Pranggggg...
"Hah, menyebalkan sekali😏. Apa ia tidak bisa diam? Mengganggu tidurku saja." Gumam ku kesal ketika lagi-lagi mendengar suara bising dari unit sebelah apartemenku. Apalagi suara ini membangunkan ku dari mimpi indah ku, mimpi indah tentang gadis yang paling kukagumi.
Aku baru saja pindah ke apartemen ini, setelah melewati drama panjang dengan mamaku yang selalu menganggap ku sebagai bocah kecilnya. Maklumlah, aku adalah putra bungsunya.
Akhirnya aku baru bisa lepas dari jeratannya ketika menjadi seorang dokter ahli bedah di sebuah rumah besar.
Alasanku tentu saja jarak antara rumah sakit dan rumahku yang terbilang lumayan jauh. Dengan berat hati akhirnya mamaku mengijinkan ku tinggal di apartemen dekat rumah sakit dengan syarat aku tetap harus mengunjunginya sepadat apapun jadwalku meski tidak sering.
Ku pejamkan lagi kelopak mataku. Rasa penatku setelah jadwal padat di rumah sakit membuatku mudah tertidur kembali. Untung saja hingga fajar tiba tidak ada suara bising yang membuatku terusik lagi.
Pagi-pagi sekali aku sudah akan berangkat ke rumah sakit karena ada shift pagi hari ini. Saat ku keluar, mataku menangkap bayangan seorang gadis berambut panjang yang masuk ke unit sebelahku. Ku tatap kesal pada pintu yang telah tertutup rapi tersebut sebelum benar-benar melangkah meninggalkan apartemenku.
Hari cepat berlalu, sebulan sudah aku tinggal di apartemen ini. Sebulan ini juga aku tidak pernah bertemu dengan tetanggaku, bahkan batang hidungnya pun tak pernah tampak. Hanya suara-suara bisingnya saja yang kadang membuatku sangat kesal.
Hari ini aku pulang pagi setelah menyelesaikan shift malam. Setelah sampai di lorong unit apartemenku, kulihat seseorang sedang berusaha membuka pintu unit sebelahku dengan tergesa-gesa. Aku mempercepat langkahku karena orang itu terlihat aneh, pakaiannya serba hitam dengan hoodie yang sangat tebal.
Sampai didepannya aku meraih tangannya ketika ia ingin mencoba menekan password pintu itu lagi setelah gagal tadi. Tangannya bergetar dan saat ia menoleh.
Deg...
Jantungku terasa terhempas ke dasar perut, dia adalah gadis yang selama ini ku impikan.
"Starla..." Panggilku lirih padanya.
Ia tampak mengernyit bingung. Ah, mungkin saja ia tidak mengenaliku. Sejenak aku sedikit kecewa. Tapi rasa kecewaku seolah berganti menjadi rasa cemas ketika melihat tangan dan tubuhnya bergetar.
"Apa yang terjadi? Apa kamu sakit?" Tanyaku dan segera menariknya untuk masuk ke apartemenku.
"Eh, apa yang Anda lakukan? Kenapa sembarangan menarikku?" Tanyanya seraya menghempaskan tanganku. Sumpah demi apapun, aku benar-benar sangat merindukan suara lembut ini. Suara bintangku, suara starlaku.
Ia berbalik hendak kembali menekan kembali password apartemen unit sebelahku. Kini aku sadar, orang yang selalu membuatku kesal setengah mati adalah dia. Tetanggaku rupanya idolaku 😍. Starla.
Seketika saja kesan buruk yang kusematkan untuk tetangga nyebelin itu berubah menjadi perasaan merindu yang sangat dalam.
Setelah pintu apartemennya berhasil terbuka, ia menoleh padaku.
"Hmm, kamu dokter kan? Apa kamu bisa membantuku? Dari tadi perutku sangat sakit." Pintanya seraya meringis dan menatapku.
Tentu saja aku langsung menganggukkan kepalaku. Dia membawaku masuk ke apatemennya lalu merebahkan diri di sofa ruang tamu.
"Ini asam lambung, apa kamu tidak makan dengan teratur?" Tanyaku setelah memeriksa nya.
"Ya, sedikit. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku urus." Ucapnya dengan nada akrab membuatku merasa senang.
"Aku akan ke apotek dibawah untuk membeli obat untukmu."
"Iya." Jawabnya singkat sembari bangkit dan kemudian duduk dengan kepala menyender di sandaran sofa.
......
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Tanyaku setelah beberapa saat ia meminum obatnya.
"Iya, terima kasih banyak telah menolongku. Ah iya, ini bayaranmu." Ucapnya seraya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya.
"Ini, tidak perlu. Bukankah kita itu bertetangga? Sudah sewajibnya kita saling membantu." Ujarku dengan mengembangkan senyum termanisku.
"Hmm, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Bukankah kamu baru pulang kerja?" Ucapnya dengan salah tingkah membuat senyumku semakin lebar.
.....
Beberapa bulan telah berlalu, hubungan kami semakin dekat dan akrab. Starla bahkan tidak segan membagi keluh kesahnya padaku, walau aku juga lelah bekerja tetapi mendengar ia bercerita dengan wajah imutnya membuat semangatku tumbuh kembali.
Rupanya ia bekerja sebagai translator, pantas saja aku jarang melihatnya keluar dari apartemennya.
"Kau tau? Akhir-akhir ini banyak sekali dokumen yang harus aku terjemahkan. Lelah sekali rasanya." Keluhnya dengan muka masam, tapi bagiku itu terlihat sangat manis.
"Kesinilah, istirahat sebentar!" Pintaku seraya menepuk sofa di sebelahku. Sekarang aku sedang berada di apartemennya. Dia juga sering main ke apartemenku, bahkan aku juga pernah mengajaknya pulang kerumah orangtuaku. Dan mamaku sangat menyukainya.
"Tidak bisa, ini sudah hampir tenggat waktu. Tidak ada waktu untuk istirahat."
Aku tersenyum dengan terus menatapnya, ketenangannya masih sama seperti dulu. Saat ia serius seperti ini mengingatkanku pada masa itu. Apalagi cahaya matahari pagi dibalik jendela yang menyinari wajahnya, seakan-akan mendukung acara nostalgiaku.
Saat itu kami masih SMA. Ia adalah murid peringkat satu yang pendiam, sedangkan aku adalah cowok yang cukup populer. Banyak siswi yang mendekatiku, tetapi hanya starla yang bisa menarik perhatianku.
Saat semuanya mengelu-elukan diriku, ia selalu cuek dan lebih memilih membaca buku tebal di tempat duduknya yang dekat dengan jendela.
Kepribadiannya sangat tenang. Pernah sekali aku sekelompok dengannya, dan ada kelompok lain yang berusaha menjatuhkan kelompok kami. Mereka bertanya diluar materi pembahasan presentasi kami. Kami sudah gugup sendiri, sedangkan starla sangat tenang dan menjawabnya dengan tepat.
Saat itu aku semakin terpesona padanya. Tanpa sadar ia telah menjelma menjadi idolaku. Tidak hanya itu, dia juga telah menjadi pemilik hatiku.
Namun aku hanya diam saat itu, memendam perasaanku. Merasa takut dan canggung jika harus mendekatinya. Hingga kami lulus, aku kehilangan jejaknya.
Kini aku tidak mau diam lagi.
"Star..."
"Hmm..."
"Starla..."
"Iya Ethan, katakan saja kau ingin bilang apa!" Ujarnya tetap fokus pada laptopnya.
Aku berjalan mendekat padanya.
"Star..." Panggilku lirih di telinganya. Ia terperanjat dan refleks berbalik. Matanya membulat ketika bibir kami saling bertemu. Segera ia memundurkan kepalanya.
"Ap.. apa yang kau lakukan?" Tanyanya seraya menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Tidak ada lagi wajahnya yang tenang.
"Star... Apa kau tidak mengenaliku sebelum aku tinggal di sebelahmu?" Tanyaku seraya menggenggam tangannya turun dari wajah cantiknya.
"Hmm, tidak." Ujarnya dengan memalingkan wajahnya.
"Star, tatap mataku! Walau kau tidak mengenaliku. Aku selalu mengingatmu. Sudah lama aku menyukaimu, sejak kita SMA." Ucapku mengungkapkan perasaan yang selama ini ku pendam.
"Ethan..." Lirihnya dengan menatapku dalam.
"Aku mencintaimu Star." Ungkapku lagi.
Ia lalu melepaskan genggaman tanganku, ku kira ia ingin menolak. Tapi ternyata ia malah berbalik memelukku, sangat erat.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Jika kau bilang dari awal, aku tidak perlu berpura-pura tidak mengenalmu." Gumamnya lirih tapi masih bisa ku dengar dengan jelas.
"Jadi kau pura-pura tidak mengenalku?" Tanyaku senang.
Ia mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di dadaku. Sepertinya ia malu...
'Ah... Kenapa dia manis sekali.' Batinku gemas.
Sejak pagi itu kami adalah pasangan kekasih, hingga akhirnya kami saling mengikatkan diri seumur hidup kami dan menjalani kehidupan bersama selamanya.
🌺🌺🌺 Tamat 🌺🌺🌺
Halo, terima kasih ya untuk yang sudah mampir🤗🤗🤗
Ada yang mau kisah dari sudut pandang Starla?
Kalau ada ayo angkat kakinya! Eh, tangannya✋🤭 di bawah ya 👇