"Ayah adalah sebuah sebutan untuk seorang lelaki kaku yang sangat mencintai anaknya dengan berjuta caranya sendiri"
Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus langit-langit kamarku. Aku masih terbaring malas untuk bangun, Namun sepertinya bila aku terus tertidur diatas ranjangku,Matahari pasti akan marah padaku oleh karena itu aku lebih memilih mengalah pada sinar Matahari dan segera menyiapkan diriku untuk segera menyambut diri menuju sekolahku tercinta.
“Tokk....tokk...tokk...”terdengar suara ketukan dari pintu kamarku,yups...seperti biasanya setiap pagi ayah pasti selalu mengetuk pintu kamarku sebagai kode agar aku segera bergegas menuju ruang makan.
Emmm,,,,kalau sudah begitu,tanpa banyak tingkah lantas aku segera berjalan menuju ruang makan sambil menggendong ransel hitamku,mungkin kalian mengira ayahku adalah sosok ayah yang baik.eh..ayolah,menurutku dia adalah sesosok ayah yang sangat menyebalkan dan super sibuk bahkan yang lebih menyebalkan lagi ia terlalu jaim pada semua orang termasuk padaku dan almarhumah bundaku.
Jujur saja sampai sekarang aku belum pernah mengetahui sifat asli dari pria itu bahkan aku tidak pernah tahu bagaimana cara ia mencintaiku dan almarhumah bundaku.
“hari ini,ayah tidak bisa mengantar kamu dan mungkin saja ayah bakal pulang telat karena banyaknya kasus kecelakaan yang harus ayah urus.”.ucapnya sambil mengunyah potongan roti bantal yang dibaluti selai coklat kesukaannya.
“it’s ok,aku tidak terlalu memperdulikan itu yah....baiklah sekarang aku pergi duluan ya.”.aku
Langsung menyalamnya dan segera berlari menuju halte bus yang tidak jauh dari komplek
Rumah kami.
Di tengah perempatan lampu merah tepatnya dipusat kota jakarta yang begitu ramai nan
padat,tampak terlihat mobil ayah yang sedang terparkir di sebuah toko kue langganan
almarhumah bundaku Dari balik kaca bus bewarna putih ini,sungguh!pikiranku dipenuhi rasa
penasaran yang bercampur kebingungan,ditambah lagi udara pengap bercampur bau didalam
bus ini.
Saat lampu jalan telah bewarna kuning,terlihat jelas sosok ayah yang berjalan keluar dari toko kue menuju mobilnya sambil memegang sebuah kotak kue.
“Emzz....pasti ayah mau buat suprise untukku makanya dia bilang kalau dia pulang telat,ayah..ayah...aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang kau pikiran.”.batinku sambil menatap jejak ayah dan toko roti itu yang mulai tidak terlihat lagi dari pandanganku.
Rembulan kini kembali menampakkan dirinya setelah seharian diriku menghabiskan aktivitasku yang dikelilingi oleh sang mentari,sungguh tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat seakan-akan seseorang sedang mempercepat sang waktu.
Mungkin kalian bertanya sudah tengah malam begini mengapa aku belum juga menutup mataku dan memulai mimpi indahku!jawabannya karena hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku sedang menanti sosok ayah yang akan memberikan suprise kepadaku.
2 jam kini telah berlalu,tidak terasa jam telah menunjukan pukul 00.00 tengah malam dan rasa kantuk mulai menyerang kedua kelopak mata ini,jujur saja rasanya aku ingin tertidur pulas diatas ranjangku dan memeluk hangatnya selimut yang menutupi sekujur tubuhku namun aku memutuskan untuk memendam hasrat itu demi menanti kepulangannya.
“mungkin,aku harus menunggu beberapa jam lagi.”.jerit batinku sambil membaca komik kesayanganku hingga tanpa ku sadari rasa kantuk ini semakin menggila dan membuat mata ku tidak mampu lagi melawannya,tanpa kusadari akhirnya aku memilih untuk memejamkan kedua mata ini dengan posisi duduk diatas sofa.
“tik...tokk...tik..tokk..”.suara bel pintu berbunyi memenuhi seluruh isi ruangan,dengan mata yang masih mengantuk,kupaksakan diriku segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju arah pintu sambil menatap jam tangan yang kukenakan di tangan sebelah kiriku.
“astaga,ini sudah jam 06.00 pagi.”.teriak batinku dengan rasa yang sangat kecewa terhadapnya,genggaman tangan yang memelas dengan wajah yang kusut kupaksakan tangan ini membuka pintu rumah ini dan tampak sosok ayah yang sedang berdiri tepat dihadapanku dengan senyuman bahagia tanpa memegang apapun.sungguh!kali ini aku benar-benar marah padanya.
“jangan-jangan kue yang dibelinya kemarin bukan untukku,astaga...... setega itu kau padaku yah.”.aku segera berlari menuju kamar dan meninggalkan ayah yang menatapku dengan penuh keheranan.
Setelah selesai menyiapkan diri,aku langsung berjalan menuju ruang makan dan mengambil beberapa potongan roti sambil mendengar beberapa lagu tanpa menghiraukan kehadiran ayah yang berada tepat didepanku.
“ayah minta maaf karena lupa mengucapkan selamat dihari ulang tahunmu,sebenarnya semalam itu ayah libur kerja dan ayah bohongin kamu arya karena ayah ingin memberimu suprise,tapi entah kenapa dihari itu juga tiba-tiba saja ayahdihubungi oleh pihak kepolisian untuk mengurusi kasus pembunuhan. ”.ucapnya dengan nada datar tanpa wajah bersalah sedikitpun.
“gak ada yang harus disalahkan yah,dihidup ayah itu arya bukanlah hal yang berharga dibanding sejumlah kasus.”.aku langsung berlari meninggalkan ayah tanpa menyalamnya sedikitpun.
Didalam ruangan kelas,entah kenapa mata dan pikiran ini tidak bisa fokus terhadap pelajaran yang diberikan guru bidang study bahasa indonesiaku,rasanya hatiku benar-benar masih kesal dengan sikap ayah yang selalu cuek dan sibuk.Pikiran ini terus saja menyelimuti ku hingga tanpa kusadari sebuah spidol mendarat dikeningku.
“Hey arya,sejak les pertama pelajaran saya kamu hanya melamun saja.”.bentak pak arman.”Sekarang cepat kamu berdiri kedepan.”.Aku segera mengambil spidol yang terjatuh dibawah mejaku dan berlari menuju meja pak arman kemudian menaruhkembali spidol itu tepat di atas meja guru.
“hukuman untuk orang yang melamun sepertimu gampang saja,tapi karna saya masih berbaik hati padamu,sekarang sebagai hukumannya saya mau kamu mendefinisikan sosok ayah kamu pada kami semua.”.
Deg...deg...jantungku berdetak begitu kencang,sungguh aku benar-benar bingung bagaimana aku bisa mendefinisikan sosok ayahku didepan mereka..
“cepat tunggu apa lagi.”.bentak pria tua itu lagi dengan cukup keras,namun aku hanya bisa menunduk saja tanpa merespon sedikitpun.
“ayo jawab cepat,mendefinisikan ayah kamu saja tidak bisa gimana kamu bisa membalas jasanya. tahunya cuma buat masalah saja disekolah ini ,kamu benar-benar berbeda dari ayahmu yang begitu beprestasi dan baik pada semua orang arya.”.pria tua itu berbicara seakan-akan sedang meremehkan ku dan memuji ayah dengan tingginya hanya karena ayahku dulu adalah bekas muridnya,tentu saja aku benar-benar marah dan tidak terima dengan ucapannya karena bagiku ayah adalah penjahat yang kerap hadir dihidupku.Aku benar-benar tidak tahan dengan omelan pria tua ini,emosiku tidak mampu kukendalikan lagi sehingga tanpa kusadari kepalan tangan ini mendarat dipipinya hingga ia pingsan tidak sadarkan diri sedangkan aku dikurung didalam sel penjara oleh para pihak polisi atas tuntutan pria tua yang menjengkelkan itu.Selama didalam sel penjara yang sempit ini,ayah kerap sekali selalu mengunjungiku tanpa tangan kosong,Ia selalu saja membawaku makanan rantangan karena ia tidak ingin sama sekali aku menyentuh makanan yang biasanya diberikan oleh pihak kantor polisi untuk para tahanan.Tetapi ia memberikan bekal itu tidak secara langsung padaku melainkan melalui prantara bawahannya karna aku selalu menolak untuk berjumpa dengannya ,tapi...entahlah aku tidak tahu pasti mengapa aku sangat marah padanya.Mungkin sekitar 1 bulan ini aku tidak pernah melihat rupanya lagi.
Bahkan sampai beberapa hari ini pun aku tidak lagi melihat sosok ayah yang mendatangiku,entahlah pikiran buruk tentangnya selalu menyelimutiku,namun ditengah kegelisahanku tiba-tiba saja aku mendapat kabar jika pak guru itu telah mencabut tuntutannya terhadapku dan aku kembali diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah seperti sedia kala mulai minggu depan,tapi untuk hari ini aku diwajibkan untuk menginap satu malam saja didalam sel ini dan diperbolehkan untuk pulang esok hari.
Ditengah gelapnya malam dan dinginnya angin malam,salah satu polisi berjalan mendekatiku dan membangunkanku yang tertidur pulas.polisi itu membuka sel ku dan menggiringku menuju ruangannya,ia sama sekali tidak berbicara sedikitpun,ia hanya memberikanku bangku dan memutar sebuah video yang tampak terlihat jelas didalamnya ada sosok ayahku dengan wajah tersenyum.
“Namaku ridwansyah,aku berprofesi sebagai seorang dektektif di tim investigasi.Aku membuat video ini untuk putraku arya sebagai tanda bukti kalau aku begitu sangat menyayanginya,Aku hanya ingin ia tidak berpikiran buruk lagi tentangku.Hari ini aku akan berjuaang keras untuk membebaskan putraku dari penjara kecil itu sebagaimana aku berusaha keras memecahkan kasus pembunuhan dan kasus kecelakaan lainnya.Jujur sudah dua hari ini aku membujuk gurunya yang juga dulu pernah menjadi guruku untuk mencabut tuntutan itu tapi usahaku gagal,Jadi sekarang rencanaku kali ini ialah aku bakal berlari mengelilingi lapangan sambil memegang spanduk permohonan maaf padanya dengan mengatasnamakan putraku karena kutahu putraku mungkin saja berbuat begitu karena kesalahanku dalam mendidiknya.”.Terlihat jelas divideo itu ayah melepas seragam polisinya dan menggantikannya dengan seragam SMA yang biasanya kukenakan,kemudian ia berlari mengelilingi lapangan sambil mengangkat sebuah spanduk besar yang bertuliskan “permohonan maaf” dan tiba-tiba saja video itu berubah jadi gelap untuk beberapa saat dan kembali muncul sebuah gambar ayah yang masih berlari namun kali ini dengan kondisi cuaca yang buruk,hujan membasuhi seluruh tubuhnya hingga ia sangat basah kuyup,namun tetap saja ia masih terus berlari meskipun rekannya telah memaksanya berhenti.
“Arya,maafin ayah sampai detik ini gurumu belum juga memaafkan kita.Tapi ayah gak akan pernah menyerah,ayah janji samamu kalau ayah akan berjuang keras demi masa depanmu.Ayah gak ingin masa depanmu hanya sampai dipenjara kecil itu,maafin ayah yang gak pernah bisa jadi ayah yang baik untukmu.ayah.....”tiba-tiba saja ayah terjatuh lemas disemen lapangan sekolahku,kemudian perlahan-lahan kedua matanya terpejam dan kamera menjadi gelap.
Lalu kamera kembali kesebuah rekaman lagi tapi kali ini berbeda lokasi,astaga kali ini aku melihat jelas sosok ayah yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan beberapa mesin rumah sakit yang memenuhi tubuhnya,namun tetap saja ia kembali memegang kamera itu lagi dan memaksa diri membuka alat infusnya.
“arya,ayah punya kabar gembira buatmu nak...kau tahu nak,usaha ayah berhasil nak.Pak arman telah memaafkanmu dan bersedia mencabut tuntutanmu”.tiba-tiba saja kamera bergeser mengarah ke arah wajah pak arman yang terlihat lesu dengan mata sembabnya.
“arya,saya telah memaafkanmu dan akan mencabut hukumanmu...itu semua karena ayahmu nak,jadi bapak harap kamu jangan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.ayahmu itu sangat menyayangimu nak”.kamera segera beralih kembali menghadap ke arah ayah.
“arya,mungkin setelah kamu menonton video ini,ayah bakal pergi menyusul bundamu..tapi ayah percaya kok kamu adalah malaikat ayah yang kuat dan tangguh.oh iya,melalui video ini ayah ingin mengatakan kalau ayah senang sekali kamu bisa bebas dari penjara kecil itu dan ayah ingin kamu kembali menggapai cita-cita kamu yah.ayah hanya ingin kamu tau kalau ayah sangat mencintaimu bahkan lebih dari diri ayah sendiri.Maaf bila ayah terlalu takut untuk menunjukkannya padamu sayang.....ar....”.Tiba-tiba layar menjadi gelap dan rekaman selesai sampai di situ.
“pak,bagaimana kondisi ayah sekarang?”tanyaku dengan nada memaksa sambil menggoyang-goyang bahu rekan kerja ayahku itu.
“maaf arya,ayahmu telah meninggal dunia kemarin.”.jawabnya menunduk,sontak saja aku langsung menangis histeris dan menyesali semua kebencianku padanya.Karena kehisterisanku,rekan ayahku pun menyuntikkanku obat penenang dan merebahkanku di atas sofa.
Mungkin melalui peristiwa itu,aku mulai menyadari kalau setiap ayah memiliki rahasia bagaimana cara ia mencintai malaikatnya dan suatu hari kelak saat aku menjadi seorang ayah,aku juga bakal memiliki rahasia dalam mencintai anak-anakku dengan cara yang berbeda denganmu ayah tapi memiliki arti dan tujuan yang sama sepertimu serta aku bakal menjadi sosok ayah yang lebih hebat daripada ayahyang akan mampu membuat anak-anakku mencintaiku.