack itu untungnya buat gue apa?"
"Sentulah biar elu tau sekeres itu gue mau ngejar elu," ujar Radit santai sembari tangan terulung mengambil tangan Bulan.
Belum sempat Radit meraih tangan Bulan tiba-tiba pacar Radit datang dan langsung melumut bibir Radit dengan ganasnya
Dan hal itu membuat Bulan seketika jijik dan karena hal itu Bulan tak mau berlama-lama dalam UKS. Bulan pun meraih kotak obat dan keluar dari UKS.
«Sekolah di liburan dalam 1 bulan»
Liburan sekolah ini Bulan ditinggalkan oleh ibunya untuk keluar kota dan perihal itu membuat ibunya khawatir dengan keadaan Bulan yang hanya sendirian berada dalam rumah.
Ibunya pun mengambil keputusan untuk menitipkan Bulan pada salah satu sahabatnya.
Saat ini terlihat Bulan tengah menelpon seseorang dengan raut wajah kesal bercampur marah.
"Bulan nggak mau di titip bu, Bulan bisa jaga diri sendiri Bu! Lagi pula Bulan ini udah dewasa bu," protes Bulan pada ibunya di balik telpon genggam.
"Nggak Bulan! Anak teman ibu akan datang bentar lagi ibu tutup telpon dulu yah nak ada klien, Assalamualaikum." Dengan nada tak terbantahkan.
Telpon pun terputus....
Tangan Bulan mengepal hingga urat-urat tangannya nampak menyimak penuturan ibunya. Bulan melempar hp dengan asal.
Suara bel rumah berbunyi.
"Ni rumah ada penghuni nggak udah 20 kali gue pencat tuh orang nggak nongol-nongol," kata seorang lelaki yang tak lain ialah Radit sembari menaikan sebelah alisnya.
Tak lama kemudian Bulan membuka pintu. "Ngapai elu," tanya Bulan dengan ekspresi kagetnya.
Dengan senyuman terlukis di wajah Radit bercakap, "Gue ini yang di suruh ama ibu lo untuk jagai loh."
Bulan tercengah mencernai penuturan Radit.
"Hah elo!"
Radit mengantuk dengan senyuman manis.
Bulan menetralkan ekspresinya. "Nggak usah, balik aja sono." Sembari menutup pintu rumahnya.
Melipir itu Radit besok gegas menahan pintu dengan kedua tangannya. Tak lupa manik mata Radit menelusuri tubuh Bulan.
"Bul, elu mau godai gue jangan sekarang kita halal dulu lah biar mantap kedepan kalau gue khilaf elu yang rugi." Radit berkata sembari bersiul-siul.
Bulan spontan melepaskan gangang pintu dan menengok baju yang dikenakan dan benar saja pakaiannya itu super duber sexy. "Ya, Allah baru nyadar gue." Bulan spontan berlari ke arah kamarnya.
Bulan saat ini cuma pake baju tipis dan transparan dibarengi dengan celana pendek banget dan saat Radit memperhatikan itu tahu-tahu gairah lelaki memuncak.
Selama 1 bulan kebersamaan Bulan dan Radit benih cinta mulai muncul di antara mereka keduannya. Di detik-detik kebersamaan mereka.
Radit mengajak Bulan ke taman.
Radit memerhatikan langit dan berujar,"Rembulan malam ini tak perna terasa indah seperti ini." Radit mengengam tangan Bulan.
Bulan melirik tangan Radit yang mengengam hanya diam.
Bulan bingung perkataan Radit. "Kamu ini ngomong apa sih perasaan Rembulan itu indah setiap saat tau."
Radit tak membalas ucapan Bulan melaikan melanjutkan ucapannya.
"Aku bukanlah pria romantis dengan seikat tangkai bunga ku dapat dari rumah tetangga sebelah mau kamu jadi sepotong hati terbelah ini. " Radit kini berlutut di hadapan Bulan dengan seikat bunga di ngegamannya
Raut wajah Bulan sekejab kesal namun hati pun berbunga-bunga secara bersamaan. Bulan mengerti arah pembicaraan Radit pun hanya mengangukan kepala dengan pelan.